
--- Beberapa jam kemudian, kamar Verdea ---
...
...
Sudah berapa lama dia terbaring disitu?
Diatas ranjangnya yang empuk, tanpa ada lagi gangguan suara dari para bangsawan yang ingin berdebat ataupun mencemooh kami lagi
Suasana sudah tenang sekarang. Langit juga sudah mulai gelap, menaikkan bulan yang bersinar diatas latar yang gelap ditaburi bintang
Verdea tetap terbaring tidak bergerak, masih mengenakan pakaian yang dia pakai sejak tadi. Matanya tertutup oleh lengannya itu, sesekali dia buka untuk mengetahui waktu yang sudah berlalu
Waktu makan malam hampir lewat sekarang ini...
Tetapi dia tidak tahu, bagaimana dia harus bicara lagi kepadaku setelah melihat ekspresi terkejut tadi. Sebuah rasa terkejut yang dicampuri rasa takut akan sesuatu yang tidak kukenali
Dia tahu, kalau dia beberapa saat lalu adalah seseorang yang tidak kuketahui. Seseorang yang sangat termakan amarah. Seseorang yang tiba-tiba memberiku perintah, hingga membuat semua teman-temannya gemetar akibat syok
*Tok tok*
Dia mendengar seseorang mengetuk pintunya, hingga dia pun mendudukkan diri diatas ranjangnya
"Masuk", dia mempersilakan
Ketika mendengar perintah itu, aku pun masuk secara perlahan, membawa Remina dan Frank juga
Hening datang diantara kami. Aku sudah masuk ke kamarnya, tapi ini pertama kalinya dia tidak mencoba memancing sebuah percakapan
"Anu... Veri?"
"... Ya?"
Bahkan jawabannya kaku sekali. Wajahnya masih turun sejak terakhir aku melihatnya tadi
Jangan bilang kalau dia kepikiran dengan apa yang tadi dia lakukan?
"Para bangsawan juga sudah mendengar penjelasan dari Luna, walaupun beberapa dari mereka tetap bersikeras menuduhmu berada di sisi yang salah
Kami juga jadi khawatir karena kamu terlihat lesu tadi. Semua orang ingin menjengukmu, tapi aku hanya bisa membawa 2 orang ini saja dahulu"
Aku payah memancing pembicaraan di situasi seperti ini...
Verdea hanya membalas dengan sebuah anggukan selagi dia berpaling dari arah kami, membuatku semakin khawatir kepadanya
Aku pun menghela napas
Hari ini sangat kacau untuk Verdea. Aku paham perasaannya, tapi aku sungguh tidak terlalu memikirkan tindakannya tadi
Justru aku malah khawatir dia akan menyalahkan dirinya. Dan kekhawatiranku itu sudah terbukti sekarang ini
Apa lagi yang harus kubicarakan untuk menenangkannya ya...?
Frank juga sedang mencoba meyakinkannya berkali-kali, tetapi Verdea sama sekali tidak memberi reaksi yang kami inginkan. Dia tetap menjawab semua hal dengan "Hm" dan "Ya" secara singkat. Dia bahkan perlahan terus berpaling, hingga sepenuhnya membelakangi kami
Jika seperti ini, sebenarnya lebih baik kami meninggalkannya. Tapi masalahnya sekarang terletak diantara aku dan dia
Ini bisa dibilang salah satu masalah terbesar diantara kami, setelah kejadian perpisahan kami beberapa tahun lalu
Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi, bagaimana caranya?
...
Hah...
Aku pun bergerak maju beberapa langkah, dan berhenti di hadapannya yang berpaling dari arah pintu masuk
Lalu perlahan tapi pasti, aku pun berlutut setengah kaki, membuatnya yang berada di hadapanku terkejut
Dia sekali lagi ingin berpaling, tetapi aku langsung menahan tangannya dan terus menusuk dirinya dengan tatapanku
"Verdea, tatap aku"
Dia menolak, terlihat dari perilakunya sekarang
"... Temanku"
...
Mendengarku memanggilnya pelan tanpa menggunakan nama, dia pun perlahan menoleh kearahku. Tetapi matanya masih belum fokus, dan terus menunduk ke bawah
"... Beritahu aku apa yang mengganggumu dalam kejadian tadi, dan aku akan memberi jawabannya" Aku berkata lagi
Verdea menggelengkan kepalanya, menolak permintaanku
"Aku yang tidak bisa menatap matamu sekarang ini kamu harapkan untuk membongkar pikiranku?" Dia kemudian membalas
"Aku tidak memaksa. Tapi pikirkan saja apa yang akan kamu lakukan ke depannya jika suasana diantara kita selalu seperti ini"
"Itu-"
...
Dia tidak bisa menjawab, hingga kepalanya lagi-lagi menunduk ke bawah
"... Aku ingin kamu mencabut sumpah mu dengan diriku sekarang"
...
"Kenapa?"
Aku bisa paham alasannya. Tapi setidaknya, aku ingin dia menumpahkan isi hatinya juga
"... Bukannya sudah jelas? Bahkan kamu bisa ketakutan akibat hal itu. Kamu tidak merasakan apapun ketika aku meneriakkan perintah itu kepadamu?"
"Harus kuakui kalau aku memang takut. Karena... Itu pertama kalinya sumpahku memaksakan kehendak kepada tubuhku sendiri. Bisa kamu bayangkan kalau tubuhmu tiba-tiba bergerak seakan menolak perintah dirimu sendiri?"
"Itu sebabnya aku tidak ingin ada sumpah ini lagi diantara kita. Aku tidak ingin memaksamu seperti itu lagi
Aku juga sudah mempercayai kalau semua keputusanmu itu benar untukku-- Jadi apa lagi guna sumpah ini untuk kita--? Ini hanya-- Alat pemaksa kehendak yang tidak siapapun-- Inginkan--"
Aah... Dia mulai meneteskan air mata
Kuhela pelan napasku, sebelum kembali fokus kearahnya
"Sumpah ini tidak bisa dicabut. Apalagi karena isinya itu berkata kalau aku akan setia kepadamu hingga akhir hayat"
Baik itu atau kamu, salah satu dari kita harus mati jika ingin mencabut sumpah ini. Kamu jelas tidak ingin itu, karena hal ini juga memang sinting
Apa gunanya mencabut sumpah seorang teman, jika itu artinya salah satu dari kami harus mati?
"Sungguh--- Tidak ada cara lain kah--?"
Kepalaku tergeleng meresponnya
"Tapi mungkin kita bisa menggantinya sedikit" Aku berkata
"... Seperti apa...?"
Dia mulai terlihat tertarik. Anak ini benar-benar sangat mengkhawatirkan teman-temannya
"Misalnya, jika kamu memintaku untuk tidak menuruti perintahmu lagi, mungkin itu bisa berhasil bukan?" Aku memberinya saran
"Vainzel jangan turuti perintahku lagi"
Uwah- Cepat sekali-!
Dia langsung memintaku melakukannya tanpa ragu. Dan dia sama sekali tidak memiliki penyesalan
"Se- Sekarang coba beri aku perintah yang lain"
...
Dia langsung menunduk lemas, terlihat kalau dia tidak ingin
Tapi ini adalah sebuah eksperimen, dan kami harus melakukannya. Bahkan Frank dan Remina yang melihat kami sejak tadi juga terlihat penasaran dengan hasilnya
"Hanya satu kali, Veri"
Matanya menunjukkan kalau dia ragu. Tetapi mulutnya perlahan terlihat bergerak
Perlahan tapi pasti...
"Vainzel... Tepuk- Tepuk dahimu..."
*PLAK!!*
...
Tidak, aku tidak sedang bercanda. Aku sungguh memukul dahiku karena dipaksa oleh perintah itu lagi...
"Tidak apa-apa!!? Kamu- Kepalamu bahkan terlihat lapuk begitu!!" Verdea berteriak panik
"Tidak apa. Kamu lupa kalau aku bisa menyembuhkan diri dengan cepat?"
"Tapi tetap saja, itu-"
Verdea menghela napasnya. Kepalanya pun tergeleng selagi tatapannya berubah menjadi dingin
"Sepertinya memang tidak ada cara untuk mencabut atau menggantinya..." Verdea pun berkata lemas
Yah... Hal ini memang menjengkelkan. Aku sekarang merasa kesal kepada sumpah ini, bukannya merasa menyesal atau apapun
"Mungkin aku harus berkonsultasi dengan Ayahanda dalam perkara ini"
"Semoga ada jalan..."
Dan juga
*Plak!!*
Aku ingin memukulmu satu kali boleh kan?
"Sakit!!! Kenapa kamu melakukannya coba???" Verdea berteriak, sebelum dia merintih dan meringis
"Maksudku, diantara perintah lainnya, kenapa coba kamu memintaku menepuk dahi. Belum lagi kamu tidak bilang harus pelan atau tidak" Aku membalas
"Mana kutahu akan sekeras itu??"
"Setidaknya kamu sekarang tahu rasanya bukan?"
"Kamu jahat!"
"Dan kamulah yang mulai duluan"
Di tengah perdebatan kami, Kami baru menyadari kalau Remina ikut mendekat dan sekarang bersujud di lantai kearah Verdea
Kami berdua tentu bingung dan panik melihat posisinya yang tidak mengenakkan itu di hadapan kami. Tapi, belum sempat aku menegakkan Remina kembali, dia mulai berucap
"Aku minta maaf! Seandainya aku tidak mencela diantara kalian tadi, orang itu tidak akan mencelaku hingga semua hal ini pun terjadi!"
Ah-
...
"Gara-gara aku--- Oberon dan dirimu jadi--"
"Tidak perlu diteruskan nak. Bangun saja"
Kubangunkan Remina dari posisi itu, memperlihatkan kalau dia ternyata meringis kesal namun mencoba menahannya
"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Setidaknya juga kamu tahu kalau akan ada orang yang membelamu bukan?" Aku berkata
"Dan juga, tidak kusangka kalau cucuku ini butuh bantuan seorang gadis" Frank menambahkan, selagi dia merangkul Verdea yang duduk di sampingnya
"Kakek..."
"Kenapa? Aku salah? Kamu masih harus belajar kontrol diri"
Aku pun mengangguk mengikuti perkataan Frank
Remina hanya tertawa kecil dan berkata, "Sepertinya cucumu tidak bisa apapun tanpa orang lain, tuan Frank"
"Hey! Kamu ini tidak sopan sekali! Siapa yang mengajarimu coba?"
"Hm, aku penasaran siapa tuanku ya? Dia yang seharusnya bertanggungjawab ketika aku bekerja di bawahnya ya?"
"Hentikan nada sarkasmu itu! Dan tuanmu itu Vainzel bukan?"
"Dia rajaku dan aku rakyatnya. Argumenmu tidak valid karena aku ini bukan pembantunya"
"Kalian berdua sungguh tidak bisa akur ya?" Frank menyela
"Kamu baru sadar itu, Frank?" Aku mengikuti dengan sebuah pertanyaan sarkas
"Kalian berdua juga tidak perlu ikut! Ini urusanku dengan bocah pendek yang satu ini!"
"Siapa yang kamu panggil pendek coba, dasar pendek?! Kalau kamu belum setinggi Veskal sebaiknya kamu diam saja!"
Tidak akan ada yang bisa setinggi Veskal, bahkan Ivor ataupun Luna. Tingginya itu benar-benar fantastis
...
Aku merasakan sesuatu. Dan karena itulah aku pun berjalan perlahan kearah pintu kamar yang tertutup, tempat dari 'sesuatu' itu kurasakan
"Dan bicara soal Veskal..."
Dengan cepat pintu itu kubuka, dan seseorang di baliknya pun terjatuh. Tidak hanya itu, beberapa kepala pun bisa terlihat sedang mengintip ke dalam, utamanya kaget orang di depan mereka terjatuh
Lidahku pun berdecak kearahnya, selagi dia merintih kesakitan mencoba bangun
"Apa kalian tidak punya kerjaan sampai harus mengintip, Ivor?" Aku bertanya kepadanya yang masih di lantai
"Bukan salahku saja kamu tahu?? Veskal yang mengajak kami kemari-"
Dia yang awalnya ingin protes itu pun berhenti, hingga matanya melebar selagi kami berdua melihat keluar
Tapi Veskal tidak terlihat dimanapun, diantara banyaknya orang disana, sehingga membuat Ivor terkesan seperti seorang pembohong
"KEMANA BOCAH ITU?? JANGAN BILANG DIA LARI DI BALIK BAYANGAN LAGI??" Ivor meneriakkan kesal, sebelum dengan cepat berlari keluar
"Aku akan bantu cari, jadi sebaiknya aku pergi juga, haha~!"
"Aku juga~!"
Luxor dan Lyralia yang takut terkena masalah denganku pun pergi mengikuti Ivor, selagi Luna yang harus mengawasi agar tidak terjadi kekacauan mengekor dengan helaan napas lelah
Aku hanya menggelengkan kepala kepada semua orang itu
"Semua orang ada disini hm? Bahkan kalian, Eleanor dan Albert?"
Aku tidak terkejut dengan orang seperti Cyth dan Black Hunt ataupun Claudia dan kelima temanku. Tapi kedua orang ini sama sekali tidak terlihat suka mengintip
"Mau bagaimana lagi? Kami khawatir dengan pangeran Verdea, yang mulia Oberon" Eleanor menjawab santai
"Kebetulan mereka juga sudah mulai ramai di depan pintu tadi. Aku sekaligus penasaran kenapa Veskal ingin mengintip kalian" Albert menambahkan
Jadi benar ada Veskal tadi hm?
"Tapi setidaknya Verdea sudah baik-baik saja bukan?" Ordelia bertanya
"Yah, selain kalian yang membuat dia malu di balik selimut bahkan membuat Remina meleleh di lantai, aku yakin dia baik-baik saja" Aku membalas, selagi melihat kembali ke dalam
Ordelia hanya tertawa kecil mendengar responku
...
Kenapa mereka masih diam disini coba?
"Ya sudah! Intinya jangan lagi berkumpul disini! Bubar!!"
Aku mendorong semua orang pergi agar Verdea merasa lebih nyaman. Tidak lupa menutup pintu mereka juga, selagi mereka bertiga yang masih di dalam mencoba memastikan keadaan sudah aman
...
...
...
"Wah, ternyata sudah baikan!" Veskal berseru, membuat jantung ketiga orang itu berteriak kaget hingga jantung mereka hampir copot
Bagaimana tidak? Dia tiba-tiba muncul kepala duluan dari bawah kasur Verdea. Belum lagi dia melakukannya tanpa tanda apapun
"Bagaimana kamu bisa masuk tanpa ada yang menyadari coba??" Frank yang masih kaget bertanya
"Karena aku sadar Vainzel tadi mendekat, jadi aku segera menyatu dengan bayangan. Lagipula, memangnya salah aku ingin bertemu dengan temanku yang cengeng dan sedang sedih ini" Veskal berkata, sekaligus menyentil kening Verdea
"Perlukah kamu memanggilku cengeng...?"
"Memang aku salah?"
Verdea pun memasang wajah cemberut karena sedang tidak ingin berargumen dengan Veskal
Veskal menghela napasnya pelan melihat wajah Verdea yang cemberut seperti itu
"Kamu pernah bertanya kenapa manusia tidak menjadi seperti Elf saja kepadaku bukan?
Sekarang aku yakin kamu sudah paham jawabannya" Dia berkata lagi
...
"Begitulah" Verdea menjawab pelan
Frank dan Remina hanya menatap satu sama lain karena bingung dengan maksud pembicaraan itu
"... Tapi itu akan menjadi masalah lain hari dulu. Dan untuk sekarang, aku tidak akan mencoba mempermasalahkan hal ini lagi" Verdea berkata lagi
Veskal mengangguk paham, kemudian menyentil kening Verdea hingga dia merintih lagi
"Apa niatmu coba?"
"Tidak ada. Aku hanya usil karena ada orang yang wajahnya terlalu serius"
"Kalau begitu ya sudah! Biarkan aku tidur dan pergi sana!"
"..."
"..."
"Bagaimana dengan kedua orang itu?"
"Ya, tolong bawa mereka keluar. Kenapa kamu harus menanyakan hal yang jawabannya jelas?"
Veskal hanya menghela napasnya, sebelum mengakhiri kunjungannya itu dengan mengajak Frank dan Remina keluar
"Ah, aku lupa ingin mengatakan sesuatu juga" Frank berkata sebelum keluar
"Hm? Apa?" Verdea yang tertarik bertanya
"Bagaimana agar kalian tidak terlalu tegang lagi, kita jalan-jalan di kota Hortensia? Aku yakin Oberon juga akan senang"