Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Pekerjaan Baru


Sementara itu di kost-kostan Risa.


"Kamu kenapa sih, Ris? Dari tadi aku perhatikan kamu bengong aja," tanya Ayu.


Risa membuang napas berat. "Kemarin, pas nganterin barang pelanggan, aku lihat ada sebuah lowongan pekerjaan. Gajinya sangat menggiurkan, Yu. Kata orang yang bekerja di sana kalau aku berminat, aku bisa temuin majikannya langsung," sahut Risa.


"Kerja apa? Trus, Lily bagaimana?" Ayu penasaran.


"Jaga lansia. Tapi ya itu, aku juga gak tau apa mereka mengizinkan jika aku ajak Lily sekalian."


"Kalau misalnya dibolehin, memangnya kamu mau? Tapi kamu akan tetap tinggal di sini, 'kan Ris?"


Risa terdiam sejenak sambil menatap Ayu. "Ya, aku berminat. Selain gajinya pasti, aku juga dapat satu buah kamar di sana. Setidaknya dengan begitu aku tidak perlu memikirkan biaya buat bayar kost-an, Yu. Kan uangnya bisa aku gunakan buat beli kebutuhan Lily," lirih Risa.


Ayu tampak sedih dan kini tatapannya tertuju pada si kecil Lily. "Kalau kamu beneran kerja di sana, itu artinya aku tidak bisa lagi ketemu sama Lily lagi, dong?"


"Tapi 'kan kamu masih bisa menghubungiku lewat hape. Kalau kamu kangen, tinggal telepon saja," sahut Risa sembari menggenggam tangan Ayu.


Ayu tersenyum kecil. "Kalau kamu sudah kerja di sana, tolong jangan lupain aku ya, Ris."


"Ish, tentu saja, Yu! Lagi pula kita masih bisa bertemu, kok. Kan jaraknya dekat dari sini," sahut Risa.


"Ok, baiklah kalau begitu. Lalu kapan kamu menemui orang itu?"


"Mungkin besok. Kalau hari ini aku tidak bisa karena banyak barang pesanan yang harus aku kirimkan," jawab Risa.


Keesokan harinya.


Setelah melakukan ritual pagi sama seperti biasanya, Risa pun segera bersiap-siap untuk menemui pemilik rumah besar itu.


"Wah, sudah siap ternyata. Semoga berhasil ya, Ris!" ucap Ayu.


Ayu yang ingin berangkat kerja, menyempatkan diri untuk menjenguk Risa dan anaknya di dalam kamarnya tersebut. Tak lupa, sebagai sahabat yang baik, dia terus mendukung serta memberikan semangat untuk Risa.


"Aamiin. Terima kasih ya, Yu."


"Sama-sama. Oh ya, aku berangkat dulu ya, takut ketinggalan bus."


Risa pun mengangguk sembari memasukkan bayi Lily ke dalam gendongannya.


Sepeninggal Ayu, Risa pun segera berangkat dengan berjalan kaki menuju kediaman orang itu.


Setelah beberapa menit kemudian, Risa pun tiba di depan pagar rumah yang berukuran cukup besar itu. Tampak selebaran yang berisi lowongan pekerjaan itu masih menempel di sana dan itu artinya lowongan pekerjaan tersebut masih berlaku.


Risa berdiri di tempat itu sambil memperhatikan sekeliling rumah. Mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Hingga seorang laki-laki datang dan menghampirinya sambil tersenyum hangat.


"Mbak yang kemarin, 'kan? Gimana, Mbak? Apa Mbak masih berminat untuk melamar pekerjaan di sini?"


Risa mengangguk pelan. "Ya, saya sangat berminat, Mas."


Lelaki itu tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu. Silakan masuk, biar aku panggilkan Oma Hana nya."


Setelah pintu pagar terbuka, Risa pun segera masuk ke dalam dan mengikuti langkah lelaki itu. Setibanya di ruang depan, lelaki itu menghentikan langkah Risa dan memintanya untuk menunggu sebentar di ruangan itu.


"Baik, Mas. Terima kasih."


Lelaki itu meneruskan langkahnya menuju kamar Oma Hana (Wanita berusia lanjut, sang pemilik rumah itu). Risa duduk di ruangan tersebut sambil memperhatikan sekeliling. Ada beberapa buah foto berukuran besar yang terpajang di dinding. Foto keluarga besar Oma Hana.


Tidak berselang lama, lelaki itu tiba bersama seorang wanita tua yang berusia sekitar 60 tahun. Walaupun begitu, wanita tersebut masih terlihat segar bugar dan tampil modis. Risa bergegas bangkit dari posisi duduknya dan bersiap menyambut kedatangan wanita itu.


"Duduklah, Nakβ€”"


"Risa, Nyonya."


Wanita itu tersenyum hangat kemudian duduk di sofa tersebut. "Duduklah, Risa. Dan jangan panggil Oma dengan sebutan Nyonya. Panggil saja Oma. Karena semua orang memang memanggil Oma dengan sebutan itu," lanjutnya.


"Baik, Oma." Risa pun segera menyusul. Ia kembali duduk dan menatap wanita itu.


"Jadi benar kamu ingin melamar pekerjaan di sini?" tanya Oma dengan tatapan tajam menatap Risa.


Risa mengangguk dengan cepat. "Ya, Oma. Saya ingin melamar pekerjaan di sini. Tapi masalahnya ...." Risa menundukkan kepala kemudian menatap bayi Lily yang berada di pelukannya.


"Saya punya bayi dan saya tidak punya keluarga yang bisa menjaganya," lirih Risa.


Wanita itu mengerutkan alisnya dengan heran. "Memangnya keluarga kamu di mana, Nak?"


"Ayah dan Ibu angkat saya tinggal di kota X, Oma. Dan saya merantau di sini hanya bersama bayi saya," sahut Risa dengan wajah sedih, membalas tatapan Oma Hana.


"Lalu bagaimana dengan suamimu?" Wanita itu semakin penasaran dengan kehidupan Risa.


"Kami sudah bercerai, Oma dan sekarang dia sudah bahagia bersama istri barunya."


Wanita tua itu membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar penuturan Risa. "Jadi suamimu menikah lagi? Sementara anak kalian masih sekecil ini?"


Risa tersenyum getir kemudian mengangguk pelan.


"Ya ampun! Ternyata nasib kita tidak jauh berbeda, Nak. Aku dan mendiang suamiku pun bercerai karena hadirnya orang ke-tiga. Bahkan dengan hebatnya ia berhasil menyembunyikan hubungan mereka hingga bertahun-tahun lamanya. Hingga semuanya terbongkar dan aku tidak terima. Aku tidak ingin di madu dan akhirnya kami pun memutuskan untuk bercerai. Tetapi untungnya anak-anakku sudah dewasa dan mereka mengerti bagaimana posisiku saat itu," tutur Oma Hana.


"Eh, kenapa aku malah curhat!" lanjutnya sambil tersenyum kecut.


"Tidak apa-apa, Oma. Dengan mendengar cerita dari Oma, setidaknya membuat saya semakin yakin bahwa keputusan saya sudah benar," sahut Risa.


"Aku yakin keputusanmu sudah benar-benar tepat, Nak Risa." Wanita tua itu menepuk pelan pundak Risa.


"Balik lagi soal pekerjaan. Sebenarnya aku sama sekali tidak masalah jika kamu punya seorang bayi, selama itu tidak menggangu pekerjaanmu. Kamu bisa merawatnya sambil bekerja di sini," jelas Oma Hana.


"Benarkah itu, Oma? Ja-jadi aku bisa bekerja di sini bersama bayiku?" tanya Risa dengan mata membulat sempurna.


Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Ya, kamu bisa mencobanya selama seminggu ini. Jika kamu merasa nyaman dan tidak terganggu, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu. Tapi jika kamu merasa kesusahan harus bekerja sambil momong bayi, kamu bisa memutuskan untuk berhenti," sahut Oma Hana.


Risa begitu bahagia. Bahkan saking bahagianya, Risa tidak sanggup untuk menahan air matanya. "Terima kasih, Oma. Terima kasih banyak!"


...***...