Book Of Flowers

Book Of Flowers
Memilih Pemimpin


--- Sementara itu ---


...


Dia baru saja terbangun kembali. Dan sekarang, dia hanya bisa duduk saja selagi melihat keluar dari jendela kamar itu


Dia paham akan situasinya disaat ini. Tidak perlu mengingat terlalu dalam. Kejadian besar yang terjadi padanya sebelum pingsan itu, akan selalu dia ingat seakan memori itu berada di balik telapak tangannya


Bohong jika dia bilang tidak gusar. Tapi...


Ini adalah bayaran karena dia tidak mampu melakukan apapun. Baik itu untuk menuntaskan tugas yang diberikan kepadanya, ataupun...


...


Dia kehilangan segalanya dalam hitungan detik di hari itu. Semua hal yang dia sudah usahakan buat dan perlahan naik ke angkasa. Tetapi semua itu roboh seakan usahanya sama sekali tidak dihargai oleh siapapun


Semua orang telah menjadi musuhnya. Sekali lagi, wanita muda itu berada di dalam kesendirian yang dunia ini berikan kepadanya...


Rambut putihnya itu pun membuat tirai di hadapan wajahnya yang tertunduk. Dia tidak bisa melihat apapun lagi, terutama ketika matanya mulai dipenuhi oleh air mata yang mulai berjatuhan


Dia bahkan tidak sadar, bersamaan dengan angin sejuk yang datang ke dalam kamarnya itu, ada seseorang yang sudah hadir di dalam sana


...


"Hey"


Sapaan itu membuatnya terkejut dan segera mengangkat kepala. Dia semakin terkejut ketika melihat sosok yang dia kenal dengan sangat baik, bersandar diatas kursi tepat di depan kasurnya


Sosok yang dia cukup rindukan, tapi tahu kalau dia tidak pantas menyebut namanya lagi


"Veskal..."


Angin lagi-lagi berhembus masuk menemani kedua orang yang senyap tanpa kalimat itu. Keduanya diam seribu bahasa, membiarkan rambut mereka dimainkan oleh angin yang datang dalam ketenangan


Veskal pun memejamkan matanya...


Dia mencoba untuk mengumpulkan keberanian di hatinya, untuk bisa berbicara kepada Natasha sebelum aku dan yang lain tiba


"... Kamu berbohong kepada kami lagi" kalimat pertama itu pun dilontarkan


Natasha tertunduk. Dia tahu apa yang Veskal maksudkan, dan tidak berniat untuk meneruskannya lagi


"Jadi, kalian sudah menangkap mereka semua...?" Natasha bertanya dengan pasrah


"Hanya seseorang bernama Luca Erzebil. Dua orang lainnya lepas, dan Vainzel tentu tidak akan mengampuni mereka sebaik dirinya kepadamu sekarang ini"


Dan itu fakta yang bahkan Natasha ketahui. Ketiga temannya mungkin sudah membuat kekacauan di Hortensia sehingga mengundang amarahku


"... Tapi kenapa? Aku pikir kita teman?"


Dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Natasha hanya diam dan menolak untuk menjawab


Dan itu...


Tindakannya itu segera memadamkan cahaya yang ada di mata Veskal nyaris seketika...


Dia merasa gusar karena Natasha menolak untuk bicara. Dan dia berpikir...


Kalau sudah tidak ada gunanya lagi berbaikan dengan wanita muda di hadapannya itu


Setengah wajahnya pun dia tanam pada tangannya yang terlipat diatas pembatas kursi. Matanya tetap mengarah kepada Natasha, masih berharap kalau dia setidaknya tidak mengacaukan hubungan diantara keduanya yang telah ada sejak lama


"Jadi, kamu ingin kita menjadi musuh...?" pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Veskal


Natasha tentu terkejut. "Itu bukan-!" dia mencoba menggoyahkan pertanyaan Veskal, namun terhenti


Ketika dia melihat mata Veskal yang tidak dipenuhi cahaya lagi, Natasha terhenti. Rasa bercampur tertekan dan takut serta gelisah diaduk di dalam dirinya sekarang. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa terguncang hatinya disaat itu


Mau tidak mau, dia harus menjelaskan secara perlahan kepada Veskal


"... Apa yang akan kamu lakukan jika salah satu dari temanmu berada dalam bahaya, Veskal?"


Veskal diam sejenak, memikirkan sebuah jawaban singkat yang mungkin lewat di kepalanya


"... Tentu aku akan melindungi mereka"


"Bahkan jika kamu harus menipu ataupun menyakiti dunia sekalipun bukan?"


Mulai dari kalimat itulah Veskal tersentak. Dari sana dia mulai paham akan sesuatu


Dia paham akan perasaan dan sentimen yang dimiliki oleh Natasha


Pandangannya teralih karena dia tidak mempertimbangkan kalau jawaban itulah yang akan dia dapatkan. Jawaban yang juga menjadi tujuannya selama ini tetap maju


...


Rupanya, kedua orang itu sama saja. Mereka menjadikan diri mereka sebagai sebuah alat untuk membantu orang-orang yang mereka sayangi...


"Tapi sayang, kedua sisi kita harus bertempur dengan satu sama lain..." Veskal menghela napasnya


Wajahnya terangkat kembali, dan dia tatap mata Natasha setajam mungkin. Wanita yang sudah terlihat tidak tahu harus apa lagi itu hanya tersenyum. Dia mungkin sedang berpikir tentang apa yang akan terjadi ke depannya, setelah semua itu berlalu...


Natasha Epsilon sudah menyerah. Dia sudah kalah


...


"Yang ter-agung adalah sosok yang sangat aku cintai, Veskal. Sama seperti dirimu yang mencintai kedua temanmu itu" Natasha berucap


"Bahkan jika dunia menganggapnya sebagai orang yang jahat, dan begitu juga untuk kami... Maka biarkanlah itu terjadi


Selama aku bisa melayani orang yang telah menyelamatkanku, memberiku sebuah arti hidup dan menaungi kepalaku, dengan sepenuh hati akan kulakukan apapun untuknya"


Veskal terdiam mendengar isi pikiran Natasha yang baru saja ditumpahkan itu


"Orang itu akan membunuhmu seandainya Vainzel tidak melakukan sesuatu" dia kemudian berkata untuk menyangkal Natasha


"Aku sudah bilang aku akan sepenuh hati melakukan apapun bukan...?"


Natasha tiba-tiba saja tertawa kecil. Sebuah tawa yang terdengar mengejek itu keluar dari mulutnya, dan diarahkan langsung kepada Veskal


"Bahkan kedua temanmu itu bukan pengecualian. Jika mereka memiliki kesempatan untuk membuang dirimu, mereka akan melakukannya sesegera mungkin" Natasha berkata


...


...


...


"Hmph-!"


Reaksi yang ditunjukkan oleh Veskal adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Natasha. Reaksi yang disertai oleh tawa yang jauh lebih keras dan merendahkan diri lawan bicaranya


Tawa yang menandakan kepercayaan diri, kalau apapun yang dikatakan oleh Natasha itu adalah sebuah omong kosong tidak berarti


"Maaf, maaf! Aku tidak menyangka kamu suka bercanda!"


Veskal kembali tertawa, justru semakin keras. Itu tentu membuat alis Natasha mengerut, mulai dicampur oleh kekesalan


"Kamu tahu apa yang dilakukan oleh Vainzel ketika kami pertama bertemu?!" dia kemudian melontarkan sebuah pertanyaan


"Apa?" Natasha balik bertanya


"Dia membantingku ke tanah karena sudah mengendap-endap masuk ke area kastil Thyme. Dan perlakuan buruknya tidak berhenti selama 3 pertemuan awal kami"


Veskal kemudian mengeluarkan 2 jarinya dan kembali menjelaskan kepada Natasha


"Dia mengikatku ke pohon agar tidak bisa kabur, walaupun setelah itu melepaskanku. Dan dia masih tidak senang dengan kehadiranku pada pertemuan ketiga kami, walaupun dia tahu betul Rosalia sudah membuangku"


Veskal kemudian bergerak maju dan menyodorkan wajahnya tepat di hadapan Natasha


"Lalu kamu tahu apa yang dikatakan Verdea ketika kami pertama bertemu...?"


Lagi-lagi sebuah pertanyaan. Tetapi Natasha mulai merasa tidak nyaman dan terkejut akibat jawaban Veskal sebelumnya. Dan kali ini, dia menggeleng tidak tahu


"Dia berkata 'tidak tahu diri' kepadaku, dan kami bertengkar dengan hebat hingga dia memukuliku..."


...


Natasha terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu apakah dia harus merasa bersalah, atau tidak. Dia baru sadar, kalau dia sudah melempar dirinya sendiri ke dalam argumen yang tidak bisa dimenangkan


Veskal pun mundur dan mulai berjalan pelan tanpa tujuan mengitari ruangan itu


"Kedua temanku itu tidaklah sempurna" Veskal berkata lagi


"Mereka utamanya mengikuti emosi dalam melakukan sesuatu. Mereka memiliki kekurangan yang kadang aku benci. Dan mereka tidak pantang menyerah jika sebuah rencana sudah dibangun dengan rapi"


Langkahnya terhenti, dan kepalanya berputar kembali kearah Natasha. Lagak sombongnya itu tidak dia sembunyikan sama sekali, selagi dia meletakkan kedua tangannya di pembatas kaki tempat tidur Natasha


Dan selagi dia begitu, sebuah kalimat keluar dari mulutnya


"Tapi mereka, tidak akan pernah membuang seseorang teman yang mereka miliki"


Natasha terbelalak. Tapi dia juga tidak berniat mundur


"Bagaimana kamu bisa yakin dengan itu??" dia dengan geram bertanya


Veskal sudah memiliki semua jawaban dan bukti yang dia perlukan. Tapi dia hanya perlu satu


"Sudah dengar berita penyerangan terhadap Xiang?" dia bertanya, dimana Natasha segera merespon dengan sebuah anggukan kepala


"Mereka melakukan itu semata-mata bukan karena Xiang melakukan sebuah masalah. Tapi karena mereka ingin menyelamatkanku dari tangan Shen Xiang"


"Itu-!"


"--- Itu tidak mungkin, kamu mau bilang?"


Veskal mulai tertawa lagi, tidak percaya kalau Natasha sama sekali tidak tahu apapun


"Silahkan saja tanya semua penduduk Hortensia! Aku yakin mereka akan menjawab hal yang sama!"


Dan hanya untuk menyelamatkannya, aku dan Verdea beranjak masuk ke dalam sarang bahaya. Walaupun rencana itu sudah diperhitungkan dengan seksama, perlakuan itu tetaplah ceroboh


Kami bisa saja berada dalam bahaya yang lebih besar. Kami bisa saja terbunuh, dan membuat berita yang sangat menggemparkan. Tetapi kami berdua tetap bersikeras, dan akhirnya ikut membawa yang lainnya untuk menyelamatkan dia seorang


Hanya. Dia. Seorang...


Kami tidak pernah berencana menyelamatkan 7 orang lainnya. Kami bahkan tidak tahu mereka ada disana


"Kamu tidak akan mendapatkan teman seperti mereka di hidupmu. Bahkan jika mereka tidak paham siapa diriku ini, setidaknya mereka ingin, Natasha..."


Tangan Veskal terkepal, merasakan hangatnya memori yang terlintas di kepalanya. Matanya terpejam perlahan, selagi dia mulai menoleh kembali kearah Natasha yang tidak bersuara lagi


"... Lalu, apakah orang yang kamu sangat puja dan rela mengorbankan dirimu untuknya itu, mau paham dengan dirimu?"


"...!"


...


Satu pertanyaan yang sangat kejam untuk Natasha. Satu pertanyaan yang dia tidak tahu jawabannya agar bisa keluar sebagai pemenang


Dia langsung tahu, kalau dia sudah kalah. Tidak perlu memakai kecerdasannya. Dia hanya perlu logika paling dasar


"Bahkan hewan juga bisa memilih pemimpin mereka dengan baik, kamu tahu...?"


"Ber... henti..."


Veskal terdiam mendengar respon itu. Diam, melihat tubuh Natasha yang mulai bergetar dengan jelas, selagi kedua tangannya mulai menutup kedua telinganya


Wajahnya tidak terlihat lagi, ditutupi oleh semua helai rambut yang menjadi tirai di hadapannya itu. Veskal hanya bisa melihat kalau Natasha sekarang sudah tidak mau mendengarkan apapun lagi


...


"Aku harap semua pembicaraan kami itu memuaskan kalian, Vain..."


Natasha terkejut mendengar kalimat Veskal. Tetapi dia tidak ingin mengangkat kepalanya, bahkan ketika suara pintu kamarnya mulai terbuka


Veskal sama sekali tidak perlu menoleh, dan dia tahu kalau kami sudah berada di belakang pintu itu sedari tadi


"Aku pikir aku akan kelewatan banyak hal" aku berucap kepada Veskal


"Tapi... Itu artinya gadis ini adalah seorang pemuja iblis? Bukannya berbahaya untuknya tinggal diantara semua orang, ya Oberon?" Margaret dengan gelisah bertanya


Anaknya langsung mencoba menenangkannya, begitu juga aku yang menoleh kepadanya dan berkata


"Aku sudah pastikan dia tidak bisa menggunakan sihir secara leluasa lagi"


Tidak perlu penjelasan lagi. Itu semua terjadi di malam aku mengeluarkan darah iblis dari dalam tubuhnya


Darah iblis itu keluar dengan terpaksa bukan? Tentu saja itu akan menyakiti aliran Mana dan darahnya. Itu sebabnya dia tidak sadarkan diri cukup lama


Aku harus memberi sedikit komentar kagum kepada temannya yang satunya. Bocah lelaki itu bisa bangun lebih cepat darinya, walaupun aku yakin kondisinya lebih parah


Ah, dan kembali ke topik itu


"Karena Veskal sudah menarik keluar semua hal yang dia bisa darimu, aku hanya akan datang kemari untuk menyampaikan kabar buruk kepadamu"


Dan aku diam, hingga Natasha mulai menoleh dengan mata terbelalak. Mata yang menandakan kalau dia meminta ampun, seberapa kecil pun itu


Tapi percuma. Aku sudah tidak punya belas kasih kepada mereka


"Aku akan mengeksekusi Luca Erzebil besok, setelah upacara pemakaman prajurit kami telah dilakukan malam ini"


Dan kamu tidak akan bisa sedikitpun mendengar kalimat terakhirnya


"Semoga Tuhan memberkati kami, Natasha. Karena aku sangat yakin dia tidak akan membantu orang seperti kalian sama sekali"