Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Berkunjung ke kediaman Pak Abdi


Risa berhasil melepaskan cengkraman tangan Arga kemudian bangkit dari posisinya. Ia meraih si kecil Lily yang sedang tertidur lalu menggendong tubuh mungil itu.


"Risa, kamu mau ke mana?" tanya Arga yang kini ikut berdiri di samping Risa.


"Aku akan tidur di luar bersama Lily," jawab Risa dingin.


"Ja-jangan, Ris! Biar aku saja yang tidur di luar. Kamu di sini saja bersama Lily." Arga meraih bantalnya kemudian membawa benda empuk itu keluar dari kamar dan menuju sofa ruang depan.


Sepeninggal Arga, Risa bergegas mengunci pintu kamar utama. Ia tidak ingin lelaki itu kembali masuk dan harus tidur bersama. Tidak mudah bagi Risa untuk menerima Arga kembali. Rekaman video panas Arga dan Mona bahkan masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Keesokan harinya.


Selesai sarapan pagi, Risa dan Arga bersiap menuju kediaman orang tua Risa. Di mana semua orang sudah menanti kedatangan mereka, termasuk Mona.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mereka pun tiba di kediaman kedua orang tua Risa. Ternyata benar, di sana sudah berkumpul seluruh keluarga besar Risa. Bahkan saudara-saudara tertua ayah dan ibunya juga turut hadir di sana.


Arga tampak grogi dan takut. Ia merasa seperti seorang penjahat yang siap diadili di hadapan seluruh keluarga besar karena hubungan gelapnya bersama Mona, sang adik ipar. Dengan jantung yang berdebar-debar, Arga mengikuti langkah Risa memasuki kediaman mertuanya itu.


"Nah, akhirnya mereka datang juga," ucap salah satu paman Risa, kakak dari ayah Risa.


"Duduklah," lanjutnya.


Risa dan Arga pun segera duduk di hadapan seluruh keluarganya yang sudah berada di ruangan itu, termasuk Mona. Gadis itu hanya diam dengan kepala menunduk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya, apa lagi harus bertatap mata dengan Risa.


"Baiklah, Arga. Aku tidak ingin berbicara panjang lebar. Setelah kami pertimbangkan dengan matang permasalahan ini, dengan terpaksa kami memutuskan untuk tetap memintamu bertanggung jawab atas Mona dan bayinya. Mau tidak mau, kamu harus menikahi Mona," tegas sang Ayah dengan wajah yang begitu tegang menatap Arga.


Bagaimana tidak tegang, situasi yang dihadapi oleh keluarga mereka kali ini benar-benar menguras emosi jiwa dan raga. Arga mengerutkan alisnya dan dari raut wajah lelaki itu tampak ia tidak bisa menerima keputusan itu. Sementara Risa hanya bisa pasrah menerima keputusan keluarga besarnya.


"Ta-tapi, Yah. Bagaimana dengan Risa? Aku tidak mungkin menjadi suami dari Risa dan Mona sekaligus. Secara mereka adalah adik dan kakak," protes Arga.


"Lalu kamu maunya seperti apa, Arga!" Nada suara Pak Abdi mulai meninggi dan emosinya kembali meluap setelah mendengar penolakan Arga barusan. Mata lelaki paruh baya itu bahkan sampai melotot sempurna menatap menantunya itu.


"Bu-bukan seperti itu, Yah!" jawab Arga dengan terbata-bata. Ternyata kemarahan Pak Abdi barusan berhasil membuat nyali Arga kembali menciut.


"Maksud saya begini, Yah. Saya akan bertanggung jawab atas bayi itu. Saya akan merawatnya dengan baik, sebagaimana saya merawat Lily. Selain itu, saya juga bersedia membiayai semua kebutuhan Mona. Namun, saya tidak bisa menikahi Mona. Secara Mona itu ...." Arga terdiam sambil menatap Mona yang duduk di seberangnya dengan kepala tertunduk.


Risa tersenyum sinis sambil memutarkan bola matanya. Ia kesal saat Arga mengatakan akan merawat bayi Mona sama seperti ia merawat Lily. Jangankan merawat, Arga bahkan tidak pernah sekali pun menggendong atau hanya sekedar mengajak anaknya itu berceloteh sama seperti seorang ayah pada umumnya.


"Ada apa dengan Mona, ha? Enak saja kamu bilang seperti itu. Kami semua sudah memutuskannya dan kamu tidak bisa menolaknya dengan alasan apa pun lagi. Selain itu, pernikahan kalian harus dilangsungkan secepatnya. Sebelum perut Mona semakin membesar dan orang-orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."


"Dan satu lagi yang harus kamu tahu, Arga. Risa adalah anak yang kami adopsi 25 tahun yang lalu sebelum Mona lahir. Jadi, tidak masalah jika kamu menikahi mereka berdua," lanjut Pak Abdi, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Risa saat itu.


Risa benar-benar sedih mendengar penuturan ayahnya itu. Ia tidak menyangka ternyata ejekan teman-temannya pada saat ia masih kecil itu benar. Dia hanyalah seorang anak pungut yang sengaja diadopsi oleh Pak Abdi dan Bu Lidia sebagai anak pancingan.


Ya, Pak Abdi dan Bu Lidia sudah lama menginginkan seorang anak di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Namun, sekian tahun lamanya, pasangan Bu Lidia dan Pak Abdi tidak juga dikaruniai seorang anak. Hingga salah seorang kerabat menyarankan kepada mereka untuk mengadopsi seorang anak sebagai pancingan. Bu Lidia dan Pak Abdi mengikuti saran itu dan setelah lima tahun lamanya merawat Risa, akhirnya Bu Lidia pun dinyatakan positif hamil.


"Benarkah itu?" Arga membulatkan matanya sembari menatap Risa yang kini terisak di sampingnya.


***


Noted : Kemarin Author sempat kasih judul


"Derit Ranjang Adik Angkat"


Ternyata Author salah kasih judul, sementara Cover sudah dikunci oleh Admin. Author ingin mengganti Cover serta memperbaiki sedikit judulnya, ternyata gak bisa 🤧🤧🤧 dan harus chat Admin dulu.


Setelah berdiskusi dengan Admin soal judul dan alur cerita, akhirnya Admin menyarankan untuk ganti judul yang sekarang.


Jadi, Author minta maaf karena judul kemarin sudah berhasil menggiring opini kalau Mona lah anak angkat Pak Abdi dan Bu Lidia. Sekali lagi, Author minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian, 🤧🤧🤧


...----------------...