Book Of Flowers

Book Of Flowers
Arti Kehidupan


--- Malam hari, di sebuah padang rumput ---


"Hm? Tidak bisa tidur Verdea?"


Verdea diam terduduk cukup jauh dari tenda-tenda kami di dalam kegelapan, memandangi langit, dan mengabaikan Veskal yang mendekat dari belakang. Pemandangan malam hari diatas gundukkan kecil ini sangatlah indah untuk dilewatkan oleh Verdea sehingga dia pergi ke sana hanya untuk menatap langit


Veskal yang tidak direspon hanya duduk di samping Verdea, menemaninya memandangi langit malam


...


...


"Kamu tidak merasa aneh kamu harus membunuh keluargamu sendiri, Veskal?" Verdea bertanya


"... Apa yang ingin kamu tanyakan?" Veskal membalas


"Maksudku, Kakak Rosalia dan kamu itu sepupu dekat. Ibunda Sofia itu adik dari ayahmu bukan?


Kita mungkin harus menghadapi mereka nanti. Dan aku tidak yakin Vainzel hanya akan mengampuni mereka seperti itu saja. Orang itu kalau sudah bertekad, dia pasti akan melakukannya...


Aku takut kalau aku harus membunuh mereka... Aku sadar kalau kakak mencoba membunuhku, tapi melakukan hal itu balik kepadanya juga terasa sangat salah" Verdea berkeluh kesah, selagi Veskal mendengarkan dengan seksama


Verdea melipat kedua kakinya dan memendam wajahnya. Perasaan kalut di hati dan pikirannya membuatnya terbebani


Veskal diam menatap Verdea yang sedang merasa gelisah itu. Untuk meyakinkan Verdea, Veskal mengetuk kepalanya perlahan hingga dia Merasakan ketukan itu


Verdea mengangkat kepalanya, menatap langsung ke Veskal yang tersenyum hangat


"Aku sebenarnya setuju padamu. Tapi, melihat situasi saat ini, mustahil kita bisa mencari jalan keluar hanya dengan berdiskusi" Veskal berkata, kemudian perlahan menunduk


"... Hey Veskal..."


"Ya?"


"... Aku pernah berpikir kalau sebaiknya aku tidak ada saja"


...


"Maksudku, semua orang selalu terbebani karena kehadiranku saja. Kalian selalu setengah mati mencoba menyelamatkanku dari segala hal, sementara aku tidak bisa melakukan apapun


Dan kalau dipikir-pikir lagi, semua hal yang terjadi selama ini, semuanya terjadi karena aku tidak mampu melakukan apapun. Vainzel dijadikan kambing hitam oleh kakak. Seluruh kaum Elf jadi terkena imbasnya. Miralius hancur. Kakek, ayah dan kamu, kehilangan tempat tinggal yang tetap. Black Hunt harus mengabaikan kapal yang sudah menyatukan mereka...


Aku ini pengecut dan pecundang. Aku benar-benar hanya beban di pundak kalian semua"


"... Apa tujuanmu berkata begitu?" Veskal bertanya


"... Aku tidak bisa apapun. Bahkan untuk mengangkat jari telunjukku, aku butuh bantuan kalian" Verdea berkata, mengangkat kepalanya ke langit


Veskal tertawa kecil mendengar perkataan Verdea. "Perumpamaan itu buruk sekali..."


"Tapi kamu tidak menganggap kalau itu salah bukan?"


...


"Aku... Tidak berniat berbohong padamu Verdea. Aku tidak bisa berbohong padamu" Veskal berkata setelah menghela napas sedih


Dia memiliki alasan kuat kenapa dia tidak bisa melontarkan satupun dusta kepadaku dan Verdea. Alasan itu adalah karena kami sudah sangat percaya pada satu sama lain, dan dia tidak ingin merusak kepercayaan itu


Verdea langsung kembali lesu dan mulai memeluk kedua lututnya, selagi semakin mendekatkan keduanya ke dada


"Ingat tentang latihan kita di Bargalos? Alasan kenapa aku terus berlatih dengan keras?" Verdea bertanya


"... Karena kamu ingin menjadi setidaknya lebih kuat dariku" Veskal menjawab singkat


"... Tapi kamu selalu bergerak selangkah di depanku Veskal. Lupakan soal Vainzel, aku bahkan tidak bisa menyamaimu. Aku hanya mempersulit kalian. Dia pasti hanya membawaku ke misi ini karena dia tahu aku akan memaksa...


Aku akan selalu dijaga oleh kalian. Tapi hal itu juga membuatku kesal karena mengetahui kalau aku tidak bisa apapun untuk membalas budi kalian"


...


"Kalau begitu, aku akan minta satu hal agar kamu bisa membalas budi padaku"


Verdea menoleh kaget kearah Veskal. Tapi ketika wajahnya baru saja menghadap, sentilan dari Veskal mendarat di keningnya


Merengut kesal karena disentil tanpa alasan, Verdea menggerutu di dalam hatinya


"Tetaplah hidup temanku" Veskal berkata kemudian, membuat Verdea perlahan menoleh kembali kearahnya yang tersenyum hangat


"Tetaplah hidup, dan carilah tujuanmu di dunia ini. Tetaplah hidup dan carilah kebahagiaan untukmu sendiri dan orang lain. Tetaplah tersenyum ketika menanti hari esok. Karena, begitulah hidup yang seharusnya" Veskal menambahkan


Setelah mengatakan hal itu, Veskal menatap dengan perasaan puas ke bintang-bintang yang tersebar di langit


Verdea yang baru saja menyerap perkataan Veskal itu langsung terdiam tanpa sepatah kata pun. Pikirannya terhempas karena perkataan Veskal itu


"Kata-kata yang bagus bukan? Aku mungkin harus menjadi guru!" Veskal bercanda diikuti oleh tawa terbahak-bahak


Verdea langsung menatap kesal kearahnya. "Jangan jadi guru! Muridmu bakal terkena ajaran sesat nantinya!" Dia berkata


"Hey! Apa maksudmu coba?! Dan juga, Setidaknya kata-kataku itu berharga seperti sebuah mutiara bukan? Setidaknya Beri aku pujian!"


"Ya, ya! Kamu hebat~ Kamu luar biasa~ Makan semua pujian dariku itu, karena itu akan jadi yang terakhir! Hmph!" Verdea mendengus kesal, kemudian membuang wajahnya dari Veskal yang tertawa kecil


"Wah, jahat~! Verdea bahkan tidak berterima kasih dengan nasihat yang kuberikan~" Veskal berkata sembari berkali-kali menyodok pipi Verdea dengan jari telunjuknya


"ARGH!! Kamu meminta terlalu banyak tahu!??"


"Barang harus dibayar dengan uang. Kata-kata itu juga harus dibayar dengan hal setimpal, jadi berterima kasihlah~!"


Verdea tidak tahan lagi untuk tidak berteriak sekeras mungkin kearah Veskal. Adu mulut antara keduanya pun tidak terelakkan sehingga menimbulkan kebisingan di tengah kesunyian malam


"JANGAN BERISIK BOCAH!!!!" Zaphir menyela dari dalam tendanya


Mereka berdua langsung berhenti karena ketakutan sembari menoleh kearah suara Zaphir


"Luar biasa... Dia bahkan bisa mendengar kita dari jarak ini..." Verdea berkata


"Ya sudah. Kita tidak perlu berisik lagi. Tapi, aku tidak akan berhenti menempel darimu sebelum mendengarkan terima kasihku~" Veskal bercanda


"Kamu-!"


Dan mereka kembali bertengkar, tapi dengan saling mencubiti pipi satu sama lain tanpa mengeluarkan suara bising


Verdea kemudian teringat sesuatu. Berkat perkataan Veskal yang baru saja ia dengar, Verdea mengingat sebuah pembicaraan dengan Marcellus


'--- Kehidupanmu yang harus ada untuk temanmu itu'


...


"Tapi apa hal itu memang benar...?" Verdea bergumam


"Hm? Apa?" Veskal menyela


"Ah, tidak ada. Pergi tidur sana. 'Terima kasih'. Sudah kuberikan, jadi pergi!" Verdea membalas


"Hah? Jahat~"


Kehidupan yang harus ada untuk temannya itu


Jika memang begitu, apa arti dirinya bagi teman-temannya? Seberapa berharganya dirinya untuk teman-temannya itu? Kenapa dia bisa seberharga itu bagi teman-temannya?


...


"Veskal"


"Ya?"


"Apa arti keberadaanku untukmu?"


"Hm... Mungkin untuk diganggu"


"Aku serius bodoh..."


"Baiklah, baiklah"


Veskal mulai memikirkan jawaban untuk pertanyaan Verdea itu


"... Mungkin karena aku merasa kamu itu seperti adikku. Jadi, aku selalu ingin melindungimu bagaimanapun caranya" Veskal menjawab


"Adik kah...?"


"Dan juga, kamu itu teman terdekatku bukan? Jadi kenapa kamu perlu bertanya coba?" Veskal menambahkan


"... Teman... Terdekat..."


Teman terdekat...


Apa kata itu sangatlah berharga sampai patut dilindungi?


Mengingat kalau semua orang selalu meninggalkannya, Bahkan mencoba menyingkirkannya, Verdea tentu tidak pernah tahu apa arti dari teman dekat


Tapi...


Dia merasa kalau jawaban itu setidaknya cukup. Dia pun mengartikan kata teman dekat itu sama dekatnya dengan sebuah anggota keluarga


Tidak


Mungkin justru lebih dekat. Dia merasa begitu, entah kenapa


Teman dekat itu memiliki posisi yang jauh lebih tinggi di hatinya, dan dia tidak tahu harus membandingkannya dengan apa...


'Apa ini yang dirasakan Vainzel dan Veskal terhadapku?', dia berpikir


"Oh, dan satu hal lagi. Kamu itu akan lemah jika kamu merasa dirimu lemah. Jadi jangan anggap dirimu pecundang" Veskal berkata lagi dengan nada santai


Tetaplah hidup dan carilah kebahagiaanmu. Jika salah satu dari kebahagiaan itu juga termasuk kebahagiaan teman-temannya, usaha apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan hal itu?


Dia menganggap dirinya lemah, dan itu tidak akan berubah. Tapi, jika dia ingin mempertahankan kebahagiaan teman-temannya, dia harus mau untuk berani dan melangkah maju ke posisi yang paling depan


Dia harus mau menghadapi kakaknya dan menghentikan semua kegilaan itu, tanpa sedikitpun rasa ragu membekas di hatinya


"Tapi, mungkin mencari jalan tengah juga akan lebih bagus..." Dia bergumam pelan


"Hah... Kamu ini suka sekali bicara dengan diri sendiri. Vainzel itu bisa jadi pengaruh buruk juga rupanya" Veskal mengeluh


"Kubilang pergi tidur sana!"


Dia punya target yang besar dengan kekuatan yang kecil. Namun, sesuai perkataan Veskal. Dengan sedikit ketekunan, dia pasti akan kuat. Cukup kuat sehingga semua hal bisa berakhir sesuai dengan apa yang dia inginkan


Berakhir dengan kebahagiaan untuk semua orang, walaupun termasuk kakaknya itu


Dia menganggap kalau semua orang memerlukan kebahagiaan, dan impian itu sangatlah ingin dia wujudkan. Dan aku sudah melihat langsung kearah mana tujuan itu membawanya di dalam kehidupan


Tapi, aku senang dia memiliki tekad seperti itu di hari itu juga. Dia punya tekad yang kuat, bahkan melebihi diriku disaat itu


Anak yang luar biasa. Dengan tekad heroiknya itu, Tidak heran kenapa cerita ini disegani oleh semua orang di dunia ini. Bahkan banyak sekali anak muda yang ingin menjadi sepertinya


Bahkan aku ingin menjadi sepertinya. Sungguh, anak itu benar-benar mengubahku