
--- Malam Harinya ---
"Verdea! Pergi ke ranjangmu, sekarang!"
"Memangnya aku harus mendengarkanmu?"
"Kamu punya pertemuan penting besok! Oberon tidak akan senang melihat kantung matamu jika kamu tidak tidur lebih awal!"
...
Verdea diam tanpa menjawab lagi, kembali sibuk menyeruput tehnya dan menikmati langit malam
Remina yang sudah sepenuhnya terabaikan itu pun pasrah, melirik kearah seorang petinggi Elf dan seorang kakek
"Tuan Frank, Nyonya Lyralia... Tolong aku...!"
Dia sudah pasrah mengurus anak yang tidak jauh lebih tua darinya namun keras kepala itu
Tetapi, Lyralia langsung membuang wajahnya karena tidak mau membuang tenaga
Sementara itu Frank terlihat ingin menolong, tapi tidak tahu harus apa...
...
"Nak" Frank memanggil Remina
"Ya, tuan Frank?"
"Pergilah ke kamarmu. Biarkan aku menghabiskan waktu dengan cucuku. Kujamin dia akan segera tidur"
Seketika Remina menghela napas lega mendengar perkataan Frank. Kemudian, dia kembali berpaling kearah Verdea dan berkata, "Jangan susahkan kakekmu! Ingat kalau beliau ini sudah tua!", Sebelum dia pergi keluar, mengajak Lyralia juga
Memastikan mereka berdua sudah pergi, Frank pun mengambil inisiatif untuk duduk di sebelah Verdea
Diatas teras itu, dia bisa melihat betapa indahnya langit malam di musim semi, bersama dengan cucunya itu
"... Festival bunga akan diadakan 3 hari lagi"
Verdea mengangguk perlahan, sebelum meletakkan cangkir tehnya
"... Itu hari kesukaan ibu" Dia berkata pelan, terus melihat kearah langit malam
Frank mengangkat kepalanya kaget, ketika mendengar Verdea
...
"Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Aku masih ingat hal itu seakan masih baru-baru ini terjadi..."
Ketika langit menunjukkan kegelapan, para bintang datang kesana untuk menyaksikan sebuah hari. Sebuah hari dimana seorang gadis lahir dan dibawa ke dunia ini
Teriakan yang penuh rasa sakit, seorang wanita yang meregang nyawa, seorang perawat yang kewalahan, dan seorang pria yang hanya bisa pasrah kepada takdir
Mereka ada di dekat satu sama lain, demi membawa sebuah kehidupan baru ke dunia ini
Lalu, sebuah suara nyaring bagai sebuah lonceng terdengar. Diatas sepasang tangan, seorang bayi mungil menangis sekeras yang dia bisa, ketika dia melihat cahaya untuk yang pertama kalinya
Kebahagiaan muncul di wajah sang pria, selagi dia memeluk anak itu seerat yang dia bisa
Tetapi matanya tertuju, kepada sang wanita yang terbaring lemas. Terbaring, layaknya sebuah batu yang berada di pinggir jalan
Dia nyaris tidak bergerak. Wajahnya sepenuhnya pucat, selagi dia meminta sang pria mendekat ke wajahnya, bersama dengan bayi mungil itu
Dia berusaha berbicara, tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya
Dan satu kata terakhir darinya adalah sesuatu yang memilukan...
'Maaf'
...
Istrinya yang menutup mata untuk terakhir kalinya, itu dinaungi oleh air mata kesedihan sang pria, dan anaknya yang baru lahir. Malam itu begitu dingin, namun sangat indah
Para bintang bersinar disana, seakan menyambut sang bayi mungil, namun menjemput sang wanita pergi...
Melihat ke langit keunguan itu, yang ditaburi oleh serbuk bintang yang berkilau, dia menangis
Ketika bunga mulai bermekaran, musim semi sudah tiba, rasa di hatinya masih tetap dingin dan membeku, atas kepergian seseorang yang dia cintai seumur hidupnya
Lalu, matanya tertuju kepada sebuah bunga di depan sebuah jendela. Sebuah bunga yang selalu disirami setiap hari, dan perlahan mulai bermekaran kembali
Pria itu pun mengangkat anaknya, dan berbisik ke telinga kecil itu
'Namamu adalah Marianne. Marianne Gold. Karena bunga ini adalah kesukaan ibuku, dan agar kamu selalu teringat padanya'
...
...
"Hanya sebuah bunga, namun hal itu bisa mengingatkanku padanya..."
Dia kemudian melihat kearah taman, menemukan sebuah kumpulan bunga Marigold yang tumbuh dengan sehat, berada di taman samping kastil ini
Sebuah kumpulan bunga yang sangat terlihat tidak serasi diantara para bunga Hortensia yang beragam warnanya
Dia perlahan bangun dari tempat duduknya, untuk melihat lebih dekat bunga itu dari atas teras
Sebuah kumpulan bunga yang indah, namun memiliki arti yang sangat mendalam
"Kamu tahu, apa arti dari bunga Marigold?" Frank bertanya pelan
"... Tidak" Verdea menjawab singkat
...
Waktu yang terbatas, dan cinta penuh kesedihan..."
Sebuah makna mendalam, dibalik sebuah nama yang indah. Sebuah makna yang gelap, dibalik warna yang cerah
Nama dari seorang wanita, yang hanya memiliki 'waktu terbatas' di dalam sebuah kandang emas dan hidup dalam cinta yang penuh dengan kesedihan
Marianne Gold, atau yang orang terdekatnya panggil, Marigold. Seorang wanita yang meninggalkan seorang pangeran, akibat kejamnya permainan takhta di negeri itu
"... Aku seharusnya tidak pernah memberinya nama yang mendekati bunga itu" Frank bergumam, dengan nada menyesal
Kepalanya perlahan tertunduk, selagi Verdea hanya bisa duduk di belakangnya dengan mata iba
...
Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya. Mungkin pernah
Tetapi dia tidak pernah bisa mengingatnya, walaupun dia sangat ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu
Pada akhirnya, itu hanya bisa menjadi impian. Karena ibunya hanya ada satu. Seseorang yang digambarkan sebagai penyandang dan hangat, namun pergi begitu cepat
"... Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menanam bunga itu setiap tahun, walaupun setelah kematiannya---"
...
Sebuah usaha... Yang sia-sia
Begitulah apa yang dirasakan Frank, dan Verdea tahu itu. Mengenang, hanya akan menyakiti...
"... Tetapi, melupakan itu jauh lebih sakit daripada mengingat" Verdea berucap
"... Kamu mungkin benar. Mungkin itu sebabnya--- Kakek selalu menanam bunga Marigold, setiap kali hari ulang tahunnya tiba-- Agar kakek tidak pernah lupa-- Dengannya" Frank membalas
Pria tua itu perlahan membalikkan badannya, menatap kearah cucunya yang tertunduk ke bawah
"Lalu kamu akan menjadi raja... Aku tahu itu harus, tetapi kapan dunia ini akan memberi keluargaku ketenangan--!!"
...
"... Mungkin tidak akan pernah. Tetapi, setidaknya kita masih beruntung bisa hidup untuk memberi kehangatan kepada banyak orang"
Lalu kehangatan itu akan menyebar seperti pada sebuah besi. Dengan begitu, setiap orang tidak akan melupakan gambaran seseorang, dilihat dari apa yang telah dia sebarkan ke dunia
Verdea masih percaya, manusia masih membutuhkan kehangatan bagi yang mencarinya. Karena...
Itu adalah alasan, kenapa dia bisa berteman dengan diriku dan Veskal. Di hari ketika dia mendapatkan kehangatan dari kedua orang teman yang selalu membantunya dimanapun dan kapanpun itu
Secara tidak langsung, kehangatan itu pun menyebar kepada yang lainnya
Luna, Ordelia, Ivor, Luxor, Lyralia, Zaphir, Remina, Cyth, Claudia, Fyon, Collin, seluruh orang di Black Hunt, dan nyaris semua peri yang dia ketahui. Kehangatan yang dia dapatkan, tersebar kepada semua orang hingga nantinya akan tersebar lebih jauh lagi
Apakah akan bisa melapisi seluruh dunia? Tidak
Tetapi, setidaknya banyak orang yang bisa diselamatkan dengan memberi kehangatan itu
Dan sekarang...
Dia duduk disana, mendapatkan sebuah kekuatan untuk melakukan hal itu
Dia percaya kalau dia bisa menyelamatkan banyak orang dengan menyebar kehangatan, dan itulah kenapa dia sangat bersyukur bisa terus hidup hingga sekarang
"... Sepertinya aku harus tidur. Malam masih panjang" Dia bergumam sendiri, meninggalkan tempat duduknya dan cangkir teh yang kosong
Frank menoleh ke belakang, melihati cucunya yang sudah mulai naik keatas ranjang untuk tidur
...
"Verdea"
"... Ya?"
"Kamu sungguh yakin semua orang pantas mendapatkan kehangatan?"
...
Verdea tersenyum mendengar pertanyaan itu
"Pertanyaannya bukanlah apakah pantas kepada semua. Tetapi, apakah sanggup kepada semua?"
Tangan kanannya mulai terlentang keatas, hingga matanya bisa melihat dengan jelas gambar milik segelnya itu
"Aku hanya percaya, kalau aku akan menyelamatkan banyak orang, yang mampu kucapai. Dan hanya itu"
Seandainya dia tidak bisa menggapai sisi dunia itu dengan kehangatannya...
Dia ingin setidaknya aku dan Veskal untuk menggapai sisi lainnya. Dan hanya itu
"Selamat malam, kakek. Semoga kamu bisa selalu sehat dan menyaksikan masa emas yang terbayarkan"
Frank menghela napasnya dikarenakan lelah menghadapi perkataan Verdea
"... Tapi, aku akan selalu melihat cucuku. Jangan tambah jumlah bunga Marigold yang harus kutanam"
Verdea hanya memejamkan matanya untuk menanggapi Frank
Dan untuk mengakhiri malam itu, dia pun terlelap di dalam sebuah mimpi yang selalu dia masuki akhir-akhir ini
'Regulus. Selamat datang kembali'
Verdea perlahan senyum di tidurnya, menanggapi suara yang berada di mimpinya itu