Book Of Flowers

Book Of Flowers
Sebelum Debutan (2)


--- Beberapa saat kemudian, ruang tengah ---


"Jadi, ini semua nama para bangsawan itu. Untuk orang-orang yang diundang dari Miralius, semuanya sudah ada disini"


Kuserahkan beberapa lembar kertas kepada Verdea, bersamaan dengan Ivor yang ikut memberi kami masing-masing secangkir teh


"Aku ingin lihat juga!" Remina berseru, menggeser dirinya hingga menabrak pelan Verdea diatas sofa itu


"Pergi sana kenapa coba?" Verdea mendengus kesal


Beberapa lembar kertas yang sudah kutulis dengan sangat rapi itu sudah ku isi lengkap. Kerajaan lain juga kupisah lembarannya agar Verdea tidak kesulitan mencari nama mereka


Aku juga cukup terkejut beberapa bangsawan dibawah raja juga diundang dari negara lain. Maksudku, para keluarga bangsawan selain raja dari negara lain bisa dihitung jari, tetapi satu keluarga itu tidak hanya terdiri dari satu orang bukan?


Jika dari Hortensia, wajar setiap bangsawan diundang, karena sangat dekat. Tetapi dari negara lain juga?


Dari surat yang Artorius kirim aku bisa mengetahui, ada total 167 orang bangsawan yang akan diundang. Dan mereka yang berasal dari negara luar bukanlah keluarga bangsawan sembarangan, hingga aku bisa hafal nama dan gelar mereka tanpa mempelajari ulang


Berapa dana yang akan keluar untuk memastikan kenyamanan semua orang ini? Kastil Rose yang digunakan untuk tamu memang besar, hanya saja mengatur setiap orang dari negara-negara yang berbeda inilah yang akan sulit


Aku ragu Rosalia memiliki rekan bisnis sebanyak ini, mengetahui kalau tujuannya saja kurang jelas. Itu sebabnya aku terkejut dengan banyaknya nama-nama yang kutulis diatas setiap lembar itu


"Pesta sebesar ini juga tidak mungkin akan menjadi jebakan. Terlalu banyak orang, sama dengan terlalu banyak saksi"


Kejadian beberapa tahun lalu membuatku mempelajari satu hal yang penting. Jangan terlalu terpukau dengan sebuah pesta yang meriah. Kewaspadaan adalah nomor satu


Tetapi aku tidak perlu terlalu khawatir kali ini. Beberapa dari para raja ini adalah monster dalam wujud yang normal di mata. Jika mereka sungguh-sungguh, mereka mungkin bisa membuatku kesulitan dalam hal bertarung. Yang aku paling tidak ingin bermasalah denganku adalah Julius, dikarenakan berkah yang dia miliki sejak lahir


"Kamu bahkan menambahkan apa gelar yang disandang dan usaha yang mereka jalankan. Caramu menggali informasi itu menakutkan" Verdea berkomentar


Justru aku heran kenapa kalian tidak bisa menggali informasi yang sudah jelas berada di depan umum. Aku bahkan tidak perlu bergerak terlalu ekstra untuk mendapatkan semua informasi itu dan menuliskannya, apalagi mengetahui kalau aku sudah cukup banyak berkelana ke seluruh negara di Vitario


Atau mungkin dia terkesan karena aku bisa mengingat semuanya ya?


"Ugh... Semua nama ini membuatku pusing..." Remina berkata, dengan wajah mual


"Kalau begitu menjauh. Kamu terlalu dekat"


Remina langsung cemberut karena diusir Verdea, hingga dia pun menggeser tempat duduknya menjauh dan memalingkan wajah


"Lalu, kamu sudah tidak perlu belajar tentang bagaimana hierarki kerajaan mereka bekerja bukan?"


"Ada benarnya... Kecuali untuk negara timur. Aku masih harus mempelajari mereka"


Untung saja aku menulis nama mereka semua sesuai dengan deretan posisi teratas ke yang terendah, bukan menggunakan huruf awal


"Kamu bisa hindari semua orang yang berasal dari kerajaan timur kecuali para raja mereka. Dan untuk itu, aku anjurkan kamu untuk mempelajari semua orang yang ada di Hortensia"


Daerah kekuasaan mereka, bisnis yang mereka jalankan, keahlian mereka (termasuk juga kekuatan secara keseluruhan), skandal mereka yang mungkin bisa menyinggung dan harus dihindari dalam sebuah percakapan semuanya tercantum dalam materi yang kutulis


"Ya, aku juga menaruh skandal dan gosip tentang mereka diatas kertas itu. Kamu mungkin menyinggung mereka secara tidak sengaja nanti, juga untuk jaga-jaga dalam membalikkan keadaan ke wajah mereka kembali"


Jadi jangan lihat aku dengan tatapan itu. Ini demi kebaikanmu juga


"Bagaimana kamu bisa tahu semua hal itu??" Luxor yang kepalanya terlihat ingin meledak bertanya


"Gampang saja. Cari kelemahan musuhmu, sekecil apapun itu. Salah satu prinsip bertarung yang wajib kamu ingat" Aku menjawab dengan santai


Mencari semua hal itu barulah membuatku harus bekerja ekstra. Aku juga harus membuat Artorius bekerja sama denganku mencari segala hal yang berkaitan tentang skandal mereka


Menggali informasi itu melelahkan, tetapi itu adalah hal favoritku. Lebih menyenangkan membongkar kelemahan seseorang terlebih dahulu daripada mencoba menjatuhkan mereka tanpa tahu apapun


"Lalu, aku ingin kamu mempelajari juga sejarah setiap negara dari kedua orang ini, dan tata cara memberi salam dari Ordelia"


Lyralia terlihat bersemangat berniat ingin pamer, mengetahui gilirannya akan datang. Berbeda dengan Luxor yang kepalanya terlanjur mengeluarkan asap karena ikut membaca setiap informasi yang kutulis


Meresponku, wajah cemberut Verdea pun keluar


"Mempelajari semua hal ini akan sangat menyusahkan..."


Hey, jangan salahkan aku. Kita hanya punya 2 hari lagi untuk belajar sebelum seluruh acara itu digelar


Laporan sudah selesai, persiapan acara sudah hampir selesai, setelan kami semua sudah disiapkan oleh Rosalia (Sayangnya) jauh sebelum festival bunga dimulai, dan yang tersisa hanyalah hadir di acara itu dengan persiapan matang


"Serahkan saja materi kalian dan pergilah mempersiapkan semua hal yang diperlukan. Aku yang akan menjelaskan semuanya jika dia tidak memahami sesuatu" Aku pun berucap


Luxor tanpa ragu langsung menyodorkan kertas materinya, sementara Lyralia mematung di tempat karena niatnya itu langsung terkubur sedalam mungkin


Aku pun mengambil paksa kertas di tangannya yang membeku itu, dan menyuruh mereka berdua untuk segera bekerja. Luxor pun harus menyeret Lyralia yang masih menolak bergerak hingga keluar dari ruangan itu


"..."


"Tidak usah malu melihat tingkah gurumu. Kamu akan terbiasa jika sudah 100 tahun hidup dengannya" Aku berkata pada Remina


Wajahnya yang memerah dan dia tutupi dengan kedua tangannya itu membuatku mengingat reaksiku dulu ketika Lyralia melakukan sesuatu yang memalukan


Aku heran kenapa orang itu tidak kapok setelah ribuan kejadian memalukan yang sudah dia lakukan


"Mungkin menyusahkan, harus mengurus Lyralia hampir setiap hari..." Verdea berkomentar, tanpa mengalihkan arah matanya dari kertas itu sambil meminum tehnya


"... Daripada setiap hari harus menangani makhluk sepertimu"


Mereka pun beradu tatap hingga petir bisa terlihat di belakang akibat tegangnya situasi. Kedua anak ini tidak akan pernah bisa diletakkan di dalam satu ruangan dan berharap mereka tidak akan berkelahi


Lihat mereka, seakan menumbuhkan taring harimau di mulut untuk menggigit satu sama lain


"Oh-!"


Hm? Ordelia bereaksi


Itu artinya dia merasakan sebuah kehadiran


"Tamu kita sudah sampai?" Aku bertanya pada Ordelia


"Ya. Aku yakin itu mereka semua"


Aku menoleh kearah Veskal, dan dia langsung mengangguk tanda paham. Dia tidak perlu kuingatkan dua kali


"Kenapa, Oberon? Kapten Cyth dan semua orang tahanan itu sudah tiba?" Remina bertanya


"Sudah, ditambah oleh Eleanor dan Albert. Kamu boleh menjumpai mereka semua"


Remina terlihat senang, ketika mendengar hal itu


"Hm? Vainzel. Ada satu kereta lagi datang kemari"


...


Siapa?


Dilihat dari Ordelia yang tidak gelisah, sepertinya itu orang yang kami kenal dan tidak berbahaya


Mungkin... Artorius atau Collin. Sebaiknya aku mengirim seseorang untuk menyambut mereka terlebih dahulu


...


Tapi, ada juga satu orang yang tidak mau taat peraturan. Dia bahkan berniat ingin kabur sekarang


"Kamu tetap belajar! Jangan harap bisa kabur!" Aku berkata


Verdea tersentak, kemudian kembali mendudukkan dirinya diatas sofa dengan wajah menggerutu


Hah... Sebaiknya Ordelia dan Remina saja yang pergi...


"Jika memang tamu lain itu Collin atau Artorius, suruh saja mereka kemari bersama yang lainnya. Tapi jangan paksa jika mereka ingin istirahat


Ah, dan nanti aku minta tolong untuk mengumpulkan semua korban tawanan itu di satu ruangan saat siang. Masih banyak yang ingin kutanyakan kepada mereka"


Remina dan Ordelia pun segera melakukan apa yang kuminta, tanpa basa-basi lagi


"... Sekarang hanya ada kita bertiga disini"


"Siapa yang satunya la-"


"Ehem"


...


Dia lupa dengan Ayahanda


Melihatnya yang menoleh kearah Ayahanda dengan tatapan bingung itu membuatku yakin dia melupakannya


"Tenang. Aku memang berharap tidak ada yang memperhatikanku" Ayahanda menjawab sambil dengan santainya meneguk cangkir teh miliknya


Verdea pun hanya diam menunduk dengan wajah tertutup yang memerah


......................


"Wah? Kalian sedang belajar??"


Suara yang bisa kami kenali itu pun memasuki ruangan. Tidak lain dan tidak bukan, Collin lah orangnya


Dan tidak hanya dia. Artorius juga ikut mampir kemari untuk sesekali, membuatku sedikit terkejut dengan kedatangan 2 orang itu sekaligus


Untung saja Frank sedang ada di taman mengurus bunganya sekarang ini. Jika dia melihat Artorius disini, aku yakin suasana hatinya akan memburuk lagi


Tapi, hanya mereka berdua yang datang? Artinya, yang datang dari Miralius ingin istirahat terlebih dahulu hm?


Biarlah. Mereka juga sudah melalui perjalanan panjang, jadi kita biarkan saja mereka beristirahat. Untuk sekarang mari kita sambut kedua orang ini


"Yang mulia, Collin, silahkan duduk. Aku akan minta Ivor untuk membuat teh tambahan" Aku mempersilakan mereka, menggeser tempat dudukku sedikit ke kiri


"Ah, tidak perlu. Kami sudah minum teh pagi hari ini. Lagipula... Kenapa kamu masih memanggilku yang mulia, Oberon?"


"Karena kamu itu masih dan akan tetap menjadi tuanku hingga akhir hayatmu. Yah, walaupun jujur aku tidak suka padamu"


Bisa juga dianggap kebiasaan. Jika ada orang yang pantas kusebut sebagai yang mulia sekarang ini, orang itu adalah Artorius dikarenakan kontrak itu


Artorius hanya tersenyum canggung menanggapi ku, kemudian duduk di tempat yang kusediakan sebelum saling bertukar salam kepada Ayahanda


Collin pun segera mengambil tempat duduk di samping Verdea yang menyambutnya dengan senyum. Matanya mulai mengarah kesana kemari menelaah isi lembaran kertas yang kutulis itu


"Ini... Nama para tamu undangan pesta debutan itu?" Collin bertanya


"Benar. Verdea setidaknya harus mempelajari semua orang itu agar tidak membuat mereka tersinggung nanti" Aku menjelaskan


"Belajar memang berat anakku. Tapi, itu yang membuatmu bisa keluar dari sebuah masalah"


Artorius. Kamu adalah orang terakhir di dunia ini yang bisa mengucapkan kalimat nasihat itu


Verdea mungkin punya pikiran yang sama denganku, karena senyum palsunya itu keluar dan mengarah ke wajah Artorius yang sama sekali tidak mengetahui artinya


"Lalu, aku ingin kamu mempelajari sejarah Orion terlebih dahulu. Mereka memiliki banyak kisah di negara mereka, hingga Tuhan saja yang tahu jumlah pastinya"


Aku menyerahkan salah satu kertas materi milik Lyralia kepada Verdea, dan dia hanya meletakkan kertas itu dengan posisi terbalik diatas meja, masih tetap fokus dengan materiku


"Lalu... pelajari adat negara Borneus dan Gong, karena mereka yang paling khas dalam hal budaya"


Kuserahkan lagi sebuah kertas materi kepadanya, dan untuk pertama kalinya selama beberapa saat, dia mengangkat kepalanya


Langsung dia ambil kertas itu dan membacanya, mengabaikan kertas materi milikku yang dia letakkan diatas meja


Hmm...


Jadi dia lebih tertarik dengan sejarah


Sebaiknya aku membuat dia mempelajari beberapa hal yang dia senangi terlebih dahulu untuk saat ini


"Baiklah, akan kujelaskan yang satu itu, bersama sejarah Orion yang lain. Mereka mungkin akan-"


"O- Oberon! Apakah tidak apa membuat Verdea mempelajari semua itu....??"


Hm?


Ah, ya. Kedua orang ini sedang bersama kami sekarang. Dan sepertinya kami berdua membuat mereka ketakutan


"Kalau dia tidak mau belajar yang mulia, dia akan mencoba mengendap-endap pergi tanpa kuketahui"


Aku melirik kearah Verdea, mendapatkan sebuah pipi menggembung sebagai balasan darinya


Setidaknya dia tidak mencoba berbohong. Wajah marahnya membuatku ingin mengelus kepalanya, tapi takut mengganggu dia yang sedang belajar


"Tapi, aku datang kemari untuk bermain dengan Verdea. Sayang sekali dia sedang belajar..." Collin berucap


Bermain?


"Maksudmu, seperti permainan papan atau bermain kejar-kejaran begitu?"


Collin mengangguk meresponku


Selanjutnya, aku dan Verdea menoleh kearah satu sama lain dengan tampang bingung


"Maaf pangeran, tapi Verdea tidak suka permainan seperti itu. Jika ingin berlatih pedang, dia pasti mau"


Dan jika main kejar-kejaran, dia akan lebih senang bermain di udara dengan para Fae. Sayangnya aku tidak membawa satupun Fae kemari untuk alasan keamanan mereka, jadi begitulah...


Collin tidak menanggapi perkataanku dengan baik, dan seketika terlihat murung


"Tidak apa Collin. Mungkin kamu mau sekalian belajar bersama dengan Verdea?" Artorius menyarankan


Sebenarnya, itu saran yang bagus. Tapi, wajah Collin semakin berlipat mendengarkan ayahnya itu


"Aku tidak mau! Ibu sudah memaksaku belajar setiap hari" Dia menyerukan


Artorius tersenyum bingung, tidak tahu harus apa lagi


...


Hah... Sepertinya keputusan ada di tangan Verdea. Dia boleh memilih untuk istirahat sekarang


Collin sudah datang jauh-jauh, jadi sayang sekali melihat dia terlihat kecewa bukan?


...


...


"Maaf kakak, tapi... Beri aku waktu untuk setidaknya menghapal satu materi ini" Verdea berujar


Collin masih terlihat murung, tetapi langsung mengangguk paham


Verdea kemudian menoleh kearahku meminta persetujuan, dan aku hanya membalas dengan sebuah anggukan sebelum dia mulai mengatakan apapun


Dia masih harus belajar lebih banyak lagi. Tapi, aku akan pastikan dia tidak memaksakan diri untuk hari ini


Lebih baik besok kumulai dengan materi yang paling dia tidak sukai terlebih dahulu, dan akhiri dengan yang dia suka agar dia tidak terbebani


Karena setelah besok, kami mungkin tidak memiliki kesempatan belajar, mengingat kalau sidang itu akan dimulai


Hah... Jadwal kami ketat sekali. Kami tidak memiliki kesempatan untuk menyerang lagi untuk beberapa saat, dan entah gerakan apa yang Rosalia sedang buat sekarang ini


Entah kenapa... Aku merasa kalau kami tidak melakukan serangan lebih lanjut, ada sesuatu yang menyusahkan. Tapi kami dipaksa oleh situasi untuk tetap merendah untuk sekarang


Persiapan untuk bertahan harus tersedia sekarang. Aku tidak akan membiarkan kejadian 5 tahun lalu terulang kembali