
--- Beberapa jam kemudian, Bargalos ---
"Kamu bilang ingin membuat senjata tempaan untuk si pangeran kecil dan seorang calon petinggi Elf?" paman Zer mengusap janggutnya
Kami sudah cukup lama tidak melihatnya, tapi hal pertama yang dia lakukan adalah melihat kami dengan tatapan ragu itu...
"Ayolah, paman Zer. Aku tahu kamu pasti mengetahui satu atau dua orang yang bisa membuatkan senjata sihir" aku bernegosiasi lagi, dimana Veskal mengangguk untuk menambahkan
Aku berpikir begitu untuk desain senjata Verdea, tapi aku tidak menyangka Remina menginginkan senjata sihir juga. Hanya saja, penempa senjata seperti itu sudah sangat langka sekarang ini, sehingga mereka rasanya lebih berharga daripada senjata apapun yang mereka buat
Paman Zero adalah salah satu Dwarf itu. Tapi, aku tahu kalau dia akan menolak. Dia sudah tidak menempa senjata lagi dan pergi berkelana keluar dari Bargalos karena sebuah alasan. Aku sayangnya tidak tahu kenapa dan apa alasan itu
Lagipula, semua orang di Bargalos terlihat sangat sibuk membuat senjata. Bukannya ini waktu yang cukup tepat untuk mencari senjata?
"Aku tahu satu orang" paman Zer pun berkata, membuat mata kami berbinar. "Tapi, dia sudah sangat tua, dan kalian harus memberinya alasan kuat untuk memberikan senjata itu kepada kalian"
Alasan kuat...?
"Seperti apa?"
"Entahlah. Terlalu subjektif untuk pandanganku. Alasan yang dibutuhkan sangatlah berganti-ganti tergantung individu"
Hmm... Terdengar seperti orang yang menyulitkan
"Tidak apa. Bawa saja kami kepadanya dan kita akan cari tahu" aku berkata, sebelum menatap kearah Veskal
"Bagusnya begitu" dia ikut setuju, walaupun dia terlihat ragu
Dia mempersilakan kami berjalan mengikutinya, selagi dia memimpin untuk memandu kami berkeliling hingga sampai tujuan
...
"Siapa... Petinggi baru ini?" paman Zer pun membuka pertanyaan
"Remina Stagnia. Gadis dari klan Undine, dan dia berbakat dalam ilmu berpedang"
"Pedang dan Elf? Aku pikir itu sudah tidak akan ada lagi hingga akhir zaman"
...
Jika aku pikir kembali, paman Zer tidak salah. Aku tidak pernah melihat satupun Elf, sepanjang umurku ini, memegang sebuah pedang sebagai senjata mereka. Hanya Remina
Aku tidak paham mengapa, tapi itu pasti ada kaitannya dengan masa lalu. Zaphir pasti tahu mengenai satu atau dua hal dalam perkara ini
"Apapun itu, paman Zer. Remina Stagnia secara pribadi menginginkan sebuah pedang baru untuk dia gunakan dalam acara penobatannya. Sementara Verdea, pangeran kecil kita semua itu menginginkan senjata berbentuk sarung tangan baja" aku pun meneruskan
"Pilihan yang sangat bagus. Aku yakin detail desain nya sudah ada di kepala kalian?"
Aku bisa-
"Ah, sebelum kita pergi tadi, Vain..." Veskal menyela, menarik beberapa gulungan kertas dari balik jubahnya. "--- Aku sudah menggambar beberapa detailnya", dia menambahkan
Aku cukup tersentak mendengar itu, utamanya karena Veskal sama sekali belum kuberitahu desain seperti apa yang kedua anak itu inginkan
"Kamu bisa menambahkannya jika masih ada yang belum memuaskan, tapi aku sudah mencoba menggambar setidaknya satu atau dua hal yang memungkinkan" dia berkata lagi, selagi paman Zer menerima gulungan berisi rancangan senjata itu dan membukanya
Kudekatkan diriku kepada paman Zer untuk ikut melihat isi gambaran Veskal. Alangkah terkejutnya diriku bahwa rancangan itu sendiri sudah sangat tepat dengan apa yang ada di dalam isi kepalaku
Sebuah sarung tangan baja yang cukup ramping, layaknya pelindung biasa. Namun, ada sebuah batu katalis yang tertanam di punggungnya agar penggunanya mampu menggunakan sihir pelindung tanpa merapal. Cocok untuk Verdea jika dia harus bertarung dengan seseorang dalam jarak yang sangat dekat
Lalu, sebuah pedang yang terlihat lebih berat dari apa yang dimiliki Remina pada saat ini. Pedang ini dilapisi oleh besi terbaik yang di gagangnya di tanamkan sebuah batu katalis sihir air. Terlihat sangat fleksibel dan mematikan, memiliki proporsi yang bahkan menjelaskan tinggi Remina secara detail
Veskal sudah menggambarkan kedua senjata itu dengan sempurna. Aku tidak perlu menambahkan apapun lagi, karena itu sendiri sudah cukup
Tapi, yang membuatku sedikit terganggu adalah fakta kalau Veskal bisa menggambar lebih bagus dibanding diriku
"Batu katalis berharga sangat mahal sekarang ini" paman Zer berujar sembari menutup setiap gulungan kertas itu. Matanya menuju kearah kami kembali selagi kami tidak berhenti berjalan. "Pembuatan senjata ini bahkan bisa memakan waktu berminggu-minggu, karena sebuah kesalahan kecil dalam meletakkan batu sihir itu bisa saja menghancurkan senjata itu sebagai wadahnya"
"Terakhir kali seseorang membuat tongkat sihir di kota ini, aku yakin-"
"Tongkat sihir memang dirancang untuk membawa sebuah katalis, karena seluruh benda itu dilapisi oleh Mana khusus dan memang memiliki model dimana batu katalis itu diletakkan di ujung kepala mereka. Kedua senjata yang kalian rancang ini sama sekali tidak seperti itu" paman Zer menjelaskan, memotong perkataan Veskal
"Menanamkan batu katalis di senjata yang tidak seharusnya membutuhkan kreatifitas, bahkan untuk kaum Dwarf sekalipun" dia berkata lagi
"Itu menjelaskan kenapa keluarga Hortensia menganggap senjata sihir sebagai relik berharga" aku menyela
"Tidak perlu sejauh itu. Bahkan kalian para Elf saja hanya memiliki beberapa senjata 'suci' yang awalnya hanya dipegang oleh ayah para Elf. Aku yakin benda itu sudah terpecah menjadi belasan sekarang ini" paman Zer menggerutu
"Kamu tidak salah. Berakhirnya masa Elf pertama memang merupakan tanda bagi kaum kami untuk belajar bertahan hidup secara mandiri. Itu sebabnya kami meminta kaum Dwarf di zaman terdahulu untuk memecah belah senjata itu" aku pun berkata lagi.
Senjataku juga termasuk. Tongkat yang menjadi senjataku ini adalah salah satu dari belasan pecahan senjata milik Ayahanda. Dan juga merupakan pecahannya yang paling kuat, karena setiap Oberon dan Titania yang menggunakannya diberikan kemampuan untuk mengontrol setiap unsur alam yang ada di dunia
Terpecahnya senjata ayahanda bukanlah sesuatu yang kami inginkan, namun harus dilakukan. Kehormatan memegang semua senjata itu hanya diberikan kepada para petinggi klan dan para raja kami dari masa ke masa. Kami menyesal melakukannya, tetapi semua senjata itu telah menyokong kehidupan kami semua selama ini
"... Aku dengar para Dwarf terdahulu bahkan kewalahan dalam memecah belah senjata ini. Tapi, kalian tetap rela membantu kami di masa itu, walaupun kita berada di zaman perang"
"Itu karena kami tahu betul kalian tidak bersalah dalam perkara perang ribuan tahun. Pengumuman peperangan yang diutarakan oleh kaum manusia dan iblis pada masa itu merupakan sesuatu yang mengejutkan sehingga kelima kaum yang tersisa ikut terguncang dan terseret di dalam kekejiannya"
...!
"Tunggu. Kamu tahu mengenai asal muasal dari perang itu?"
...
...
...
"Maaf, tapi..."
Tapi...
"Oberon Tibor meminta kami menutup mulut dan menyembunyikan rahasia perang itu dari muka Vitario, bahkan hingga kaum kami punah. Aku hanya bisa memberitahu sebanyak itu karena sumpah yang kami buat kepadanya"
...!
Oberon Tibor...? Oberon yang membawa Leshy dan memperkenalkannya sebagai penjaga pertama kaum Elf...? Dia yang menyembunyikan rahasia milik kaum kami di dalam perang itu selama ini...?
Rahasia kami terkubur semenjak perang itu dimulai...
...
"Tapi kenapa?" Veskal tiba-tiba bertanya. "Oberon Tibor tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan rahasia perang itu dari muka Vitario, bukan begitu?" dia menambahkan lagi
"Maaf, tapi kami tidak bisa memberitahukan hal itu juga"
"Paman-!"
"Kita akhiri diskusi dari bencana itu sekarang juga. Aku tidak ingin Dwarf yang lain mendengarkan perkara ini"
...
Kupegang pundak Veskal agar dia berhenti membahas mengenai hal ini. Agar kami ingat kembali mengenai tujuan kami kemari
Walaupun rahasia itu seharusnya tidak pernah ada sekalipun, apa yang terjadi sudahlah terjadi. Kami tidak bisa mengganti apa yang ada di masa lalu...
"... Omong-omong, siapa penempa yang akan kamu perkenalkan kepada kami?" aku bertanya kepada paman Zer
Dia diam tidak bergeming. Tapi, tiba-tiba dia berhenti melangkah. Dia berhenti...
--- Tepat di depan rumah miliknya...
...
"Aku mengerti"
Penempa itu tidak lain adalah... "--- Kamu"
Paman Zer kembali melirik kearah kami, sebuah senyum tersirat di bibirnya. Aku menghela napas selagi menggelengkan kepala
Kenapa aku tidak menyangka hal ini ya? Mungkin karena paman Zer memang sudah lama tidak menempa di masa hidupnya ini
"Sepertinya aku akan menempa lagi setelah ratusan tahun lamanya..." dia berkata
"Maaf, paman Zer. Tapi jika aku boleh bertanya, berapa umurmu?" Veskal yang terlihat gugup bertanya
Senyumnya semakin lebar selagi dia menatap sepenuhnya kearah kami, bersamaan dengan diriku yang melirik kearah Veskal
"Aku seumuran dengan Zaphir. Jika aku bisa bilang, aku adalah salah satu penempa senjata suci kalian"
Veskal pun langsung pucat mendengar hal itu
"Kamu pikir kenapa dia menggerutu ketika membahas mengenai senjata kami?"
Yah, bagaimanapun itu, baik itu dulu maupun sekarang...
Paman Zero adalah salah satu penempa terbaik kota Bargalos. Sejarah sudah membuktikannya