Book Of Flowers

Book Of Flowers
Peduli


--- Sementara itu, Veskal & Natasha ---


"Hah..."


Veskal terlihat sangat pasrah melihat kehadiran Verdea yang mengganggu waktu empat matanya dengan Natasha


'Kenapa anak ini disini...?' Dia bertanya


"Cari Zaphir sana. Atau temui yang lain" Veskal pun berkata, seakan mengusir


"Cih. Menghabiskan waktu dengan Natasha rupanya lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu denganku..." Verdea cemberut


"Haah?? Kami sedang mencari sesuatu dari tempat ini!"


"Vainzel sudah bilang Goeitias sekarang menjadi sarang bahaya, tapi kamu malah bilang kamu mencari sesuatu tanpa izinnya?"


"Ugh! Anak ini-!"


Dia ingin menyentil dahi Verdea, tapi tahu kalau masalahnya akan jadi semakin panjang


Jadi dia pun hanya menahan diri, mengeluarkan napas keluh yang keras dan panjang, dan memutuskan untuk pasrah di hadapan si mahakuasa Verdea Hortensia


"Kamu rupanya cepat menyerah juga ya...?" Natasha berkomentar


"Itu karena aku berhadapan dengan anak ini, Natasha...!!" Veskal membalas


Verdea hanya membuang wajahnya, walaupun dalam hati dia merasa senang karena Veskal akan mengajaknya tanpa pemikiran kedua


"Jadi, kalian ingin pergi kemana?" Verdea pun bertanya


"Tidak kemana-mana. Hanya mencari Goblin untuk mengetes kekuatan batu sihir yang sudah kubuat ini"


Veskal yang merogoh kantongnya itu kemudian mengeluarkan beberapa buah batu sihir yang sudah terisi, membuat kedua orang yang bersamanya takjub


"Aku membuatnya tadi malam bersama Eleanor dan Albert, jadi aku ingin mencobanya sekarang ini selagi Goblin masih berada di sarang mereka" Veskal berkata, lagi memainkan batu yang dia pegang itu di tangannya


"Tapi kenapa Goblin? Mereka bisa berbahaya tahu?" Verdea bertanya lagi


"Justru karena itu~!"


"Ugh. Dasar maniak bahaya..."


"Ah, dan aku melihat Vainzel baru lewat tadi disana bersama Leshy. Jadi sekalian aku ingin mengikuti"


"Ugh. Dasar maniak tidak taat aturan"


"Ada cermin, adik kecil?"


Verdea tidak membalas. Itu karena dia sudah mulai penasaran dengan perkataan Veskal tentang keberadaan ku yang baru saja terlihat melewati hutan ini bersama Leshy


Dia mencoba memikirkan apa konsekuensi jika mereka mengikutiku, tapi Verdea juga ingin melihat apa yang sedang kulakukan


Keputusannya pun sudah bulat


"Sudah kuputuskan. Waktunya kita menguntit seseorang dari belakang" dia berkata


"Lihat kan? Dia selalu saja mengejekku tapi-"


"Oke, tidak perlu basa-basi. Kearah mana Vainzel pergi tadi??" Verdea segera memotong Veskal


Temannya itu pun hanya menghela napas pasrah, kemudian menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk kearah tempat aku dan Leshy mengarah


Utara dari Miralius lebih tepatnya. Tidak terlalu jauh dari posisi mereka, tapi masih butuh waktu cukup lama untuk mengejar dari belakang


"Zaphir bilang kalau di Utara, jarak 5 kilometer dari Gerbang Hutan dan lebih jauh lagi, adalah daerah paling berbahaya untuk sekarang ini" Veskal menjelaskan


"Berarti dia kesana hanya untuk satu hal" Verdea bergumam


Keduanya pun paham kalau aku sedang ingin mengecek kaum monster yang menjadi liar, sehingga mereka semakin terlihat tertarik dengan masalah ini


"Ayo, kita segera ikuti"


"Setuju"


"Ugh. Dasar lelaki"


Kedua orang itu pun sibuk merencanakan semua hal yang tidak baik untuk menggangguku yang mereka tidak tahu pergi entah kemana. Sementara Natasha hanya mengikuti dari belakang, menggelengkan kepala dengan sebuah senyum melihat tingkah kedua sahabat itu


......................


"Hm? Pendapatku tentang apa yang dikatakan Vainzel?"


"Ya. Aku ingin tahu kenapa kakak ke-3 bilang dia ingin mati"


Bukannya tidak bisa menjawab, tapi Veskal benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia paham, dia pasti akan memberikan pendapatnya


Tapi dia sama sekali tidak mengerti juga. Darius yang dia tahu adalah orang yang berpendirian kuat seperti ibu dan kakak perempuannya. Lancang, namun bisa membawa sebuah hasil. Kandidat terkuat untuk menjadi seorang raja diantara kelima anak Artorius, jika Veskal berpendapat


"Aku sudah mengenalnya cukup lama. Tapi aku tidak pernah yakin aku mengerti jalan pikirannya" Veskal berkomentar, tidak memberikan jawaban yang cukup memuaskan


"Bahkan kakak ke-2 lebih mudah?" Verdea bertanya heran


"Tidak. Mereka mungkin sejajar, seandainya pangeran Darius mengikuti jalan kakaknya"


Verdea hanya menghela napas kecil karena tidak puas dengan jawaban itu


Hingga, Veskal teringat akan sesuatu disaat itu. Apa yang dia katakan itu pun mampu memberikan sebuah fondasi ide dari pemikiran Darius


"Dan jika aku bilang..." Veskal berhenti sejenak. "... Diantara kalian berlima, mungkin hanya pangeran Damien saja yang menginginkan takhta dan mahkota. Aku yakin pada pendapatku ini" Dia pun melanjutkan


Verdea tertegun mendengar kalimat itu


"Aku juga sedang mengincar takhta itu bukan?" Dia berkata kemudian


"Tapi kamu melakukannya karena harus, bukan karena ingin" Veskal membalas


...


Kakak-kakaknya yang berdiri di hadapannya itu hanya berdiri, menunjukkan wajah mereka kepada Verdea. Tapi dia tidak pernah paham apa yang mereka sedang sembunyikan di belakang


"Bahkan kakak Collin mulai bertingkah di luar dugaanku..." Verdea bergumam


Veskal pun menyadari kondisi Verdea yang terlihat murung disaat itu. Dia terlihat iba, tapi juga tidak ingin mencoba terlihat terlalu sayang kepada anak itu


Jadi dia hanya melakukan satu hal yang biasa dia lakukan. Mengacak rambut Verdea hingga anak itu berhenti merenung dan terlihat kesal menatap kearahnya


"Bisa sehari saja kamu tidak melakukan sesuatu yang menjengkelkan kah?" Verdea berkata, seakan mengancam


Hanya saja, bagaimana bisa anak yang terlihat seperti anak anjing yang sedang kesal itu bisa terlihat mengancam?


Veskal pun tertawa kecil, tidak membalas apapun dari ancaman Verdea itu, dan hanya meminta maaf kepada temannya itu


"Kamu tidak perlu memusingkan apa yang dipikirkan kakak-kakakmu. Semua orang memiliki masalah mereka sendiri, dan hanya mereka saja yang tahu bagaimana cara menyelesaikannya" Veskal pun memberi saran


"Aku tidak menolak hal itu. Hanya saja, bukannya semua ini akan lebih mudah seandainya aku tahu pemikiran semua orang?" Verdea membalas


"Kadang benar kadang salah. Ambil dari pengalamanku, kalau mengetahui isi pikiran seseorang kadang membebani dirimu"


"Entah kenapa kamu terdengar bijak..."


"Banyak pengalaman banyak wawasan. Jadi, hiduplah dulu sepanjang umurku baru kamu bisa mengejekku~"


Hidungnya yang disentuh Veskal itu pun langsung membuat Verdea memukul perut temannya itu karena kesal, membuat Natasha yang berada di belakang mereka itu ikut terkejut


Bahkan dia menggunakan tangan kanannya untuk memberikan ekstra rasa sakit, walaupun dia sedang menahan diri juga


"Tidak apa??" Spontan Natasha meneriakkan dengan panik melihat Veskal merintih


"Tidak apa. Aku sudah menahan diri, jadi dia tidak akan apa-apa selama tidak pingsan" Verdea berkata, seakan tidak peduli


"Dasar bocah barbar...!!" Veskal kemudian ikut bicara selagi mencoba mencoba untuk tidak menggigit lidahnya menahan rasa sakit itu


"Intinya kita impas. Sebaiknya kita menemukan Vainzel dengan segera atau kita sebaiknya kembali saja"


Veskal pun dengan jelas terlihat sangat kesal dengan sikap Verdea hingga dia spontan menggerang. Walaupun dia juga sadar kalau dia sudah salah dengan mengusili Verdea juga


...


"Hey. Aku ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba peduli kepada anggota keluargamu yang lain?" Veskal tiba-tiba bertanya


Verdea tidak paham dengan maksud dari pertanyaan itu, hingga kepalanya mulai sedikit dia condongkan ke samping


"Aku tidak paham" dia pun membalas


"Maksudku... Kamu tidak pernah terlihat peduli kepada satupun dari mereka kecuali kakekmu" Veskal pun menjelaskan


Hal itu pun membuat Verdea berpikir kembali. Hingga dia menemukan hanya satu kesimpulan saja yang bisa menjadi penutup pertanyaan itu


"Mungkin karena mereka memang tidak berguna untuk kita semua"


...


Veskal pun terlihat sedikit berkeringat dingin mendengar jawaban itu, begitu juga Natasha yang tidak paham apa-apa dan justru terlihat sangat terkejut


Veskal tahu kalau Verdea sadar akan bobot perkataannya itu, tapi dia juga tidak salah. Temannya yang satu itu tidak akan memedulikan siapapun jika mereka tidak berguna untuknya


Sama seperti kakaknya itu


"Hah... Aku hanya bersyukur kamu mengambil jalan yang berbeda..." Veskal berkata, menghela napasnya


Verdea hanya diam dan menunduk, melirik sedikit kearah Veskal yang terlihat tertegun


"Dan untuk jawaban dari pertanyaan pertama itu" Verdea berkata, membuat Veskal kembali beralih kepadanya. "... Aku hanya penasaran. Mengherankan bukan, jika seseorang yang memiliki gambaran kuat begitu tiba-tiba memilih untuk menyerah?"


Veskal ingin bertanya, kenapa dia bahkan tidak terlihat risau kalau kakak yang akan menolongnya itu bisa saja mati


Tapi dia sudah tahu jawabannya. Sejauh yang dia tahu, sejauh yang Verdea pedulikan, seluruh anggota keluarga Hortensia selain dirinya boleh saja lenyap atau tidak. Tujuan besar yang dimiliki oleh Verdea bukanlah untuk menyelamatkan seseorang dengan nama keluarganya itu


Verdea tidak pernah sekalipun selama ini, menunjukkan rasa ketertarikan terhadap sesuatu mengenai keluarganya. Apapun itu yang berkaitan dengan seseorang selain kakeknya


"Sepertinya setiap mawar memang ada durinya..." Veskal bergumam lagi, mencoba mengalihkan perhatian kemudian


"Kalau begitu-"


"Kalau begitu tolong jelaskan kenapa kalian ada disini?"


...


...


...


Keduanya terdiam, mendengar suara yang familiar namun bukan berasal dari mereka bertiga itu


Sebuah suara yang sedikit cempreng namun tegas itu. Dan suara itu datang dari seseorang yang berdiri tepat di sisi mereka berdua tanpa sebuah tanda peringatan, sementara Natasha yang ikut itu terlihat merinding dan bungkam melihat kehadirannya yang mendadak


Lalu tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk ikut merinding dan terlihat pucat dengan keringat dingin yang mengucur


"V- Vainzel-!"


"Simpan basa-basinya dan jelaskan, bocah..."


Mereka juga sadar kalau ada seseorang yang tertangkap olehku, dan sekarang sedang diikat dan diseret di tanah dengan sulurku yang mengelilinginya


"Hai Verdea, Veskal, Natasha..."


"Berterima kasih lah kepada Ivor disini yang membuat kehadiran kalian jadi lebih jelas untukku"