Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Permintaan Arga


"Apa kamu tahu, Arga? Bayi di dalam kandungan Mona masih hidup. Mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab atas bayi itu karena bayi itu adalah milikmu!" geram Pak Abdi dengan napas yang memburu.


"Apa?" pekik Arga dengan mata membulat sempurna.


Ia merasa heran bagaimana bayi itu masih bisa bertahan di kandungan Mona. Padahal menurut komentar pembeli yang lain, obat itu begitu manjur untuk menggugurkan kandungan. Apalagi kandungan Mona baru berusia beberapa minggu saja.


"Ta-tapi itu tidak mungkin, Yah, sebab ...." Arga menghentikan ucapannya.


"Sebab apa! Sebab kamu sudah meracuni anak gadisku dengan obat penggugur kandungan itu, iya!" geram Pak Abdi sambil mencengkram erat kerah kemeja yang dikenakan oleh Arga.


Arga tertunduk lesu. Ia tidak berani melawan atau pun membela diri di hadapan lelaki paruh baya itu karena Arga sadar bahwa semua itu adalah kesalahannya.


"Saya bersedia bertanggung jawab kepada bayi itu, Yah, tapi maaf saya tidak bisa menikahi Mona. Jika saya menikahi Mona, lalu bagaimana dengan Risa? Saya masih mencintai Risa dan saya tidak mungkin menceraikannya," sahut Arga sambil memelas menatap Pak Abdi.


Risa yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan antara Arga dan ayahnya, segera pergi dari tempat itu dan menjauh dari semuanya untuk menenangkan diri.


Risa berlari kecil melewati lorong-lorong Rumah Sakit sambil menyeka air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya. Buliran bening itu terus keluar tanpa bisa ia kontrol.


Tepat di seberang Risa, tampak seorang laki-laki yang tengah berjalan sambil fokus menatap layar ponselnya. Penglihatan Risa yang kabur karena genangan air mata, membuat ia tidak fokus melihat lelaki itu. Hingga akhirnya ....


Brugkhh!


Risa menghantam lelaki itu hingga tubuh kurusnya mental beberapa langkah ke belakang. Ponsel lelaki itu pun jatuh ke samping kaki Risa akibat tubrukan tersebut. Risa bergegas meraih benda pipih itu dan mengembalikannya kepada sang pemilik.


"Ehm, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Ini ponselmu," ucap Risa dengan kepala tertunduk. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap lelaki itu. Setelah menyerahkan ponsel tersebut, Risa pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Ehm, Risa?" Lelaki itu terus menatap punggung Risa yang semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya.


"Itu Risa 'kan? Tapi kok dia kurus sekali, ya?" gumam lelaki itu lagi. Ia tersenyum tipis kemudian kembali melangkah.


Tanpa sepengetahuan Arga serta kedua orang tuanya, Risa kembali ke rumah dengan menggunakan jasa ojek online. Ia merasa tidak enak karena sudah terlalu lama meninggalkan Lily bersama Bi Surti. Selain itu, ia juga tidak betah berkumpul bersama Arga dan Mona di Rumah Sakit. Walaupun di sana ada kedua orang tuanya.


"Bagaimana kondisi Non Mona, Non?" tanya Bi Surti ragu-ragu sembari menyerahkan Lily kepadanya.


"Kondisinya sudah mulai membaik dan berita baiknya, bayi dalam kandungan Mona masih selamat, Bi," jawab Risa dingin.


Bi Surti membuang napas berat seraya mengelus pundak Risa dengan lembut. "Bibi tidak tahu harus berkata apa. Bibi hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu, Non Risa."


"Aamiin, Bi."


Risa segera membawa Lily kembali ke kamar utama. Kini sudah saatnya untuk si kecil Lily mandi dan mengganti pakaiannya agar terlihat lebih segar.


Arga kembali ke kediamannya dengan wajah yang tampak kusut. Ia melangkah gontai menelusuri setiap ruangan yang ada di rumahnya tersebut.


"Di mana Risa, Bi?" tanya Arga kepada Bi Surti yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


"Di dalam kamar, Tuan."


"Baiklah, terima kasih." Arga pun bergegas menuju kamar utama, di mana Risa dan anaknya berada.


Sesampainya di depan pintu ruangan itu, Arga sempat terdiam di sana untuk beberapa saat. Tangannya yang hampir menyentuh gagang pintu, tiba-tiba tertahan ketika ia mendengar isak tangis Risa di dalam ruangan itu.


"Ri-Risa ...." Arga menghela napas panjang.


Arga memberanikan diri untuk mendorong pintu tersebut walaupun sebenarnya ia sempat ragu. Dari sela pintu yang terbuka, ia dapat melihat sosok Risa yang terisak di tepian tempat tidur sambil memandangi cincin pernikahan mereka.


Risa tidak sadar bahwa Arga sudah memasuki ruangan itu dan berjalan ke arahnya. Sesampainya di hadapan Risa, Arga segera berlutut di sana sambil mendongakkan kepala, menatap wajah kusut Risa.


Risa tersentak kaget. Ia ingin menghindar, tetapi tidak bisa karena Arga sudah mengunci pergerakannya. Tangannya bahkan sudah digenggam oleh lelaki itu dengan sangat erat.


"Lepaskan tanganku, Mas Arga! Aku tidak sudi di sentuh olehmu!" geram Risa dengan wajah memerah menatap lelaki itu.


"Maafkan aku, Risa. Kumohon, dengarkan aku sekali ini saja," lirih Arga dengan wajah memelas menatap Risa.


Risa membuang muka. Ia sama sekali tidak ingin menatap wajah lelaki itu.


"Risa, ayah dan ibu meminta kita berkumpul di rumah mereka. Kita harus menyelesaikan masalah ini secara bersama-sama," ucap Arga lagi.


"Kita? Enak saja!" geram Risa sambil mendengus kesal. "Yang enak-enak 'kan kamu sama Mona? Kenapa aku harus ikut-ikutan menyelesaikan masalah kalian, ha?"


"Ayolah, Risa! Kumohon, bantu aku. Aku masih mencintaimu, sungguh! Aku tidak ingin kehilanganmu."


"Sekarang saja kamu bilang cinta. Kemarin-kemarin kamu ke mana aja, Mas? Mabuk cinta sama Mona?" Lagi-lagi Risa membuang muka sambil tersenyum sinis.


"Demi Tuhan, Risa. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mona. Dia hanya ...." Arga menghentikan ucapannya dan terdiam menatap Risa.


"Dia apa? Pemuas napsumu?"


...***...