
Beberapa hari kemudian.
Di sebuah kafe, di kota X. Tampak Ayden dan Rachel sedang duduk bersantai sambil menikmati secangkir kopi.
"Bang Ay, akhirnya Oma berhasil menemukan pengganti perawatnya yang berhenti beberapa minggu yang lalu dan sekarang Oma sudah tidak kesepian lagi," ucap Rachel sambil terkekeh.
"Benarkah? Wah, syukurlah. Aku turut senang mendengarnya."
"Kata Oma, dia janda muda dengan satu anak. Anaknya masih bayi. Pada awalnya Oma menerima dia bekerja hanya lantaran kasihan. Namun, setelah beberapa hari bekerja, ternyata hasil pekerjaan wanita itu bagus," jelas Rachel.
Ayden terdiam sejenak dengan pikiran menerawang. Mendengar kata 'bayi' disebutkan, entah mengapa tiba-tiba ia teringat kepada si kecil Lily.
"Bang! Bang Ay kenapa? Kok, bengong?" Rachel melambai-lambaikan tangannya ke wajah Ayden yang tampak melamun.
Ayden tersenyum tipis. "Tiba-tiba aku teringat sama Lily."
"Lily? Maksudmu bayi perempuannya Risa, 'kan?" tanya Rachel yang tampak begitu penasaran.
"Ya, bayi perempuannya Risa."
Rachel mendelik sambil tersenyum menggoda Ayden. "Teringat Lily, atau ibunya Lily?"
"Hush! Tentu saja Lily, lah." Ayden tersipu malu.
"Sama yang melahirkan Lily juga boleh, kok!" goda Rachel lagi.
"Hhh, tidak boleh lah. Dia 'kan sudah menikah," jawab Ayden sembari menyeruput kopi manis kesukaannya.
"Eh, Bang. Abang Ay masih belum bercerita soal hubungan Bang Ay yang kandas sama Risa. Ceritain dong, Bang! Jangan buat aku semakin penasaran," rengek Rachel sambil mengguncang-guncang tangan Ayden.
"Kepo," jawab Ayden acuh tak acuh.
"Bang Ay! Ayolah," lirih Rachel sekali lagi. Ia memasang wajah memelas dan berharap kakak sepupunya itu bersedia menceritakan kisah cintanya bersama Risa.
"Oke-oke baiklah." Ayden menepis tangan Rachel.
"Kamu pasti tahu bagaimana nasib kami setelah Daddy meninggal. Perekonomian kami sempat memburuk. Mommy memutuskan untuk pindah ke kota ini dan memulai hidup dari bawah lagi. Di kota ini pula lah aku bertemu dengan Risa. Gadis manis yang tidak banyak gaya. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Namun, sayang takdir tidak menyatukan kami. Ayahnya memilih menikahkan Risa dengan Mas Arga. Seorang lelaki yang memiliki pekerjaan tetap dan menjanjikan. Sementara aku? Aku hanya seorang lelaki pengangguran dan tidak memiliki pekerjaan," lirih Ayden dengan wajah sendu.
"Dan Risa menerimanya begitu saja?" Rachel tampak sebal.
"Dia anak yang baik, Rachel. Dia tidak akan menolak permintaan Ayah dan Ibunya. Dia sempat datang kepadaku dan memohon maaf atas semua keputusannya. Dari tatapan matanya, aku tahu bahwa dia terpaksa menerima perjodohan itu." Tatapan Ayden kembali menerawang. Memory menyakitkan itu seakan kembali berputar di kepalanya dengan sangat jelas.
"Tidak semudah yang kamu bayangkan, Chel. Lagi pula aku sadar kok posisiku saat itu. Hanya seorang lelaki pengangguran yang tidak memiliki apa pun."
"Sebaiknya kita kembali, Chel. Barusan aku mendapatkan telepon dari salah satu karyawanku. Katanya ada sedikit masalah di sana." Ayden melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian bangkit dari posisinya saat itu.
"Baiklah." Rachel pun mengikuti Ayden. Ia segera berdiri kemudian meraih tas selempang kecil di atas meja dan meletakkannya ke pundak.
Baru saja Ayden ingin beranjak dari tempat duduknya. Namun, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seorang lelaki yang baru saja memasuki kafe tersebut. Lelaki itu terlihat tengah asik menggandeng mesra seorang wanita cantik dan berpakaian seksi. Mata Ayden bahkan sampai tak berkedip melihat kemesraan pasangan itu.
"Bang Ay, katanya ingin pulang?" protes Rachel setelah melihat Ayden mematung di dekat kursinya.
Ayden tidak menjawab. Tatapan elang lelaki itu masih tertuju pada pasangan mesra yang baru saja tiba tersebut. Pasangan yang kini duduk di sebuah meja yang tak jauh dari meja Ayden dan Rachel.
Rachel yang penasaran, akhirnya ikut melihat ke arah pasangan itu. Mata Rachel terbelalak setelah mengetahui siapa lelaki yang tengah bermesraan dengan wanita cantik tersebut.
"Oh ya, Tuhan! Bang Ay, itu 'kanβ" Belum habis Rachel berkata-kata, Ayden sudah menarik tangan wanita itu dan memintanya untuk kembali duduk di tempat semula.
"Hsstt, jangan keras-keras! Nanti mereka mendengarmu. Ya, kamu benar. Itu Mas Arga, suaminya Risa. Tetaplah di sini bersamaku, aku ingin tahu apa hubungan Mas Arga dengan wanita itu."
Rachel memutarkan bola matanya. "Ish, apalagi kalau bukan pasangan kekasih? Apa Bang Ay tidak lihat bagaimana cara dia memperlakukan wanita itu? Manis sekali!" geram Rachel.
"Hhh, tiba-tiba saja aku teringat bagaimana cara dia memperlakukan Risa. Dia sangat kasar dan memperlakukan Risa dengan sesuka hatinya," lanjut Rachel.
Sementara Rachel terus menggerutu, Ayden masih memperhatikan kemesraan pasangan itu dengan lekat.
"Mungkin ini lah alasan kenapa Risa terlihat begitu sedih. Apa dia sudah mengetahui bagaimana kelakuan Mas Arga di belakangnya?" gumam Ayden dengan dirinya sendiri.
Rachel yang kesal, meraih ponselnya dan mengabadikan momen-momen mesra Arga bersama wanita cantik itu.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Entah sudah berapa banyak foto mesra Arga yang ia ambil dan tersimpan di galeri ponselnya. Ayden yang menyadari hal itu, segera menegur Rachel.
"Apa yang kamu lakukan, Chel?"
"Aku hanya mengabadikan kemesraan mereka, Bang. Itu saja," sahut Rachel tanpa menghentikan aksinya. Memotret pasangan mesra tersebut dengan berbagai gaya.
Ayden hanya bisa menggelengkan kepala melihat aksi adik sepupunya itu.
...***...