
--- Malam hari ---
Jadi, seperti ini singkatnya...
Tujuh orang menjadi pelayan baru untuk Verdea. Ketujuh dari mereka adalah korban tahanan milik Xiang, dan berasal dari berbagai macam ras di dunia
Ilias si manusia. Dia yang paling memiliki keterampilan memimpin. Sayangnya, dia gagap, dan apa yang dia katakan terdengar sedikit kurang jelas. Cukup pintar, dan juga berisik
Lalu Nazia, dari ras beast, memiliki wujud seperti seekor kucing hutan. Dia yang paling cerdas, berdasarkan penilaian sekilas. Dia mampu berbicara dengan baik, dan aku yakin akan cukup menyenangkan jika dia bisa santai atau tidak formal sedikit. Sayangnya, dia tidak bisa mengambil inisiatif, hingga seseorang harus membantunya terlebih dahulu
Frit, seorang Dwarf. Orang yang paling berisik, dan juga yang harus kujauhkan dari Verdea sejauh yang kubisa. Dia memiliki sikap hiperaktif, bahkan dari gerakan tubuhnya saja terlihat. Tapi, dia itu lembut, dan tidak pernah menyakiti salah satu temannya walaupun sikapnya seperti itu. Hanya saja, aku sangat tidak percaya kepadanya dalam hal apapun itu...
Riko, seorang beast yang memiliki wujud beruang. Dia mungkin yang paling harus belajar tata krama. Aku dengar dari yang lain kalau dia itu sebenarnya adalah kriminal yang suka mencuri dan menindas, hingga salah satu dari korbannya bahkan ditemukan mati walaupun tidak disengaja. Tapi, mendengar lebih jauh soal masa lalunya, aku jadi tidak terlalu mempermasalahkan kehadirannya di tempat ini
Yure, dari ras manusia. Pembunuh bayaran dari kerajaan Gong, tetapi dipecat karena gagal melakukan tugasnya akibat rasa kasihan terhadap target. Dia tidak banyak bicara, namun bisa mengerjakan sesuatu dengan efektif
Pino, seorang Dwarf yang lebih tinggi dari Frit walaupun tidak bisa mencapai Ilias. Dia pemalu, dan semua orang bisa melihatnya. Bahkan tidak satupun dari semua teman yang bernasib sama dengannya itu tahu terlalu banyak tentangnya, selain kampung halamannya yang terletak di kota kaum Dwarf Xagan, yang aku tidak ketahui letaknya
Lalu terakhir, Reynold. Dia adalah orang yang terlihat paling cocok menjadi penengah mereka bertujuh. Tetapi dia tidak banyak bertindak jika tidak disuruh atau situasinya tidak memungkinkan. Sikap proaktif miliknya benar-benar nihil
Sebaiknya yang pendiam kuletakkan bersama temanku yang berisik untuk memastikan mereka bisa bertindak. Dan yang berisik akan kuberikan pekerjaan yang membuat mereka bisa tetap tenang
"Ilias dan Riko akan bekerja dibawah Ivor. Mereka bilang kalau mereka pintar memasak walaupun mereka ingin menjadi pelayan bersih-bersih biasa...
Nazia dan Frit akan menjadi tukang kebun bersama Ordelia, dan juga menjadi pengurus utama kebutuhan Verdea. Mereka terasa seperti yang paling kompeten, walaupun aku mungkin harus berada di sekitar Frit secara konstan saat dia bertugas nanti
Lalu, sisanya. Yure, Pino, Reynold, mereka akan kuletakkan dibawah pengawasan Luxor dan Lyralia agar mereka bisa bicara sedikit lebih banyak dengan orang lain"
Wawancara dan pengaturan sudah selesai. Yang tersisa hanyalah mendaftarkan mereka sebagai pembantu dan penduduk negara ini, menggunakan namaku dan Verdea
Tapi, akan sulit jika mereka mengingat dari mana asal mereka. Surat perpindahan mereka yang berasal dari negara asli akan dibutuhkan dalam masalah ini
Bahkan ketika aku mendaftar saja, semua prosesinya itu cukup sulit. Dan yang kudapatkan hanyalah sebuah paspor dan surat izin masuk yang sekarang tidak terlalu berguna
Hmph... Semoga urusan mereka ini tidak ada kendala sepertiku
*Tok tok!*
Hm? Ada seseorang mengetuk pintu kamarku
"Masuk"
Orang itu membuka pintuku setelah mendapatkan izin dan menunjukkan dirinya
Veskal muncul sebagai orang itu, dan masuk lebih dekat kearahku
Dia terlihat senang, jadi apa yang akan dia katakan sepertinya tidak akan terlalu serius
"Kenapa? Mendapatkan sesuatu yang berharga di tengah jalan?" Aku bertanya padanya
Veskal pum tertawa kecil menanggapi perkataanku itu. "Kamu juga melihat benda itu kan?" Dia membalas
Yah, begitulah
Aku mengangguk pelan dengan sebuah senyum yang perlahan mulai terbentuk
"Dia sudah mulai tumbuh tinggi. Hanya butuh waktu beberapa saat benih kecil itu akan tumbuh setinggi pohon seperti kita"
Dan itu tidak akan butuh waktu lama. Semakin banyak peristiwa yang terjadi, pendirian Verdea hanya akan terus semakin teguh
Lalu pada saat itu tiba, dia akan mampu melawan seluruh dunia ketika diperlukan
"Dia cepat belajar, bahkan kadang membuatku merinding ketika menyaksikan dirinya yang sekarang ini" Veskal berkomentar
"Masih banyak yang harus dia pelajari. Utamanya, dia harus mengendalikan emosinya dengan baik"
"Ah ya, kamu ada benarnya. Anak itu adalah pembohong yang buruk terhadap dirinya sendiri dan temannya"
Apa yang dia lontarkan disaat sidang itu, pasti akan membuat sebuah kesan mendalam kepada semua orang yang sudah menyaksikannya
Beberapa mungkin akan bimbang ketika mendengarkannya. Beberapa bagian lagi mungkin akan mencemoohnya karena sudah berani melawan Yuriel. Beberapa bagian terakhir pasti akan kagum melihatnya
Semuanya tergantung pada orang-orang dan Verdea sendiri. Karena pendiriannya yang teguh itu, kami semua sepakat untuk membiarkan dia membentuk jati dirinya sendiri. Yah, walaupun kami tidak pernah memaksanya menjadi sesuatu yang kami inginkan
Sebuah gambaran dirinya yang asli dan ingin dia tunjukkan kepada semua orang adalah hal penting. Dia yang harus memutuskan sendiri, apa perwujudan dari gambaran itu
Dan dia sudah memilih. Kami yang akan membantunya untuk memoles wujud itu hingga terlihat sesuai dengan apa yang dia inginkan
"Lalu... Debutan itu akan tiba besok..." Veskal kemudian bergumam diatas kasurku
...
"Aku tidak terlalu khawatir dengan Verdea dalam debutan itu. Tapi...
Gara-gara kamu, aku baru ingat kalau Miralius belum menyiapkan apapun untuk pertunjukkan bakat" Aku membalasnya
Gawat!
Aku belum menyiapkan apapun sama sekali! Benar-benar nihil!
Aku sibuk mengajari Verdea selama itu, lalu sidang itu menyita waktu dan tenaga yang sangat banyak hingga aku lupa apa yang seharusnya kulakukan
Bagaimana ini???
"Uwah... Bimbang sekali" Veskal berkomentar melihatku yang terlihat bingung
Banyak waktu sudah tersita. Apa aku harus menggunakan kekuatanku saja untuk menumbuhkan bunga?
Itu akan mudah, tapi...
Kebanyakkan teman-temanku menumbuhkan bunga mereka sejak awal...
Jika aku memberikan mereka bunga yang kubuat dengan sihirku, rasanya sangat tidak adil untuk mereka. Kerja keras yang sudah mereka tumpahkan itu akan terasa tidak berarti di hadapan bunga yang kutumbuhkan dalam waktu sekejap
"Kenapa kita tidak beli saja bunga di pasar kota sebelum matahari terbit besok? Aku yakin sudah ada yang buka mengingat besarnya acara ini?"
Itu justru sama parahnya, Veskal...!!
Dia pun memalingkan wajahnya ketika menyadari isi pikiranku. Dia perlahan mendapatkan ide kenapa kami tidak seharusnya melakukannya dalam situasi ini
Tiba-tiba, dia tersentak seakan mendapatkan sebuah ide
"Bagaimana kalau kita petik bunga Dandelion saja malam ini??" Dia mengucapkan kepadaku
...
Dandelion...?
Ah ya! Bunga itu tumbuh liar dan banyak bertebaran di padang rumput. Kami perlu mencari tempat itu, memetik mereka, dan membawa bunga-bunga itu kembali untuk disimpan
Kami jadi punya alasan untuk bekerja keras
"Malam ini? Ayo segera kita lakukan" Aku merespon
Malam juga masih belum terlalu larut. Kami punya banyak waktu
Kami berdua pun terpaksa keluar melalui jendela secara diam-diam namun cepat, guna mencari beberapa karung terlebih dahulu. Lalu, kami harus mencari padang rumput terdekat dari kota Hortensia
Sepertinya kami harus melalui hutan di dekat desa Magnolia dulu untuk menjumpai padang rumput terdekat...
Tidak akan terlalu jauh dengan kecepatan lari kami, hanya saja...
......................
--- Di dekat desa Magnolia ---
Kami harus mulai berjalan pelan mulai dari tempat ini. Kasihan hewan-hewan yang tinggal di hutan ini jika harus bangun karena kelakuan kami
...
Sudah lama sekali. Kami memang mendahului tempat ini satu atau dua kali selama perjalanan bolak-balik. Tapi, ini pertama kalinya aku bisa melihat hutan ini lagi secara baik-baik
Aku jadi teringat sesuatu. Apa pohon itu masih berdiri ya...?
...
...
Oh-
Langkahku berhenti ketika aku menemukan sebuah pohon yang kucari. Veskal hanya melihatku dengan bingung, utamanya bertanya-tanya mengapa aku melihat kearah pohon itu
Pohon ini sudah lama sekali tidak kulihat...
"Kenapa, Vainzel?" Veskal bertanya
"... Kamu ingat bagaimana aku bercerita tentang saat pertama kali aku bertemu dengan Verdea bukan?"
...
Veskal kemudian terlihat berpikir, mengingat semua detailnya kembali, kemudian menceritakannya ulang
"Betul. Dan pohon itu...
Pohon apel itu adalah tempat kami saling memperkenalkan diri"
Rupa-rupanya, pohon ini tetap bertahan setelah kejadian Blood Sabbath, tidak seperti pohon lainnya
Aku bisa membedakan bentuk pohon tertentu, dan kebanyakkan dari pohon-pohon ini adalah benih yang ditanam ulang. Tapi pohon tempat kami bertemu pertama kali ini...
Dia tetap berdiri disini. Pohon kecil yang terlihat kering waktu itu, sekarang sudah menumbuhkan beberapa buah apel merah yang terlihat nikmat dipandang
...
Seakan dia tumbuh bersama dengan Verdea, mulai disaat kami berdua bertemu
Aku perlahan mendekat kearah pohon itu, memegangnya tepat di batang untuk mulai berbicara selagi melihat keatas
"Hey, apa kabar? Masih mengenaliku?" Aku bertanya pada pohon itu
Salah satu akarnya mulai merambat keluar meminta tanganku. Kupegang perlahan akar itu layaknya menyambut seorang teman lama yang baru sekarang bisa kutemui
Lalu, sebuah apel miliknya jatuh, tepat ke tanganku. Sebelum jatuh ke tanah, aku langsung fokus menangkap apel itu dan menahannya di tanganku
"... Hadiah?"
Akar pohon itu melambai, mungkin tanda setuju
Ah begitu...
"Terima kasih. Akan kuberikan ini kepada Verdea bersama dengan salam darimu"
Pohon itu menggoyangkan rantingnya kali ini, mungkin karena merasa senang
Syukurlah jika begitu
"Wah, luar biasa! Aku juga ingin satu buah!" Veskal meminta
Merespon Veskal, pohon itu pun menjatuhkan salah satu apelnya. Hanya saja...
*Buk!*
Apel itu dengan tepat sasaran menghantam kepala Veskal, membuatnya merintih dan mengeluh kesakitan
"Jahat! Kamu bahkan tidak memberi tanda...!" Veskal yang kesal sambil terus merintih berkata
Aku hanya tertawa melihatnya, apalagi ketika dia merungut selagi mengambil apelnya yang jatuh ke tanah
Pohon itu hanya melambaikan salah satu rantingnya lagi, seakan dia ikut tertawa
"Ternyata pohon bisa usil juga ya...?" Veskal bergumam
"Tidak semua. Mungkin pohon yang satu ini sama sifatnya dengan Verdea" Aku berkata padanya
"Sayangnya dia meniru kebiasaan buruk anak itu..."
Sebuah apel pun jatuh lagi, tetapi tepat ketika Veskal menjulurkan tangannya untuk mengecek apelnya
Melihat apel kedua yang jatuh itu, Veskal refleks mencoba menangkapnya dan berhasil
Dia melongo melihat apel kedua di tangannya itu, kemudian menoleh kearah si pohon
"Oh! Itu tanda yang bagus. Ada yang bilang jika apel jatuh di dekat atau mengenaimu, itu artinya kamu akan ditimpa rezeki!" Aku berkata
Veskal pun menunduk dengan wajah tersipu, mendengar ucapanku
"Terima kasih. Maaf aku sudah berkata buruk..." Dia berkata pelan kemudian
Aku hanya tersenyum kearah pohon itu, dan secara tidak sengaja melihat apel lainnya jatuh menghampiriku hingga harus kutangkap
Hm...! Sepertinya agar rezeki kami berdua setara
"Terima kasih lagi. Tapi maaf, kami harus pergi sekarang" Aku berkata pada pohon itu
Rantingnya terlihat melambai lagi, namun terlihat sangat samar. Sepertinya dia mempersilakan kami pergi, tetapi merasa sedih juga
Yah, aku sungguh minta maaf. Aku tahu kamu akan sedih, tetapi kami juga harus melakukan sesuatu malam ini
"... Oh ya"
Aku meminta Veskal untuk mendekat dan mulai berbisik ke telinganya
"Jika kita sudah memetik bunga-bunga itu, aku ingin kita kembali dan memberi beberapa untuk menemani pohon ini"
Dengan begitu dia tidak akan merasa sedih lagi. Aku harap...
Kami pun pamit kepada pohon itu, mulai berjalan kembali menuju padang rumput yang kami cari
...
"Kamu tahu Vainzel. Aku teringat sesuatu ketika membahas sikap pohon itu dan Verdea yang nakal, entah kenapa"
Hm?
"Memangnya apa?" Aku bertanya
Veskal terdiam dan mangut-mangut, ragu apa dia harus memberitahukan hal itu kepadaku
"... Mungkin tidak terlalu penting. Tapi...
Aku teringat kepada sosok wanita di mimpiku. Wajahnya terlihat samar, jadi aku tidak tahu siapa" Dia pun berucap
Seorang wanita?
...
Mimpi itu adalah refleksi dari ingatan. Dan jika dia menemui seseorang di dalam mimpinya tetapi wajahnya buram, maka...
Itu mungkin orang yang dia ketahui, namun dia lupakan atau tidak bisa dia ingat...
"Aneh bukan? Aku juga heran kenapa Verdea bisa mengingatkanku padanya"
"... Ini hanya asumsiku, tapi itu pasti karena kamu menyayangi orang itu sebanyak kamu menyayangi Verdea"
"Menyayangi orang itu... Sebanyak aku menyayangi Verdea...?"
...
"Tapi, jika memang begitu...
Kenapa aku bisa lupa dengan sosoknya...?"
...
Aku... Juga tidak punya jawaban untuk itu
Tidak sepertinya, aku tidak pernah kehilangan seseorang sampai jauh seperti itu. Aku tidak paham dengan perasaan orang-orang sepertinya, dan karena itulah aku tidak berani bicara terlalu banyak
Memori adalah hal yang lebih berharga dari emas. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku kehilangan salah satu memori itu
"... Ahaha! Maaf, sudah merusak suasana! Sebaiknya kita cepat saja, sebelum waktu tidur kita semakin berkurang" Veskal berujar
Dia mulai mempercepat langkahnya, mengajakku untuk melakukannya juga
Aku hanya ikut dengannya, tetapi kepalaku terus tertunduk sedikit karena kasihan dengan temanku yang satu ini
Diantara kami bertiga, dialah yang sudah mengalami paling banyak hal tidak mengenakkan. Aku kagum dengan dirinya yang bisa terus tersenyum di tengah rasa sakit di hatinya itu...
...
Memori masa lalu yang terlupakan...
Rasanya pasti sangat sakit. Baik itu ke hati, ataupun ke pikiran...
...
Sekarang aku paham rasanya. Itulah sebabnya, aku sungguh...
Berterima kasih kepada Tuhan karena aku bisa terus mengingat kedua temanku itu dengan sangat jelas, walaupun ribuan tahun sudah berlalu