
'Aku tidak akan apa-apa, ayah. Artorius adalah orang yang baik'
'Dia bahkan tidak bisa menyakiti lalat jika tidak terpaksa. Dia juga bilang kalau aku akan dijaga dengan baik bukan?'
'Jadi tidak perlu khawatir. Jika ada hari aku akan kembali melihatmu disini, aku sudah menjadi istri sah nya dan menjadi orang yang penting!'
'Aku bahkan yakin, kamu pasti ingin melihat seorang cucu yang imut dari anak kesayanganmu ini!'
...
Matanya terbuka. Entah kenapa harus terbuka
Itu pertama kalinya setelah beberapa lama dia bisa mendengarkan suara anaknya lagi. Suara yang lembut namun periang. Penuh energi namun menenangkan
Entah kenapa dia harus bangun dari suara dalam mimpi itu. Sebuah mimpi yang tidak pernah dia alami lagi setelah bertahun-tahun menolak kematian anaknya yang sudah tenang di alam lain
Kepalanya terasa berat
Kakinya tidak bisa bergerak
Seluruh tubuhnya mati rasa. Tidak satupun bisa dia gerakkan satu inci dari tempatnya berbaring tanpa merasakan sakit berlebih
Satu hal yang bisa dia gerakkan disaat itu hanyalah bola matanya, bahkan dalam gerakkan yang terbatas
Namun dia berusaha untuk melihat sekeliling semampunya. Mulai dari atap, seluruh perabotan kamarnya, sisi tempat tidurnya, dan lain lagi
Hingga dia mendengar sebuah suara pintu terbuka, dimana dia perlahan mulai menatap kearah itu
Arah dimana seorang cucu berambut hitam yang mirip persis seperti miliknya itu muncul, baru saja datang untuk menjenguk dengan wajah yang cukup terkejut karena melihat dirinya yang sudah bangun
"Akhirnya kamu bangun..." Verdea bergumam, perlahan mulai mendekat kearah kakeknya dan duduk di samping ranjangnya
"... Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
Pertanyaan itu selalu muncul mendahului setiap kali dia terbangun dari kondisi ini. Namun kali ini, dia memiliki seseorang yang bisa dia tanyai di sisinya
"Beberapa jam lamanya. Sekarang sudah tengah malam, dan aku sebenarnya hanya ingin menjenguk sebentar sebelum kembali ke kamar" Verdea menjawabnya, menunjukkan sebuah buku yang dia bawa keluar dari dalam ruang perpustakaan
"..."
Dia tidak tahu harus bicara apa lagi
Dalam hatinya dia sadar, kalau Verdea sudah pasti sepenuhnya tahu akan penyakit yang dia derita selama beberapa tahun itu
Sesuatu yang tidak pernah dia beritahu kepada cucunya agar menghindari kekhawatiran tidak diperlukan
"... Aku harap besok rencanamu selalu lancar seperti biasa, cucuku" Frank berkata, setengah berharap sebaiknya Verdea beristirahat segera
Tetapi Verdea justru tertegun, akibat satu hal yang mengganggu
"... Lalu siapa yang akan menemanimu? Semua orang sudah tidur" Dia pun mengutarakan
"Aku belum"
Suara dari belakangnya itu sedikit mengejutkan Verdea, hingga dia spontan menoleh
Tapi dia segera merasa lega ketika menyadari orang yang bersandar di sisi pintu dan mengawasinya itu adalah diriku
"Ada cara normal kamu bisa muncul tanpa membuat kaget kah?" Verdea bertanya, sedikit menggerutu
"Mungkin jika kamu memperhatikan sekitar lebih baik, kamu tidak perlu tanda dariku. Aku bahkan tidak menyembunyikan keberadaanku sama sekali" Aku justru membalas
"Itu hanya caramu untuk mengatakan aku payah..."
"Benar sekali. Dan kamu masih ingat kalau kamu ingin menjadi ahli dalam bertarung?"
Verdea mengeratkan giginya dan membuat senyum kesal karena perkataanku, selagi aku hanya tersenyum kecil dan mengelus kepalanya
Perhatianku pun beralih kearah Frank, sehingga secara tidak langsung membuat Verdea mengikuti
"Bersyukurlah kamu selamat hari ini. Sungguh, jika kamu tidak segera paham akan penyakitmu, kondisimu sekarang ini mungkin lebih parah" Aku berkata kepadanya
Walaupun aku juga memang benci fakta kalau Yael dan Rosalia lah yang membantu menyelamatkan Frank...
"Hah. Aku lebih baik mati daripada harus berterima kasih kepada salah satu dari anggota keluarga itu..." Frank justru membalas kemudian, memalingkan tatapannya kearah lain
"Cucumu tetap anggota dari keluarga itu, Frank. Dan juga, aku benci caramu menyembunyikan mengenai penyakitmu ini dari kami semua. Kamu bahkan memanfaatkan Ivor untuk membantumu tanpa sepengetahuan dirinya"
Frank pun menghela napasnya. Ekspresinya itu benar-benar menunjukkan kalau dia ingin kami berdua keluar agar topik ini tidak terus berlanjut
"Sepertinya aku akan mulai diawasi seharian penuh mulai sekarang..."
Setidaknya dia sudah paham
"Kakek..."
Verdea yang mendadak bersuara dengan nada khawatir itu perlahan membuatku mundur selangkah agar dia bisa menjadi pusat perhatian kakeknya
"Pergilah cucuku. Kamu masih punya banyak pekerjaan untuk besok" Frank langsung menolak untuk berbicara dengan Verdea
"Lalu membiarkanmu yang masih lemas sendirian seperti ini?" Verdea balik bertanya
"Tanganku sudah bisa bergerak. Ini hanya efek baru bangun saja. Jika aku bisa istirahat selama beberapa menit-"
"..."
Dia tidak bisa bergerak bukan...?
Kakinya sepenuhnya lumpuh untuk beberapa waktu ini akibat tekanan darah itu. Tidak perlu penjelasan lebih jauh dariku agar dia paham kalau dia tidak boleh bergerak sedikitpun keluar dari ranjang ini dalam jangka waktu tertentu
"Kabar baiknya, kamu bisa bergerak nanti. Tapi jangan berharap terlalu banyak untuk saat ini"
Yael bilang kalau dia bisa sembuh, tapi berapa lama?
"Aku sebenarnya penasaran, apa yang kakek gunakan untuk merawat penyakitnya?" Verdea bertanya kepadaku
Yah, aku berharap kalau apa yang dia gunakan itu sangat langka atau semacamnya untuk membuat obat...
Tapi sesungguhnya, dia cukup pintar dengan menggunakan satu makanan secara rutin untuk merawat kondisi tubuhnya
"Mentimun" Aku pun menjawabnya
"Me- Mentimun...?"
"Benar begitu bukan, Frank?"
Frank hanya mengangguk lesu meresponku
"... Wajar saja dua orang itu tidak pernah curiga..." Verdea berkomentar, sepenuhnya terkejut
Benar bukan? Apalagi ketika kamu memahami Ivor itu tidak terlalu berpengetahuan luas dan Lyralia tidak terlalu peduli kepada apapun yang tidak terlalu mencurigakan
Hah... Frank juga kebetulan meminta mentimun dalam jumlah yang sedikit
"Sepertinya menu kita ke depannya akan diisi oleh mentimun untuk beberapa hari ke depan. Tidak masalah bukan, Veri?"
Verdea hanya diam tidak menjawab. Sebagai orang yang tidak terlalu suka sayuran, dia tentu ingin protes
"Setidaknya lebih baik dari makan kentang bukan?"
Anak ini benar-benar benci semua macam sayuran. Jika aku tidak memaksanya, pola makan anak ini akan menjadi sangat berantakan karena diisi oleh daging secara keseluruhan
Verdea pun akhirnya mengangguk walaupun terlihat tidak setuju
"Tapi boleh kalau kakek mengambil setengahnya bukan...?" Dia mencoba bernegosiasi
"Boleh, boleh. Tapi kamu juga harus makan agar bisa tetap sehat"
Dan bicara soal sehat...
Anak ini sudah terlihat sangat lelah. Lebih baik dia pergi tidur saja untuk sekarang
"Bagaimana kalau kamu pergi tidur saja? Aku akan menjaga Frank disini sebelum pergi ke kamarku"
Tapi aku sudah menebak satu jawaban darinya
"Tidak. Aku masih ingin bersama dengan kakek"
Nak. Kamu sudah sangat lelah. Bahkan cahaya di matamu terlihat redup seakan kamu sedang mabuk
Aku yakin dalam beberapa menit anak ini akan tertidur di lantai jika tidak segera masuk ke kamarnya dan tidur
"Frank akan baik-baik saja di bawah pengawasanku. Toh, lebih baik jika kamu bisa berbincang dengannya ketika dia sudah berniat bukan?"
Aku yakin Frank juga akan lebih senang jika dia tidur terlebih dahulu walaupun tetap tidak ingin bicara nantinya
Lagipula...
Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Frank
"... Sebaiknya kamu turuti perkataan kakek" Verdea berkata, sebelum keluar dengan wajah cemberut
Dia menutup pintu di belakang kami, hingga memberi tanda untukku kalau aku dan Frank sudah aman untuk berbicara empat mata
...
"Aku yakin kamu sudah tahu kalau ini akan serius bukan?" Aku membuka pembicaraan kepadanya
"Apa ini mengenai penyakitku?"
Sepertinya dia paham, walaupun pemikirannya meleset
"Tidak. Ini sesuatu yang berada di luar pemikiran yang lainnya untuk saat ini"
Dan lebih tepatnya...
"Aku punya permintaan untukmu, Frank"
Frank mengangguk kecil, tanpa ragu sedikitpun. Apapun yang akan aku minta darinya, dia akan mencoba menyiapkan diri sebaik mungkin
Itu memberiku keyakinan kalau dia bisa melakukan permintaan ini
"Aku ingin kamu menjadi orang pengganti diatas kursi Count milik Verdea selagi kami menyelidiki pulau barat Goeitias"
Mata Frank terbelalak mendengarkan perkataanku, berubah menjadi gusar tidak lama kemudian
"Kamu ingin aku berada diantara para bangsawan munafik itu?"
"Tepat sekali. Verdea hanya ada satu orang, dan dia memutuskan akan pergi bersama kami. Jadi kami juga perlu orang dalam untuk bisa mengawasi gerak-gerik bangsawan di dalam Hortensia"
Tidak ada dari para bangsawan Hortensia yang bisa kami percayai atau manfaatkan. Kami hanya bisa menggunakan apa yang kami miliki saat ini, bukan apa yang bisa kami dapatkan namun tidak terjamin
Mereka semua seluruhnya dan sepenuhnya berada di kubu keluarga kerajaan. Tidak satupun dari mereka memiliki keraguan ataupun keinginan untuk melawan keluarga Hortensia yang duduk diatas takhta disaat ini
Dalam artian, mereka adalah sekutu Rosalia. Akan lebih parah lagi jika mereka paham akan rencana Rosalia, dan bersedia masuk membantu sisinya di dalam permainan ini
"Jadi aku butuh seseorang yang setidaknya bisa mengawasi saja. Verdea juga akan sangat senang jika kamulah orang yang membantunya, Frank"
"Hah...! Kamu menggunakan cucuku sebagai alasan rupanya"
Aku hanya tersenyum mendengar sindiran Frank. Lagipula, dia memang ada benarnya
Orang yang lebih mudah kami dekati adalah orang terbaik untuk membantu kami
"Itu tergantung kepadamu"
Jawabanku hanya itu. Memang harus dia secara pribadi yang memutuskan bagaimana dia akan mengawasi para bangsawan disini
"... Kalau begitu itu sudah cukup. Aku akan mencoba sebaik yang kubisa"
Bagus. Tawaran diterima
Kumainkan tanganku di udara seakan sedang melakukan sulap, yang kemudian memunculkan sebuah benih kecil yang bisa dilihat oleh Frank
"Kami akan menanti laporan darimu. Setidaknya lakukan beberapa hari berselang atau semacamnya"
"Naikkan jadi setiap hari. Aku sama sekali tidak masalah melakukan hal ini"
"Sungguh? Lebih baik jika begitu"
Dan karena dia akan mengisi kursi seorang Count pengganti, dia bisa mulai dengan mengawasi beberapa daerah tetangganya. Termasuk...
Duke William Lantana. Duke yang sah dalam memerintah bagian negara Hortensia, meliputi County yang akan diperintah oleh Verdea dan Frank
Semua Duke yang ada di Hortensia adalah fondasi utama kerajaan ini. Jika kami bisa setidaknya menggoyahkan salah satu dari mereka dari informasi yang bisa kami dapatkan, kami bisa menyelesaikan seluruh keluarga Hortensia sekaligus, terkecuali Verdea
Dengan begitu jalan menuju takhta akan menjadi lebih ringan, dan Rosalia bisa kami habisi dengan bantuan seluruh Hortensia secara keseluruhan
Dan yang terbaik dari itu, kami tidak perlu melakukan kekerasan macam apapun itu untuk menggoyahkan mereka. Cukup meladeni apa yang mereka paling inginkan dari seseorang, memberikan hal itu kepada mereka, dan kami akan mendapatkan sekutu baru
Lalu secara personal, aku ingin William Lantana untuk kehilangan jabatannya sebagai Duke. Dia adalah orang yang tidak akan setia kepada seseorang, baik mereka itu baik ataupun jahat
Karena seperti yang kubilang sebelumnya. William Lantana tidak takut kepada siapapun, bahkan kepada Rosalia dan Damien. Dia orang yang terlalu berbahaya untuk kami bawa ke sisi kami
"Kamu juga paham apa yang harus kamu lakukan kepada Duke yang memerintah diatas daerahmu bukan?"
Frank mencoba mengingat kembali, sebelum akhirnya memasang sebuah wajah terkejut
Senyuman pun mengikuti setelah itu. Seakan dia adalah sebuah harimau yang ingin membalas perbuatan seorang pemburu kepadanya
"Tapi ini bukan hanya untuk dendam semata. Aku memang tidak suka orang itu sejak awal dia muncul, jadi aku akan bersedia menyingkirkannya untuk kita semua"
Untuk orang yang pernah bersekutu saat perang saudara Hortensia, dia sepertinya tidak pernah suka dengan William Lantana
Dan ya. William Lantana adalah salah satu orang yang mendukung Artorius untuk naik takhta. Tetapi dia sendiri bisa dibilang mencoba mengontrol, berdasarkan gosip para bangsawan
Orang yang bersikap seakan dia adalah seorang penguasa diatas seorang raja dan segalanya...
Orang seperti itu sangatlah berbahaya...
"Aku sungguh berharap kamu mampu mengatasi masalah dari Hortensia untuk kita semua"
Diskusi selesai. Frank juga tidak memiliki tanda kalau dia akan menolak
"Dan satu hal lagi"
Perlahan aku berbalik kearah pintu masuk ruangan yang tertutup dari luar itu. Seharusnya memang tidak ada yang aneh, tetapi...
"Jika kamu masih mendengarkan, simpan hal ini dari Veri dan biarkan Frank memberitahukan padanya secara pribadi
Paham, Veskal?"
Aku tidak melihatnya, tapi aku tahu betul Veskal membalasku dengan sebuah senyum, sebelum derapan kakinya bisa terdengar pergi perlahan, menjauh dari ruangan ini
...
Anak itu sudah mulai senang menguping rupanya...
"Setidaknya dia tidak akan bicara" Aku meyakinkan Frank
Yah, ini juga memang harus diutarakan oleh Frank secara langsung. Dia lah orang yang sudah menyetujui rencanaku ini
"Lalu, ketika kamu memberitahukannya kepada Verdea, tidak usah ragu memberitahukan kalau orang yang menyarankan hal ini kepadamu adalah aku"
...
Frank pun mengangguk paham, sebelum aku mengikuti untuk satu kali anggukan
"Sekarang kamu bisa pergi. Aku sungguh butuh istirahat untuk pikiranku ini..." Dia berkata, menjepit dahinya karena terasa pusing
Aku pun pamit dari hadapannya, sebelum pergi keluar untuk mengakhiri malam ini
......................
"Veskal"
...
"Aku tahu kamu diatas atap. Jangan buat aku naik keatas sana"
"Baiklah, baiklah. Aku juga tidak ingin ada orang yang mengganggu selagi aku rebahan"
Dia berusaha menyembunyikan keberadaannya selagi beristirahat...?
Itu perbuatan paling bertolak belakang yang pernah aku dengar di sepanjang hidupku. Teknik menyembunyikan keberadaan kaum Elf Bulan yang dia pelajari itu membutuhkan konsentrasi yang sangat dalam
Tapi kesampingkan itu dulu
"Seberapa banyak kamu mendengar pembicaraanku dengan Frank?"
Veskal awalnya diam tidak menjawab. Bahkan keheningannya itu membuatku hanya menatap keluar dari jendela selagi masih menunggu jawabannya masuk dan terdengar melalui celah kecil yang kubuka di jendela itu
"... Semuanya. Atau setidaknya seluruh garis besar pembicaraan itu" Dia pun menjawab, setengah ragu
Semuanya hah...?
...
...
"Kalau begitu, apa aku membuat kesalahan lagi dengan mempercayai Frank menjalani tugas itu?" Aku bertanya lagi
Sebuah pertanyaan yang langsung datang dari hati. Sesuatu yang aku ragukan karena kesalahan fatal yang telah aku lakukan dahulu
Bahkan sekarang, aku masih ragu membedakan langkah apa yang benar dan yang salah di dalam permainan tidak menyenangkan ini
Aku malu sebagai seorang raja, tetapi aku masih mencoba belajar. Aku masih ingin belajar menjadi raja yang baik
Jadi aku harus tahu apakah aku sudah membuat keputusan yang benar
"... Tidak tahu. Tidak peduli. Menurutmu sendiri bagaimana?"
...
"Secara moral, aku merasa salah..."
Aku tidak bisa mempercayai Frank di dalam tugas ini. Dia bukanlah tipe orang yang senang terikat masalah rumit seperti ini
Tapi entah kenapa dia setuju. Padahal aku sendiri yakin, walaupun aku menggunakan Verdea sebagai alasan, dia justru akan menolak
"Aku berharap dia bisa membantu suatu hari. Tapi aku tidak sangka dia akan langsung menerima tawaranku, walaupun aku hanya berniat untuk membuatnya tergerak untuk ikut saja"
Dan juga, dia memilih peran yang sangat besar. Sangat besar hingga rasanya bisa fatal jika kami kehilangannya diatas papan permainan ini
Verdea tidak akan senang dengan hal ini. Tetapi, kami juga memang butuh pemain dari sisi kami di atas medan Hortensia
Namun, hanya ada 4 orang saja di kelompok kami yang benar-benar memahami Hortensia. Aku, Veskal, Verdea dan Frank. Sisanya tidak akan mampu berada di medan ini dalam waktu yang lama
"... Aku juga tidak paham apa yang dipikirkan Frank. Firasatmu ada benarnya untuk merasa curiga..." Veskal berkomentar
Haha...
"Jadi kamu mengakui kalau aku salah kali ini ya?"
"Hmm...
Ya dan tidak. Benar dan salah"
...
...
"Jika kita sudah selesai dengan urusan di luar, aku punya satu permintaan untukmu"
Satu permintaan kecil
"... Aku yakin aku sudah bilang-"
"--- Kalau kamu hanya akan menerima perintah dari Verdea saja, ya aku paham" Aku memotong Veskal sebelum lanjut menjelaskan. "Ini permintaan semata. Dan aku hanya ingin kamu mengawasi Frank. Verdea tidak akan bisa memandang kakeknya dengan latar yang buruk, dan aku masih harus menjaga anak itu"
"Hah? Aku sendiri saja bisa untuk melindungi Verdea bukan?"
"Mungkin kalau kamu tidak tertangkap lain kali, aku akan percaya"
"Ugh...! Wajar saja Verdea tidak suka sikap sarkas milikmu itu..."
Aku juga masih memiliki banyak hal yang harus kuurus. Utamanya, hutangku kepada Black Hunt
Sebagai balasan karena sudah menyelamatkan kedua anak itu, aku ingin sekali membayar mereka dengan kesempatan kehidupan baru ini. Kehidupan yang lebih baik dan aman untuk mereka semua hingga akhir hayat
"Masih banyak hal berada diatas papan ini. Kita belum menyingkirkan sesuatu yang sangat penting"
Semua yang kami singkirkan hanyalah pion. Para bidak utamanya masih belum bergerak sama sekali
Lalu aku mendengar kalau ada pihak ketiga di dalam permainan ini. Pihak yang sama sekali tidak berada di sisi kami, maupun sisi Rosalia. Pihak baru yang menjadi ancaman terbesar karena keasingan mereka
Sebuah pemain di sisi kami juga mungkin saja bisa menghalangi daripada membantu. Itu sebabnya aku ingin dia tetap diawasi pergerakannya, agar tidak terjepit dalam situasi yang tidak menguntungkan bagi kita semua
"Dengar Veskal. Aku hanya meminta sebuah permintaan darimu"
...
Veskal diam. Tetapi keheningannya kali ini sudah cukup menjadi jawaban, walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung
Malam sudah larut, jadi aku pun segera melangkah pergi, meninggalkan Veskal di dalam kesunyian itu
...
...
...
"Tidak perlu khawatir, Vain" Veskal berkata, memandang ke langit berbintang jauh diatasnya
"Aku juga akan melakukan apapun itu. Apapun, demi memastikan kita semua mencapai masa depan yang kalian berdua impikan"
Matanya pun menatap kearah tempat dia berbaring, menghadap entah kemana yang dia tujukan
...
"... Tapi kamu harus tahu juga, kalau orang sepertiku ataupun Frank...
Bisa saja menjadi 'pengkhianat', hanya untuk menjadikan mimpi itu nyata. Terutama jika misi paling besar telah disodorkan ke hadapan kami..."
Helaan napas pelan keluar dari mulutnya, selagi dia mulai turun dan menghilang di balik bayangan malam