
"Risa, kamu ke mana?"
Bu Lidia begitu terkejut ketika menyaksikan Risa sudah bersiap meninggalkan kediamannya pagi-pagi sekali. Bahkan Bu Lidia belum selesai mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Wanita paruh baya itu meninggalkan rutinitas paginya untuk sejenak dan menghampiri Risa yang kini sudah siap dengan sebuah koper di tangannya.
"Aku harus pergi sekarang, Bu."
"Tapi ini masih terlalu pagi, Nak. Tidak bisakah kamu menunggu hingga kita selesai sarapan? Kamu belum makan apa-apa, kamu pasti lapar," ucap Bi Lidia yang mencoba membujuk Risa.
"Maafkan aku, Bu."
Bu Lidia menatap Risa dengan tatapan sedih. Ia meraih tangan anak angkatnya itu kemudian menuntunnya duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Sebenarnya kamu mau pergi ke mana? Biar bagaimanapun ini juga rumahmu, Ris. Tidak bisakah kamu tinggal di sini bersama Ayah dan Ibu? Kita bisa merawat Lily bersama-sama," lirih Bu Lidia sambil menggenggam tangan Risa.
Risa menggelengkan kepalanya pelan. "Jujur, aku malu, Bu. Aku malu jika harus tinggal di rumah ini. Apa yang akan dikatakan oleh tetangga-tetangga tentangku? Aku tinggal di sini, sementara Mona menikah dan tinggal bersama suamiku di sana. Sepintar-pintarnya kita menyembunyikan rahasia itu, mereka pasti akan mengetahuinya, cepat atau lambat."
Tubuh Bu Lidia bergetar hebat. Sebuah buliran bening berhasil lolos dari sudut matanya. Namun, dengan cepat ia seka.
"Tunggulah di sini," ucap Bu Lidia.
"Tapi, Bu—"
"Sebentar saja."
Bu Lidia segera pergi dari ruangan itu dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Selang beberapa menit kemudian Bu Lidia kembali lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Ia duduk di samping Risa kemudian menyerahkan sebuah amplop berisi uang ke hadapan Risa.
"Ambillah ini, Ris. Ibu tahu kamu sangat membutuhkannya. Kamu bisa menggunakannya untuk modal usaha dan menyewa sebuah rumah untuk kalian tinggal."
Risa mendorong pelan amplop itu sambil tersenyum kecil. "Tidak usah, Bu. Aku tahu Ibu pun pasti sangat membutuhkannya untuk menambah-nambah biaya pernikahan Mona nanti," jawab Risa.
"Tidak, Nak. Ibu tidak membutuhkan uang ini. Pernikahan Mona dan Arga akan dilangsungkan secara sederhana. Tidak ada pesta mewah seperti pernikahanmu dulu. Hanya pernikahan biasa yang akan disaksikan oleh beberapa orang terdekat," tutur Bu Lidia.
Risa menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi. "Kapan pernikahan mereka dilangsungkan," tanya Risa. Mencoba menguatkan hatinya kembali.
"Minggu depan." Bu Lidia terdiam. "Ibu tidak memaksa, tetapi jika kamu ingin berhadir ke pesta pernikahan mereka, maka datanglah. Kedua tangan kami terbuka lebar menyambut kedatanganmu, Risa."
Risa tersenyum kecut. "Sepertinya tidak, Bu. Maafkan aku. Kejadian ini terjadi begitu cepat. Aku butuh waktu untuk menata hatiku kembali," jawab Risa.
Bu Lidia. "Maafkan kami, Ris. Karena sudah membuatmu menjadi seperti ini dan maafkan adikmu yang tidak tidak tahu diri itu," ucap Bu Lidia dengan bibir bergetar.
"Sudahlah, Bu. Mungkin ini sudah takdirku."
Risa sempat terdiam sejenak sambil menatap amplop berwarna coklat muda berisi sejumlah itu dengan seksama. Setelah beberapa detik berikutnya, Risa pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Bu. Aku berjanji akan mengembalikannya jika aku sudah punya uang," jawab Risa.
"Tidak usah kamu pikirkan soal itu, Ris. Ibu sama sekali tidak mengharap kamu mengembalikan uang ini kepada Ibu. Jika uang ini masih kurang, kamu bisa temui Ibu lagi."
"Terima kasih, Bu. Ini sudah lebih dari cukup." Risa menoleh ke arah jam dinding. "Sepertinya aku harus berangkat sekarang. Aku takut kesiangan, nanti Lily malah kepanasan di jalan," lanjut Risa.
"Tidak bisakah kamu menunggu Ayahmu dulu?" pinta Bu Lidia lagi.
Risa menggelengkan kepala kemudian meraih kopernya dan sebelum berangkat, ia sempat mencium punggung tangan Bu Lidia dan memeluknya.
"Maafkan aku, Bu. Aku harus pergi sekarang."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya, Nak. Ingat, jaga Lily baik-baik," ucap Bu Lidia dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, Bu. Terima kasih."
Risa pun pergi dari rumah sederhana itu sambil menggendong si kecil Lily dan menyeret sebuah koper besar yang berisi pakaian serta keperluan bayinya.
"Maafkan kami, Risa. Kami memang kejam karena mendesakmu untuk berbagi suami bersama Mona. Namun, keadaan lebih kejam karena membuat kami terpaksa melakukannya. Tapi jangan pernah ragukan kasih sayangku, bagi Ibu kamu tetaplah anak pertamaku, Risa," gumam Bu Lidia sambil menatap punggung kurus Risa yang berjalan semakin menjauh darinya.
"Bu! Ibu di mana?" Terdengar suara teriakan Mona dari dalam rumah. Mona yang baru bangun dari tidurnya, berjalan menelusuri ruangan demi ruangan untuk mencari sosok Bu Lidia.
Bu Lidia bergegas masuk ke dalam rumah kemudian menemui Mona. "Ada apa sih, Mon? Pagi-pagi sudah teriak-teriak aja," ucap Bu Lidia dengan wajah menekuk menatap Mona.
"Bu, tolong balurin punggungku dengan minyak ini. Aku tidak tahan, aku mual dan ingin muntah, Bu," keluh Mona sembari menyerahkan sebotol minyak kayu putih ke hadapan Bu Lidia.
"Baiklah. Sini, Ibu balurin," sahut Bu Lidia.
"Ibu dari mana? Pagi-pagi sudah berada di luar?" tanya Mona sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Mbak-mu. Barusan ia pergi bersama Lily. Jujur, Mona, Ibu sangat sedih," ucap Bu Lidia sembari membuka pakaian Mona dan membalurkan minyak kayu putih itu ke punggungnya.
"Mbak Risa sudah pergi? Ke mana?" Mona penasaran.
"Entahlah. Semoga dia dan Lily mendapatkan kebahagiaan setelah ini," ucap Bu Lidia dengan raut wajah sedih.
Mona tersenyum miring. "Baguslah. Pergi saja sejauh-jauhnya, biar tidak usah kembali lagi!" gumam Mona dalam hati.
...***...