
--- Keesokan harinya, Kastil Thyme ---
"Dia akan melayaniku?"
"Yap. Dia akan membantu semua orang disini menjalankan tugas mereka"
Pesan itu sudah kusampaikan kepada Verdea. Veskal sekarang sudah sepenuhnya menjadi orang yang akan mengabdi kepadanya, sama sepertiku
Omong-omong... Baju ini sulit juga dipasangkan ke badan anak ini
Dan disana... Yang itu juga...
Siap!
Akhirnya pakaiannya sudah siap untuk hari ini
"Aku tidak masalah dia bekerja disini atau tidak, tapi lebih ramai lebih bagus" Verdea berkata dengan nada senang
Verdea membalikkan badannya dan menghadap kearahku sambil memintaku menggendongnya
Padahal dia bilang tidak suka dikatai anak kecil, tapi tingkah dan perkataannya itu memang berlawanan
Hah... Tidak apa-apa. Dia masih 7 tahun juga
Atau sudah 8? Aku tidak tahu lagi...
"Aku juga sudah siap mengirimkan surat kepada yang mulia untuk memberitahukan informasi ini" Balasku sambil mengangkatnya ke gendonganku
"... Ya..."
...
Hah...
Aku sering menyinggung Verdea dengan surat yang kutulis kepada Artorius agar dia juga punya inisiatif untuk melakukan surat menyurat dengan ayahnya
Tapi, dia selalu menghindari hal yang berhubungan dengan ayahnya setiap kali aku membahasnya. Walaupun aku tidak menyalahkan dirinya soal itu, akan lebih baik jika dia sering berhubungan baik dengan ayahnya. Siapa tahu dia punya kesempatan lebih besar dalam bertahan di dunia kerajaan ini, walaupun Artorius sendiri adalah orang yang lemah
"Permisi" Seseorang berkata, mengetuk pintu kamar Verdea yang menarik perhatian kami
Pintu itu pun terbuka. Veskal masuk dengan pakaian rapi bak seorang pelayan yang layak menghadirkan dirinya di hadapan kami berdua. Walaupun aku harus akui, setelan pelayan sedikit tidak cocok untuknya. Di sisi lain, dia memang terlihat berwibawa dengan pakaian rapi
"Oh, kamu telat" Aku pun berkomentar
"Ah! Kamu juga yang terlalu cepat!" Dia membalas dengan menggerutu
Melihat dia yang kesal begitu membuatku berubah pikiran soal yang kupikirkan tentangnya tadi
"Kalau begitu, tolong bantu Ordelia merapikan taman saja"
"Tidak mau. Baju baruku bisa kotor nanti"
Dia ini pelayan bukan? Kenapa pilih-pilih?
"Temani aku belajar" Sela Verdea
Kami berdua langsung mengalihkan perhatian kearahnya ketika mendengarkan hal itu
"Temani aku belajar, Veskal" Dia mengulangi lagi
"Belajar? Tapi, aku cuma pelayan..."
"Temani aku belajar"
Dia mengulanginya lagi...
Karena sadar kalau Verdea sedang memaksanya, Veskal kemudian menghela napas pelan dan mengangguk. Begitu juga diriku, menghela napasku dan mengangguk ketika Verdea beralih kepadaku
Verdea langsung tersenyum lebar mengetahui kami tidak menolak permintaannya
"Sekalian untuk mengawasinya..." Aku mencoba meyakinkan diriku
Veskal sekali mengangguk dan mengikuti di belakang ketika kami berjalan keluar dari ruang tidur Verdea
"Ah, ya. Hari ini pelajaranku" Aku menyinggung
Wajah Verdea langsung terlihat lesu mendengar hal itu, membuatku tersenyum kecil melihat reaksinya
......................
--- Ruang tengah kastil Thyme ---
"Jadi, yang perlu kamu pelajari dalam hal politik pertama kali adalah susunan jabatan kerajaan"
Aku sendiri sebenarnya baru mempelajari jabatan mereka semua beberapa hari terakhir ini
Kerajaan manusia itu rumit sekali...
Tapi, mereka juga punya beberapa kesamaan dalam hal kekuasaan yang dipegang jabatan masing-masing
Kerajaan Elf terdiri dari Oberon sebagai gelar seorang raja, Titania sebagai gelar seorang ratu, para petinggi yang bisa dianggap satu level dengan bangsawan kelas atas di kerajaan manusia, dan terakhir para Elf
Semua hal kecuali para petinggi saja yang sama dalam hal kekuasaan
Para petinggi kami umumnya hanya ada untuk melindungi pohon agung dan mengatur daerah masing-masing klan Elf. Sementara itu, kerajaan manusia memiliki banyak sekali jabatan dan bentuk daerah kekuasaan yang berbeda-beda
Marquis, Duke, Count, Viscount, dan lainnya lagi. Aku bahkan belum membahas semua tugas dan kekuasaan mereka masing-masing dan bagaimana mereka bisa memainkan peran itu dengan baik
Aku yakin bidang politik manusia itu tidak mudah dipelajari, apalagi diajarkan. Tapi, karena sudah waktunya untuk pelajaranku kepada Verdea, aku harus siap dengan materinya
Sebuah surat kukeluarkan dari saku bajuku. Kubuka surat itu yang berisi 3 lembar tulisan, dan kutunjukkan isinya kepada Verdea
"Aku meminta yang mulia untuk mencatat nama semua pejabat kerajaan di surat ini. Lalu, aku akan menjelaskan peran mereka masing-masing"
Verdea diam tidak berkutik sementara Veskal sibuk membaca lembaran surat itu satu-persatu
"Tunggu dulu, ini daftar semua pejabat di area kerajaan Hortensia bukan?" Veskal bertanya
"Ya. Yang mulia Artorius sendiri yang menulis surat itu" Aku menjawab dengan santai
Kalau dia lupa dengan salah satu pejabatnya saja, hal itu keterlaluan bukan?
"Aku sudah menemui semua orang ini dulu" Aku melanjutkan
"Lalu? Bisa kamu jelaskan?" Veskal meminta penjelasan
"Mereka cuma baik di depan, tapi saling menjatuhkan kalau ada kesempatan"
Aku sebenarnya tidak terkejut. Sistem politik di negara ini sangat rentan terhadap ancaman dari dalam. Satu gerakan salah akan berarti jatuhnya mahkota dari kepala sang raja. Dan walaupun dia punya kekuasaan yang cukup ditakuti sekalipun, kudeta bukanlah sesuatu yang direncanakan tanpa persiapan matang
Aku menoleh kearah Verdea yang masih diam
"Kenapa? Tidak mau belajar?"
Tetapi Verdea tertunduk, seakan dia mau menolak diriku namun tidak bisa
"Tidak mau belajar? Vainzel membuatmu muak, nak?" Sebuah suara menyela
Ivor tiba-tiba masuk ke dalam ruang tengah istana sambil membawa sebuah nampan berisi kue kering dan susu diatas troli makanan
"Wah, wah~ Si Ivor yang pemalas sudah mulai rajin" Aku menyindir
"Hah! Dari dulu juga aku sudah rajin. Kamu hanya tidak pernah melihatnya"
Dia dengan sombongnya meledekku dan meletakkan nampan itu diatas meja di depan kami bertiga
"Yang lainnya sudah sarapan, jadi tidak perlu mengkhawatirkan mereka, Kakak..."
"Aku tahu. Silahkan pergi, mulutmu bau"
"Baiklah, kakak..."
Dia bergerak pergi sambil terus meledekku dengan tawa usilnya itu, sementara aku menggerutu dalam hati karena tingkahnya barusan
Verdea tersenyum kecil melihat interaksi antara aku dan Ivor
"Kenapa kamu dipanggil Kakak oleh Ivor?" Dia pun bertanya
"Karena aku menghajar mereka sampai jungkir balik. Lanjutkan saja pelajaranmu" Aku menjawab dengan nada kesal
"Baiklah, kakak" Verdea tertawa kecil melihat wajahku yang kesal bercampur kaget
Hah... Dia jadi ikut-ikutan meledekku. Sebutan kakak itu bukanlah masalah, tapi aku tidak bisa bilang kalau aku tidak geli. Akan lebih baik jika semua orang memanggilku dengan namaku saja
Abaikan saja Vainzel...
Verdea mengambil kue kering diatas meja dan mulai mengunyahnya. Pandangannya tiba-tiba beralih kearah Veskal yang terlihat ingin mencicipi kue kering itu
"Kenapa? Makan saja" Verdea menegur
Veskal tersadar setelah Verdea menegurnya
"Tidak. Aku tidak berhak"
Aku juga ikut melihat tingkah Veskal yang mencoba menahan diri itu
Anak itu sungguh terus menahan diri. Dia sepertinya selalu diperingatkan dalam hal seperti ini semenjak kecil, dan sekarang dia tidak terlihat mampu melakukan sesuatu yang bukan sebuah perintah
Di sisi lain... Verdea kemudian mengambil satu lagi kue kering. Benda itu dia taruh di tangan Veskal, sebelum dia melipat jari temannya itu agar dia tidak menolak kue kering itu lagi
"Tidak apa-apa. Selama tidak dihabiskan..."
Aku dan Veskal diam tertegun. Satunya karena takjub, dan satunya karena bingung dengan perbuatan Verdea
"Terima kasih, tuanku"
Veskal langsung mengunyah kue kering di tangannya dengan semangat
"Rasanya aneh kalau dipanggil 'tuanku'" Balas Verdea, mengunyah kue kering yang lain
"Tapi, itu formalitas bukan?"
"Aku hanya tidak terbiasa dipanggil begitu sejak tinggal disini"
Veskal tertegun, sebelum dia ikut mengambil kue kering di nampan itu bersama Verdea
"... Tapi tidak apa-apa kalau aku memanggilmu tuanku bukan?" Dia melanjutkan kemudian
Veskal langsung terlihat senang mendengar hal itu
Tapi... Aku jadi ingat kalau mereka mengabaikan pelajaranku...
"Sudah. Waktunya belajar lagi"
Verdea mengambil segelas susu hangat diatas meja dan meneguknya
Setelah itu, dia berkata
"Aku penasaran bagaimana kamu bisa dekat dengan ayahku. Dia bahkan sampai mau repot-repot menuliskan sendiri daftar ini"
"Itu karena dia memintaku mengawasimu"
Dia diam. Tatapannya terlihat sekali seperti merasa tidak nyaman dengan hal yang dia dengar barusan
"Kalau begitu, sampaikan kepadanya kalau aku tidak perlu rasa kasihan darinya itu" Verdea pun berucap dengan lesu
Aku diam mendengar perkataan Verdea
"... Tapi, yang mulia setidaknya peduli, kan?" Sela Veskal yang masih sibuk mengunyah. "Itu lebih baik daripada dibuang sepenuhnya" Lanjutnya
Verdea pun memasang muka datar sambil terus mengunyah kue kering setelah berkata begitu. Kami berdua tidak menyalahkan Veskal karena berkata seperti itu, karena dia sendiri tidak tahu menahu tentang banyak hal diantara hubungan keluarga kerajaan
Suasana langsung terasa sunyi selama beberapa saat. Tidak satupun dari kami tahu apa lagi yang harus diperbincangkan, karena tidak sengaja dibuat gusar oleh satu sama lain
...
"Hey. Kita lanjutkan saja pelajarannya" Aku mengalihkan pembicaraan
Kuambil semua lembaran yang diambil oleh Veskal tadi dan merapikannya
"Oh. Dan juga, aku akan menjelaskan semua kekuasaan yang mereka pegang"
"... Tidak mau"
"... Verdea..."
"Belajar politik tidak akan ada gunanya untukku"
...
"Hey, Vainzel. Aku mendapat surat dari Artorius"
Tepat disaat suasana yang tidak nyaman itu, Luna masuk dan melambaikan sebuah surat yang kuterima dengan senang hati
Dan entah bagaimana, ada sesuatu yang membuat Veskal sedikit terganggu
"Temanmu ini tidak sopan. Kenapa kamu dengan santainya memanggil nama yang mulia coba?" Dia pun mengutarakan
Luna menajamkan pandangannya dengan dahi mengkerut kearah Veskal mendengar ujaran yang datangnya dari mana itu
"Hanya satu raja di dunia ini yang kuakui dan itu adalah Vainzel" Luna pun membalas
"Sudah, sudah"
Aku berusaha menengahi mereka berdua. Situasi akan semakin risih jika ada pertikaian sekarang ini
Tetapi, di satu sisi, entah kenapa Veskal menjatuhkan kue kering yang ada di tangannya, selagi memasang wajah kaget
"Tunggu! Orang ini raja!?" Balas Veskal sambil menunjukku dengan kagetnya
Hah? Dia baru tahu walaupun teman-temanku kadang memanggilku dengan sebutan Oberon? Padahal aku sudah menjelaskan apa makna gelar itu kepada mereka barusan
"Aku raja yang berkuasa sepenuhnya. Hanya saja, aku memang pergi keluar dari kerajaanku untuk berkelana" Aku pun menjelaskan
"Hah!!? Lalu kenapa kamu mau jadi pelayan disini!?" Veskal semakin keras dalam bertanya
"Aku juga selalu berpikir kalau kamu itu aneh, Vain" Sela Verdea
Padahal dia tahu kalau aku terjebak disini melayaninya karena perbuatannya yang memaksa waktu itu...
Tapi, sekali lagi kukatakan, aku senang menghabiskan waktu dengan anak ini. Kelima temanku itu mungkin juga setuju
"Sekarang boleh kita lanjutkan pelajarannya?" Kutepuk tanganku untuk mengalihkan pembicaraan
"Tidak boleh. Aku mau mendengar lebih banyak" Seru Veskal
Veskal...!
"Aku juga" Sambung Verdea
"Pelajarannya..."
"Nanti" Veskal menyela tanpa pikir panjang
Verdea mengangguk mantap mendukung hal itu, membuatku semakin lesu karena mereka sepenuhnya mengabaikan keinginanku
Yah, pelajaran juga tidak seharusnya dipaksakan, jika aku pikir kembali. Tapi mereka akan membayar untuk hal ini
Aku akan pikirkan cara agar mereka mau belajar nanti saja
Kenapa juga harus pelajaranku yang mereka tidak sukai. Teman-temanku bahkan tidak punya masalah sedikitpun saat mengajari Verdea
Aku menghabiskan waktu pelajaranku menceritakan ketika aku masih tinggal di kerajaan Elf—sebelum aku pergi berkelana untuk melihat setiap penjuru Vitario
Setelah waktu pelajaranku habis, Lyralia datang ke dalam ruangan dan melanjutkan jam pelajarannya bersama Luxor. Pengetahuan umum seperti membaca, berhitung dan menulis
Mereka terlihat sedikit kecewa karena aku belum selesai menceritakan keseluruhannya. Yah, paling mereka akan bertanya pada Lyralia juga kalau penasaran
Aku hanya berharap Lyralia tidak mencelaku saat menceritakan versi miliknya...
......................
--- Beberapa bulan kemudian ---
Tidak banyak yang terjadi setelah beberapa bulan sejak kedatangan Veskal disini
Saat pelajaran bertarung, kemampuan Veskal menggunakan belati ketika berhadapan dengan Luna mulai terlihat. Dia bergerak dengan lincahnya, baik saat menghindari maupun melancarkan serangan
Walaupun sangat bagus, Luna masih lebih hebat daripada Veskal
Dan juga, Veskal sangat tekun sekali mengajari Verdea menggunakan senjata kecil bersama Luna. Aku bisa melihat langsung perkembangan anak itu dalam bertarung. Dan karena melihat hal itu, aku menemukan bakat alami Veskal sebagai seorang petarung
Dia juga sudah mau mengikuti pelajaran politik yang kuajari bersama dengan Verdea. Kedua anak itu mulai mengenali banyak hal, dan aku punya satu trik agar mereka mau mendengarkan pelajaranku, yaitu menyelipkan satu atau dua cerita mengenai kehidupanku sebagai seorang raja, dan juga kisah-kisah dari para raja sebelum diriku yang kuketahui
Aku selalu merasa sangat perlu Verdea mempelajari hal ini. Walaupun dia tidak ingin menjadi raja, setidaknya dia harus tahu cara agar dia tidak tersingkir dengan kejam dari istana
Dan sekali lagi, aku melihat Veskal dengan tekun membantunya belajar. Melihat hubungan antara kedua anak itu, aku merasa senang
Kedatangan Veskal di tempat ini sudah seperti takdir. Dia memang ditujukan untuk berada di samping Verdea. Verdea sendiri senang ketika Veskal menemaninya
Jadi, ketika aku harus pergi nanti, aku tidak perlu takut dia akan sendirian
...
Aku duduk di sebuah kursi dekat dengan jendela sambil melihati halaman luar melalui kaca jendela itu
Sudah mulai musim salju. Permata putih kecil turun dari langit dan menempel di kaca, sehingga pandangan keluar terlihat buram. Suhu sudah semakin dingin seiring berjalannya detik. Sebentar lagi tahun baru akan dirayakan untuk menandakan perubahan tahun pada kalender kebebasan
Aku ingin pulang ke hutan para elf untuk merayakannya setelah 5 tahun lamanya. Tapi, aku masih punya tanggung jawab untuk mengurus anak itu yang membuatku ragu
Apa yang harus kulakukan ya...?
*Tok! tok!*
Seseorang mengetuk pintu kamarku, membuat pikiranku buyar untuk sejenak
"Masuk" Kupersilakan orang itu masuk
Pintuku terbuka dan terlihat Luna masuk sambil menyerahkan sebuah surat padaku
"Dari Artorius" Luna berkata
Surat yang kunanti hanya agar aku bisa membalasnya. Aku menerima surat itu dan segera membukanya untuk dibaca
'Untuk Sir Vainzel
Sebentar lagi akan tahun baru di kalender kebebasan. Aku harap kamu bisa membawa anakku dan teman-temanmu menghadiri acara tahun baru yang diadakan di kastil Lily'
Singkatnya, begitulah isi surat ini
"..."
"Kamu akan pergi ke acara itu?" Tanya Luna
Aku diam tidak menjawab. Aku belum memutuskan hal ini sama sekali, karena pikiranku masih bimbang dan tertuju kepada kampung halamanku
Tapi...
"Aku akan bicara dulu pada Verdea"
Akan lebih baik jika anak itu dan Veskal juga memberikan pendapat
Mendengar jawabanku yang singkat itu, Luna hanya mengangguk pelan
"Menurutmu apa aku harus pergi?" Aku juga menanyakan pendapat darinya, sebelum dia sempat beranjak
Dan dia tentu langsung menggelengkan kepalanya
"Orang tuamu ingin kamu berkunjung untuk perayaan tahun ini" Jawabnya
Hah... Aku semakin bimbang
...
Aku harap Verdea bisa memberikan jawaban yang bagus nanti
Kembali ke hutan Elf ya...?
5 tahun tidak kesana sudah membuatku ingin segera pulang
Hutan para elf, Miralius