Book Of Flowers

Book Of Flowers
Menyesal


--- Sementara itu, Gerbang Hutan ---


...


...


"Seren..."


"Ya...? Aku masih disini..."


...


Dia sudah tidak bisa bergerak lagi hah...?


Bahkan matanya sudah mulai tertutup sekarang...


Berapa lama lagi kamu harus menderita, penjaga kami selama ratusan tahun...?


"Tugasmu sungguh sudah selesai, Seren. Kamu tidak perlu khawatir dengan masa depan para Elf lagi..."


Aku memang terdengar jahat, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin dia memaksakan diri di dalam rasa sakit tidak berujung ini...


Bahkan teman-temanku juga sepemahaman denganku. Tidak ada dari kami para Elf yang ingin melihat dia menderita seperti ini


"Jangan kejam begitu ya, Oberon"


Suara yang familiar itu membuatku mengangkat kepala dan menoleh dari Seren. Di sudut area masuk Gerbang Hutan, keluarlah sebuah sosok yang ternyata adalah Leshy


Aku segera menghilangkan air mataku yang nyaris menetes, kemudian menyambut Leshy dengan sebuah senyuman selagi dia berjalan perlahan dengan para Roh Hutan yang mengikutinya


"Rupanya kamu kembali lebih cepat dari yang kami duga ya. Kamu selalu datang dan pergi dari Goeitias dengan cepat hingga kami bertanya-tanya apakah itu sungguh kamu ya" Dia berkata lagi, sebelum memberi hormat kepadaku


"Jahat. Padahal aku juga sedang bekerja keras agar kaum Elf bisa hidup lebih baik" Aku membalas


Leshy hanya tertawa kecil sebelum kupersilakan untuk mengangkat kepalanya kembali


"Tibor akan bangga kepadamu, sungguh. Dia selalu ingin melakukan sesuatu dengan caramu, tetapi perang keji itu memaksa kita semua untuk bertingkah kejam"


Yah... Lagipula, Oberon Tibor memang beringas sejak awal. Walaupun kisah tentangnya juga berkata kalau dia sangat senang membuat lelucon untuk meringankan suasana


Daripada melakukan sesuatu seperti caraku, dia mungkin ingin semua Elf bisa terus tertawa bersamanya. Sementara aku hanya ingin apa yang terbaik bagi para Elf walaupun mereka membenciku dan menunjukkan dengan jelas mengenai hal itu


"Kamu sudah punya tujuan selanjutnya ya, Oberon?" Leshy pun bertanya


"Hmmm... Begitulah"


Tujuanku hanya satu, tapi aku butuh ratusan tujuan untuk membentuk jembatan demi menggapainya


"Ah, sebaiknya kalian semua masuk dan menyelesaikan semua hal yang kalian perlukan" Aku berkata kepada yang lainnya


Luna pun mengangguk, dan segera memimpin semua orang untuk ikut bersamanya masuk ke Miralius. Mereka bahkan tidak lupa meminta izin kepada Seren sebelum masuk setelah membuat Seren tersenyum sedikit


Sementara itu, Veskal tetap diam di tempat, bersama dengan Natasha. Dia masih menunggu keputusanku mengenai apakah Natasha boleh masuk atau tidak


Dan jawabanku tidak berubah


"Tidak. Jawabanku tetaplah tidak" Aku menegaskan lagi


Veskal pun berdecak, selagi Natasha hanya merungut pelan


Natasha tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik jubah miliknya, kemudian menyerahkan benda itu kepadaku


Benda itu hanyalah secarik kertas yang berbentuk seperti sebuah buru-


TUNGGU DULU!!


Kertas ini berbentuk dan bergerak seperti burung! Apa maksudnya ini??


"Tenang, ini hanya sihir cahaya kecil dari seseorang yang ingin bicara denganmu" Natasha berkata


Oh, kalimat itu menjelaskan kenapa kertasnya terlihat hidup


Jika begitu...


Ketika aku menyerahkan tanganku ke hadapan burung kertas itu, dia segera menghinggapinya dan mulai menunjukkan tanda kalau dia siap bersuara


"Orang ini pasti penyihir cahaya tingkat menengah untuk bisa merapal 'Mirage Letter'"


Tapi, jika dia ingin bicara denganku melalui sihir itu, kenapa dia harus menyerahkannya kepada Natasha?


Aku pun mulai memberi burung kertas itu sebuah perintah untuk bicara, hingga Leshy dan Veskal jadi penasaran dengan isi pesannya


Dan dimulai dari kalimat pertama pesan itu saja, aku sudah dibuat terkejut


Aku terkejut dengan suara milik perapalnya yang kukenal cukup baik itu. Begitu juga dengan Veskal yang mengetahui orang itu


'Oberon, apa kabarmu?'


...


Suara itu...


Itu suara Darius Hortensia...


'Aku tahu kamu terkejut mendengar suaraku, tapi ketahuilah satu hal : Aku tidak berniat untuk mencari masalah denganmu. Justru sebaliknya'


Aku nyaris menjawab pesannya itu, tetapi kemudian ingat kalau 'Mirage Letter' adalah sihir rekaman dengan elemen cahaya


'... Aku ingin bekerjasama denganmu. Jika kamu tanya kenapa, aku juga tidak tahu. Tapi aku mendapatkan gambaran kalau aku harus bekerjasama dengan kalian disaat aku datang menghadiri pesta teh milik Verdea kemarin dengan anak-anak para bangsawan lainnya'


Itu belum lama terjadi. Maksudnya adalah acara dimana Verdea menjadi kesal dengan anak laki-laki dari keluarga Grandier itu


'... Dan tenang saja. Ibuku ataupun anggota keluarga Hortensia yang lainnya tidak tahu aku merencanakan hal ini. Hanya Collin saja yang tahu dan berniat untuk ikut dengan serius'


"Mengejutkan sekali..." Veskal berkomentar sebelum aku menyuruhnya diam dengan segera


'Aku tahu cara menangani Rosalia, dan aku tahu betul kalau ayahku yang tidak berguna itu adalah mata-mata kalian. Tapi aku akan membongkar satu hal kecil


Artorius ayahku tidak memberitahukan kalian semua hal yang dia lihat. Dia memutar setiap kalimat miliknya, dan dia menghilangkan bagian terpenting'


...!


'Kamu harus berhenti percaya dengan ayahku. Dia sudah berkhianat kepadamu dan memberitahu Rosalia kalau kalian sudah membuatnya menjadi mata-mata'


Bajingan-!!


Artorius-!!!


"Vainzel, tahan"


...


'... Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi sungguh. Aku juga akan menyerahkan batu rekaman mengenai hal itu yang kuletakkan di dalam burung ini. Dan ketika pesannya selesai, burung ini akan merobek dirinya sendiri dan hanya akan meninggalkan batu kecil itu saja'


Baiklah


'Mengenai kerjasama itu, ada 2 orang lagi yang juga akan bekerjasama denganku dan Collin. Mereka adalah Duke Lantana dan kapten Flock. Itu sebabnya aku menyerahkan burung ini ke tangan mereka berdua agar bisa sampai kepadamu tanpa kecurigaan berlebihan'


...


'Aku juga akan mencuri benih komunikasi yang kamu berikan kepada ayah. Dia akan sadar kalau ada yang mencurinya tanpa waktu lama nanti, jadi kalian harus menghubungiku sebelum matahari terbenam disaat kalian tiba di Villa Lavender. Aku pasti sudah berhasil mencuri benih kecil itu di hari yang aku sarankan


Aku dan Collin berharap banyak kepadamu, Oberon. Jadi, tolong jawab aku Oberon. Kami berdua sudah putus asa dan tidak bisa mengandalkan ibu kami masing-masing lagi


Sampai jumpa di ujung waktu. Aku bersumpah atas nama keluargaku kalau aku akan membantumu


Karena... Aku ini bukan seorang pengecut munafik seperti ayahku'


Pesan itu pun berakhir disana, ditandai oleh burung kertas yang mulai bertingkah agresif itu


Dan seperti yang dia bilang, burung kertas itu pun merobek dirinya sendiri hingga sebuah batu rekaman yang bersinar jatuh ke tanganku


Tanpa perlu waktu lama, aku segera mengecek isinya. Dan sekali lagi, Darius benar


Batu rekaman itu menunjukkan Artorius dan Rosalia yang sedang berbincang dengan satu sama lain, selagi anggota keluarga Hortensia yang lainnya duduk tidak jauh dari mereka berdua selagi menikmati teh


'Kenapa kamu mengakui kalau kamu adalah mata-mata Oberon, ayah?'


'...'


'Tidak apa jika kamu tidak menjawab-'


'Keluargaku...'


'...'


'... Aku ingin agar tidak ada keluargaku yang tersakiti lagi


Aku tidak ingin... Kalian disakiti lagi, Rosalia. Marianne saja sudah cukup'


'Perkataanmu itu percuma ayah, walaupun aku senang kamu jujur'


'Itulah sebabnya aku mohon agar kamu mau berhenti! Kita bisa memperbaiki-!'


*KRAK!!*


...


Belum selesai batu rekaman itu menunjukkan isinya, aku sudah meremukkan benda itu hingga menjadi kepingan. Veskal dan Natasha bahkan kubuat terkejut, selagi Leshy terlihat berkeringat dingin entah karena gusar atau gugup


...


Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...


Orang yang aku sudah kuberikan kepercayaan bisa-bisanya...


...


Hah... Aku sungguh murka sekarang ini...


Aku sungguh ingin mencekik orang itu sekarang juga...


"V- Vain...!" Veskal mencoba menyadarkan diriku


Aku pasti sedang membuat wajah yang membuat mereka gemetar ketakutan sewaktu di penjara Xiang waktu itu


Tapi aku tidak bisa ditahan sekarang ini...


"Biarkan aku sendiri nak"


...


"Pergilah berkeliling dengan Natasha dan tinggalkan aku disini dengan Leshy"


...


Tanpa suara sama sekali, Natasha segera menahan tangan Veskal dan menggelengkan kepala. Dia pun perlahan menarik Veskal untuk pergi, hingga Veskal yang pasrah pun hanya menurut


Sementara Leshy masih bersamaku dengan Seren yang masih terbaring. Bahkan para Gnome yang sejak tadi mengawal kami itu merasa terusir dan segera masuk ke dalam Miralius


"Oberon... Kenapa...?" Seren bertanya kepadaku


...


...


...


"Hanya masalah kecil yang harus segera kubereskan"


Kepalaku berputar. Bukan hanya karena aku tidak bisa menerima informasi itu dengan baik, tetapi juga mencoba memikirkan apa yang harus kuperbuat ke depannya


Aku akan membuat Artorius menyesal sudah berkhianat. Tapi aku akan lebih senang jika aku mempermainkannya dulu


...


Permohonannya tidak akan kukabulkan sama sekali. Dan tidak akan bisa


Rosalia bukan hanya kelewatan, tapi dia juga menolak untuk berubah. Artorius seharusnya paham akan hal itu sejak awal


Tapi sialan munafik itu hanya memikirkan apa yang menurutnya baik saja...


Permainan ini sudah terlalu berbahaya untuk kembali ke titik awal. Hanya ada 2 jalan saja untuk keluar darinya


Menang, atau mati


Tentu saja tidak ada dari kami yang ingin mati. Tidak ada dari kami yang ingin menyerah begitu saja


Pria lemah itu harus kutampar untuk sesekali. Berani-beraninya dia melontarkan kami ke dalam api begitu saja


Aku heran bagaimana anak-anaknya memiliki mental baja sementara dia-!!


ARRGHH!!!


Karena kekesalanku memuncak, aku pun menghantam tanah tempatku berdiri hingga dia hancur dan membuat lubang besar


Para roh hutan tentu langsung ketakutan dan bersembunyi di badan Leshy yang mengeluarkan napas lelah


"Oberon. Kamu harus menghentikan amarah itu sekarang juga ya" Dia memperingatkanku


Tapi aku hanya diam tidak menjawab. Bahkan ketika dia melihat wajahku yang kesal itu dia langsung mengambil langkah mundur


Leshy tahu, kalau dia mencoba melangkah maju lagi, aku akan menghajarnya hingga melayang ke udara tanpa kesusahan sama sekali


Aku mungkin akan menahan diri disaat sadar, tapi dia tidak yakin kalau aku akan begitu ketika sedang murka seperti ini. Dia tahu betul batas kekuatanku, dan tidak berani untuk menantangnya karena sudah pasti dirinya akan kalah


Jadi dia pun hanya menundukkan kepalanya dengan gugup


"Raja kita ini..." Dia bergumam, sebelum menelaah diriku dari belakang sekali lagi. "... Aku berpikir kamu mulai menjadi pemimpin yang baik. Tapi siapa sangka kalau kamu akan lebih baik dari ekspektasi kami ya" Dia berkata kemudian


Dia pun merendahkan kepalanya sedikit lagi, sebelum berjalan dan duduk di dekat Seren, menanti saat dimana aku akan tenang kembali agar dia bisa memulai perbincangan ringan


"Kamu sudah melihatnya kan ya...?" Dia bertanya kepada Seren


"Cukup... Untuk kuberitahukan... Kepada Aestas..."


Seren mencoba tertawa puas, tetapi segera dibuat terbatuk-batuk karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah


"Dia tidak akan... Mengecewakan kaum Elf... sama sekali...


Aestas... Tibor... Raja lainnya... Mereka bisa... Tenang..."


...


"Bagaimana denganmu ya, keponakanku...?"


"Hahah... Aku tidak akan pernah... Memanggilmu paman..."


"Aku tahu itu. Tapi ayahmu menganggapku sebagai saudaranya sendiri ya"


...


"Aku akan tenang..."


...


"Aku akan bisa... Bertemu dengan ayah... Dan rajaku lagi..."


"Kamu sungguh membedakan sebutan untuknya dan Aestas ya...?"


"Mereka tetap... Setara bagiku..."


...


"Ingin tidur ya...?"


"Ya... Aku sudah lelah..."


"... Sampaikan salamku kepada Fafnir ya...? Seandainya tempat itu ada untuk monster seperti kita"


"Jika ada... Maka aku pasti... Akan melakukannya..."


"... Lalu sigil itu..."


"Kamu bisa... Mengambilnya... Jangan biarkan... Penyihir itu... Bisa bergerak..."


"Aku paham ya"


...


"Aku... Sudah tidak... Takut lagi kepada... Kematian..."


...


...


...


Dua jam sudah berlalu begitu saja. Seren sudah terlihat tidak berdaya sama sekali, dan aku masih tidak bergerak


Karena itu, aku pun tidak memperhatikan kalimat terakhir yang dia utarakan...


"Aestas... Rajaku..."


...


Napasnya mulai melemah...


"... Terima kasih... Sudah mau menyambutku... Untuk yang kedua kalinya.....


Haah.........."


Menunggu hal itu sejak tadi, Leshy pun menyaksikan sendiri hembusan terakhir keluar dari mulut Seren


Satu hembusan terakhir yang segera memadamkan tiupan angin di sekitar mereka, hingga menjadi tidak terasa sama sekali


Dan setelah dia menyaksikan sekitarnya, Leshy sekali lagi menatap kearah wajah Seren. Wajah yang sudah dingin, tetapi tetap menunjukkan sebuah senyum puas


Sebuah senyum yang sangat hangat, hingga Leshy sempat ragu dan menolak kalau dia sudah tiada


...


"Maafkan aku..."


Lalu untuk pertama kalinya dia meneteskan air mata setelah sekian lama


Dia tidak ingat kapan. Mungkin... Disaat Tibor tiada di hadapannya...


Tetapi Leshy menangis tidak kuasa. Dia tidak bisa membendung hal itu lagi, terutama melihat apa yang seharusnya dia lindungi kini tidak ada lagi di dunia


"Penyesalanku sungguh hanya satu ya..." Dia berkata pelan. "Aku tidak pernah bisa melindungi siapapun. Kelima saudaraku maupun rajaku..."


Dagunya dia letakkan diatas kepala Seren dengan perlahan selagi air mata terus turun diam-diam. Pelukan terakhir darinya itu pun membuat Seren merasa kalau dia sudah diantar dengan layak


Dia pun pergi, sekali lagi terbang ke udara. Tetapi dia sudah bebas


Dia tidak perlu kembali lagi


Dan aku pun sadar akan hal itu