
--- Sementara itu ---
...
...
"Veskal"
...
Suara itu semakin terdengar jelas memanggil namanya berkali-kali. Suara yang familiar
Matanya perlahan terbuka, ketika dia melihat sebuah sosok berjubah kuning duduk tidak jauh darinya, dan seorang anak berambut hitam terus mengguncang tubuhnya
"Veskal! Akhirnya!"
Sosok anak kecil yang mengguncangnya itu langsung memeluk Veskal, melihat tanda kesadaran mulai muncul di matanya
Kesadaran yang mulai berkumpul, perlahan mulai mengingatkannya kepada semua hal di dunia ini
"Ver- Verdea...?"
"Ya, ini aku! Syukurlah kamu baik-baik saja--!!"
Dia mulai meringis seperti biasanya, dan Veskal pun hanya tersenyum lemas selagi mengelus kepalanya
...
"Tunggu-"
Mata Veskal terbelalak, tidak percaya dengan sosok yang berada di hadapannya. Dia sudah sepenuhnya sadar, dan hal pertama yang dia rasakan adalah rasa terkejut yang amat sangat hebat
"KENAPA KALIAN ADA DISINI?!" Dia berteriak kemudian
"Ssshh!!! Jangan berteriak! Kakak ke-4 sedang-"
"Hah..? Siapa yang ada disini...?"
Verdea menepuk wajahnya ketika melihat Collin ikut bangun karena terkejut. Suara Veskal yang keras itu sudah jelas membangunkannya
Rasa terkejut sekarang menyergap Collin ketika dia melihat 2 sosok baru yang ada di dalam penjara ini bersama dirinya dan Veskal. Tidak perlu waktu lebih lama baginya untuk mengenali siapa kami
"KENAPA KALIAN ADA DI-"
"Tuan Collin- Maaf. Tapi kamu tidak perlu mengulangi perkataanku" Veskal berkata, mengusap wajahnya karena merasa pusing
"Tapi- Tapi- Mereka-"
"Dengarkan kami dulu, kakak. Kami sengaja masuk ke dalam tempat ini" Verdea menyela Collin yang gemetar setengah mati
"Sengaja masuk-?" Collin bertanya kemudian
Badannya perlahan mulai melega, tetapi masih terlihat bingung dengan apa yang Verdea maksudkan, selagi Veskal baru menyadari badannya terasa bugar tanpa memedulikan situasi untuk sesaat
Verdea kemudian menoleh kearahku, berniat memintaku untuk menjelaskan semua hal kepada mereka. Tetapi dia terdiam melihat diriku yang diam tanpa bergerak sedikitpun. Dia bahkan ragu aku sedang bernapas
Verdea perlahan mulai merangkak ke hadapanku. Tetapi sekali lagi, dia langsung terdiam, merinding melihatku
"Kenapa? Jangan-jangan dia-"
"Tidak. Jangan ganggu Vain untuk sekarang. Kita tunggu saja Remina disini" Verdea menyela Collin sekali lagi
...
Kedua orang itu sudah jelas bingung dengan apa yang dikatakan Verdea. Kebingungan mereka semakin bertambah dengan Verdea yang diam, hanya merangkak kembali ke tempatnya dan meringkuk dipenuhi rasa gelisah
Veskal bisa tahu kalau ada yang salah. Penasaran, dia perlahan mulai merangkak untuk mengetahui apa yang terjadi denganku. Dan apa yang dia ketahui, membuatnya terkejut hingga dia melompat mundur seakan nyawanya ada dalam bahaya
"V- Veskal?!"
"... Sudah kubilang jangan ganggu dia"
"K- Kenapa dengan Oberon? Dia tidak sakit bukan?"
Veskal diam tidak menjawab. Sekarang dia paham kenapa Verdea memintanya untuk tidak menggangguku
Dia tahu kalau aku sedang geram karena sesuatu. Bahkan geram ataupun marah saja tidak bisa menggambarkan perasaanku disaat itu
Dia hanya tahu, menggangguku disaat itu hanya akan berakibat buruk, bahkan untuknya
"... Itu sebabnya aku merasa tidak enak merasakan keberadaannya..." Veskal bergumam dengan mata terbelalak
Collin pun mengurung niatnya melihat reaksi Veskal itu, dan kembali merinding ketakutan di tempatnya duduk
"... Verdea"
Suaraku bahkan berubah dari biasanya, dan hal itu membuat mereka bertiga terkejut
Tetapi Verdea yang mencoba mencairkan suasana harus menurut kepadaku disaat itu
"... Hm?" Dia menjawab
"... Kamu bertemu dengan Marcellus lagi bukan?"
Dia terkejut mendengar ucapanku, mengetahui apa yang kukatakan itu tepat sasaran
"... Ya"
"... Apa yang dia lakukan kepada tubuhmu?"
Aku menoleh kearah mereka, membuat mereka semua merinding melihat tatapanku yang penuh amarah itu
Seakan diriku yang mereka tatap disaat itu bukanlah seorang Elf, tetapi sesosok iblis
"... Aku tidak tahu. Tapi, aku memang merasakan ada yang berubah. Terutama disini" Verdea menjawab, menunjuk ke dadanya
"... Ah, begitu"
Aku kembali berpaling, tidak memedulikan mereka lagi
...
...
"Dia bilang aku sudah siap. Jadi, dia membongkar sebuah rahasia dari kekuatanku
Tapi, lebih tepatnya aku yang membongkarnya. Dia hanya memperjelas semua hal" Verdea menambahkan
Aku kembali berpaling kearahnya. Wajahnya yang tertunduk, namun terlihat senang itu, membuat tatapanku melunak sedikit
"... Aku harap kekuatanmu tidak membahayakan tubuhmu itu" Aku menjawab, kembali berpaling
...
Semua gambaran yang terjadi sebelum kepalaku mendingin itu, Verdea dan Veskal menceritakan semuanya. Habisnya, aku tidak bisa mengingat semua hal itu ketika aku tersadar
Tetapi, mengingat sensasi darah yang meluap di tubuhku seperti disaat itu, aku bisa merasakan kalau hal itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Sebenarnya, apa yang kulakukan disaat aku semarah itu ya...?
...
"... Sudah tenang?"
Aku hanya mengangguk untuk merespon Veskal
Amarahku mulai mereda secara drastis ketika aku mengingat aku berada di hadapan kedua temanku sekarang ini. Aku sadar kalau aku pasti sudah membuatku takut
"... Maaf, aku tidak bisa mengontrol diri. Aku hanya sedang geram memikirkan sesuatu" Aku meminta maaf kepada mereka
"Tidak apa. Tapi..."
Verdea ingin bertanya apa sebab dari kemarahanku, tapi dia tahu kalau hal itu hanya akan merusak suasana lagi. Dia pun menutup mulut dan menggelengkan kepalanya, untuk memberitahu kami kalau dia tidak mau membahas hal itu lebih lanjut
Tapi aku tahu apa yang dia ingin tanyakan, hanya sekejap setelah dia menggelengkan kepala
"Jika kalian mau tahu, kita harus keluar dari tempat ini bersama Remina" Aku menjawab tanpa berniat bicara lagi
...
...
Aku melirik kearah Verdea sedikit. Dia yang duduk meringkuk itu, membuatku penasaran akan satu hal sejak tadi
Ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya. Aku yakin akan hal itu. Tapi dia tidak menyadarinya, walaupun dia berkata dia bisa merasakannya
Perubahan itu tidak terjadi pada tubuhnya saja. Pikirannya juga berubah
...
Siapa dia? Tidak, itu memang Verdea. Tapi siapa yang bersamanya?
Sesuatu berubah darinya. Itu juga termasuk pikiran dan hatinya. Ada sesuatu yang memengaruhi kedua hal itu hingga Verdea berniat berubah
Sial, semua hal sekarang ini membuatku kesal. Tidak hanya apa yang terjadi pada Verdea, aku dibuat kesal oleh apa yang sudah kulihat di dalam penjara terkutuk ini
Aku sungguh akan mencabik raja bedebah itu. Keraguanku seluruhnya sudah menghilang. Aku bahkan tidak akan peduli jika orang lain menatapku seakan aku itu kejam karena apa yang akan kulakukan kepada Shen
Lalu, aku akan mengurus orang yang mencoba berbagi kesadaran dengan Verdea ini. Dan jika itu Marcellus, aku tidak perlu alasan kedua untuk melenyapkan orang itu...
Tidak ada yang boleh macam-macam dengan kami
...
Verdea...
Aku harap kamu tahu apa yang kamu sedang lakukan. Orang itu, yang menempelkan kesadarannya di tubuhmu itu sekarang ini...
Dia mencoba mengubahmu. Aku bisa merasakan ada belenggu di hatimu sekarang ini. Sesuatu yang mengikat dan memaksamu untuk mengikuti perintahnya
Kita sudah terlalu lama bersama. Baik aku, kamu, ataupun Veskal, kita bertiga bisa merasakan adanya sesuatu yang salah pada diri satu sama lain. Kita bertiga tahu semua hal itu dengan baik
Jadi, ketahuilah apa yang sedang kamu lakukan. Jangan jatuh ke tangan orang lain di luar kehendakmu, Veri
...
...
"Seseorang datang"
Aku bisa merasakan adanya hawa keberadaan di dekat pintu masuk itu. Aku yakin yang lainnya juga begitu
Pintu sel ini pun tiba-tiba mengeluarkan bunyi, seakan kuncinya sedang dibuka dari luar. Dan tidak lama, pintu itu terbuka lebar, menunjukkan seseorang dengan wajah penuh rasa takut dan histeria
Remina, dengan wajahnya yang pucat pasi dan keringat dingin mengucur dari dahinya, akhirnya muncul di hadapan kami
...
"Apa yang-?"
"Kemari, nak" Aku berkata kepada Remina, sebelum Verdea sempat bicara
Kubuka kedua lenganku, agar dia bisa berlari kemari dan memelukku. Remina tanpa keraguan sedikitpun langsung berlari kearahku dan menangis ketakutan selagi memelukku
Yang lainnya langsung kebingungan dengan apa yang terjadi. Tetapi, untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka, aku memutuskan rantai yang membelenggu mereka bertiga hingga mereka tidak terikat ke tembok
"Pergilah. Kalian lihat sendiri apa yang ada di dalam tempat ini"
Aku pun tidak bicara satu patah kata lagi, dan diam selagi berusaha menenangkan Remina
Dua orang itu terlihat ragu, tetapi Verdea pun perlahan berjalan keluar untuk melihat apa yang kumaksudkan
Dia pun mematung disana, tidak bergerak selama beberapa menit lamanya
"Verdea. Tolong bicara..." Collin meminta
Tapi dia hanya diam mematung. Dan ketika dia berbalik, dia menunjukkan ekspresi wajah yang sama dengan milik Remina tadi
"Bagai- Bagaimana bisa- Ada seseorang yang- Sekejam ini...?"
Semua katanya terputus, selagi seluruh tubuhnya gemetar
Kuminta Remina untuk bangun sejenak, dan setelah itu, aku mematahkan rantai yang mengikatku juga. Setelah itu, pasung di tanganku kuhancurkan hingga menjadi serpihan kayu dengan menggunakan lututku
Remina pun perlahan kugendong dan kubawa keluar dengan mata tertutup. Kuajak Veskal dan Collin yang terlihat gelisah itu tanpa sepatah kata pun. Kami harus keluar sebelum terlambat
Kami juga belum melakukan apa yang harus kami lakukan di dalam tempat ini
Perlahan kami bertiga melangkah keluar dan berniat mendorong Verdea untuk terus maju dari pintu itu. Tetapi, Collin dan Veskal juga ikut syok dengan apa yang mereka lihat, selagi aku terus berjalan untuk memastikan Remina pergi terlebih dahulu
Apa pemandangan yang kulihat di dalam sel itu?
Mayat. Puluhan, bahkan ratusan, menumpuk di dalam setiap sel. Beberapa masih ada yang hidup, tetapi mereka terlihat sangat tidak berbentuk
Dan itu bukan mayat manusia saja. Disana ada kaum lainnya, baik dari kaum Elf, Dwarf ataupun Beast. Mereka semua tergeletak mati di dalam sel-sel itu. Bahkan aku menganggap, kalau mereka yang sudah mati itu cukup beruntung berada di dalam penjara ini
...
Sudah cukup. Apa yang kulihat disaat ini, adalah sesuatu yang cukup memberitahukan kalau Shen berada di luar batas
Di detik aku melihat Shen di hadapanku, aku akan langsung memastikan dia mati di tempat. Kepalanya akan kupajang di atas kastilnya sendiri, agar semua rakyatnya bisa melihat raja biadab mereka itu sudah tiada dengan kedua tanganku ini