Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Menyingkirkan Barang-Barang Risa


Di Komplek Perumahan Permata.


Mona duduk termenung sambil menatap lemari pakaian Arga yang terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak dingin menatap jejeran daster milik Risa yang masih tersusun rapi di dalam lemari tersebut.


"Apa maksud Mas Arga menyimpan pakaian-pakaian milik Mbak Risa yang jelek ini? Jangan bilang kalau dia masih mencintai mantan istrinya itu," gumam Mona yang kemudian tersenyum miring.


"Heh, rasanya tidak mungkin kalau Mas Arga masih mencintai Mbak Risa. Soalnya apa kelebihan Mbak Risa dariku? Aku jauh lebih cantik, lebih seksi dan yang pasti aku jauh lebih muda darinya," lanjutnya dengan wajah sinis.


Mona bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan ke luar kamar sambil berteriak. "Bi! Bi Surti!"


Bi Surti yang sedang asik melakukan aktivitasnya di dapur, tersentak kaget setelah mendengar suara teriakan Mona yang memanggil namanya.


"Ya ampun, Non Mona, bikin kaget saja!" gumam Bi Surti seraya meletakkan pisau dapur yang tengah ia pegang ke atas meja. Setelah itu ia pun bergegas menuju kamar utama, di mana suara Mona berasal.


"Iya, Non. Sebentar," balas Bi Surti sambil berlari kecil menghampiri Mona yang berdiri di depan pintu kamar sambil bertolak pinggang.


"Bi, sini!" titah Mona sambil melambaikan tangannya.


"I-iya, Non?" Dengan tergagap-gagap Bi Surti menjawab panggilan Mona.


"Bi Surti, tolong keluarkan semua barang-barang milik Mbak Risa yang tertinggal di lemari ini. Semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun."


Mona mengajak masuk Bi Surti ke dalam kamar utama dan memerintahkan wanita paruh baya itu untuk mengeluarkan semua barang-barang milik Risa. Dengan berat hati, Bi Surti pun terpaksa harus mengikuti keinginan Mona.


Sementara Bi Surti tengah sibuk mengeluarkan semua barang-barang milik Risa dari dalam lemari, Mona malah bersantai di tepian tempat tidur sambil memperhatikan pekerjaan Bi Surti.


"Semuanya ya, Bi! Jangan ada yang tertinggal satu pun!" titahnya.


"Baik, Non."


Setelah beberapa menit kemudian, pakaian serta beberapa barang milik Risa pun terkumpul di hadapan Mona, tanpa tertinggal satu pun.


"Sudah semua, Non. Sekarang mau di apakah barang-barang ini?" tanya Bi Surti heran.


"Bungkus dengan kantong kresek trus buang ke tempat sampah. Barang-barang ini sudah tidak ada gunanya, Bi! Bikin penuh kamar aja," sahut Mona dengan wajah sinis menatap Bi Surti.


Lagi-lagi Bi Surti mengangguk. Walaupun enggan, tetapi ia harus tetap melakukan perintah dari Mona tersebut. Bi Surti mengambil beberapa lembar kantong sampah yang tersimpan di dapur kemudian kembali lagi ke kamar utama untuk memasukkan semua benda-benda milik Risa ke dalam kantong tersebut.


"Bi Surti, setelah semuanya beres segera buang saja!" titah Mona lagi.


"Baik, Non."


Setelah selesai, Bi Surti pun segera membawa benda-benda itu ke halaman depan, di mana ia biasa meletakkan sampah untuk diangkut oleh para petugas.


"Sudah, Non. Semuanya sudah saya letakkan di dekat bak sampah."


"Baguslah kalau begitu!"


Tak ada kata terima kasih yang terucap dari bibir Mona. Berbeda dari Risa yang tak pernah ketinggalan mengucapkan kata terima kasih atas bantuan wanita paruh baya itu.


"Non Risa dan Non Mona memang benar-benar berbeda. Non Risa jauh-jauh lebih baik dibandingkan Non Mona," gumam Bi Surti sambil menggelengkan kepalanya.


Tak terasa malam pun menjelang. Mona tampak mondar-mandir dengan wajah cemas di ruang depan sambil sesekali mengintip dari balik gorden.


"Hhh, sudah jam berapa ini? Kenapa Mas Arga belum balik juga! Mana nomor ponselnya tidak aktif lagi," geram Mona.


Hingga berjam-jam Mona menunggu di ruangan itu, Arga masih tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ya ampun, kenapa Mas Arga belum kembali juga? Apa waktu masih sama Mbak Risa, ia juga seperti ini?" gumam Mona sembari menjatuhkan dirinya di atas sofa yang ada di ruangan itu.


Jarum jam terus berputar dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Tiba-tiba terdengar suara deru mobil Arga di halaman depan. Mona yang tadinya tengah terlelap, kini terbangun dari tidurnya.


Ia segera bangkit kemudian kembali mengintip dari balik gorden untuk memastikan siapa yang datang. Mona berdecak sebal setelah memastikan bahwa yang datang adalah suaminya.


"Ck! Sialan, Mas Arga. Jam segini baru balik," gumam Mona sambil menekuk wajahnya.


Kini Arga berdiri di depan pintu utama. Ia meraih kunci serep yang selalu ia bawa kemudian membuka pintu tersebut. Kedatangan Arga langsung disambut oleh Mona dengan wajah cemberut. Arga sempat terkejut, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia pun kembali acuh sama seperti sebelumnya.


"Oh, bagus ya, Mas! Apa Mas tahu ini sudah jam berapa?" kesal Mona dengan kedua tangan melipat di dada.


Bukannya menggubris ucapan Mona, Arga malah melenggang pergi meninggalkan wanita itu tanpa menjawab pertanyaannya.


"Mas! Mas Arga, aku sedang bicara denganmu! Mas!" lanjut Mona dengan setengah berteriak menyusul lelaki itu. Namun, bukannya peduli Arga malah terus melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


"Mas Arga, dengarkan aku!" Mona mempercepat langkahnya hingga berhasil menyusul lelaki itu.


"Mas!" Mona meraih tangan Arga dengan kasar dan berhasil membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.


"Apaan sih?!" kesal Arga sembari menghempaskan tangan Mona yang mencengkram erat pergelangan tangannya.


"Dari mana saja kamu, Mas?"


"Bukan urusanmu!" jawab Arga.


...***...