
...
"Kamu memanggilku lagi hm?"
"... Aku tidak yakin aku pernah memanggilmu akhir-akhir ini. Sudah beberapa bulan justru?"
Marcellus yang hanya duduk di samping Verdea hanya tertawa kecil
"Benar sudah beberapa bulan"
Verdea hanya mengangguk sebagai respon
"Jadi, kenapa tiba-tiba memanggilku disaat seperti ini?" Marcellus bertanya
"Hanya tidak ada pekerjaan, dan aku tidak berniat tidur. Aku ingin tetap 'bangun', walaupun bicara denganmu itu cukup menyusahkan"
"Tapi aku sudah memberimu cukup banyak hal bukan?"
"--- Yang dimana aku harus memecahkan semuanya sendiri atau dengan bantuan Vainzel"
"... Cukup masuk akal. Aku tidak akan membantahnya lagi, Regulus"
Verdea mendecakan lidahnya
"Itu bukan namaku. Kenapa juga selama 5 tahun ini kamu memanggilku dengan nama itu?"
Marcellus kemudian terlihat berpikir, selagi memintal rambutnya berkali-kali
"Itu nama yang diberikan oleh orang-orang kepadamu. Atau lebih tepatnya, gelar yang diberikan orang-orang kepadamu" Marcellus menjawab, tersenyum kearah Verdea
"... Tidak ada yang memanggilku dengan nama itu selain kamu"
"Begitulah. Tidak usah hiraukan aku"
...
...
"Regulus... Itu artinya raja kecil jika menggunakan bahasa Orion. Apa maksud sebenarnya kamu memanggilku dengan nama itu?"
"Aku sudah bilang jangan hiraukan bukan?"
"Tapi semua yang kamu katakan itu bisa menjadi petunjuk untuk menjalani dunia bodoh ini"
Sebenci-bencinya dia mengakui hal itu, Marcellus adalah orang yang membantunya untuk melalui sesuatu yang tidak bisa dia lihat
Dia jadi seakan memiliki kemampuan melihat masa depan berkat orang itu
"Dunia bodoh hm...?" Marcellus bergumam, mendongak ke langit. "Apanya yang bodoh?" Dia bertanya kemudian
"Apa yang tidak bodoh di dunia ini? pemfitnahan, pembunuhan, pengkhianatan dan hal buruk lainnya. Kebanyakkan hal itu juga datang dari manusia
Manusia itu memang memiliki kebebasan yang sempurna, tapi bahkan kamu tidak bisa menyangkal kalau kami ini bodoh dan tidak bermoral karena itu. Hanya Vainzel dan Veskal saja yang bisa membuatku tetap yakin kalau manusia itu pantas untuk diberikan kebahagiaan, tapi mereka dengan beraninya-!!"
Verdea berbalik dan segera menghantam kepalanya kearah pohon yang dia sandari daritadi karena kesal. Tapi tidak sedikitpun darah keluar dari dahinya walaupun benturan itu cukup keras, dikarenakan keberadaan mereka yang hanya berupa jiwa sekarang ini
"SIAL!! Kenapa mereka selalu melakukan hal ini?! Veskal berada dalam bahaya, dan Vainzel terpaksa membuat rencana yang bisa membahayakan dirinya sendiri!! Dan semua itu karena perbuatan manusia lagi!! SEMUA HAL INI!!!"
...
Napasnya terengah-engah karena kelelahan berteriak. Hingga perlahan tapi pasti, tangannya pun melemah dan jatuh ke tanah di bawahnya
Dan di tengah itu, Verdea pun mulai meringis untuk menumpahkan kekesalannya yang tersisa, keluar dari tubuhnya
"Aku selalu ingin memastikan semua orang bisa bahagia--! Tapi--- Itu mungkin cuma mimpi seribu tahun--!!" Dia berkata di tengah ringisannya
Marcellus tidak menatap kearah Verdea. Dia memberi ruang untuk Verdea menumpahkan kekesalannya selagi dia diam saja untuk sementara waktu
Setidaknya untuk beberapa saat lagi...
"Kenapa harus mereka berdua saja---?!! Kenapa tidak aku saja---? Aku ini tidak berguna-"
"Regulus? Kamu sudah lahir?"
"...!"
Verdea terkejut dengan suara asing itu. Suara yang tidak pernah dia dengar
Justru, tidak ada yang bisa masuk ke dalam tempat itu selain dia dan Marcellus. Itu adalah jiwanya, yang bahkan teman-teman terdekatnya tidak bisa masuki
Tapi, ada seseorang asing di belakangnya. Seseorang yang betul-betul tidak dia kenal
Verdea menoleh kearah belakang, dan menemukan sosok aneh bercahaya yang berdiri diatas genangan air diantara obor-obor di jiwanya itu
Sebuah sosok yang tidak dia ketahui wujudnya sama sekali, selain fakta kalau matanya berwarna hijau terang dan cahaya yang dia keluarkan berwarna kuning cerah. Di samping itu, suaranya terdengar seperti seorang anak laki-laki yang lebih kecil darinya
Sosok itu perlahan berjalan kearahnya, dan mulai duduk di hadapannya dengan ekspresi yang terlihat senang
"... Kenapa kamu menangis?" Sosok itu bertanya kepadanya
Tapi Verdea masih bingung, dan karena itu dia mengusap air matanya, kemudian menatap kearah Marcellus yang hanya duduk sambil memejamkan mata
Verdea pun tahu kalau Marcellus tidak akan menjawab apapun disaat itu, jadi dia terpaksa meladeni sosok itu
"Maaf, tapi kamu siapa?" Verdea bertanya balik
"Oh ya. Aku lupa jika jiwamu sudah memasuki sebuah tubuh, ingatanmu di dunia roh akan hilang"
Verdea punya banyak pertanyaan, tapi dia tidak bisa melakukan semuanya dalam waktu singkat
"Panggil saja aku Canopus. Aku belum memiliki nama asli karena belum terlahir"
Pertanyaan itu sudah terjawab
"Canopus, kamu memanggilku sebagai Regulus. Dan kamu membahas kalau ingatan akan hilang setelah melalui dunia roh?" Verdea bertanya
"Oh betul. Dunia roh adalah tempat kamu menulis dan menandatangani semua perjanjian mengenai kehidupanmu. Tapi, aku masih akan terlahir ja~~~uh sekali dari sekarang
Dan kamu dulu memperkenalkan diri sebagai Regulus, karena Sirius memberikan nama itu. Aku juga begitu karena Sirius memberikan namaku"
Pertanyaannya semakin meluas, dan Verdea semakin penasaran, namun harus menekan semua keinginannya
Orang yang ada di hadapannya itu sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Sirius itu. Dia mungkin bisa-"
"Sirius tidak menjawab ketika aku memanggilnya. Dia sepertinya terlalu sibuk menulis takdir hidupnya sekarang ini" Marcellus menyela
Mereka berdua pun menatap kearah Marcellus yang matanya masih terpejam
Marcellus menggerakkan jari telunjuknya untuk menolak pernyataan Canopus
"Namanya Verdea sekarang, dan dia akan senang jika kamu memanggilnya dengan nama itu"
"Verdea?! Nama yang bagus, Regu- Maksudku, Verdea!"
"Siapa bocah ini, Marcellus?" Verdea menoleh kearahnya lagi dan bertanya karena keheranan
"Seseorang yang kamu dulunya tahu. Aku tidak akan membongkar rahasianya, karena itu bisa saja merusak masa depan" Marcellus menjawab
"Nasib masa depan masih bisa diubah ketika kamu berada di alam roh. Itu sebabnya dia takut jika aku membongkar sesuatu, kehidupanku nanti malah berantakan" Canopus ikut menjelaskan
"Jadi, aku bisa mempengaruhi masa depan dengan berada di sini?"
"Tidak terlalu benar. Karena jiwamu sudah berada di sebuah tubuh, dia sudah terisolasi dari alam roh dan masuk ke alam dunia hingga kamu mati nanti"
Verdea langsung terlihat gusar. Dia sudah berharap dia mungkin bisa melakukan sesuatu untuk merusak masa depan sedikit hingga memastikan Veskal tetap aman tanpa perlu aku untuk mengorbankan diri
"... Tapi aku ingin tetap mengetahui sesuatu. Siapa kamu sebenarnya?"
Dia juga menoleh kearah Marcellus, masih tetap menunggu sebuah jawaban pasti
Tapi jawabannya tetap hening. Canopus yang menyadari kalau Marcellus lebih memilih diam, terpaksa ikut diam
"Kamu belum boleh mengetahuinya. Kamu belum menemukan dirimu sepenuhnya" Canopus menjawab
Verdea yang tadinya penasaran, sekarang berubah menjadi kesal karena perkataan itu. Apa yang baru saja dilontarkan oleh Canopus, itu sama saja dengan apa yang dia dengar dari Marcellus
"Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku belum menemukan diriku sendiri, sedangkan aku saja baru kenal kamu?"
"Kita dulu pernah kenal. Itu sebabnya aku tahu apa yang tertulis di dalam nasibmu. Mungkin sekarang ini sudah 250 tahun lebih, semenjak kita pertama bertemu
Dan mengenai nasibmu, maaf aku tidak bisa membantu. Tabu bagi kami para roh untuk membongkar semua rahasia Dewata"
"..."
Jika sudah menyangkut hal memaksa seperti itu, Verdea sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia tahu betul kalau orang-orang yang benar-benar terikat oleh sesuatu itu tidak akan pernah mengingkarinya
Dia tahu itu berdasarkan pengalamannya bersamaku selama ini
"Aku tidak akan memaksa lagi. Dan juga..."
Dia sudah merasakan kalau waktu telah berganti di dunia luar, entah bagaimana
"Sepertinya aku harus bangun sekarang"
"Hah?! Kita baru bertemu lagi bukan?!" Canopus memprotes
"Entahlah. Tapi sekarang aku sudah cukup paham kenapa aku harus lebih sering datang kemari"
"Ah syukurlah-!!"
...
"Ehem. Abaikan aku" Marcellus berkata dengan wajah memerah
Mereka berdua terheran dengan tingkah dadakan Marcellus, tapi kemudian hanya menertawakan tingkahnya itu
Seruannya yang setengah keluar itu membuat kedua anak itu geli melihatnya
"Jadi kamu benar akan datang lagi?" Canopus kemudian bertanya
"Yah, mungkin. Mungkin dengan begitu, aku akan bisa lebih cepat menemui diriku sendiri, seperti yang kalian inginkan" Verdea berkata
"Baguslah kalau begitu, Regulus. Aku yakin kamu juga bisa"
...
Canopus tiba-tiba terlihat ragu dan melirik sedikit kearah Marcellus, seperti ada sesuatu yang ingin dia lakukan
Marcellus yang menyadari hal itu pun hanya menghela napas keluh, kemudian membiarkan Canopus melakukan apa yang dia inginkan. Hal itu membuat Canopus senang setengah mati
"Regulus, aku punya satu saran untukmu"
"Oh ya? Apakah itu?"
"Percayalah kepada teman-temanmu. Maka, jalan yang lebar akan senantiasa terbuka untukmu"
"Hm? Tapi, aku selalu percaya dengan teman-temanku"
"..."
Canopus sudah terdiam. Verdea ingin mendecak karena kesal, tapi dia menahan hal itu karena tahu ada sesuatu lagi yang melarang Canopus berbicara
"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Bup!"
Dia menyentuh dahinya sendiri, dan disaat setelahnya, dia pun menghilang dari hadapan keduanya
...
"Kamu memberitahukan sesuatu yang besar bodoh...!!" Marcellus berkata dengan nada gusar, menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan membanting-banting kakinya
"Dan kamu mengizinkannya, Fomalhaut"
Canopus menjulurkan lidahnya kearah Marcellus yang terlihat gusar
"Jangan salahkan aku jika nasibmu berubah nanti" Marcellus berujar
"Baik, baik. Aku juga berencana mengubah beberapa sekarang karena masih punya banyak waktu"
Dunia mimpi itu pun bergetar hingga mereka berdua bisa merasakannya
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi, Canopus"
Canopus kemudian terlihat melambai kearah Marcellus, dan di saat selanjutnya, mereka berdua keluar dari jiwa Verdea
......................
--- Miralius ---
...
...
"Haaah...!!! Ternyata matahari belum terbit....!!!!!"
Tapi waktu sudah memasuki pagi, jadi tidak ada gunanya jika dia tidur lagi karena tidak ingin melewatkan latihan paginya