
"Baiklah, aku ingin bicara dengannya." Mommy Tiya menghembuskan napas berat.
"Ok, tunggulah di sini," ucap Oma Hana dengan begitu antusias.
Wanita paruh baya itu bergegas menuju ruang utama kemudian menghampiri Risa.
"Risa, Mommy Ayden ingin bicara denganmu. Temuilah," ucap Oma Hana.
"Ta-tapi, Oma—" Risa mencoba menolak karena ia masih takut dan ragu untuk bertatap muka secara langsung dengan wanita yang sudah melahirkan Ayden tersebut.
"Tidak apa-apa, Ris. Temui dan bicaralah kepadanya. Aku yakin, setelah mendengar penjelasan darimu, Mommy akan mengerti," sela Ayden sembari menyemangati wanita itu.
Risa membuang napas berat kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Aku akan segera menemuinya," jawabnya meskipun masih tampak ragu-ragu.
"Begitu, dong!" Oma Hana tersenyum semringah.
Perlahan Risa meninggalkan ruangan itu lalu berjalan menuju ruangan di mana Mommy Tiya sudah menunggunya. Setibanya di ruangan itu, Risa pun mencoba tersenyum kepada Mommy Tiya walaupun wanita itu lagi-lagi tidak bersedia membalas senyumannya.
"Tante," sapa Risa.
"Duduklah. Aku ingin bicara denganmu." Mommy Tiya menunjuk ruang kosong di sofa yang tadinya ditempati oleh Oma Hana.
"Terima kasih, Tante," sahut Risa sembari menjatuhkan dirinya di sofa tersebut.
"Risa."
"Ya, Tante?"
"Aku punya beberapa pertanyaan kepadamu dan harap kamu menjawabnya dengan jujur. Jangan ada yang disembunyikan sedikit pun. Aku tahu jika seseorang itu berkata bohong kepadaku," ucap Mommy Tiya dengan begitu serius kepada Risa.
Risa pun menganggukkan kepalanya.
"Apa benar kamu masih mencintai Ayden?" tanya Mommy Tiya dengan tatapan tajam menatap Risa.
Dengan ragu-ragu, Risa pun menganggukkan kepalanya lagi. "I-iya, Tante."
Terdengar hembusan napas kasar Mommy Tiya saat itu. "Atas dasar apa kamu mencintai dia? Kesuksesannya? Kemapanannya? Atau apa?" ketus Mommy Tiya.
"Bukan, Tante! Demi Tuhan, bukan karena itu," jawab Risa sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Wanita itu tertawa sinis. "Heh, terus karena apa?"
"Demi Tuhan, aku mencintai Mas Ayden tulus tanpa memandang apa pun darinya, Tante. Walaupun aku akui, aku pernah mencoba melupakan mas Ayden setelah menikah dengan mas Arga. Itu pun demi menghormati lelaki yang saat itu menjadi suamiku," lirih Risa.
Lagi-lagi Risa menggelengkan kepalanya. "Mas Arga masih bekerja di tempat yang sama dan sekarang gajinya pun sudah jauh lebih besar. Namun, bukan harta yang menjadi pemicu perceraian kami. Perselingkuhan lah yang membuat aku memutuskan untuk mundur dan memilih diceraikan olehnya."
"Bisa kamu ceritakan kepadaku?" Mommy Tiya mulai penasaran.
Risa mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam wanita itu dengan serius.
"Sebenarnya ini rahasiaku, Tante. Hanya aku dan keluargaku yang tahu kisah ini. Bahkan Ayden dan Oma Hana pun tidak mengetahuinya," jelas Risa.
Mommy Tiya masih diam sambil memasang telinganya dengan baik.
"Setelah melahirkan Lily, sikap mas Arga berubah. Dia bilang padaku bahwa dia masih belum siap menjadi seorang ayah dan ia pun tidak bisa menerima kehadiran Lily. Di kehidupan kami. Mas Arga menganggap Lily sebagai penambah beban di kehidupannya. Namun, bukan itu yang membuat aku menyerah pada dirinya." Risa terdiam sejenak sambil mengingat masa kelamnya ketika Arga menyelingkuhi dirinya.
"Terus?" Mommy Tiya makin penasaran.
"Mas Arga berselingkuh bersama adikku sendiri, Tante. Hampir setiap malam mereka bermain panas di belakangku. Hingga akhirnya adikku hamil kemudian menikah dengannya. Sekarang aku bertanya pada Tante sebagai sesama perempuan. Apakah salah jika aku memilih bercerai dengannya dan membawa pergi anakku bersamaku?" lirih Risa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku menikahi Mas Arga atas desakan ayah dan ibuku. Aku terpaksa mengubur perasaanku dalam-dalam kepada Mas Ayden demi mereka yang ternyata hanya orang tua angkatku. Yah, mereka hanya orang tua angkat dan aku baru tahu setelah kejadian memalukan ini."
Risa terisak, tetapi buru-buru ia seka buliran-buliran bening tersebut dari kedua belah pipinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Mommy Tiya.
Raut wajah Mommy Tiya yang tadinya tampak panas, sekarang mulai mencair. "Jadi ... pak Abdi dan bu Lidia itu hanyalah orang tua angkatmu?"
"Ya, Tante. Aku mengetahui hal itu setelah mereka memintaku merestui mas Arga agar bisa menikahi Mona yang saat itu tengah mengandung. Setidaknya untuk balas jasa karena mereka sudah merawatku sejak bayi," jawab Risa sambil tersenyum kecut.
"Dari hasil perceraianmu, apa kamu mendapatkan harta gono-gini dari suamimu? Ya, setidaknya 'kan untuk bayimu," tanya Mommy Tiya lagi.
Risa menggelengkan kepalanya. "Aku belum mengurus surat-surat ceraiku, Tante. Mas Arga tidak akan pernah bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk mengurus hal-hal seperti itu. Dan soal harta gono-gini, aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Selama aku masih bernapas, aku akan terus berjuang untuk memenuhi semua kebutuhan putriku," jawab Risa dengan mantap.
Risa mencoba tersenyum kepada Mommy Tiya. "Tante, semua tentang hidupku sudah kuceritakan tanpa ada yang ku sembunyikan. Sekarang, semua keputusan ada di tangan Tante dan aku berjanji akan menerimanya dengan lapang dada. Aku tahu Tante pasti ingin yang terbaik untuk Mas Ayden, sama seperti diriku kepada Lily." ucap Risa yang kini tampak pasrah.
Mommy Tiya menghela napas beratnya. "Bolehkah aku melihat anakmu?"
"Tentu saja, Tante." Risa pun segera bangkit kemudian berjalan menuju ruang utama untuk menjemput Lily yang saat ini masih berada di pelukan Ayden.
"Bagaimana, Ris?" tanya Ayden dengan wajah harap-harap cemas.
"Mommy ingin bertemu Lily," jawab Risa sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Ayden.
"Biar Lily bersamaku saja. Sekarang kita temui Mommy bersama-sama," ucap Ayden seraya meraih tangan Risa kemudian menuntunnya menuju ruangan di mana Mommy Tiya masih menunggu mereka.
...***...