
--- Keesokan paginya, area latihan ---
"Ha? Kamu bisa melakukan sihir pengganggu?"
'Sihir pengganggu'. Itu bukanlah sebuah label resmi untuk menamakan sebuah sihir, tetapi itulah yang disebut semua orang bagi sihir spesifik yang satu ini
Benar. Pelajaran hari ini adalah mengenai sihir pengganggu. Secara pribadi, aku yang akan mengajari Verdea dan Remina pada hari ini
"Sihir pengganggu. Sebuah sihir yang bisa digunakan untuk mengacaukan aliran Mana lawan yang ada di hadapanmu. Ketentuan penggunaannya jauh lebih mudah untuk dilancarkan dibanding sihir pada umumnya, tetapi sihir ini sangat bergantung kepada kualitas Mana milik seorang perapal"
Verdea tidak perlu berpikir lebih jauh untuk segera cemberut mendengar hal itu. Dia paham kalau sihir ini tidak akan terlalu berguna untuk dia gunakan
"Tapi, aku tidak pernah mendengar nama sihir itu. Apakah tipe sihir baru?" Remina bertanya
"Tidak. Mereka dikategorikan ke dalam sihir pelindung"
Kenapa? Jawabannya simpel. Sihir ini memiliki formula dari sihir pelindung.
"Perbedaannya yang signifikan terletak kepada satu hal, bahwa sihir ini terasa seperti secarik kertas yang kamu robek dari sebuah buku"
Penggambarannya seperti itu. Nyatanya, itu benar. Sihir pengganggu adalah turunan dari semua sihir pelindung, dan juga disebut sebagai versi lemah mereka. Aku lebih suka menyebut sihir ini sebagai akar dari sihir pelindung
"Setiap sihir bisa diganggu. Itulah fungsi dari sihir pelindung, yaitu menepis dan menghentikan serangan yang datang kearah perapalnya. Sayangnya, formula sihir pelindung akan selalu menjadi semakin kompleks seiring berjalannya waktu, jadi sebaiknya aku mengajarkan kalian sebuah formula tetap yang bisa digunakan pada beberapa momen penting di dalam pertarungan"
Aku pun menunjuk kearah keduanya. "Segera rapal sihir dasar kalian, dan pertahankan" aku pun memerintahkan
Verdea dan Remina bingung sembari melihat satu sama lain. Keduanya pun mulai merapal sihir mereka masing-masing. Verdea dengan sebuah sihir api 'Fireball', dan Remina dengan sihir air 'Water Ball'
Aku pun mengangkat kedua jari telunjukku agar mereka berdua memperhatikan dengan baik. Telapak tanganku kemudian menghadap ke tanah diatas udara, dan dengan perlahan, kututup telapak tanganku dengan jari jemariku
Bersamaan, kedua sihir milik Verdea dan Remina menghilang seakan ada sesuatu yang memakannya
"Luar biasa...! Sihirku menghilang walaupun aku berkonsentrasi...!" Verdea dengan takjub memberi komentar
"Aku merasakan ada Mana asing yang menyelubungi sihirku. Apakah itu yang kamu maksud sebagai sihir pelindung, Oberon?" Remina justru bertanya
"Benar sekali!" aku membalas. "Sihir pengganggu adalah sebuah sebutan tidak resmi untuk sihir yang digunakan untuk menyelubungi hasil rapalan Mana seseorang"
Secara singkatnya
"Kamu hanya perlu menyelubungi sihir seseorang menggunakan Mana milikmu" aku menjelaskan
"Itu terdengar mustahil untuk dilakukan" Verdea langsung menepis
"Itu sebabnya kamu tidak pernah bisa sihir" aku menepis balik
Verdea lagi-lagi cemberut, selagi Remina memandangnya dengan wajah remeh
"Tapi, kenapa kami tidak bisa melihat sihirmu barusan? Bahkan dengan atribut cahaya, sihir pelindung dapat dilihat dengan mata telanjang melalui beberapa ketentuan. Aku tidak paham dengan unsur dari sihir ini" Remina bertanya lagi
"Itu karena aku tidak menggunakan atribut manapun"
Remina terkejut, sementara Verdea mulai tertarik kembali untuk mendengarkan
"Tidak menggunakan atribut itu bukannya berarti kalau kamu tidak menggunakan sihir sama sekali?" Verdea yang kali ini bertanya
Secara alamiah, dia tidak salah. Tapi secara teori, itu tidaklah mustahil
Aku pun menunjukkan sebuah 'Fireball' kepada mereka sebagai sebuah contoh
"Mana adalah bagian dari tubuh kita, kalian masih ingat itu?"
Mereka mengangguk
Mana adalah bagian tubuh kami, tidak jauh dari darah dan daging. Tetapi, tidak seperti darah yang mengalir di dalam tubuh untuk mempertahankannya, Mana mengalir diluar ke udara, seakan melakukan serangan
Lebih cocoknya, kami menyebut Mana itu setara dengan udara. Sirkulasi yang konstan selagi bernapas, teori keduanya adalah sama dalam satu. Tetapi, seperti yang kubilang sebelumnya, Mana adalah bagian tubuh kami
"Kamu bisa mengacaukan angin yang lewat dengan melambaikan tanganmu di udara dan kamu bisa merasakannya. Hukum yang sama juga berlaku untuk Mana"
Kutepis 'Fireball' yang ada di tangan kananku menggunakan tangan kiri, dan sihir itu pun lenyap dalam seketika. "Perbedaannya, kamu bisa mengontrol Mana sejauh matamu memandang, karena dia adalah bagian dari tubuhmu. Sama seperti menggerakkan tangan dan kaki bukan?"
Gerakkan yang menutup telapak tangan untuk menghentikan sihir mereka tadi, itu adalah salah satu contohnya. Layaknya anggota tubuhku sendiri, Mana yang ada di atas sihir mereka bergerak mencerminkan gerakan tanganku. Sihir mereka menghilang, seakan aku sudah meremas keduanya dengan tangan kosong
"Kalian bisa coba rapal lagi sihir kalian"
Mereka segera melakukannya. Tetapi tidak seperti sebelumnya, aku melakukan gerakan menepis yang bahkan tidak menyentuh apapun
Dan dalam sekejap, Mana mereka menghilang, namun tidak redup entah bagaimana seperti tadi. Sihir mereka menghilang kali ini, seakan ada angin yang menepis keduanya dari sisi kiri mereka
"Luar biasa!" Verdea takjub
Tapi Remina segera ragu. Mudahnya, karena semua perapal sihir tahu, kalau mengendalikan Mana di udara itu adalah sesuatu yang rasanya sama seperti mencoba mengendalikan tangan yang melebar seperti karet. Gerakannya akan sangat ceroboh dan konyol, dimana hanya orang yang sudah ahli saja yang dapat melakukannya dengan baik
"Ini mustahil Oberon. Perlu bertahun-tahun untuk mempelajari pengendalian Mana tanpa rapalan atau lingkaran sihir. Yang terbaik yang aku bisa yakinkan diriku adalah aku harus mempelajarinya selama 20 tahun keatas" dia pun berkata
"Benarkah? Aku mempelajarinya dalam 5 tahun. Luna bahkan mahir melakukannya dalam jangka waktu yang sama, karena dia tidak bisa mengontrol sihirnya lagi"
Walaupun memang butuh bertahun-tahun, itu karena pada awalnya aku tidak mengerti akan konsep dasar dari sihir ini
Hah...
"Aku mungkin terdengar tidak paham dengan apapun yang kamu rasakan, tapi dengarkan baik-baik. Semua hal akan jadi mustahil jika kamu menganggapnya begitu
Yakinkan dirimu kalau kamu bisa melakukan sesuatu. Walaupun tidak semua hal, bukankah sesuatu itu cukup?"
Itu yang aku pelajari selama bertahun-tahun berlalu. Keyakinanku kalau aku tidak akan bisa menemukan teman dari kaum manusia berubah ketika Verdea dan Veskal datang. Keyakinanku untuk memperbaiki nama kaum Elf berubah semenjak aku mulai mencoba. Keyakinanku kalau kami hanya akan kalah berubah ketika aku melihat senyum rakyatku dan kalian semua
...
"Sihir pengganggu juga tidak hanya bisa dilakukan dengan menggunakan Mana semata. Kalian bisa menimbun sihir orang lain dengan sihir milik kalian"
"Serangan kadang bisa menjadi pertahanan terbaik. Tujuan dari aku ingin belajar sihir ini adalah agar kalian tahu, gerakan seperti apa yang harus kalian lakukan dalam melawan seorang musuh. Lakukan serangan yang bisa menyelamatkan kalian, atau bertahan semata. Selalu menghindar bukanlah jawaban, karena itu lebih menyia-nyiakan tenaga"
Kabur dari musuh yang lebih kuat juga bukanlah sebuah pilihan seandainya kamu bertarung sendiri. Aku melihat bagaimana Remina kalah kemarin melawan Edwin, dan aku memutuskan kalau mereka harus belajar mengenai hal ini ketika kemampuan mereka sudah setara dengan yang lain
"Jika aku pikir lagi, serangan Edwin yang mengalahkan Remina kemarin bisa disebut sebagai sihir pengganggu juga. Tapi, teori dari kemampuannya itu akan sangat sulit dijelaskan, dan aku baru mendapat sebagian idenya saja"
Gesekan adalah faktor utama dari hal itu. Serangan Edwin bergesek satu sama lain ketika mereka terbang di udara, dan itu menimbulkan 'panas' yang berlebih. Aku yakin, 'panas' itu bersifat menguapkan, sehingga seluruh Mana Remina menghilang dalam sekejap
Sayangnya, aku masih tidak paham bagaimana Mana-nya bisa bergesek. Hanya benda fisik saja yang mampu melakukan hal itu, dan Mana secara alami bukanlah benda fisik sampai seseorang menjalankan formula sihir. Yang membuatku berkata seperti ini adalah, Edwin tidak merapal sihir apapun sama sekali disaat dia melakukan duel dengan Remina sebelum ini
"Apapun itu, kalian juga harus tahu cara mengganggu serangan lawanmu. Mempelajari trik mereka dan mengacaukan sebuah momen penting akan sangat membantu kalian nantinya"
"Apa yang dikatakan Vainzel benar"
...
Ah, ada tamu yang baru tiba
"Kamu terlambat. Aku memanggilmu semenjak matahari belum terbit, dan lihat posisinya sekarang" aku menyambutnya
"Dia pasti sibuk menghabiskan waktu dengan Natasha" Verdea menambahkan dengan ketus
"Si tukang tidur akhirnya bangun" Remina juga mengikuti
Veskal hanya tersenyum menggelengkan kepalanya pasrah mendengar celotehan kami semua
"Biar kutebak. Aku kelewatan latihannya kali ini?" dia pun bertanya
"Tidak banyak yang terlewatkan. Hanya sedikit belajar strategi dan sebuah sihir kecil" aku menjelaskan selagi menembakkan sebuah 'Water Ball' kearahnya dengan kecepatan dasar
Veskal dengan mudah menepis sihir itu sebelum badannya terkena
"Sihir lagi? Bukannya lebih baik jika Remina mengasah kemampuan berpedangnya saja?"
"Itu tidak akan adil untuk Verdea. Lagipula, aku baru saja mengajari mereka sihir lagi semenjak sibuk dengan pekerjaan beberapa hari ini"
"Aku juga yang merekomendasikan dia untuk mengajari kami sihir untuk hari ini..." Verdea dengan tampang lugu menyela
"Kalau begitu pilih saja senjatamu selain sihir. Jika kamu mau pedang, maka aku akan segera ke Orion untuk membelikanmu satu"
Dia berkata begitu karena Orion membuka jalur teleportasi mereka kepada kami selama 24 jam penuh
"Bagaimana menurut kalian, Veri, Remina? Kalian ingin pedang baru?" Aku pun bertanya
Remina mungkin butuh pedang sungguhan dan bukannya pedang hiasan seperti itu. Sesungguhnya, pedang yang dia buat menggunakan 'Imaginary Copy' itu adalah sebuah pedang untuk latihan berduel, bukannya untuk sebuah pertarungan
Jika Edwin sungguh ingin membunuh Remina disaat mereka latihan, pedang tiruan itu hanya akan terbelah menjadi dua disaat duel itu dimulai
"Pedang sungguhan kah...?" Remina bertanya
Dia terlihat ragu apakah akan cocok dengan dirinya karena pedang di tangannya itu sudah dia anggap sangat dekat dengan dirinya. Tetapi, paham kekurangan dari senjatanya itu, Remina pun mengangguk
Sementara itu, Verdea sepenuhnya ragu dia ingin mendapatkan sebuah pedang. Lebih dari itu, dia bahkan tidak punya alasan untuk memiliki sebuah pedang, karena dia sendiri tidak mahir dalam ilmunya
Dan dia pun mendapatkan sebuah solusi
"Carikan aku sebuah sarung tangan baja"
Solusinya itu awalnya terbang diatas kepalaku. Hingga...
"Ah!"
--- Aku punya ide yang lebih baik
"Aku akan cari paman Zero dan pergi ke Bargalos. Mereka akan memberikan senjata yang kamu inginkan namun 100 kali lebih baik"
Verdea, kamu jenius. Rupanya senjata itulah yang selama ini cocok untukmu. Aku tidak memikirkannya karena benda itu hanya kuanggap sebagai sebuah pelindung tubuh. Namun dengan desain yang ada di kepalaku ini-
Ya, ya! Aku bisa membuatkan dia senjata terbaik untuk digunakan!
"Aku akan serahkan kepadamu kalau begitu" Verdea berucap
"Kalau begitu aku juga mungkin ingin para Dwarf di kota Bargalos membuatkanku sebuah pedang" Remina menyela
Dia memintaku untuk mendekat agar dia bisa berbisik. Di dalam bisikannya, dia menjelaskan setiap detail yang dia inginkan dari sebuah pedang
Aku mengangguk paham mendengarkan setiap rincian yang dia berikan, kemudian mengangguk seusai dia berbisik. Aku pun menatap kearah Veskal, memberinya tanda kalau dia akan ikut denganku ke Bargalos
Dia setuju dalam diam, hanya memberi sebuah senyum
"Carikan saja Edwin agar Remina bisa berlatih. Aku akan mempersiapkan beberapa makanan untuk menetap di Bargalos nanti"
Kami akan tinggal disana cukup lama. Paling lambat, kami atau Veskal sendiri mungkin akan kembali sehari sebelum acara penobatan Remina dimulai
"Kalian tidak akan kecewa, aku janji"
Kami berdua pun berteleportasi keluar, meninggalkan keduanya di dalam keheningan akibat ketidakhadiran kami lagi
...
"Memangnya kamu ingin senjata seperti apa?" Verdea bertanya penasaran
Remina hanya tersenyum kecil, sehingga Verdea tahu kalau dia tidak akan menjawab
"Rahasia~!" Remina pun berkata, selagi Verdea menghela napas pasrah
"Setidaknya, persiapan untuk tibanya hari itu tidak perlu kukhawatirkan lagi"
Dia sudah mendapatkan semua hal yang perlu dia dapatkan. Sebuah ilmu dan sebuah senjata baru yang dia sedang nanti