Book Of Flowers

Book Of Flowers
Untuk Masa Depan Kita


--- Beberapa hari kemudian ---


Hari itu, akhirnya tiba. Setelah disibukkan dengan kesibukan kami masing-masing, pagi untuk hari itu pun tiba, menandakan kalau pertemuan antar kerajaan Sto Astra akan segera dimulai


Aku harap pesan melalui seekor elang yang kukirimkan kepada Julius sudah sampai. Akan sangat mengesalkan jika dia tidak membuatkan kami lingkaran teleportasi untuk tiba disana


Para Dark Elf juga sibuk membuatkan kami yang akan pergi sebuah lingkaran teleportasi. Semuanya nyaris selesai, hanya tinggal menunggu semua orang yang akan pergi


"Sudah siap?" Aku bertanya


Semua orang terlihat lesu, terutama Verdea dan Veskal yang masih mengingat perilaku milikku kepada Natasha dan teman-temannya


Verdea baru tahu setelah malam itu berlalu, berkat laporan dari Veskal. Dan seperti yang kuduga, mereka berdua sama sekali tidak setuju dengan perbuatanku


Jika mereka berdua adalah seorang Elf, aku yakin mereka akan berkata lain...


"Vain. Memangnya Veskal saja cukup sebagai pengawalku?" Verdea pun bertanya kepadaku


"Edwin nanti ada disana bukan? Dia dikirim ke Orion untuk-"


"Aku tahu. Aku hanya bertanya apakah salah satu teman-teman kita yang lain mungkin ingin ikut juga"


Aku pun memberinya sebuah tatapan penuh pertanyaan


Maksudku, membawa Elf dari Miralius sementara dia datang kesana sebagai duta Hortensia? Tidak terdengar etis bukan?


Tapi Verdea kemudian hanya diam dan mendecak. Dia terlihat kesal akan sesuatu, entah apa


"Oberon!" Seorang Dark Elf menyerukan namaku. "Lingkaran sihirnya sudah disiapkan!"


Ah ya, dia benar


Ketika para Dark Elf sudah mundur, kami diperlihatkan oleh lingkaran sihir yang mulai mengeluarkan cahaya putih dan bercak warna-warni. Seakan orang yang menunggu di sisi lain sudah siap menyambut kehadiran kami dengan suka ria


Sudah waktunya untuk kami pergi


Ah-?


...


Perlahan aku berbalik kearah seseorang yang menyentuh bahuku. Seseorang yang terlihat sangat gusar dengan kepergianku


Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi, ketika melihat wajahnya lagi, aku kembali teringat kalau sifat asli kekasihku ini memang sangat manis


Aku bahkan tidak bisa menahan diri untuk mencium telapak tangannya yang menyentuh bahuku barusan


"Ordelia. Kamu tidak apa?"


Untuk apa aku memberikan pertanyaan itu? Jelas-jelas dia terlihat sangat lesu


Yah, tapi aku ingin mendengar kejujuran langsung dari mulutnya. Dia hanya perlu meyakinkanku


"... Aku masih terpikir dengan kalimatmu di hari itu, Vainzel" Dia pun akhirnya menerangkan. "Itu membuatku sadar, kalau jarak diantara kita tidaklah sedekat yang aku pikirkan"


Hm


Kalimatku mungkin terlalu tajam untuk mereka tangani di hari itu. Ivor bahkan sampai jauh-jauh bertanya kepada Verdea demi mencari jawaban dari apa yang kuinginkan


Tapi sungguh. Jawabannya tidaklah semegah atau sebesar yang siapapun kira


"Kita akan cari tahu disaat Remina akan melakukan ritual persembahan nanti" Aku pun berkata


Wajahnya kembali turun. Dari sana saja, aku sudah tahu, kalau dia merasa tidak enak jika ada seseorang selain mereka berlima yang mendapatkan jawaban itu terlebih dahulu


Remina memang teman kami, tapi waktu yang mereka habiskan bersamaku adalah waktu paling lama diantara semua orang. Sayangnya, bahkan selama waktu itu berlalu, mereka masih tidak bisa mengerti apapun mengenai diriku


"Kamu sungguh aneh. Kekasihku entah kenapa memiliki pemikiran yang unik..." Dia pun berkata, ditambah dengan sebuah senyuman


Yah, aku memang unik


...


Sudah waktunya untuk pergi. Orion sedang menunggu


...


Dan untuk pertama kalinya, selama lebih dari seratus tahun ini aku bersamanya, aku mendekatkan wajah kami berdua dengan satu sama lain


Di depan semua orang disaat itu, aku mengecup bibir Ordelia. Setelah sekian lama kami hanya melakukan kontak fisik biasa, kali ini aku memberanikan diri untuk mengambil inisiatif


Bibirnya sangat lembut sehingga aku merasa bisa menghancurkannya seandainya aku terlalu memaksa...


Dan ketika bibir kami terlepas dari satu sama lain, aku bisa melihat wajah Ordelia yang sepenuhnya memerah selagi dia tertegun. Semua orang yang melihat bahkan memasang wajah terkejut mereka masing-masing, terutama teman-temanku yang langsung heboh selagi beberapa mulai mengguncang satu sama lain


"Hm~ Rasa manisan mint..." Aku berkata untuk mengalihkan perhatiannya


Ordelia yang dari tadi mematung itu pun mulai bergerak kembali


"Ah-! Uh-! Aku- Aku memang habis memakan-!"


"--- Permen favoritmu. Ya ya, aku paham~"


Ekspresinya membuatku tertawa kecil, selagi Ordelia langsung mengubahnya menjadi ekspresi cemberut


Tapi pipinya masih memerah. Membuatku ingin semakin mengusili dirinya


Sebaiknya aku berhenti mengganggunya saat ini


"Sampai jumpa, Ordelia. Aku harus pergi sekarang"


Sebelum kami sempat pergi juga, saat-saat terakhir itu kami dikejutkan oleh para anak-anak kota Andromeda yang mulai berlarian keluar dari Gerbang Hutan selagi menghampiriku


Wajah mereka yang terlihat sangat riang dengan sangat antusias mengerumuni tubuhku yang terlihat sangat kecil diantara mereka semua. Suasana bahkan menjadi sangat riuh, ketika Verdea mulai ikut dikerumuni sembari ikut tertawa dengan mereka. Veskal di sisi lain, tidak bisa kukatakan terlalu senang ataupun tidak senang


Dan seorang anak pun mulai memintaku untuk menunduk, agar bisa bicara mewakili beberapa yang berkumpul di dekatku


"Kami dengar kalau pangeran Verdea akan menjadi raja sebentar lagi" Anak itu berkata kepadaku


Kalimatnya itu cukup membuatku dan Verdea tersenyum kecil mengagumi kepolosan mereka


"Albert yang memberitahumu?"


"Tuan Zaphir. Dia bercerita kepada kami kemarin malam"


Ah ya. Aku dengar dari Verdea kalau Zaphir dan Luna melakukan piknik malam bersama anak-anak ini dan Claudia


Siapa yang sangka kalau Zaphir akan bisa menjadi ramah dengan sekumpulan anak-anak?


"Sepertinya penjelasan yang kuberikan itu kurang" Zaphir berujar ketika aku menatapnya


Beralih kepada Verdea, dia pun paham kalau aku meminta dia saja yang langsung menjelaskan. Jadi dia hanya tersenyum, dan mulai membuat perhatian anak-anak tertarik kepadanya


"Aku akan menjadi raja. Belum, tapi akan" Verdea pun bicara


"Kalau begitu, apa kota kami juga akan hidup makmur di bawah perintahmu sebagai raja yang bijak?" Seorang anak bertanya


Kami semua yang tahu sifat asli Verdea langsung menyedot hidung dan menahan tawa secara serentak


Ahaha-! Bijak dan Verdea? Dua kata yang tidak akan pernah bersatu


Verdea pun hanya cemberut sekilas, sebelum kembali kepada anak-anak


"Aku tidak yakin aku bisa memerintah kalian dengan baik. Tapi setidaknya, aku tidak akan menindas kalian seperti Eloy" Verdea pun meyakinkan


"Dan aku bisa bilang, dia mungkin akan menjadi raja yang baik" Aku menambah


Yah, walaupun tidak bijak...


Veskal yang tadi hanya diam, mulai tersenyum di sisi Verdea, selagi memejamkan matanya di tengah tundukannya


"Kami juga dengar kalau kalian akan bertemu dengan Eloy!" Seorang anak gadis kemudian berujar. "Jika kami boleh minta, setidaknya hajar dia!"


Semua anak itu pun langsung bersorak setuju mengikuti gadis itu, seakan mereka adalah sebuah partai pemberontak yang termotivasi dengan pidato pemimpinnya


Namun secara teknis, mereka itu memang pemberontak...


"Kalau begitu kami berjanji" Verdea berkata lagi, membuat semua mata kecil itu terlihat berbinar. "Setidaknya satu pukulan akan cukup untuk membuat Eloy tersadar bukan?"


"Pangeran Verdea memang keren!" Seorang anak mulai bersorak


"Kami akan selalu mendukungmu! Berikan hukuman kepada raja jahat itu!"


"Hidup pangeran Verdea!"


Sorak sorai mereka terus berkumandang, selagi kami tertawa menanggapi mereka semua yang juga mulai bertingkah. Selagi 2 sosok lain mulai keluar dari Gerbang Hutan untuk menjemput anak-anak itu, bersama dengan gerombolan orang dalam jumlah besar


"Anak-anak! Oberon akan pergi!" Suara pemimpin mereka yang asli pun bersuara, membuat mereka semua terkesiap


Di depan kerumunan para orang tua anak-anak itu, Eleanor dan Albert terlihat berjalan setengah berlari seakan mereka terlambat menghadiri sesuatu


Ketika tiba di hadapan kami, orang pertama yang ditatap oleh Eleanor adalah Verdea, karena dia memiliki sebuah kalimat untuknya


"Ayolah pangeran Verdea. Mengajarkan mereka untuk bersikap kasar sama sekali bukan sesuatu hal yang baik"


Verdea mengangkat bahunya dengan sebuah senyum, meyakinkan Eleanor kalau tadi itu hanyalah sebuah candaan belaka kepada anak-anak


"Tetap saja pangeran..."


"Tidak perlu khawatir, nyonya Eleanor" Albert pun bicara. "Pepatah Crux selalu berkata; Balas api dengan api, bukan begitu?" Dia menambahkan


Eleanor pun hanya tersenyum masam ketika dia tahu, bicara tidak akan bisa meyakinkan kami


"Oberon" Seseorang dari kerumunan penduduk Andromeda itu memanggilku


Mereka semua melihat kemari, dengan mata yang terisi oleh harapan penuh. Harapan kepadaku, dan kedua teman yang berdiri di sisiku sekarang ini


Orang yang bicara tadi perlahan mengelus rambut anaknya, sebelum dia kembali fokus kepadaku


"Kami sungguh berterima kasih banyak atas semua perlakuanmu untuk kami"


...


Berterima kasih hah...?


"Kami tidak melakukan banyak hal selain menyediakan area yang cukup nyaman untuk tempat kalian hidup di Miralius..."


Sungguh, hanya itu. Dan jalur yang kami tempuh sama sekali tidak sulit untuk membuat perdamaian diantara Elf Miralius dan penduduk Andromeda


"Itu sebabnya kami akan selalu berdoa untuk kalian" Seorang pria melanjutkan perkataan orang sebelumnya. "Kami tidak akan bisa hidup lagi dengan layak seandainya kamu tidak datang di hari itu"


Aku hanya terdiam. Dalam hati aku merasa sangat senang hingga senyumku tidak bisa tertahan, tetapi aku tidak punya kalimat yang tepat untuk membalikkan kalimat rasa syukur itu


Jadi aku hanya diam, memasang senyumku untuk dilihat mereka semua


"Vain. Kita harus berangkat" Luna kemudian menyela


Kehadiran mereka hanya bisa kami temui dengan waktu yang singkat. Sangat disayangkan, tetapi kami harus pergi sekarang


Ada sebuah urusan yang harus diselesaikan sekarang juga


Ketika semua orang yang mendekat tadi mulai mengambil jarak agar tidak ditarik lingkaran teleportasi itu, aku menatap mereka untuk yang kesekian kalinya sebelum kepergian kami


Dan jika aku bilang, aku terpikirkan satu hal. Satu hal untuk mengembalikan rasa syukur mereka, agar tidak terasa sepihak


Jadi aku pun mengangkat tanganku, membuat bahkan teman-temanku menatapku dengan sedikit terkejut


Melihat aba-aba dari mereka yang mulai tenang itu, aku pun mulai menyerukan satu kalimat kepada semua orang yang hadir


"Doakan perjuangan untuk masa depan kita bisa berhasil!"


Semua orang melihatku, dan aku juga melihat mereka. Pantulan dari mata mereka tidaklah menunjukkan sebuah sosok penyelamat mereka semata, tetapi sebuah sosok yang akan menuntun mereka menuju masa depan


Sosok yang mereka selalu nantikan, baik itu untuk para penduduk Andromeda, Black Hunt, para Elf, maupun teman-temanku yang lain. Mata mereka menatap kearahku seakan berkata, kalau mereka bangga dan senang telah memilih sisi terbaik diantara perang takdir yang kejam ini


"Selamat jalan Oberon!"


"Hati-hati! Kembali dengan selamat!"


"Kalian juga, pangeran Verdea, tuan Veskal!"


"Kami akan selalu bersama kalian!"


Seruan mereka semua pun berkumandang, selagi lambaian tangan mereka mulai terlihat seperti ayunan rumput yang sedang diterpa angin sepoi-sepoi


Lautan semua orang itu membuat kami semua yang menghadap mereka takjub. Kami bertiga pun mulai saling bertatapan, selagi senyum terukir di setiap wajah kami


Dan menandakan kalau ini saat terakhir kami untuk melihat mereka semua kali ini, cahaya lingkaran itu mulai bersinar hingga ke titik menyilaukan, perlahan membalut kami di dalamnya


Dengan segera, cahaya itu pun membawa kami terbang ke udara, selagi semua orang masih melambaikan tangan mereka untuk mengantar kepergian kami


Ya. Untuk masa depan semua orang


Terutama untukmu, teman-temanku...


Untukmu, dunia ini...