Book Of Flowers

Book Of Flowers
Kalah


...


...


...


Suara api yang melahap...


Suara itu sangat tidak menyenangkan, terutama ketika kami bisa melihat apa yang sedang dilahap oleh api itu


...


Di area Elf api yang utamanya diisi oleh pasir ini, aku dan semua teman-temanku menyaksikan semua orang yang terbunuh, dilahap oleh api sebagai acara pemakaman mereka


Pemandangan yang sangat memilukan. Asap yang ada diatas api itu bahkan terlihat seakan sedang mengantar jiwa mereka pergi ke angkasa


Aku yang tidak kuasa langsung memeluk Ivor yang mulai meneteskan air mata


"Aku tidak sangka-- Akan ada lagi yang harus pergi-- Vain---"


...


Maafkan aku teman...


Aku sama sekali tidak memiliki daya dalam menghalau kematian. Seandainya aku bisa, aku akan mencoba sekuat tenagaku untuk menyelamatkan semua Elf ini


...


Ahahaha...


Aku baru saja memikirkan hal terburuk di dunia ini


Semua Elf yang sudah meninggal dan harus kami lakukan pemakaman mereka ini...


Mereka tidak akan bisa menikmati festival yang akan berlangsung sebentar lagi...


Dan semua itu terjadi karena aku tidak menduga mereka akan terbunuh


"Menjadi pemimpin itu sangat melelahkan..." aku bergumam di dalam pelukan kami


Tapi itu memang kebenarannya. Inilah, artinya menjadi seorang pemimpin. Kamu harus menerima setiap konsekuensi yang pilihanmu ciptakan


Jika yang kamu dapatkan adalah konsekuensi buruk seperti ini, kamu harus mengembangkan kembali pikiranmu


...


Aku akan mencoba untuk mengembangkan pikiranku lagi...


Aku tentu tidak ingin ada korban seperti ini lagi...


"Oberon"


Hm...?


Gwen, berdiri di sisi kami berdua. Aku dan Ivor tentu langsung melepaskan pelukan kami masing-masing


Itu karena Gwen terlihat sangat ingin melaporkan sesuatu yang genting. Wajahnya itu lebih dari cukup untuk mengatakan niatnya


"Ada seseorang yang melukai Luca Erzebil. Dan orang itu nyaris membunuhnya, seandainya nyonya Ordelia tidak ada disana tadi"


Ordelia...?


Aku menoleh kearah Ordelia yang ternyata sudah menatapku sejak tadi


Rupanya dia tidak mengatakan apapun agar aku bisa hadir di tempat ini terlebih dahulu hah...?


"Dimana mereka?" aku bertanya kepada Gwen


"Aku mengurung penyerangnya di dalam tempat di samping sel tahanan Luca Erzebil. Dan sebaiknya kamu cepat, karena anak yang kutahan itu adalah Elf api"


Sel tahanan. Itu artinya mereka ada di area Elf bunga


...


Malam sudah mau larut. Sebaiknya aku mengecek saja kondisi Luca dan penyerangnya sebelum aku tidur mengakhiri hari


Dan tidak adil jika anak itu harus melewatkan pemakaman teman-teman seperjuangannya. Aku bahkan yakin, kalau dia menyerang Luca untuk membalaskan dendam mereka itu...


"Gwen. Siapkan waktu untukku di siang hari besok untuk menemui setiap keluarga prajurit malang ini" aku berkata


"Aku juga akan membantu..." Ivor menawarkan diri


Tapi dia sama sekali tidak menoleh. Matanya yang terus mengalirkan air mata itu masih terpaku kepada setiap kasur kayu yang terlahap api—dimana para Elf api yang tiada itu terbaring


Aku ingin memeluknya lagi agar dia tidak perlu menangis, tapi...


"Gwen. Peluk dia"


"Ha-?!"


"Siap, Oberon"


Belum sempat Ivor mendorong ibunya menjauh, Gwen langsung memeluk anaknya yang lebih tinggi dari dirinya itu. Kepala Ivor dia buat menekuk ke bawah, agar bisa beristirahat di bahunya


Dan layaknya seorang ibu secara alami, Gwen tentu tahu apa yang harus dia lakukan untuk menangani anaknya. Rambut Ivor yang berantakan itu dia elus secara perlahan, hingga Ivor diam tertegun tanpa melakukan apapun seperti biasanya


"Kamu harus paham kalau setiap kematian sudah tidak bisa dihindari sama sekali, sayangku... Terutama sekarang ini..."


Ivor mulai meringis kembali, dan membalas pelukan Gwen. Wajahnya dia sembunyikan di bahu ibunya yang berotot itu, agar dia bisa menangis tanpa menahan diri disana


Untuk pertama kalinya aku melihat Ivor menangis sekeras itu. Orang yang biasanya sangat periang dan bersemangat, sehingga rasanya mustahil untuk membuat dia hancur seperti ini, ternyata bisa menjadi orang yang jatuh paling keras ke tanah


Itu membuatku jadi merasa iba. Karena setiap kali kami melewati hal-hal memilukan seperti ini bersama, ini baru pertama kalinya dia membiarkan dirinya hancur dengan menangis keras tanpa daya


Aku tidak punya posisi lagi disini. Sebaiknya aku segera-


"Vain"


...


Hah...


Kali ini Veskal yang memanggil namaku. Verdea yang terlihat risau juga ikut di belakangnya


Aku langsung tahu apa yang ada di kepala kedua anak ini


"Kami ingin ikut bersamamu"


...


Sebaiknya begitu. Mereka juga tidak punya kaitan yang erat dengan pemakaman ini


"Jangan tertinggal"


Aku pun segera melesat pergi agar bisa dengan cepat menangani masalah ini. Berlainan dengan Verdea dan Veskal yang menatap satu sama lain terlebih dahulu


Keduanya pun setuju kalau sebaiknya Verdea digendong saja oleh Veskal agar mereka bisa lebih cepat pergi. Dan setelah dengan aman berada di punggung Veskal, keduanya ikut melesat agar tidak tertinggal jauh dariku


......................


"Kamu sangat yakin untuk mengeksekusi penyihir hitam itu, Vain?" Verdea bertanya


Itu pertanyaan yang sudah jelas jawabannya


"Tentu, Veri"


Entah apa yang membuat dia ragu aku akan melakukannya atau tidak...


"... Aku hanya bertanya karena ada seorang Elf yang berkata, kalau ini akan jadi eksekusi pertama yang ada di Miralius"


...


...


...


Begitu...


Siapapun Elf itu, dia benar. Dengan memutuskan eksekusi akan dilakukan besok, Luca Erzebil adalah orang pertama di sejarah Miralius yang akan mendapatkan eksekusi secara umum


Untuk alasan aku melakukannya...


"... Aku tidak tahu kenapa aku ingin mengeksekusi orang itu"


...


Ya. Aku sungguh tidak tahu


Kepuasan dalam balas dendam? Keamanan penduduk Miralius ke depannya? Harga diri seorang pemimpin?


Mungkin ketiganya


Yang aku tahu hanyalah, aku merasa harus membunuhnya besok, tepat di depan semua orang


Tapi rasanya masih salah jika aku harus melakukannya dengan tanganku. Aku ingin melakukannya, tentu...


Hanya saja, masih ada sesuatu yang kurang...


*Set!!*


*Set!!*


...


"Untung saja area Elf bunga ada tepat di tengah Miralius. Dimanapun kita berada, sampai kemari adalah perihal mudah" Verdea berkomentar, selagi turun dari punggung Veskal


"Itu karena Ayahanda mengambil wujud pohon. Hanya Elf bunga saja yang memiliki ilmu untuk menjaga wujud pohon itu dengan baik"


Kesampingkan itu. Kami harus segera bergegas masuk


Ya. Kami sudah sampai tepat di depan penjara tempat kami menahan seseorang. Dan dengan langkah yang dipercepat, kami bertiga masuk tanpa satu patah kata lagi


"Mereka ditahan disana hah...?"


Untuk setiap sel yang memiliki tahanan di dalamnya, sihir api pada obor yang terletak di depan pintu sel itu akan menyala secara otomatis. Ini kami lakukan demi memastikan para pelanggar aturan itu masih berada di dalam sana


Dan kedua orang yang ditahan Gwen sekarang ini dia letakkan tepat di 2 sel paling sudut pada sisi kiri


Kami yang berjalan kearahnya sejak tadi akhirnya bisa menangkap gambaran dari Luca terlebih dahulu di dalam sel-nya. Dan kemudian, pada sel yang paling ujung itu, si penyerang terlihat duduk diatas kasur selagi menanamkan wajah di lututnya


...


"Anak itu..."


"... Tidak lebih tua dariku..."


Veskal dan Verdea yang saling bersambung kata itu langsung mulai terlihat iba. Bagaimana tidak?


Mereka sangat benar ketika berkata kalau anak itu tidak lebih tua dari Verdea. Terutama ketika dia mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata itu, mengarah kepada kami


Wajah muda yang langsung terkejut melihat kehadiran kami. Dia bahkan sampai jatuh tersungkur dari kasurnya hanya agar bisa berlutut hormat kepadaku, rajanya


"Salam untuk sang Oberon. Maaf karena sosokku sekarang ini sangat tidak layak untuk menghadap dirimu" dia berkata


"Bangun"


Perintahku segera di turuti dengan bangun secara perlahan dan berdiri disana dengan tampang yang mencoba untuk kuat


Tetapi bahkan aku tahu, kalau aku mengungkit mengenai pemakaman itu, dia akan langsung gemetar


Hanya saja, aku harus melakukan ini sepelan mungkin...


"Siapa namamu?" aku bertanya


Dia terdiam sejenak. Nampak sekali kalau dia tidak ingin menjawab, karena dia menganggap kalau aku sedang mempertimbangkan sebuah hukuman untuknya. Tapi mau tidak mau, aku tetaplah raja kerajaannya. Raja pemimpin kaumnya


"Revon Agnes, ya Oberon. D- datang dari klan Salamander, dan anak dari Ovena Agnes"


Dia rakyat biasa. Aku tidak pernah mendengar nama keluarga Agnes di dalam nama keluarga pejuang klan Salamander


"Lalu orang tuamu..."


Anak itu lagi-lagi manggut-manggut, memutar jarinya bersamaan untuk mengalihkan perhatian sejenak


"K- keduanya tidak kutemui lagi semenjak 5 tahun lalu, ya Oberon.."


...


Begitu...


Sekarang aku paham kenapa anak muda ini berniat untuk menjadi seorang prajurit dari klan Salamander...


Dia juga sudah lebih dari cukup dalam hal umur. Sayang saja aku harus mendengar berita itu


"Semua Elf yang selamat telah kembali ke Miralius, anak muda"


"Aku tahu itu, Oberon!"


...!


"Aku... Hanya ingin melayani dirimu, dan mengikuti teman-temanku yang sudah lama menjadi prajurit klan kami..."


...


Dan jika kita membahas teman-temannya...


Mereka semua, atau setidaknya beberapa, pasti sedang dimakamkan sekarang ini...


...


...


...


*Klak!*


Pintu itu kubuka kuncinya dengan menggunakan Mana-ku. Anak itu dengan jelas menunjukkan kalau dia terkejut melihat perbuatanku, terutama ketika aku dengan perlahan menghampirinya


Tidak sedikitpun dia merasa sedang diancam atau ditindas. Justru sebaliknya


Ketika mata kami berdua yang sejajar itu bertemu, aku pun mengangguk. Dengan perlahan aku menepi, kemudian kupersilakan dia untuk keluar dan pergi kembali ke area klan-nya


Dia sedikit tidak percaya dengan hal itu, selalu menukar tatapannya diantara pintu sel yang terbuka dimana kedua temanku melihat dari luar, dan kembali kepadaku. Matanya terus bolak-balik selama beberapa saat, hingga...


Dia mulai terlihat ingin meringis. Tetapi tentu, dia menahan air matanya itu agar tidak keluar


Sepertinya semua orang dari klan Salamander memang tidak suka terlihat menangis...


"Menangis itu boleh, anak muda" aku pun berkata


Matanya kembali tertuju kepadaku, sebelum dia sempat berniat beranjak pergi. Dan dia pun, terbelalak...


Terbelalak, melihat tatapan lunak dari rajanya. Tatapan lunak yang ditujukan kepada dirinya semata. Sesuatu yang membuat dia merasa spesial karena telah dikhawatirkan oleh rajanya


Hanya rasa iba ini saja yang bisa aku tujukan kepadanya. Kehilangan seseorang yang penting di hidupmu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan


Aku tidak perlu membahas jika kehilangan banyak orang seperti itu sekaligus...


...


"Pergilah dan laporkan kepada petinggi Gwen kalau aku telah memperbolehkanmu. Lalu, sampaikan ini kepadanya"


Perlahan aku menyodorkan bibirku ke telinganya. Aku sudah lebih dari yakin kalau keputusanku yang akan dia dengar ini adalah yang paling benar


"Aku akan memperbolehkanmu, Revon Agnes, sebagai orang yang akan mengeksekusi penyihir hitam itu besok"


Kalimat yang sengaja tidak kupelankan itu bisa di dengar oleh kedua temanku sekalipun. Keduanya tentu terbelalak, heran dengan keputusan yang sudah kubuat


Mengesampingkan mereka, bahkan Revon juga terlihat kebingungan. Walaupun wajahnya masih berantakan karena menahan tangis, mulutnya terbuka sedikit karena tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutku


"Kamu sungguh ingin dia mengeksekusi orang itu besok? Aku yakin akan lebih bagus jika kamu yang melakukannya bukan?" Veskal bertanya


...


Tentu. Aku juga bilang kalau aku akan mengeksekusinya dengan tanganku sendiri


Tapi...


"... Ada seseorang yang lebih pantas mendapatkan kehormatan ini, setelah aku mengetahui kondisinya"


Dan aku punya rencana lain untuk saat ini


"Sebaiknya kalian berdua tidur sekarang. Kita harus bangun sangat pagi untuk segera menjalankan eksekusi itu sebelum matahari terbit"


"Kenapa harus sebelum matahari terbit?" Verdea bertanya


"Karena bagi para Elf, tidak dapat melihat cahaya mentari di keesokan hari adalah hukuman terbesar. Kami para Elf sangat menghargai semua kehidupan yang ada di Vitario, dan orang-orang yang mempermainkan mereka adalah sesuatu yang bagi kami harus dimusnahkan sesegera mungkin"


Tapi, lupakan soal menghargai kehidupan. Selain para Elf dan pihak Miralius sendiri, aku tidak peduli dengan nyawa yang lain. Bahkan jika mereka adalah sekutu kami


Kekesalanku mengenai perbudakan para Elf itu tidak bisa hilang sama sekali


...


"Kamu boleh mengajak Natasha besok. Itu juga, jika dia mau" aku beralih kepada Veskal


Tetapi tidak hanya orang yang kutuju, seseorang yang masih terkurung di dalam sel-nya sekarang bahkan ikut bereaksi mendengar nama itu


"Kamu ingin membuat dia menyaksikan kematian temannya atau semacam itu?" Veskal bertanya


"Hey. Aku bilang jika dia mau. Jika tidak, maka biarkan saja dia mengambil waktu istirahat lebih banyak"


Aku tidak punya niat buruk sama sekali kepada musuh yang sudah tidak berdaya. Kecuali menggali informasi lebih dalam darinya untuk membantu kami ke depannya


...


Ini akan berakhir dengan cepat, aku yakin


Dibandingkan Rosalia dan Yael, musuh baru yang kami hadapi sekarang ini adalah sekumpulan orang yang tidak berhati-hati sama sekali


Akan menguntungkan jika jumlah mereka sedari awal memang sedikit, tapi beda bahasanya jika jumlah mereka lebih besar


Apapun itu, kami tidak boleh menyia-nyiakan keuntungan kami sekarang ini


......................


--- Keesokan paginya ---


...


Lagi-lagi suara api melahap. Sebuah obor berada di tangan, di hadapan sebuah kerumunan yang menyaksikan seseorang yang tidak berdaya dan akan menemui ajalnya


Tertunduk tanpa kuasa, seperti rusa yang telah masuk ke dalam sarang singa dan tidak bisa keluar. Bagaimanapun, tatapan dari para Elf juga membuatnya tidak berdaya sama sekali. Bagaimanapun, dia tidak akan bisa lari


Itulah takdir dari seorang Luca. Dan di hadapan Natasha yang bersedih—berdiri paling jauh dalam kerumunan, dia adalah seseorang yang akan mati dikelilingi oleh mata yang mengutuknya


Sang algojo juga telah tiba. Dengan langkah perlahan setelah aku memanggil namanya ke hadapan semua orang, dia berjalan. Pelan tapi pasti. Kesempatan yang berupa hadiah, yang telah diberikan oleh rajanya kepadanya


Diberikan olehku kepadanya


Obor di tanganku sudah terdengar tidak sabar untuk digunakan. Luca yang berpakaian putih dan terikat di sebuah tiang kayu berlumuran minyak itu dengan lemas melihat ke sisi, tepat kearah orang yang akan menjatuhkan kematian kepadanya


Dia telah tiba. Obor itu dengan perlahan kuserahkan kepada seorang pemuda bernama Revon Agnes, dan dia dengan senang hati serta tanpa ragu menerimanya


Matanya dipenuhi oleh bara api amarah, dan tidak perlu dijelaskan mengapa. Sekarang di hadapannya, kedua orang itu saling menatap satu sama lain. Antara seorang pembunuh dan yang akan membunuh


Tatapan terakhir yang tidak menghasilkan apapun selain melarutkan amarah Revon semakin dalam


...


Anak muda itu lelah. Giginya mengerat karena kesal. Dan dengan pikiran yang kacau, dia lempar obornya dengan kasar, hingga benda itu membakar tiang kayu berlumuran minyak di hadapannya


Kaki Luca telah sepenuhnya terbakar. Dia merintih sedikit akibat rasa sakit itu, sesekali tertawa kecil karena ironi yang akan dia hadapi sekarang


Ironi dari sebuah memori yang masih melekat, selagi dia bisa mendengar dengan jelas jeritan dari masa lalu yang telah lewat


Pemandangan itu sangat memilukan, dan jeritan-jeritan itu hanya menambah penderitaan


"Pada akhirnya, aku mati seperti mereka..."


Komentar itu pun dia utarakan...


Tetapi Revon hanya diam tertunduk. Dia diam dan mengutuk


Sembari api itu telah melahap keseluruhan tubuh Luca, dia menatap orang itu untuk yang terakhir kalinya. Dan entah kenapa...


Dia menangis. Ketika dia melihat kearah Luca yang sudah terlalap dalam api yang membara itu, dia menangis


Hingga Luca bisa merasakan satu hal ketika melihat tatapan itu...


Walaupun dipenuhi oleh kebencian, tatapan itu...


...


...


Tatapan itu membuat Luca tersenyum kecil...


"Maaf, sudah mengecewakanmu"


...


...


...


Suara api melahap...


Hanya itu, suara yang tersisa...


...


Tidak ada yang bersorak...


Tidak ada yang merasa senang...


Tidak ada yang bergembira ketika orang yang mereka label sebagai penjahat itu telah mati


Semua orang yang menyaksikan hanya diam, selagi asap hitam yang mengepul di langit gelap itu pergi, membawa Luca Erzebil bersamanya ke udara


Matahari pun mulai terbit, dan orang pertama yang ditimpa oleh cahayanya adalah diriku yang berdiri di samping Revon dengan hati pilu


...


Ya. Inilah kenapa aku ingin agar kamu sendiri yang menghukum Luca


"Jadi, apa yang kamu rasakan sekarang...?" aku bertanya kepadanya


Revon merungut kesal selagi mencoba menahan tangisnya. Sudah sangat jelas kalau dia merasa tidak dipuaskan oleh hasil yang ada. Tapi itulah hasil yang ada...


"Kenapa---?! Kenapa harus dia yang menang---?!"


...


Aku juga tidak tahu jawabannya...


Jika ada satu hal yang aku pahami dari semua ini adalah, aku takut


Aku takut kalau aku juga merasa kalah, walaupun bisa keluar sebagai pemenang melawan Rosalia nanti


...


"... Aku rasa, manusia memanglah begitu, bukan?"


"Aku tidak mengerti-- Oberon---"


...


"Mereka punya kondisi mereka sendiri dalam bagaimana dan mengapa mereka ingin menang dalam kehidupan ini"


Tidak seperti kami para Elf. Kami terkekang


Ikatan yang mencekik semenjak nenek moyang kami berjalan diatas Vitario. Dunia yang kami ketahui hanya sebatas oleh Goeitias semenjak dahulu, dan sekarang hanya sebatas Miralius, semenjak kekalahan dalam perang ribuan tahun


Lagi-lagi kata kalah. Ironis bukan?


Tapi, apa sungguh kami 'kalah' dalam perang itu? Atau kami merasa, kalau kami telah 'kalah'?


Membingungkan bukan?


Lalu manusia. Makhluk yang bebas dan merupakan penguasa sah dari Vitario ini. Kaum yang ditakdirkan untuk berkuasa diatas yang lainnya sebagai makhluk paling 'sempurna'


Aku keluar untuk belajar mengenai mereka. Mengenai tradisi dan kehidupan mereka. Tapi betapa terkejutnya aku kalau kebebasan itu sangatlah luas. Tidak seperti apa yang aku bayangkan ketika dahulu belum berpikir untuk keluar dari Miralius dan menjelajah


Tidak ada batasan dari kata 'kebebasan'. Dan manusia, sebagai kaum yang diberkahi oleh keuntungan itu...


Aku paham kenapa mereka dikatakan sebagai makhluk paling sempurna. Aku pun paham, kenapa aku mencintai mereka dan kehidupan mereka


Dan melalui teman-temanku, aku pun paham lebih jauh mengenai manusia


"Beberapa dari mereka tidak pernah sungguh kalah bagaimanapun caranya. Akhir mereka memang telah tiba, tapi mereka paham satu hal. Keesokan hari bukanlah untuk mereka, dan itu saja cukup"


"... Tapi, bagaimana kamu bisa menyebut itu sebagai sebuah kemenangan?"


"Karena mereka sudah berusaha"


"...!"


"--- Dan mereka menghargai setiap usaha yang mereka, serta semua orang yang mendahului mereka telah lakukan"


Menghargai diri sendiri, adalah sesuatu yang manusia selalu lakukan. Mulai dari sana, mereka bisa menghargai orang lain. Lalu, pada akhirnya, mereka bisa menghargai kehidupan itu sendiri


"Manusia memang bukanlah yang terbaik. Beberapa dari mereka kalian pasti anggap sebagai sebuah makhluk biadab. Tetapi, mereka menjalani satu hal yang tidak kita lakukan"


Benar bukan, Ayahanda? Bahkan semenjak kehidupanmu sebagai sang Elf pertama, kaum kita tidak pernah menjalani satu hal ini saja


"--- Kita mencintai yang lain, tetapi tidak mencintai diri kita sendiri"


Kita tidak pernah punya pilihan untuk mencintai diri kita sendiri. Baik itu teman-temanku yang bersumpah di kakiku dulu, kaum Elf yang mencintaiku sebagai pemimpin mereka, ataupun diriku yang dulu


Tapi semuanya berbeda sekarang. Aku, berbeda sekarang


Aku punya pilihan


"Tenggelamkan itu di dalam hati kalian, wahai kaum ku sekalian! Teman-temanku sekalian! Lalu, ketika kalian telah mendapat jawaban yang diinginkan, datanglah kepadaku!"


Senantiasa akan kubantu orang yang ingin membantu diri mereka sendiri


"Itu juga berlaku kepadamu, anak muda. Perjalanan hidup tidaklah mudah. Aku juga pernah kalah. Tapi aku bangkit lagi, menjalin ikatan baru lagi, dan sekarang disinilah aku berdiri. Sebagai seorang pemimpin yang kalian harapkan"


Itu juga berlaku kepada kalian berlima


Luna, Ordelia, Ivor, Luxor, Lyralia...


Dan itu juga berlaku untukmu, Remina. Kamu adalah harapan terakhirku untuk memastikan kalau teman-temanku, serta para Elf agar mampu mencintai diri mereka sendiri


Agar mereka tidak terikat kepadaku semata-mata karena mereka terikat kepadaku...


"Untuk masa depan kita semua, bukan?"


Semoga, api harapanku terus berkobar sebesar api ini. Semoga...


Masa depan para Elf selalu bersinar terang, walaupun harus memulai hari seperti mentari pagi...


...


...


...


"Natasha..."


Di ujung jauh kerumunan yang senyap dan larut dalam pikiran mereka itu, dua orang berdiri berdampingan. Satunya hanya memandang lemas ke hadapan, sekaligus mendengar kalimatku


Tetapi yang satunya tertunduk tidak berdaya, mencari tempat agar dia tidak jatuh


Veskal hanya terdiam, ketika dia melirik kearah Natasha yang terlihat bergetar ingin menangis, namun tidak bisa bersandar kemanapun


...


Jadi...


Dialah yang menyediakan tempat untuk wanita muda itu bersandar


Perlahan dia geser badan Natasha agar mendekati dirinya. Dan ketika dia sudah menempel, Veskal memeluk dan melingkari kepala Natasha—sekaligus menempelkan wajahnya di bahu wanita itu...


Natasha terdiam, masih mencoba menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis. Hingga...


"... Aku kalah"


"..."


"... Aku kalah, Tasya..."


"..."


"Aku tidak akan bisa membuang temanku, bagaimanapun caranya"


...


...


"Tapi aku harus kehilangan temanku di hari ini---!"


"... Kalau begitu biarkan aku menjadi temanmu"


"..."


"Aku tidak bisa menggantikan Luca. Tapi aku mohon..."


"... Veskal---"


"Aku mohon jangan pergi lagi-- Jangan tinggalkan aku--"


...


Itu permohonan yang egois. Sangat egois, hingga rasanya dia mencoba berkuasa atas segalanya


Tapi itulah manusia. Dan ketika manusia mengakui dengan kesungguhan kalau dirinya telah kalah, maka dia telah kalah...


Dia kalah, di momen dia bertemu dengan teman masa kecilnya itu. Dia kalah, di momen mereka merangkul satu sama lain seperti dulu


Menangis persis seperti itu. Dan itu mengingatkan mereka akan sebuah berkah, kalau mereka dulu hanya bisa bersandar kepada satu sama lain saja


Hingga takdir yang kejam harus memisahkan mereka


...


...


...


Ketika dua orang itu yang kini telah memiliki sebuah pilihan...


Apa pilihan yang akan mereka pilih...?