
"Rachel, lepaskan aku! Sebentar saja. Aku hanya ingin mendengar penjelasan itu langsung dari mulut Mas Ayden. Jika benar seperti yang kamu katakan, maka aku akan mundur!" tegas Renatta kepada Rachel yang masih mengurungnya di dalam kamar.
Rachel menghembuskan napas berat. "Ok, hanya kali ini saja! Dan jika apa yang aku katakan terbukti benar, maka berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah mencoba mendekati abangku lagi," tegas Rachel.
Renatta menekuk wajahnya dengan sempurna. "Kamu sebel banget ya sama aku?" lirihnya.
Rachel menghampiri Renatta kemudian merengkuh pundaknya. "Sebenarnya bukan seperti itu, Ren. Aku suka kok sama kamu. Hanya saja aku tidak suka jika kamu memaksakan sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa, misalnya seperti perasaan bang Ay. Bang Ay itu tidak pernah memiliki perasaan padamu. Cintanya hanya satu untuk Risa, kekasih masa lalunya," jelas Rachel.
Renatta menelan salivanya dengan susah payah. "Aku ingin mendengar kata-kata itu langsung dari bibir Mas Ayden. Jika benar begitu, maka aku akan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupannya."
Rachel tersenyum kemudian menyerahkan kunci pintu kamar yang sejak tadi ada di dalam genggamannya.
"Baiklah. Ini kuncinya dan segera kembali setelah kamu selesai bicara bersama Bang Ay."
"Baiklah."
Renatta meraih kunci tersebut dengan wajah semringah kemudian berjalan menghampiri pintu kamar. Setelah membuka pintu tersebut, ia pun segera keluar dan mencari keberadaan Ayden.
"Apa mungkin Mas Ayden masih berada di teras? Tapi ... perasaan tadi aku lihat wanita itu sudah masuk ke kamarnya, deh," gumam Renatta yang sempat melihat sekelebat bayangan Risa memasuki kamarnya.
Hanya bermodal feeling, Renatta berjalan menuju teras depan dan ternyata feeling-nya benar. Lelaki pujaannya itu masih duduk termenung di sana.
Renatta berjalan menghampiri Ayden kemudian berdiri di samping tubuh lelaki itu. "Mas Ayden," panggilnya.
Ayden yang tidak menyadari keberadaan gadis itu, tersentak kaget dan ia pun segera menoleh ke arahnya.
"Renatta?" pekiknya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Renatta sembari menunjuk sebuah kursi kosong yang tadi diduduki oleh Risa.
Ayden mengangguk pelan. "Ya, duduklah," sahut Ayden.
Renatta duduk di kursi tersebut kemudian tanpa berbasa-basi langsung bicara bersama lelaki itu.
"Mas!"
"Hmmm?" Ayden menoleh.
"Apa yang sudah kamu dengar?" Ayden balik bertanya.
"Soal Risa. Apa benar dia itu mantan kekasihmu?"
Ayden tersenyum tipis. "Ya. Dia adalah wanita pertama yang berhasil meluluhkan hatiku. Wanita pertama dan terakhir yang mampu bertahta serta menguasai hatiku, bahkan hingga sekarang," jawab Ayden.
Renatta mendengus kesal. Bibirnya mengerucut dan wajahnya pun ikut menekuk. "Lalu bagaimana denganku?"
"Maafkan aku, Ren. Apa yang sering aku katakan ke kamu itu benar adanya. Aku hanya menganggap kamu seperti adikku dan tidak akan pernah lebih dari itu," jelas Ayden dengan lembut.
"Memangnya apa kelebihan Risa dariku, Mas? Aku bahkan jauh lebih cantik dan lebih muda darinya. Aku berpendidikan tinggi. Orang tuaku berkecukupan dan setidaknya aku masih gadis!" kesal Renatta.
Wajah Ayden menegas. Ia tidak suka mendengar Renatta yang mulai membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan Risa.
"Ada satu hal yang paling aku suka dari Risa dan itu tidak akan pernah aku temukan dari seseorang seperti dirimu, Renatta Alicia. Ya, kamu benar soal Risa yang tidak secantik dan tidak berpendidikan tinggi sepertimu. Namun, bagiku hatinya jauh lebih cantik dan setidaknya dia masih memiliki adab yang baik kepada siapa pun."
Renatta semakin kesal setelah mendengar penuturan dari Ayden barusan. Ia menghentakkan kakinya ke lantai kemudian melenggang pergi meninggalkan Ayden yang masih menatapnya dengan wajah tegas.
Renatta kembali ke kamar Rachel sambil terisak-isak. Ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur milik Rachel kemudian menangis histeris dengan posisi telungkup.
Rachel yang menyaksikan hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menghampiri Renatta yang sedang bersedih kemudian mengelus lembut pundaknya.
"Sudahlah, Ren. Jangan menangis lagi. Kamu masih sangat muda dan perjalanan hidupmu masih sangat panjang. Kamu masih bisa mendapatkan seorang calon pendamping hidup yang jauh lebih tampan dan jauh lebih baik dari Bang Ay."
"Ngomong memang enak, Chel. Tapi jika kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini, mungkin kamu tidak akan pernah berkata seperti itu," jawab Renatta di sela isak tangisnya.
"Hmmm ...." Rachel bergumam. Ia bersandar di sandaran tempat tidur, masih di samping tubuh Renatta.
"Besok aku akan pulang dan akan kuceritakan semuanya kepada ayah dan ibu. Mereka harus tahu bahwa Mas Ayden tidaklah sebaik yang mereka pikirkan selama ini. Buktinya lelaki itu sudah berani menyakiti hatiku hanya demi seseorang seperti Risa," lanjut Renatta.
Ck! Rachel menggelengkan kepalanya dan sambil berdecak sebal.
"Terserah kamu saja lah, Ren. Lakukan apa pun yang menurut kamu benar."
...***...