Book Of Flowers

Book Of Flowers
Veskal Grandier


--- Keesokan harinya, Kastil Thyme ---


"..."


"..."


"... Akan kubakar dia"


Kepala Ivor langsung kujentik pelan karena perkataannya itu. Dia mendengus kesal akibat perbuatanku, hingga memegangi kepalanya yang sakit


"Aku bercanda tahu!!"


"Kalau mau bercanda, tolong jangan yang kejam seperti itu"


Kesampingkan hal itu...


Apa yang dilakukan anak penyusup ini disini?


Dia tertidur di bawah pohon, tepat di dalam area kastil. Dan mengingat kalau Luna tidak melaporkan adanya sesuatu yang mencurigakan tadi malam, itu artinya anak ini sampai dan tidur baru-baru ini disini


Aku perlahan membungkuk di dekatnya dan memencet pipinya berkali-kali. Tapi dia tidak merespon sama sekali dan justru jatuh, menimpa semak di sampingnya


Dan walaupun begitu, dia tetap tidak bangun. Wajahnya saja tidak memperlihatkan kalau dia terganggu—tidak berubah dari awal kami menemukannya di tempat ini


...


"... Bawa dia ke dalam" Aku memberi perintah


"Tidak"


"Ayolah Ivor"


"Aku sependapat dengan Ivor. Anak ini masih tetap mencurigakan" Luxor menyela


"... Terserah apa katamu Luxor"


Kupakai sarung tanganku kemudian kuangkat badan anak itu perlahan dan membawanya masuk


Luxor dan Ivor hanya diam dan menghela napas melihatku


...


--- Setelah itu, ruang makan ---


"Bagus sekali, Verdea!"


Di ruang makan sekarang ini, Verdea sedang belajar tata krama bersama Ordelia. Ordelia juga sesungguhnya baru mempelajari tata krama kerajaan ini, tetapi dia yang sikapnya sopan itu bisa dengan cepat mempelajari dan langsung mempraktekannya untuk Verdea


Verdea dengan tekun memperagakan tata krama yang benar di atas meja makan. Mulai dari pilihan pisaunya, hingga caranya mengunyah makanan itu


Perilakunya yang sopan dan elegan seperti itu tidak cocok sekali dengan sifatnya yang asli


Aku menontonnya yang sibuk memakan daging sapi dengan Ordelia yang terlihat bangga di sampingnya


"Sopan sekali, seperti seorang putri di dongeng~" Aku berkomentar


Dia menoleh kearahku yang berjalan mendekat kepadanya dan langsung membuat wajah kesal


"Berisik!"


Lihat dia marah


"Ayolah Vainzel. Semangati dia sedikit boleh?" Ordelia membela Verdea


"Aku sudah memujinya bukan?"


"Itu bukan pujian! Kamu membandingkan aku dengan perempuan!" Teriak Verdea sambil menodongku dengan garpu di tangannya


"Aku cuma mengatakan apa yang kulihat"


"Grrr....!"


Aku tersenyum meledek hanya agar dia semakin marah


"Duh... Kamu ini usil sekali kepada Verdea..."


Ordelia membuka kerudung jubahku dan memegang kedua pipiku


Badannya yang sedikit lebih pendek dariku itu membuatku harus menatap matanya dengan sedikit menunduk ke bawah dari jarak sedekat ini


Tangannya kemudian kupegang dan kuturunkan dari pipiku


"Mengganggunya itu seru kamu tahu?" Aku berkata


"Tapi tetap tidak baik bukan?" Ordelia membalas, setengah cemberut


"Baiklah, baiklah. Ordelia memang tahu yang terbaik"


Aku ikut tersenyum melihat Ordelia yang tersenyum dengan hangat


"Ehem!"


Kami berdua dipotong oleh Verdea yang merasa diabaikan sejak tadi


Ordelia kemudian tersentak dan melepaskan tangannya dari pegangan ku. Dia bergerak menjauh dariku perlahan dan wajahnya terlihat jelas memerah


Tidak sepertiku, wajahnya yang mirip manusia itu memperlihatkan sekali ekspresinya ketika malu


Aku tertawa kecil melihat wajahnya yang satu itu. Utamanya karena dia sendirilah yang membuat dirinya merasa malu kali ini


"Baiklah, kamu belajar lagi yang baik. Aku mau lihat pelajarannya"


Kunaikkan kerudungku seperti semula, dan mulai duduk untuk memperhatikannya


"Tidak mau. Kamu pasti akan mengejekku lagi" Verdea menolak


"Ayolah. Beri aku sedikit hiburan"


"Tidak mau!"


"Ayola-"


"AAAAAAAAHHHHH!!!"


...


Siapa orang yang berteriak itu...?


Terdengar familiar, tapi bukan dari teman-temanku...


Karena penasaran, aku pun pergi meninggalkan mereka berdua yang juga bertanya-tanya ada apa gerangan


......................


"Ada apa ini?"


"Vain!! Anak ini tidak mau diam!!"


Terlihat sekali anak itu yang mau lari sedang ditahan paksa oleh Ivor, sekeras yang dia sanggupi untuk tidak menyakiti anak itu


"LEPASKAN!"


"DIAM ATAU KUBAKAR KAMU!"


"Hentikan kalian berdua!"


Aku terpaksa melepas sarung tanganku lagi. Kutangkap anak itu dengan sulurku dan kuangkat dia ke udara


Aku malah jadi terlibat menahan anak itu agar tidak kabur dan memisahkannya dari Ivor yang terlihat kesal


"SINGKIRKAN TANGANMU DARIKU!!!"


"Kamu bisa tenang tidak?"


"KALAU BEGITU BIARKAN AKU PERGI!!"


"Kamu bilang begitu padahal kamu dengan tidak sopannya menyusup lagi"


"Itu-!"


Dia langsung diam. Sepertinya dia baru mengingat dirinya yang tertidur di pohon area kastil kami lagi


"... Kita harus bicara" Aku pun berujar


"..."


Verdea dan Ordelia yang mengikuti ku dari belakang jadi penasaran dengan keberadaan anak itu disini


...


"Rosalia membuangmu!?"


Aku sudah menduganya... Tapi itu tetap mengejutkan di telingaku


Juga, Rosalia itu kejam sekali...


"Ini semua juga salah kalian yang terus memergokiku tahu!" Anak itu menggerutu


"Yang duluan menyelundup juga siapa coba?"


Dia menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya karena kesal mendengar perkataanku


*Krucuk!*


...


"... Kamu ingin makan?" Aku bertanya pelan mendengar suara perut itu


"... Aku mohon..."


...


Hah... Padahal kemarin aku bilang tidak peduli dengannya. Tapi, rasa kasihan ku sekali lagi mengalahkanku


"Verdea aku ada kabar buruk dan kabar baik. Mau dengar yang mana dulu?"


"Kabar buruk..."


"Anak ini mungkin akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu"


"Kabar baiknya...?"


"Kamu punya teman yang cara makannya sama"


Mereka berdua langsung melihatiku dengan cara yang ketus. Sama persis dengan satu sama lain


Kenapa? Aku tidak salah, dan kalian membuktikan kalau aku tidak salah


Anak itu bahkan tidak menahan diri dan makan dengan cara yang rakus. Mungkin karena dia lapar, tapi tetap saja...


Sejujurnya, dia bahkan lebih mengerikan daripada Verdea dalam soal cara makan


Verdea cuma menatap anak itu dengan tatapan datar, sementara yang satunya terus sibuk meraup semua daging yang ada di meja


"Kamu teman kakakku?" Verdea pun bertanya


Anak itu menghentikan makannya seketika. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi kesal, selagi dia menoleh kearah Verdea


"Bukan urusanmu" Dia membalas kemudian, sebelum kembali makan namun dengan cara yang lebih pelan


"Hey. Kamu seharusnya sopan sedikit. Dia tetap pemilik sah kastil ini" Aku menyela


"Bukan urusanku!"


Anak ini lebih besar kepala daripada yang aku kira...


"Kamu lakukan saja apa yang kamu mau. Tapi jangan ganggu siapapun dan jangan rusak apapun" Aku memperingatkan


"Kalau begitu artinya bukan semauku sama sekali bukan??"


"Dengarkan saja perkataanku, bocah!"


"Kamu kenapa juga memanggilku bocah!? Kamu saja tidak terlihat lebih tua dan lebih tinggi dariku"


"..."


"Pfft-!!" Verdea mencoba menahan tawanya


Dia dan aku tahu persis berapa umurku yang sebenarnya, tapi membiarkan anak ini tidak mengetahuinya mungkin bisa seru untuk nanti


"Kenapa?" Anak itu terlihat bingung


"Tidak apa-apa. Dan juga, tolong jangan berkelahi dengan Verdea" Aku memohon sekali lagi


"Ya, ya..."


Memastikan kalau dia menyetujui permintaanku, aku pun menghela napas, sebelum bangun dan beranjak keluar untuk mengerjakan hal lain


Kupegang pundak Ivor sebelum pergi lebih jauh dan mengatakan satu hal di telinganya


"Tolong awasi mereka, Ivor"


"Kenapa harus aku coba?"


Wajahnya terlihat sekali berkata kalau hal ini akan merepotkan. Dan itulah alasan kenapa aku ingin dia mengawasi mereka


Kutepuk pundaknya pelan, kemudian melanjutkan langkahku pergi tanpa sepatah kata lagi. Ivor hanya memutar kepalanya di tempat karena kebingungan tanpa penjelasan, tapi tidak tahu juga bagaimana harus menghalau kepergianku


Aku harus memberitahu yang mulia tentang keadaan anak itu disini


.....................


--- Beberapa saat kemudian ---


"Kemari kamu! Akan kuhajar kamu sampai babak belur!"


"Kamu yang mulai duluan, dasar orang sombong!"


Sekali lagi, anak itu ditahan oleh Ivor agar tidak bertingkah


Sepertinya Verdea ikut terseret dalam hal ini. Ordelia bahkan terlihat kesusahan menahannya yang ingin memukul anak itu


Aku baru kembali setelah satu jam meninggalkan mereka untuk menulis dan mengantar surat laporanku ke yang mulia Artorius. Kenapa bisa jadi begini?


Ivor terlihat sangat lelah dengan hal ini. Dia bahkan tidak berteriak seperti biasanya dan matanya terlihat kosong


Harus kuakui, anak-anak ini bisa berguna untuk menjinakkan Ivor


"Lepaskan aku Ordelia! Aku ingin menghajar anak itu!"


"Aku akan membuatmu menarik kata-katamu itu kembali!"


*Greb!*


Kuputar kepala mereka berdua sehingga mereka langsung menatap kearahku, secara tidak langsung membuat badan mereka ikut berputar menghadapiku


"Bisa tenang?" Dengan nada datar aku bicara


Mereka langsung diam karena merinding melihatku


Menyadari mereka yang sudah tenang, kulepas genggaman tanganku dari kepala mereka


"... Tolong Vainzel... Kamu saja yang urus mereka..." Ivor yang pasrah berucap


"Oke"


Ivor melepas anak itu dan pergi meninggalkan ruangan dengan gaya jalan yang lemas dan tidak tegak


"Aku juga sepertinya harus ikut pergi" Ordelia berkata


"Lyralia dan Luxor mungkin membutuhkanmu" Aku menambahkan, dengan sebuah senyuman untuk mengantar dia oergi


Ordelia kemudian memohon pamit dan meninggalkan ruangan itu juga, mengikuti Ivor


"... Sekarang..."


Aku menoleh kembali kepada kedua anak itu


Mereka diam sambil membuang wajah mereka dari satu sama lain, memberi jarak diantara diri mereka agar tidak berdekatan


Mereka memang berniat memukuli satu sama lain, tapi sepertinya mereka sudah melakukannya. Aku bisa melihat jelas memar mereka berdua hasil perkelahian itu


"Hah... Kalian tidak bisa akur apa...?"


Aku mendekat kearah mereka berdua dan merapal mantra penyembuh untuk mengobati memar mereka


"Dia yang mulai duluan!" Verdea berkata dengan nada ketus, menunjuk tajam kearah anak itu


"Tapi kamu yang menghinaku lebih parah!" Balas anak itu yang tidak mau kalah


"Jelaskan apa yang terjadi" Aku menyela


Verdea kemudian menjelaskan apa yang terjadi dengan detailnya


Jadi, intinya mereka hanya memainkan pedang kayu milik Verdea. Anak itu tidak sengaja mematahkan pedang yang dia pinjam dan tidak mau meminta maaf. Verdea kemudian mengatainya "Tidak tahu diri", yang kemudian menyebabkan mereka berkelahi


...


Dasar bocah...! Aku kira masalahnya besar sekali sampai jadi begini...


Aku juga heran kenapa anak asing ini bertingkah tidak seperti umurnya. Aku yakin dia berumur setidaknya 13 atau 14 tahun...


"... Agar adil kalian harus saling minta maaf"


Kulepas tanganku setelah selesai menyembuhkan mereka


"Untuk apa aku minta maaf? Dia yang paling salah" Verdea bicara dengan nada ketus


"Veri..."


"Hmph..."


"Kamu pikir aku mau minta maaf??" Anak itu langsung berucap


"Sayangnya kamu harus"


"... Tidak mau"


"Kenapa?"


"AKU SUDAH BILANG TIDAK MAU!"


Dia langsung berlari keluar entah kemana. Lyralia yang baru ingin masuk kaget melihatnya yang lari keluar


"Ada apa ini Vainzel?" Tanya Lyralia bingung


"... Jaga Verdea sebentar"


Aku berjalan mengikuti anak itu


"Ok... Tapi ada apa?"


Jawaban Lyralia tidak terjawab sama sekali. Tidak satu patah kata pun keluar dari mulutku, bahkan sampai aku menghilang dalam sekejap untuk mencari anak itu


Dia menoleh kearah Verdea, yang mana anak itu cuma diam sambil membuang wajahnya. Verdea sama sekali tidak mau menjelaskan hal ini juga kepadanya


......................


"Ketemu..."


Aku mengelilingi satu kastil untuk mencari anak ini dan akhirnya menemukan dia berbaring di atap


Dia berbaring sambil melihat ke langit tanpa memedulikanku yang sedang memanjat sama sekali. Bahkan hingga aku duduk di sisinya, aku bahkan tidak dia pedulikan sama sekali


"Kenapa kamu lari?"


"... Berisik. Itu bukan urusanmu"


...


Ini merepotkan, tapi...


Aku setidaknya bisa paham apa yang ada di kepala anak ini. Dia sedang gusar akan sesuatu


"... Kamu masih marah karena Rosalia?" Aku berkata, memindahkan posisiku lebih mendekati dirinya


"... Berisik..." Dia mencoba memejamkan matanya, membayangkan kalau aku sudah pergi meninggalkannya sendiri


Tapi aku tidak meninggalkannya sendiri


"Kenapa kamu melampiaskannya pada kami?"


"... Berisik...!"


"Kamu membenci Rosalia?"


Pertanyaanku yang tiada henti itu membuatnya geram


Dia langsung menarik kerah jubahku dan berkata dengan kerasnya, "Sudah jelas bukan!? Dia tidak menginginkanku lagi!"


"..."


"Aku selalu bekerja di bawah perintahnya, tanpa bayaran, tanpa akhir. Aku selalu melakukan perintahnya tanpa protes sedikitpun..."


Genggamannya semakin erat, tapi wajahnya terlihat semakin lemas semakin lama dia bicara


Aku hanya diam, menatap wajahnya yang terlihat kesal namun suram itu


"Tapi, dia berkata kalau dia tidak menginginkanku lagi kemarin malam. Aku memohon agar dia tidak melakukan hal itu. Aku bahkan tidak tahu kenapa...


Tapi, dia sudah menetapkan keputusannya. Aku diseret keluar dengan paksa dan dibuang seperti sampah yang tidak berguna lagi..."


Matanya bergetar ketika dia menatapku langsung. Dia kemudian mengeluarkan pertanyaan yang merobek hatiku berkeping-keping


"Hey-- Kamu tahu salahku apa---?"


...


"..."


"Apapun itu--- Tolong katakan--!"


Nadanya mulai ikut bergetar. Wajahnya yang kesal perlahan berubah menjadi wajah orang yang ingin menangis


Aku yang melihatnya seperti itu langsung merasa iba dan ikut sedih


"... Kamu sudah berusaha keras, ya..."


"Aku tidak butuh perkataan itu, Elf!"


Dia memukul bahuku dengan kerasnya. Tapi, aku tidak mengangkat satupun jari untuk menghadangnya melakukan itu


"Katakan apa salahku! Jika hidupku ini memang sudah salah, maka tidak ada gunanya lagi berjuang bukan---"


...


Dia pun tersentak, menyadari tanganku yang menyentuh kepalanya. Perlahan kuelus kepalanya, selagi anak itu masih diam tidak bergeming


Tapi seakan tidak terima dengan hal itu, dia menepis tanganku dan air mata akhirnya jatuh di pipinya


"Cukup...! Aku tidak mau lagi harapan palsu...!!"


Napasnya terisak-isak. Dia langsung berusaha mengusap air matanya yang turun. Tapi, mereka terus membanjiri matanya dan jatuh ke pipinya, sekeras apapun dia berusaha


"Aku-- Cuma mau--- Ada orang yang menghargaiku---


Tapi kenapa...!? Aku... Selalu berakhir begini...?"


Dia menangis semakin keras. Suara Erangannya terdengar persis seperti seseorang yang kesakitan


Dia membungkuk di depanku dan terus menangis. Sekali lagi kuletakkan tanganku di kepalanya dan kuusap perlahan permukaan itu


Dia terus menangis. Terus dan terus. Walaupun tangisannya mulai menjadi pelan, dia terus terisak


Tapi, aku tidak bisa berlama-lama menemaninya. Aku meninggalkannya sendiri disana sendiri untuk mengurus Verdea


Aku ingin menolongnya, tapi aku tidak tahu harus bagaimana karena tidak tahu apapun tentang dirinya...


...


--- Ruang tengah kastil ---


"Kemana anak itu?" Tanya Luxor yang segera terlihat kehadirannya disaat aku masuk melalui jendela


Verdea yang sedang belajar dari Luxor sekarang ini langsung berhenti menulis dan mendengarkan pembicaraan kami


"Dia di atap. Luna dan Ordelia sedang mengurusnya, jadi tenang saja"


"Kamu serius ingin membiarkan dia tinggal disini?"


Dia menoleh kearahku dengan tatapan serius


"Karena bicara dengannya tadi, aku semakin serius"


Sejujurnya, aku masih tidak percaya dengan anak itu. Tapi, jika dia benar-benar membutuhkan tempat tinggal, aku tidak akan melarangnya untuk tinggal disini


Verdea mengepalkan tangannya dengan erat. Ada sesuatu yang dia ingin katakan daritadi, tapi terlihat kalau dia juga tidak bisa jujur untuk mengatakannya


Tepat saat Verdea ingin bicara, Ordelia dan Luna mengikuti anak itu masuk ke ruang tengah kastil dari belakang


Wajahnya masih sembab


Verdea kaget dengan kehadiran anak itu. Dia langsung bangun dan perlahan berjalan ke hadapannya


Aku dan Luxor saling menatap satu sama lain sambil bertanya-tanya kenapa


Anak itu menatapi Verdea dengan tatapan kosong. Verdea hanya berdiri di depannya dan terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu


Tapi, salah satu dari mereka setidaknya harus mulai bicara


"... Ma- maafkan aku..." Verdea berkata dengan pelannya


Dia membuang wajahnya. Anak itu termenung menyaksikan perbuatan Verdea


Wajahnya langsung berubah. Melihat anak lelaki yang polos itu meminta maaf kepadanya, Veskal langsung tertegun


Dia mulai tertawa. Tawa kecil yang membuatku yang melihatnya kaget


Sekarang Verdea yang termenung melihat anak itu sedang tertawa


"Harusnya aku yang minta maaf"


Verdea tersentak. Anak yang tadinya menolak untuk meminta maaf kepadanya itu tiba-tiba tertunduk di hadapannya. Dan itu membuatnya merasa bermasalah, karena dia tahu kalau perkelahian diantara mereka tidak akan terjadi seandainya dia tidak mengatakan apa yang sudah dia katakan kepadanya


"Tapi, aku juga sudah keterlaluan. Aku juga tidak biasanya mengatai orang seperti itu"


Dia menunduk malu. Matanya berair karena penyesalan dengan apa yang dia lakukan. Dia menggenggam celananya erat seperti seorang anak kecil ketika dimarahi


"... Maaf..." Dia berkata sekali lagi


...


"... Tidak apa-apa. Aku juga"


Anak itu kemudian membungkuk dan membuka lengannya seperti ingin dipeluk


Verdea langsung maju dan memeluknya erat, membuat anak itu sedikit tersentak namun segera membalasnya dengan pelukan erat juga


Pemandangan mereka yang saling berpelukkan itu membuat hati kami hangat ketika melihatnya. Pada akhirnya, kedua anak itu bisa memperbaiki kesalahan masing-masing, mengakhiri masalah ini dengan catatan yang baik


Haah...


Anak-anak tetaplah anak-anak. Tapi, ketika aku melihat mereka berdua saling merangkul satu sama lain seperti ini...


Aku tersadar, kalau kedua anak malang ini sama sekali tidak pernah mendapatkan kehangatan itu. Setidaknya, hingga kami berada sebagai penengah


Kejam sekali bukan...? Takdir memang sungguh aneh...


...


"Hai! Aku ketinggalan apa!?"


...


...


...


Demi pohon agung, Lyralia...


Dia dengan sok polosnya menengok ke dalam ruangan dan hanya menunjukkan kepalanya


"Aku juga sudah selesai istirahat..."


Ivor juga ikut menunjukkan kepalanya dari luar ruangan


Kemunculan mereka berdua benar-benar merusak momen menghangatkan hati


Kedua anak itu cuma bengong melihat Ivor dan Lyralia yang baru muncul


Ordelia dan Luxor hanya menepuk dahi mereka melihat dua orang bodoh itu. Luna menggelengkan kepalanya dan aku terlihat jelas sekali kesal


"Kalian berisik! Kenapa tidak muncul nanti saja coba!?"


"Hah!? Kami salah apa coba!?"


"Kami kan baru muncul, Vainzel..."


"Kalau begitu pergi lagi sana!!"


"HAH!!??"


Situasi ruangan langsung menjadi ricuh karena perdebatanku dan mereka berdua


Verdea dan anak itu cuma menatap satu sama lain, kemudian mereka tertawa karena tingkah kami


"Apa yang kalian tertawakan!?" Ivor dengan ketusnya memelototi mereka


"Kamu kelihatan bodoh barusan" Ejek Verdea


Lalu, kami menghabiskan hari menertawakan Ivor yang menarget kami satu-persatu dengan kemarahannya


Yah... Setidaknya dia meringankan suasana bukan? Walaupun sekarang aku harus menangani perbuatan orang yang satu ini agar dia tidak menghancurkan sesuatu di dalam kastil


......................


--- Malam hari ---


Verdea akhirnya tertidur dengan pulas di kasurnya. Kunaikkan selimut di kakinya dan mengelus kepalanya sebelum beralih ke anak itu yang berdiri di sampingku


Dia mengikutiku semenjak dia sudah berbaikan dengan Verdea. Dan sekarang lihatlah dia. Dia mengamati Verdea seakan tidak ingin membiarkan satupun lalat hingga di wajah mungilnya yang tertidur


"Sudah merasa lebih baik?" Aku bertanya pada anak itu


Dia mengangguk dan terus melihat kearah Verdea


...


"Hey, aku penasaran" Anak itu mencoba membuka pembicaraan


"Kenapa?"


"Kenapa dia tinggal di tempat yang jauh seperti ini? Pangeran dan putri yang lainnya tinggal di kastil Lily bukan?"


"... Kamu tidak tahu kalau dia disingkirkan?"


Dia langsung terlihat kaget mendengarkan ucapanku. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya dengan rasa iba yang tercoreng di seluruh wajahnya


Aku pun menghela napas pendek sebelum melanjutkan lebih jauh


"Ayahnya meletakkan dia di kastil ini agar keluarganya yang lain tidak mencoba menyakitinya lagi"


Aku juga baru paham hal itu setelah surat menyurat dengan Artorius kemarin


Karena penasaran dengan perilaku mereka semua, aku menanyakan hal itu padanya. Dia hanya menjawab kalau anggota keluarganya yang lain sering menyakiti Verdea, baik secara fisik maupun verbal. Sangat wajar, mengingat kalau kepala keluarga mereka yang satu itu sangatlah lemah dalam menangani perbuatan tidak benar yang dilakukan keluarganya


Jadi aku menarik kesimpulan kalau dia sengaja diletakkan disini agar tidak disakiti lagi


Untuk orang-orang yang mengetahui hal ini, bagi mereka Artorius pasti benar-benar menyayangi Verdea. Mungkin ada hubungannya dengan ibu kandung Verdea, tapi dia tetap mengusahakan yang terbaik untuk Verdea terlepas dari itu


Sayang sekali aku justru berpikir sebaliknya. Aku sama sekali tidak menyukai raja itu, utamanya karena caranya memperlakukan Verdea seperti ini. Jika dia memang sungguh ingin yang terbaik untuk Verdea, dia akan mencurahkan setiap tenaganya untuk menjaga anak ini


Hanya saja, pada akhirnya juga...


Verdea bukanlah satu-satunya anak Artorius. Yang membuat hal ini semakin parah adalah, ibu dari anak-anak keluarga Hortensia adalah wanita yang berbeda-beda...


...


"Tapi, bukannya ayahnya punya kuasa yang besar? Kenapa dia tidak memberi pelajaran pada orang yang menyakitinya saja?"


"... Kalau melibatkan hal politik, hal itu sudah pasti sulit"


Semua istri Artorius dinikahi olehnya karena alasan politik. Jika dia melakukan satu langkah saja yang salah untuk menghadapi wanita-wanita itu, kerajaan lainnya bisa langsung mengepung tempat ini


Dia mungkin bisa menang, tapi susunan kerajaan ini tidak akan membaik kembali seperti semula. Kekacauan akan menyebar dimana-mana dan itulah alasan kenapa Artorius harus berhati-hati memperlakukan keluarganya


Dia hanya ingin tidak ada kekacauan antar kerajaan di dunia ini. Tapi, itu secara tidak langsung membuatku yakin, kalau kepala raja yang satu itu hanya terisi dengan pemikiran untuk menjaga takhtanya semata


"..."


Anak itu cuma diam. Dia diam seribu bahasa mendengar jawabanku yang singkat itu


Tapi, wajahnya juga menggambarkan hal lain. Sebuah cahaya yang berkata, kalau dia sudah bertekad dalam memilih sesuatu jalan yang ingin ditempuh. Dan dia pun mengutarakan tekad itu


"... Aku ingin melayaninya"


Pernyataan itu membuatku sedikit terkejut. Dengan alasan yang jelas


"Hm? Kenapa?"


"Kami berdua mungkin bisa menjadi teman baik. Tapi, aku ingin melayaninya"


...


Aku tersenyum. Teman baik, dia bilang. Aku yakin memang akan begitu, seandainya kalian tidak berkelahi seperti tadi lagi...


"Kamu yakin bisa menanganinya?" Aku pun menantangnya


Dia mengangguk kencang. Aku cuma tertawa kecil mendengar responnya


"Kalau begitu semoga beruntung" aku pun berkata kepadanya


Oh ya, dan satu hal lagi


"Omong-omong, aku belum tahu namamu" Aku berkata


Dia kemudian terlihat berpikir sejenak. Dan entah kenapa, dia juga baru sadar


"Ah, benar juga..."


Aku tertawa kecil melihat wajahnya yang melongo bingung itu


"Lalu, siapa namamu?" Aku bertanya lagi


Dia tersenyum untuk kesekian kalinya yang kulihat selama dia di kastil ini, dan kemudian dia mulai mengucapkan namanya dengan terus terang


"Veskal. Veskal Grandier"


"Nama yang bagus, seperti seorang kesatria pemberani" Aku merespon pelan padanya, ditambah dengan sebuah senyum