Book Of Flowers

Book Of Flowers
Dulu di Hutan Elf (2)


--- Tahun 115, Miralius ---


Sudah satu tahun sejak upacara pengangkatan diriku sebagai seorang Oberon


Tapi, yang baru dariku adalah tempat tinggal yang lebih besar, dan pekerjaan yang lebih banyak


Ayahku dan seorang petinggi bernama Cyrus sering membantuku mengurus pekerjaan-pekerjaan itu. Lebih tepatnya aku membuat mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu


Aku sering sekali menyelinap pergi dan bermain sendirian tanpa sepengetahuan mereka. Ketika aku ketahuan, mereka akan menghela napas lelah dan membawaku kembali. Namun, pada akhirnya, pekerjaan yang kukerjakan bisa dihitung oleh jari dibandingkan dengan mereka karena aku selalu mengoper hal itu kepada keduanya disaat sedang bekerja


"Kamu tidak masalah membiarkan Oberon tidak bekerja?" Tanya Cyrus pada ayahku


"Dia masih anak-anak juga. Aku yakin dia lebih memilih untuk main di umurnya yang sekarang"


"Tapi, kalau tidak dibiasakan, dia tidak akan pernah mau mengerjakan tanggung jawabnya ini bukan?"


...


Aku juga tidak mau menjadi Oberon kalau tidak terpaksa


'Kalau mereka bisa mengerjakan tugasku sebagai seorang Oberon, apa perlunya pengangkatanku?'


Aku selalu berpikir begitu


Merasa kesal dan dipaksa, aku tidak jarang menggerutu ketika mendengar pembicaraan seperti itu


Mereka memang tidak bermaksud jahat atau mencelaku, tapi seperti yang aku bilang tadi, aku tersinggung karena aku tidak ingin menjadi Oberon sejak awal


...


Aku sekali lagi kabur dari pekerjaanku. Dan ketika kusadari, aku berada di dekat Pohon Agung. Dan tidak lama, suara Alf menyambut diriku yang baru tiba


"Ah, Vainzel" Panggilnya


Aku mendekat dan duduk di salah satu akarnya yang besar itu—memasang wajah cemberut yang nyaris tidak terlihat dibalik jubah berkerudung yang kupakai untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang lain


"Masih kabur dari tugasmu, hm?" Tawa kecilnya terdengar setelah ucapannya itu


Dia menyindirku. Aku juga merasa malu dia mengetahui hal itu


"Aku tidak menyalahkanmu, anakku. Kamu memang masih kecil"


"... Lalu, kenapa Ayahanda memilih saya?"


Aku mengangkat kepalaku dan menatap batang Pohon Agung secara langsung


"Seperti yang aku bilang sebelumnya, ada ikatan antara aku dan jiwamu"


Itu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali


Dia selalu memberi jawaban itu setiap kali aku bertanya. Rasanya, dia seperti ingin menghindari pertanyaan itu saja...


*Sruk!*


Aku terkejut. Ada sebuah suara dari pergerakkan yang tidak kukenali terdengar di sekitar sini. Dan suara itu terdengar dekat


"Siapa itu?"


Menyadari suara itu adalah sesuatu yang bergerak di dalam semak, aku kaget dan bersiaga seketika


"Tenang saja anakku. Dia tidak berbahaya"


Bersamaan dengan perkataan Alf, seorang gadis Elf kecil keluar dari semak-semak dan berbalik pelan kearahku


Dia menurunkan pandangannya dari wajahku. Wajahnya yang kecil itu memerah karena malu telah ketahuan


Bajunya yang berwarna putih-hijau dengan topi berbentuk bunga lonceng di kepalanya membuat kesan serasi diantara pakaian dan wajahnya itu


"... M- maaf..." Katanya pelan


Dia kemudian berlari entah kemana, menghilang dari pandanganku


...


"Siapa?" Tanyaku


Alf tiba-tiba tertawa kecil dan membuatku heran. "Kalau kamu sangat ingin tahu, datang lagi kemari", dia berkata kemudian


Aku hanya diam tidak merespon. Tapi mau bagaimanapun, aku jadi penasaran...


--- Keesokan harinya ---


"Ayahanda? Saya sudah ti-"


Perkataanku putus ketika melihat gadis itu yang berada di dekat Pohon Agung—terkejut melihat kehadiranku


Wajahnya memerah lagi, sama seperti kemarin. Sementara aku hanya bingung melihat tingkahnya yang kuanggap tidak jelas itu


"A- a- aku pergi dulu...!"


Dia hendak pergi sekali lagi, tapi Pohon Agung menghadangnya sebelum dia sempat melangkah


"Ha- Pohon Agung?"


Dia terkejut dan panik ketika dihadang langsung oleh Alf. Aku pun menyadari kalau Alf ingin aku bicara dengan gadis itu, entah kenapa, terlihat dari gerakan akar pohonnya yang mencoba memberi isyarat


Aku pun mencoba memulai sebuah pembicaraan, mau tidak mau


"Halo..." Sapaku


Dia masih menurunkan tatapannya ketika menghadapiku. Gadis pemalu itu bahkan mulai menarik turun topi bunga loncengnya, hingga wajahnya tertutup


"Namamu?" Aku bertanya lagi


"..."


Aku sudah tidak tahu gadis ini pemalu atau memang tidak mau bicara denganku. Mungkin keduanya


"... Or- Ordelia..."


...


Aku tersentak. Nadanya yang pelan dan lembut itu membuatku tertegun sebentar. Tiba-tiba saja dia memperkenalkan namanya, dan aku tidak siap untuk menanggapi hal itu


Aku mulai lagi berusaha untuk meneruskan pembicaraan


"Kamu anak dari klan Elf bunga?"


Dia mengangguk pelan merespon pertanyaan itu. Suasananya canggung sekali...


"Kenapa datang kemari?"


"..."


Dia tidak menjawab. Walaupun aku paksa, dia pasti tidak akan menjawab. Aku juga jadi merasa lelah melanjutkan pembicaraan ini


"Suasana kalian canggung sekali..." Ledek Alf yang tiba-tiba mengikuti pembicaraan


"Ayahanda..."


"... K- kamu O- Oberon baru itu bukan...?


Aku menoleh kearahnya karena menyebutkan hal itu secara spesifik. Dan aku pun mengangguk terlebih dahulu


"Ya. Namaku Vainzel" Aku merespon


"... Nama yang bagus..." Gumamnya


...


Aku butuh bantuan. Aku tidak tahu sama sekali cara untuk berinteraksi dengan orang baru, terutama saat situasinya canggung


"Tapi, a- aku harus pergi. Senang berkenalan denganmu"


Dia langsung memberi salam pamit dan pergi secepat mungkin dari hadapanku. Lagi


...


Aku menghela napas lega, dan juga napas keluh secara sekaligus


"Kamu sudah tahu namanya sekarang" Alf mulai bersuara lagi


"Tapi, apa gunanya hal itu untuk saya?" Aku bertanya kepadanya, bingung


"Besok, datanglah lagi"


"Besok lagi!?"


Aku tidak mengerti sama sekali dengan tujuannya menyuruhku datang itu. Tapi setidaknya, aku punya alasan untuk menghindari pekerjaan berkat ini, jadi aku tidak protes terlalu banyak


................


--- Seminggu kemudian ---


Sudah satu Minggu berlalu. Gadis itu selalu berada di dekat Pohon Agung setiap kali aku datang


Kami bicara dengan satu sama lain setiap hari. Dan semakin ke depannya, percakapan kami semakin panjang dan lama


Hari itu dia ada disana lagi. Dia terlihat sedang duduk dan menungguku. Pandangannya beralih kesana kemari seperti sedang mencari seseorang


"Pagi" Sapaku


"Oh, Vainzel. Pagi"


Tapi, walaupun aku sudah menghampiri dan duduk di dekatnya, dia tetap melihat kearah sekeliling


"Kamu mencari sesuatu?"


Dia mengangguk


"Aku sedang bermain petak umpet dengan teman-temanku. Tapi, aku teringat kalau kamu mungkin menunggu"


Dia sedang fokus main petak umpet sambil bicara denganku disini?


Tapi, teman-teman...


Teman-teman...


Berarti lebih dari satu...


...


Aku langsung panik ketika menyadari, teman-temannya mungkin berada di sekitar tempat ini. Menjelaskan kenapa matanya terus menuju kesana kemari semenjak aku melihatnya


"Teman-temanmu berada di dekat sini?"


Dia mengangguk, sesuai dengan apa yang aku takuti


Aku takut kalau aku salah tingkah di hadapan teman-temannya, mencoba mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk berbagai kemungkinan


"Ah, ketemu!" Tiba-tiba dia berseru


Tepat saat Ordelia berkata begitu, Seorang Elf laki-laki seumuran kami muncul dengan terikat ke sebuah sulur pohon sambil meronta-ronta di udara. Aku terkejut dan takjub sekaligus, melihat tangkapan tidak terduga yang didapatkan oleh Ordelia itu


"Lepaskan! Ordelia! Kamu curang!"


Ordelia meletakkan anak itu perlahan di depan kami berdua, menunjukkan wajah penuh kemenangan selagi anak itu merintih kesal


Seketika, anak itu mengalihkan pandangannya kearahku yang duduk di samping Ordelia. Tapi, aku menutup kepalaku dengan topi yang biasa dipakai Ordelia. Aku yang justru menjadi pemalu disaat itu


"Ah, anak itu..."


Dia bangun dan membersihkan bajunya yang ditempeli debu. Ketika aku memperhatikannya dengan teliti, alis anak itu selalu mengkerut dengan wajah yang memiliki kesan terlihat kesal. Semua pakaiannya serba merah, mengikuti warna rambut dan matanya


"Eh? Tapi, dia-"


"Sudahlah, ayo!"


Dia meraih tangan Ordelia dan menyeretnya pergi dari sampingku


...


Aku bertanya-tanya kenapa.


...


'Hmph... Sekarang jadi sepi...'


Aku tidak menduga aku akan mengatakan hal itu. Tapi, aku jadi bingung harus apa setelah Ordelia pergi dibawa anak itu


........................


Ordelia tidak pernah datang lagi sejak hari itu. Entah dia ditegur dengan tegasnya atau memang dia yang sudah tidak mau datang, aku tidak tahu sama sekali


Karena hal itu, aku jadi lebih sering duduk diam dan bicara dengan Alf sesekali saja ketika berada disini. Namun karena bosan, aku turun dari akar Pohon Agung dan berjalan mengelilinginya


Kepalaku menyembul melihat kesana kemari dari balik akar Pohon Agung, mengamati setiap incinya dengan seksama


Kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang. Semuanya kuperiksa untuk mencari keberadaan Ordelia, walaupun aku tahu dia tidak ada disana


"Anak itu tidak pernah datang kemari lagi" Alf berkata


Aku berhenti melihat kesana kemari dan langsung cemberut. Alf baru saja merusak kesibukanku yang kulakukan untuk mengalihkan perhatian


"Lalu, Ayahanda tahu dia sedang dimana?" Aku pun bertanya


"Mereka ada di dekat ujung hutan sekarang ini. Tepatnya di perbatasan"


Perbatasan? Perbatasan hutan gelap? Itu bukannya tempat para Dark Elf?


Hutan gelap adalah tempat para Dark Elf atau beberapa jenis elf 'bermasalah' lainnya tinggal. Dan karena tempat itu gelap, beberapa peri bulan tinggal disana


Dark Elf sendiri tinggal disana karena mereka selalu membutuhkan Mana secara konstan karena kutukan mereka


Dan yang hebatnya, walaupun Mana itu beracun, mereka tetap bisa menampungnya seperti tidak terjadi apa-apa


Penduduk di tempat itu memang tidak berbahaya untuk mereka, tapi tempatnya lah yang menjadi masalah


Tempat itu memiliki aliran mana yang berbahaya di areanya. Hal ini diakibatkan oleh bangkai naga terkutuk yang mati di daerah itu mencemari tanah dan udara


Saat naga itu datang untuk menyerang Miralius, Alf membunuhnya. Naga itu jatuh ke daerah Hutan Gelap dan mati hingga menjadi bangkai disana


Dan karena bangkainya mulai mencemari daerah Miralius, Alf membuat tempat itu ditumbuhi banyak pohon yang sangat besar dan lebat untuk mengurangi efek racun yang menyebar—justru menghentikan penyebarannya


Hal itu mengakibatkan hampir tidak adanya cahaya matahari yang masuk ke tempat itu, terselubung di dalam satu area tertutup


Jika ada makhluk hidup yang tidak memiliki ketahanan terhadap racun, makhluk itu akan melihat ilusi dan kehilangan napasnya perlahan-lahan hingga tewas. Selain itu, sebagian besar bentuk area tempat itu adalah jurang dan kolam beracun. Tidak perlu dijelaskan lagi bahaya apa yang bisa diakibatkan oleh dua hal itu


Yang lebih parah dari tempat itu adalah Alf tidak bisa menggunakan Pohon Agung untuk memeriksanya. Jika mereka masuk kesana dan menghilang, tidak ada siapapun yang bisa tahu apa yang terjadi kepada mereka


"Bukannya tempat itu berbahaya?"


"Bisa dibilang begitu. Hanya saja, kalau mereka cukup kuat, mereka bisa pergi"


"Tapi-"


"Ya. Mereka tetap anak-anakku. Tidak boleh ada satupun dari mereka yang mati mengenaskan"


Perkataannya membuatku teguh untuk memeriksa keadaan mereka


"Kamu harus hati-hati anakku. Tolong awasi mereka"


Dengan persetujuannya, aku berlari menuju ke perbatasan itu untuk menyusul mereka. Aku juga kebetulan penasaran untuk melihat Hutan Gelap secara langsung


................


"Luna dimana ya...?"


"Aku tidak tahu. Dia mungkin lupa"


"Luna jahat sekali jika begitu... Padahal dia sudah berjanji"


"..."


Aku mengintip dari balik sebuah semak dan melihat ada 4 anak elf dari klan yang berbeda-beda berkumpul di dekat perbatasan antara Hutan Gelap dan hutan biasa


Salah satu dari mereka adalah Ordelia dan anak berkulit merah itu


Perbatasan dan Hutan Gelap...


Tanah di tempat ini terlihat sekali perbedaannya. Sisi milik daerah Hutan Gelap memiliki tanah yang kehitaman dibandingkan area biasa Miralius


Aku bahkan mulai berpikir untuk tidak menginjakkan kaki di tanah itu sedikitpun ketika melihatnya sekarang. Tidak ada tanda kehidupan seperti tumbuhan hijau kecil disana, dan aku tidak nyaman memasuki area seperti itu


Mengesampingkan hal itu, fokusku kembali terarah kepada 4 anak yang masih berada dalam pengawasanku


"Mereka sedang apa...?" Aku bergumam pelan


"Ah, itu dia!" Salah satu dari mereka berseru


Aku terkejut mendengar seruan itu, menyangka kalau aku telah ketahuan. Tetapi, bukannya menunjuk kearahku, mereka justru menunjuk kearah sebuah sosok


Sosok itu datang dari sisi Hutan Gelap di perbatasan. Dan, ketika dia sudah mendekat, terlihatlah sosok itu sebagai seorang anak Elf perempuan


Kulitnya keunguan dengan rambut putih dan bola mata ungu permata yang mencolok. Dia berdiri dengan sangat kaku layaknya seorang prajurit, menghadap teman-temannya yang mulai berkumpul dan mendekat


Dan mengingat kalau mereka menunggu anak bernama Luna tadi, maka aku bisa mengetahui langsung nama anak Elf itu


"Kamu telat!" Seru anak berkulit merah itu


"Itu karena latihannya sudah dimulai, Ivor" Anak itu, Luna, merespon


"Terserah. Berikan batu Mana itu sekarang"


Luna memberikan sebuah kalung dengan batu kebiruan sebagai permatanya. Masing-masing temannya menerima kalung itu dan langsung mengenakannya—tidak sabaran akan sesuatu yang dinanti


Kecuali...


"Kenapa, Ordelia?" Tanya Luna


Ordelia terlihat ragu untuk masuk ke dalam Hutan Gelap. Reaksi yang cukup bisa dimengerti


"... Aku tidak mau pergi. Aku takut"


"Hah? Lalu kenapa kamu mengikuti kami?" Anak berambut kuning diantara mereka itu mulai angkat bicara. "Kami sudah bilang kalau tidak mau ya tidak usah, bukan?" Lanjutnya


"... Aku ingin bermain dengan kalian..."


"Tapi Ordelia, kami ingin bermain di Hutan Gelap" Anak gadis berambut biru menyela diantara mereka


Mereka semua berdiri diam disana dan menunggu keputusan Ordelia. Seakan mereka sedang memelas dan menekan Ordelia agar tetap ikut dengan apa yang ingin mereka lakukan


Ragu-ragu, Ordelia akhirnya memasang kalung itu di lehernya. Mereka semua spontan senang—senyum tersirat di wajah, dan langsung melangkah masuk ke dalam daerah Hutan Gelap dengan Luna yang menggandeng tangan Ordelia agar dia tidak ketakutan


...


Aku tidak tahu apa aku harus mengikuti mereka. Aku sendiri tidak pernah masuk ke dalam sana. Hanya ayahku yang menceritakan semua hal tentang daerah itu di dalam sebuah kunjungannya menggantikan diriku dalam sebuah pertemuan


Jika aku masuk ke sana, aku mungkin akan mati perlahan... Tapi...


"Hey, Vainzel!"


Suara itu membuatku kaget. Belum lagi, suara itu berasal dari sampingku


Suara Alf datang dari sebuah akar pohon. Ia memegangi bola biru kecil bercahaya dan berada tepat di sampingku. Sebuah bola biru yang persis seperti batu permata yang ada di kalung anak-anak itu


"Ambil ini anakku" Dia berkata


Bola itu dia letakkan di tanah. Perlahan kuraih apa yang diberikan dan mengambilnya, yang ternyata benda itu tidak lebih besar dari sebuah batu kerikil. Mungkin lebih kecil daripada permata kalung itu, tapi ini sendiri sudah cukup untuk membantuku bertahan di lingkungan Hutan Gelap


"Selalu letakkan di kantung bajumu dan jangan hilangkan" Alf memperingatkan


Akar itu masuk kembali ke tanah setelah dia selesai bicara, meninggalkanku sendirian untuk memikirkan cara masuk dan keluar


Mengikuti perkataan Alf, aku mengantongi bola kecil itu dan langsung bergegas masuk ke daerah Hutan Gelap, mengikuti kelima anak Elf itu


...


Aku terus membuntuti mereka dari kejauhan. Dengan cahaya dari kalung mereka, aku bisa mengetahui posisi mereka di dalam kegelapan daerah ini


Mereka terus berbincang tentang berbagai hal saat dalam perjalanan. Salah satu hal yang kudengarkan adalah mereka membahas tentang adanya latihan di daerah ini


Latihan? Jadi, ada Elf yang latihan di tempat seperti ini?


Suara mereka terus terdengar dari posisiku sekarang ini. Sementara itu, aku sibuk menghindari kolam-kolam beracun, pohon-pohon raksasa yang mengisi tempat ini layaknya pilar, dan lubang di tanah, sambil terus mengikuti mereka berlima secara diam-diam


Tempat ini sesuai sekali dengan apa yang diceritakan oleh ayahku... Menyeramkan...


"Haah!? Harus menyeberang satu persatu!?"


Seruan keras itu spontan membuatku kaget dan segera mencari tempat bersembunyi. Tapi rupanya, itu hanyalah suara dari salah satu anak-anak itu


Dia berseru dengan kerasnya, tapi itu entah bagaimana membuatku kaget


Aku berusaha mendekat kearah mereka dan bersembunyi di balik sebuah batu besar untuk menguping lebih jauh


"Kenapa harus begitu!?" Anak bernama Ivor itu berkata


Aku bertanya-tanya mengapa mereka bertanya-tanya. Tapi jawabannya langsung terlihat ketika aku melihat lebih ke depan, sebuah area tepat di hadapan mereka berlima


Saat kulihat baik-baik, ada sebuah jembatan disana—sebuah tempat yang harus mereka lintasi. Jembatan di depan mereka itu terlihat tua dan bisa mudah patah. Dan melihat bentuk tebing curam di dekatku, aku bisa mengetahui kalau jembatan itu berada di atas jurang yang mungkin sangat dalam atau memiliki sesuatu yang mematikan di dasarnya


Area itu sendiri membuatku merinding. Bagaimana bisa seseorang tidak takut melihat tempat itu dan berpikir untuk terus lanjut?


Parahnya, kabut menutupi pandangan di jembatan itu dan membuatku tidak bisa melihat seberapa jauh sisi di seberang jembatan ini. Aku yang masih kecil tentu merasa takut dan berniat untuk pulang, namun tidak bisa karena aku masih harus mengawasi kelima anak itu


"Kalau kamu mau, kita ambil jalan memutar saja, bagaimana?" Luna bertanya balik kepada anak bernama Ivor itu


"... Cih!"


Ivor sudah memberi jawabannya. Dia menolak untuk mengambil jalan berputar yang memakan waktu terlalu lama. Dia langsung mundur dan takluk dengan perkataan Luna


"Baiklah. Luxor, kamu duluan" Ivor kemudian menunjuk


Tapi tidak ada yang menolak. Anak berambut kuning itu menelan ludah mengetahui tidak ada yang membantah, dan mulai maju perlahan-lahan untuk menyeberangi jembatan itu


Aku panik, berpikir kalau dia bisa saja jatuh kapan saja. Jembatan rapuh itu terlihat tidak akan bisa menahan apapun yang ada diatasnya


Aku panik. Dan mengingat kalau aku harus mengikuti mereka nantinya membuatku semakin panik. Mungkin disaat giliranku harus menyeberang, jembatan itu sudah dipastikan akan putus hingga aku terjatuh ke dasar jurang


Tapi anak bernama Luxor itu terus maju perlahan diatas jembatan yang harus dilalui, sambil memegangi talinya dengan hati-hati


"Ingat! Jangan pakai sihirmu!" Luna memperingatkan


"P- Paham! Jangan ganggu konsentrasiku dulu!" Dia membalas, terdengar seperti sedang ketakutan


Luxor terus berjalan pelan diatas jembatan itu. Dan setelah beberapa saat, sosoknya ditelan kabut yang menutup seluruh area dan menghilang dari pandangan kami


Aku gugup menyaksikan hal itu. Terlihat juga wajah teman-temannya terlihat gugup sepertiku. Tapi, jembatan itu masih bergoyang pelan, menandakan kalau Luxor masih berada diatas sana


Sampai...


Sebuah suara keras seakan sebuah kayu patah bisa terdengar, membuat nyawa semua orang yang mendengarnya melayang keluar untuk sesaat


"AH!!! LUNA!!!" Suara teriakan panik itu pun mengikuti setelahnya