Book Of Flowers

Book Of Flowers
Bertemu Dengan Rosalia (1)


--- Beberapa jam kemudian, kastil Rose ---


...


...


Akhirnya dia tiba di tempat itu bersama dengan Veskal, Luna, dan Ivor. Dan dikarenakan satu dan lain hal dengan Orion...


Aku harus menghadiri pertemuan dengan raja dan ratu mereka itu. Maksudku, mereka juga sudah mengirimkan surat yang memintaku untuk datang karena sebuah 'situasi genting'


Jadi, mereka bertiga sajalah yang pergi untuk menemani Verdea menemui Rosalia tanpa diriku mengikuti. Atau lebih tepatnya, Luna dan Veskal hanya ikut untuk memastikan keamanan Verdea. Mereka bahkan tidak antusias sama sekali untuk datang, seandainya Verdea tidak berniat untuk menemui Rosalia


Mereka bertiga berdiri di depan gerbang kastil itu, menelan ludah mereka karena gugup dan tidak semangat


"Sebaiknya kamu lakukan dengan cepat. Aku akan mencari Artorius selagi aku di dalam nanti" Luna berkata, dengan nada mengeluh


"Heh? Memangnya, kenapa kamu perlu mencari ayahku?" Verdea bertanya kepadanya


"Kamu lupa? Kita harus mengganti isi sumpah milik Vainzel bukan?"


Verdea pun ingat kembali dengan hal itu, selagi dia mengangguk-angguk pelan


Gerbang itu pun mulai terbuka, membuat mereka bertiga yang tidak siap itu terkejut dikarenakan gerbang yang terbuka tanpa seorangpun menyentuhnya itu


"Masuk. Aku sudah meminta Yael untuk meletakkan sihir pengintai disitu, jadi aku tahu kalau kamu ada disana, adikku"


Verdea mengenali suara yang seakan berasal dari dalam tembok gerbang itu. Dia mencoba menenangkan diri, selagi dia mengajak kedua temannya ikut masuk dan bersiaga seandainya ada sesuatu


"Tenang saja. Jika aku berniat membunuh kalian, aku akan melakukannya sejak tadi ketika kalian tidak sadar"


"Berhenti menakut-nakuti jika kita hanya ingin bicara kakak!"


Rosalia terdengar tertawa kecil mendengar respon Verdea, selagi ketiga tamu yang dia tunggu kedatangannya itu mulai memasuki area kastil


......................


--- Ruang resepsi, Kastil Rose ---


"Akhirnya kamu sudah tiba" Rosalia berkata, selagi menikmati aroma tehnya. "Baiklah, kalian berdua bisa meninggalkan dia dan biarkan saja Veskal disini bersama Verdea" Dia menambahkan


Pintu ruangan itu baru dibukakan untuk mereka, dan dengan segera Luna dan Ivor diusir oleh Rosalia tanpa diskusi lebih jauh


"Kenapa kami harus mengikuti permintaan musuh berbahaya sepertimu?" Ivor berkomentar


"Karena aku dengar kalian sedang ingin mencari ayahku Artorius. Jadi, silahkan pergi dan biarkan adik dan kakak ini bicara dalam privasi"


Luna dan Ivor tersentak, tetapi tidak bisa bicara apapun lagi untuk membalas argumen itu. Mereka sama sekali tidak ingin membuang waktu dan tenaga mereka


Karena itulah mereka pun segera beranjak pergi sebelum melangkahkan kaki sedikitpun ke dalam ruangan itu. Misi mereka selanjutnya adalah mencari Artorius, sementara Veskal harus tetap berada di dekat Verdea untuk mengawasi keadaan


Verdea pun masuk dengan langkah penuh rasa gugup ke dalam ruangan itu, selagi disambut oleh kakaknya untuk duduk di sofa seberang dengan sebuah cangkir teh yang masih hangat berada di hadapannya


"Tidak perlu sungkan. Duduk saja dan kita akan bicara tanpa ada yang mengganggu"


Rosalia memang bilang begitu, tetapi Verdea masih tetap ragu dan waspada


"Bagaimana aku bisa percaya kalau Yael tidak akan muncul dari balik bayangan dan mencoba membunuhku?" Verdea berkata


"Kamu tidak tahu? Dia sudah mengeluarkan kutukan iblis miliknya kepada seseorang, jadi kutukan itu juga sedang menyakiti tubuhnya sekarang ini" Rosalia membalas


Verdea tersentak mendengarkan hal itu


"Persis seperti yang Vainzel katakan..." Dia bergumam kemudian


"Begitulah. Dia hanyalah sebatas penyihir hitam tingkat dasar dalam kondisinya saat ini. Dia bahkan tidak bisa berpindah-pindah sembarangan sampai beberapa bulan lagi"


"Huh...?"


...


"Kenapa kamu memberitahukan hal ini kepadaku?" Verdea bertanya, masih memiliki keraguan di hatinya


Rosalia terhenti sebelum sempat meneguk tehnya, kemudian menghela napas dan meletakkan cangkirnya kembali


"Baik kamu tahu ataupun tidak mengenai hal ini, sama sekali tidak akan mengganggu kemajuan rencanaku. Lagipula, aku ingin kita bicara sedikit lebih normal karena pembicaraan ini akan sangat panjang" Dia menjawab kemudian


Verdea diam tertegun, menelaah wajah Rosalia dengan baik. Tetapi dia tidak bisa menemukan tanda-tanda adanya kebohongan dari perkataannya itu, membuat dia merasa sedikit lebih tenang sekarang ini


"Vainzel sedang pergi kemana?" Rosalia mulai bertanya kali ini


"Eh? Um- Dia sedang pergi mengurus sesuatu kali ini" Verdea menjawab singkat


"Sama sekali tidak menyembunyikan fakta kalau kamu masih tidak percaya kepadaku hm...?"


"Mau bagaimana lagi? Setiap kali aku terlibat denganmu, aku nyaris mati"


"Benar juga. Semuanya juga karena aku memang ingin sesuatu di tanganmu itu"


Verdea sekali lagi tersentak. "Sesuatu... Di tanganku...?"


Dia perlahan menengok kearah segel di tangan kanannya, yakin kalau itulah yang dimaksudkan oleh Rosalia kepadanya


'Jadi itu, kenapa dia bersikeras mencoba mengejarku sejak dulu...' Verdea bergumam dalam hati


"Sepertinya aku sudah mendapatkan beberapa pemikiran kenapa kamu mencoba membunuhku beberapa kali..." Verdea berkata kepada Rosalia


"Dan terbukti gagal di seluruh percobaan itu. Itu sebabnya aku akan menyerah untuk saat ini, apalagi mengingat kalau Yael sekarang ini sedang tidak bisa aktif" Rosalia membalasnya


Verdea menurunkan wajahnya sedikit. "Itu artinya kamu tahu apa kekuatan segel ini?" Dia bertanya dengan nada serius


"Tentu. Seekor gagak selalu mengincar sesuatu yang bersinar atau berkilau" Rosalia menjawab, dengan wajahnya yang ikut turun menatap Verdea langsung


...


...


Mereka berdua tidak berbicara lagi setelah itu hingga hening mengisi seluruh ruangan. Veskal yang berdiri di belakang Verdea sejak tadi pun bahkan ikut diam tanpa bergerak selangkah pun dari tempatnya


Adu mata antara kedua orang itu membuat suasana menjadi tegang selagi mereka mencoba memasuki pikiran satu sama lain. Kedua adik kakak yang menjadi musuh itu sekarang ini sedang ingin mencari tahu apa yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan yang lainnya


"... Aku sungguh tidak paham, kakak"


"... Apanya, adikku?"


"Kenapa... Kamu melakukan semua ini?"


Hening datang kembali selagi Verdea menunggu jawaban dari kakaknya itu, mencari tanda kalau dia berniat untuk berbohong atau tidak


"... Apa yang kulakukan saat ini...


Semuanya untuk manusia, adikku"


Verdea menggertak giginya karena kesal, kemudian menghantamkan tangan kirinya ke meja hingga bahkan cangkir teh di hadapannya menumpahkan sedikit isinya


Veskal kemudian mengeluarkan sapu tangannya seandainya Verdea butuh, kemudian mundur kembali dan diam memejamkan mata


"... Kamu berpikir aku berbohong hm?"


"Kamu tentu berbohong! Apanya yang untuk manusia, padahal hal yang kamu lakukan itu adalah melakukan genosida dan menghancurkan kehidupan!!" Verdea menyerukan dengan lantang


Rosalia diam tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab


Sementara, Verdea mencoba mengatur napasnya agar tidak termakan amarah. Kepalanya harus tetap dingin untuk beradu argumen dengan orang di hadapannya itu


"... Kamu hanya ingin menang dalam pertempuran ini Verdea, sementara aku mengincar sesuatu untuk mengakhiri semua pertempuran yang akan datang" Rosalia berkata


"Tidak ada apapun yang kamu katakan itu masuk akal kakak ke-2. Kamu pikir jika mereka mengetahui kebenaran dari peristiwa Blood Sabbath, seluruh umat manusia utamanya di Hortensia bisa hidup dengan tenang satu sama lain?" Verdea membalas tanpa ragu


"Itu sebabnya aku menyembunyikannya hingga waktu yang tepat tiba. Atau lebih tepatnya, hingga aku tiada" Rosalia membalas


"... Lalu meninggalkan semua tanggung jawab kepada seluruh Hortensia, begitu?" Verdea membalikkan meja sekali lagi kearah Rosalia


Dia pun menghela napasnya lagi karena lelah menangani Verdea yang seakan menantangnya itu


"Aku yakin kamu tidak mendengarkan ucapanku. Atau lebih tepatnya, tidak menerima hal itu..."


Seteguk teh itu pun masuk ke dalam tenggorokannya, sebelum dia menaruh kembali cangkirnya keatas meja dan kembali menunjukkan pose tenangnya itu


"Aku tidak mungkin bisa menerimanya. Apa yang kamu katakan itu sama sekali tidak masuk akal..."


...


Dia menatap kearah Verdea yang kepalanya mulai tertunduk, seakan ikut merasa iba kepada adiknya itu


Tidak lama, matanya tertuju kearah lain, yaitu kepada Veskal yang berdiri di belakang Verdea, selagi memejamkan mata dan hanya membuka telinga


Rosalia berhenti sejenak melakukan apapun itu yang sedang dia lakukan sekarang, selagi dia merasakan ada sesuatu yang ingin dia keluarkan dari dadanya. Sesuatu yang dia... Harus ucapkan


...


Verdea dan Veskal terkejut mendengar hal itu, hingga spontan menaruh tatapan mereka kearah Rosalia dalam waktu bersamaan


"... Dia pasti paham dengan apa yang sedang kulakukan sekarang, ketika aku berkata aku melakukannya demi seluruh umat manusia..." Rosalia meneruskan perkataannya


...


Mereka berdua tertegun. Tertegun melihat wajah Rosalia yang seakan berubah itu. Terlihat sama seperti sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang... Berubah


Verdea terutama menyadari hal itu. Tetapi...


Pikirannya teralih kearah apa yang dikatakan Rosalia mengenai ibunya itu. Sesuatu yang tidak ingin dia dengar, menganggap seakan Rosalia itu sangat paham dengan Marianne


"Diam"


Rosalia tersentak mendengar satu kalimat yang keluar dari Verdea itu, kembali mengangkat kepalanya


Begitu juga dengan Veskal yang mulai gugup karena wajah Verdea mulai berubah


"... Jika ibuku masih hidup sekarang ini, kakak...


Dia sama sekali tidak akan setuju denganmu. Tidak akan pernah...!"


...


...


Rosalia secara tidak langsung merasa tertantang, siap meladeni kembali Verdea


"Begitukah? Menurutmu kenapa?" Dia bertanya kepada Verdea


"... Karena aku tahu dengan pasti kalau aku ini mirip dengannya. Dan aku sama sekali tidak setuju dengan hal itu"


Verdea membalas Rosalia, menatapnya dingin seakan siap maju untuk menerkam. Hal itu membuat Rosalia sekali lagi tersentak, melihat tatapan kedua mata berwarna biru milik adiknya itu


Sebuah tatapan yang sangat kuat, seakan orang itu adalah seekor harimau yang sedang melindungi sesuatu milik diri mereka. Tatapan yang menusuk hingga ke tulang rusuk, hingga membuat semua orang yang menatapnya langsung goyah entah kenapa


Tatapan kedua mata yang sangat familiar untuknya. Sesuatu yang dia pernah lihat satu kali, dan membuat dirinya merasa jatuh cinta kepada seseorang untuk pertama kalinya. Sesuatu yang awalnya ditujukan untuk melindunginya, namun sekarang malah menusuk kearahnya...


"... Hentikan itu... Jangan tatap aku seperti itu..." Dia bergumam pelan


Dia berusaha menghentikan tubuhnya yang gemetar itu sebelum Verdea maupun Veskal menyadari hal itu, kemudian kembali menatap Verdea dengan tatapan tajam seakan tidak terintimidasi


"Apa? Katakan dengan jelas jika kamu masih ingin mencela nama ibuku" Verdea membalas, masih merasakan amarah yang ingin meluap


"Aku tidak mencelanya dengar?? Aku hanya bilang kalau dia akan paham dengan isi hatiku!" Rosalia membalas setengah berteriak


Amarahnya itu keluar, dicampur dengan rasa sedih, namun Verdea yang tidak bisa menangkap emosinya disaat itu justru terlihat kesal


Tangannya mengepal, namun dia tidak ingin memukul sesuatu lagi di tempat itu. Dia mencoba menahan dirinya sebisa mungkin, berharap Rosalia bisa paham kalau dia akan meledak sedikit lagi


"Hentikan pembicaraan ini sekarang juga. Ibuku tidak akan pernah setuju denganmu kakak, dan hal itu sudah final..."


"Kamu bicara seakan kamu tahu dia, padahal saat kamu belum bisa mengingat saja dia sudah-"


"KAKAK!!"


*BRAK!!*


...


...


...


Meja di hadapan mereka terbelah menjadi dua


Tidak seperti satu kali dia melakukannya tadi, Verdea kali ini memukul meja itu dengan tangan kanannya


Suara yang ditimbulkan hantaman itu bisa membuat seluruh isi lantai yang mereka tempati di dalam kastil Rose mampu mendengarkannya


"Verdea-!"


Veskal pun panik karena itu, mencoba melihat luka memar yang ada di tangan Verdea


Namun, walaupun Verdea sudah memukul meja itu seakan dia menggunakan kekuatan penuh, tangannya sama sekali tidak terluka parah. Memang ada memar, tetapi sama sekali tidak terlihat parah dan justru malah kemerahan


"Kamu gila? Jangan sakiti dirimu seperti itu lagi!" Veskal berkata kepadanya, sebelum meniupi tangan Verdea berkali-kali


"... Maaf" Verdea menjawab singkat


Dia pun terdiam, begitu juga dengan Rosalia. Tetapi tidak seperti yang dia duga, bukannya merasa terkejut akibat meja yang tiba-tiba terbelah dua itu, Rosalia justru menunduk dan terdiam seperti apa yang Verdea lakukan sekarang ini


Dia pun menarik tangannya dari genggaman Veskal dan memintanya untuk berhenti meniup karena terasa aneh, kemudian kembali fokus kepada Rosalia yang masih terdiam


"... Maaf jika aku kelewatan. Jadi, sebaiknya aku pergi saja daripada semakin merusak suasana melebihi ini. Lagipula, kita masih bisa bertemu besok lagi" Verdea berkata kepadanya


"Ya. Tapi..."


Rosalia memegangi kepalanya karena terasa pusing, sementara Verdea dan Veskal masih penasaran kelanjutan dari kata 'tapi' itu


"... Kamu belum mendapatkan informasi apapun dariku di hari ini. Aku sudah berjanji kepadamu untuk memberitahukannya ketika kita bertemu disini" Rosalia melanjutkan kemudian


Verdea dan Veskal pun merasa bingung, menatap satu sama lain sebelum kembali beralih kepada Rosalia


"Kenapa... Kamu bersikeras memberitahukan kami hal ini?" Veskal pun bertanya


...


...


"Aku tidak akan pernah menyimpang dari jalanku Veskal. Aku pernah memberitahukan hal ini kepadamu"


Veskal terdiam, mengingat perkataan yang persis dikatakan Rosalia sekarang ini kepadanya dulu


"Dan seharusnya... Aku yang minta maaf karena terbawa emosi. Sama sekali bukan diriku tidak menahan diri seperti ini...


Jadi sebaiknya kita lupakan dan kembali saja ke topik. Aku ingin segera menyelesaikan hari ini karena pekerjaanku sebenarnya juga masih banyak" Rosalia berkata


"Hah?? Lalu kenapa kamu mau meladeni kami coba?" Veskal dengan ketus membalas


"Mau bagaimana lagi? Kamu pikir Damien bisa menangani sesuatu tanpa bantuanku ataupun Celeste? Dunia akan terbalik jika terjadi hal seperti itu"


Veskal mengangguk setuju menanggapi Rosalia, namun segera menggelengkan kepalanya dan kembali berdiri di belakang Verdea. "Teruskan" Dia berkata, sementara Verdea jadi keheranan melihat tingkahnya itu


Dan sebelum dia bicara kembali, Rosalia perlahan tersenyum


"Aku sungguh minta maaf adikku. Aku sama sekali tidak bermaksud memprovokasi dirimu atau semacamnya. Marianne juga... Temanku, jadi aku tidak sengaja merasa tertantang dengan ucapanmu tadi, melupakan fakta kalau kamu itu anak kandungnya"


Penyesalan benar-benar terukir di wajahnya selagi dia menghela napas


Verdea menyadari hal itu, hingga matanya sedikit terbelalak. Sesuatu yang dia tidak sangka, tiba-tiba saja ditunjukkan oleh Rosalia disaat itu. Sebuah sesuatu yang sangat mengejutkan


"Rupanya... Ekspresimu itu gampang dibaca ya?"


"Hm? Apa maksudmu, adikku?"


"Maksudku, tingkahmu itu seperti Vainzel. Dia sama sekali tidak bisa berbohong, jadi wajahnya selalu terlihat aktif


Aku melihat hal yang sama di wajahmu"


Akibat perkataan Verdea itu, Veskal pun jadi ikut penasaran hingga memaku wajahnya kearah Rosalia yang diam tidak menjawab


...


...


...


"Hm hm~ Mungkin kamu hanya salah lihat"


Dan itulah dia. Wajah tenang Rosalia itu mulai kembali. Topengnya itu telah kembali


Verdea pun tidak mengharapkan lagi sebuah jawaban di dalam topik itu, dan membiarkan Rosalia mulai berbicara saja. Tetapi apa yang dia baru saja lihat itu akan selalu dia ingat


Karena... Itu pertama kalinya, kakaknya itu bersikap...


'Normal'


Dia akan simpan itu untuk lain waktu. Karena dia juga ingin memahami Rosalia. Tujuannya untuk datang ke kastil Rose memang untuk itu bukan?


"Hm... Mengenai tujuanku...


Aku akan bilang sekali lagi sebelum kita lebih jauh. Aku melakukan semua ini, hanya untuk seluruh umat manusia"