
"Mas Arga, aku ingin minta waktumu sebentar. Aku tahu mungkin ini bukan masalah buatmu karena kamu bukanlah kakaknya Mona. Tapi, bagiku ini masalah besar dan aku butuh bantuanmu, Mas." Risa menahan tubuh Arga yang melangkah keluar dari kamar mereka.
"Masalah apa lagi sih, Ris? Mona lagi?" Arga menghentikan langkahnya kemudian berdiri di depan pintu yang terbuka, tepatnya di hadapan Risa.
"Tunggu sebentar," ucap Risa yang bergegas menuju nakas. Ia meraih alat getar milik Mona yang ia simpan kemudian membawanya ke hadapan Arga.
"Lihatlah, Mas! Ternyata Mona benar-benar liar. Ia bahkan sudah memiliki alat memalukan seperti ini, padahal dia sendiri masih gadis!" pekik Risa dengan wajah kesal.
Arga meraih benda itu sambil mencebikkan bibirnya. "Ini alat getar 'kan?"
"Ya!" jawab Risa mantap.
"Ayolah, Risa. Berpikir modern lah sedikit. Kamu tidak bisa membandingkan dirimu dengan Mona. Kalian sudah berbeda zaman!" jawab Arga sambil tertawa pelan.
"Apa maksudmu?" Risa tampak kesal. Ia menatap Arga dengan alis yang saling bertaut.
"Adikmu itu hidup di zaman modern, sementara dirimu hidup di zaman Siti Nurbaya, jadi tidak bisa disamakan, lah! Aku sih tidak heran karena anak-anak sekarang pergaulannya sudah sangat bebas. Jangankan Mona yang sudah dewasa, tuh banyak anak sekolahan yang udah jebol dan mereka sudah hapal dengan benda-benda yang seperti ini," jelas Arga.
"Jadi menurut Mas, sikap Mona yang seperti itu baik-baik saja dan tidak ada masalah, begitu?" Risa semakin kesal dan merasa tidak habis pikir.
"Kalau menurutku sih, biasa saja. Tapi jika memang menurutmu apa yang dilakukan Mona itu terlalu mengganggu, hukum saja dia, 'kan beres!" jawabnya secara gamblang.
Tanpa sepengetahuan Arga dan Risa, Mona menguping pembicaraan mereka di dalam kamarnya.
"Ah, Mas Arga sudah gila! Bukannya membantu mempertahankan aku di rumah ini, malah mendukung Mbak Risa untuk menghukumku," gerutunya pelan.
Sementara itu.
"Ya. Menurutku apa yang dilakukan oleh Mona sudah keterlaluan. Jika terus dibiarkan, aku yakin sekali Mona akan bertindak yang lebih liar dari ini. Aku ingin dia dihukum dengan pergi dari rumah ini. Aku ingin mengembalikannya ke rumah ayah dan ibu," tegas Risa.
Arga tergelak mendengar penuturan Risa. "Jika kamu mengembalikan Mona ke rumah orang tuamu, aku yakin sekali mereka pasti akan bertanya-tanya apa alasanmu mengembalikan Mona. Sementara yang meminta Mona untuk tinggal di sini adalah ibumu sendiri. Lagi pula Mona itu tidak akan lama tinggal di sini, setelah menemukan pekerjaan dia pasti akan pergi dan mencari rumah sendiri. Benar 'kan?"
"Iya, memang benar. Tapi jujur, aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Mona. Bagaimana jika dia kebablasan, kemudian hamil? Di sini, di rumah ini? Bisa-bisa ayah dan ibu malah menyalahkan aku karena tidak becus menjaga dia," tutur Risa dengan wajah cemas.
"Maafkan aku, Mbak! Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Mbak bisa ambil benda itu dan singkirkan jauh-jauh. Tapi, tolong ... jangan pulangkan aku ke rumah ayah dan ibu. Jika mereka tahu aku begini, mereka pasti akan marah, Mbak!" lirih Mona di sela isak tangisnya.
Risa yang masih kesal, mundur beberapa langkah ke belakang dan menjauh dari gadis itu. Bibir Risa terkunci rapat sementara matanya masih tertuju ke arah adik perempuannya itu.
"Heh, Mona! Jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini, bersikaplah yang wajar!" ucap Arga dengan nada yang sedikit dinaikkan.
"Iya, Mas. Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Sumpah!" Kini Mona bersimpuh di hadapan Arga dan menatap lelaki itu dengan mata sembabnya.
"Kamu itu masih gadis, Mona! Apa kamu tidak malu membeli alat yang seperti ini?" sambung Arga dan kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya dan membuat sandiwara mereka semakin terlihat sempurna.
"Iya-iya, Mas! Maafkan aku. Aku memang salah dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," lirih Mona, masih dalam posisi bersimpuh.
"Nah, kamu dengar itu, Risa? Sebaiknya kamu tenang saja. Biar benda itu aku singkirkan dan aku yakin, setelah ini Mona tidak akan berani melakukan hal itu lagi. Kecuali dia memang ingin diusir dari rumah ini," ucap Arga kepada Risa yang masih terdiam dengan tatapan kesal menatap Mona.
Arga meraih benda itu dari tangan Risa kemudian merengkuh pundak istrinya itu sambil tersenyum tipis.
"Lily sudah tidur, 'kan? Sebaiknya kita sarapan bersama. Sudah lama juga 'kan kamu tidak menemani aku sarapan?"
"Kenapa Mas tiba-tiba baik padaku? Jangan lupa, kita masih punya persoalan yang belum tuntas," tegas Risa sembari mengikuti langkah Arga yang kini menuntunnya menuju dapur.
Arga terkekeh pelan. "Soal apa? Pengaman itu? Ah, sudahlah. Lupakan saja! Oh ya, sepertinya benda ini bagus juga, ya. Kapan-kapan aku ingin membelinya untukmu, biar permainan kita bisa lebih menggairahkan. Bagaimana?" goda Arga sembari mengacungkan alat getar itu kepada Risa.
Risa tidak menjawab. Wajahnya masih menekuk kesal.
"Tidak apa, Risa. Untuk menambah semangat bermain. Dari pada begitu-begitu aja, 'kan bosan," tutur Arga.
Sementara itu Mona bangkit dari posisinya. Mona tampak cemberut ketika menyaksikan Arga merangkul Risa dengan begitu mesra. Ia cemburu melihat Arga bersikap manis kepada kakaknya itu.
"Dasar!" kesalnya sembari masuk ke dalam kamar.
...***...