Book Of Flowers

Book Of Flowers
Jalur Pelarian


"... Kamu bercanda..."


"Tidak. Aku serius ketika mengatakan hal itu. Apa perlu kuulangi?"


"Tidak. Tidak perlu"


Dia serius


Aku berpaling darinya sejenak untuk mengatur isi kepalaku. Setelah siap, aku pun menoleh kearahnya lagi


"Kalau begitu, kami butuh pemandu untuk keluar dari kastil ini" Aku berkata


Claudia mengangguk setuju, di wajahnya tersirat wajah bahagia. Itu karena dia tahu kalau aku sudah menerima tawarannya


Aku heran kenapa dia merasa senang ketika ingin dibunuh. Manusia memang punya pikiran yang aneh...


Tanpa basa basi lagi, aku pun mengajaknya pergi dari tempat itu


Namun, aku menyadari tubuhnya yang lemas bergetar. Mungkin karena lelah. Aku pun harus mengangkatnya untuk memastikan kalau kami bisa cepat keluar


......................


"Wah, wah~"


Aku menjongkok di samping Darwin yang terbaring kaku di lantai. Tepatnya, di samping kepalanya


Aku menjetikkan jariku berkali-kali di depan wajah Darwin. Matanya jelas-jelas terbuka, tapi dia terasa sedang tidak sadarkan diri sekarang ini


"Tolong jangan bunuh dia sekarang" Claudia berkata


"Aku selalu menepati perkataanku nyonya. Walaupun sebenarnya aku ingin mencabik orang ini" Aku membalas


"Ahaha...! Dipanggil nyonya oleh orang yang lebih tua terasa sangat aneh"


Padahal dia sudah bilang kalau dia itu mati lebih dari 250 tahun yang lalu. Walaupun tubuhnya memang terlihat lebih muda, secara kronologis dia itu lebih tua dariku


Nyaris 2 kali lipat umurku lebih tepatnya


250 tahun yang lalu hm...?


Saat itu, Aestas yang menjadi Oberon, bertemu dengan Darwin yang masih berwujud manusia


Darwin meminta setidaknya sebuah serpihan dari Pohon Agung untuk suatu hal yang tidak diketahui, dan berakhir mencoba mencurinya, namun gagal


Apa perempuan bernama Claudia ini penyebab Darwin sangat menginginkan serpihan dari Pohon Agung?


Aku paham kenapa Aestas tidak ingin menyerahkan sedikitpun serpihan inti pohon itu. Itu karena, ketika inti itu dipecah sedikitpun, kami para Oberon tidak akan bisa bicara dengan Ayahanda


Penyebabnya mudah dimengerti. Itu karena rohnya tidak utuh sama sekali


Roh yang tidak utuh tidak akan memberikan kehidupan kepada sebuah tubuh. Sama seperti cangkang dengan keong yang mati


Ayahanda sudah tidak memiliki tubuh fisik, sehingga dia harus mengandalkan roh nya yang utuh untuk tetap tinggal di dunia ini dengan pikiran dari kehidupannya. Memori dari seseorang disimpan dalam jiwa dan otak mereka


Dan satu hal lagi...


Tanpa kekuatan dari inti roh Ayahanda, kami para Elf tidak akan bisa hidup panjang


Ketika Claudia dan Ivor berhasil membuka pintu sel itu, aku pun mendekat kearah mereka. Melihatku yang mendekat, Ivor dan Claudia menyingkir ke sisiku, membuka jalanku menuju ke dalam sel itu


Aku melihat kearah teman-temanku yang terkapar lemah di lantai sel yang dingin itu. Hatiku geram melihat perlakuan yang mereka dapatkan


Dengan sebuah ayunan tangan, aku menggunakan sihir penyembuh pada teman-temanku. Luka mereka yang terlihat jelas itu perlahan menghilang tanpa bekas


Bersamaan dengan hal itu, mereka juga terbangun dan membuka mata


Ordelia yang baru siuman kemudian melihat kearahku. Air matanya mengalir ketika aku memberinya sebuah senyuman


Dia langsung bangun dan memelukku sebentar. Kemudian, dia menurunkan kerudungku dan melihat bunga yang berada diatas kepalaku


"Tidak terluka sedikitpun bukan?" Tanyanya sambil melihat seluruh bagiannya dengan teliti


Dia khawatir sekali... Aku jadi terharu...


Lagipula, aku tidak akan bisa mati terbunuh jika bunga di kepalaku tidak hancur. Jadi, kekhawatiran milik Ordelia ini membuatku senang, karena itu bukti kalau dia peduli padaku


"Hey, Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Tuh, Remina sudah bangun"


Mendengar perkataanku, Ordelia beralih kearah Remina yang sedang berusaha bangun


Tapi, tubuhnya yang masih lemah terhuyung dan nyaris jatuh, tapi tubuhnya ditangkap oleh wanita tua itu sebelum terbanting ke lantai


Aku dan Ordelia yang tadinya ingin menangkapnya langsung merasa lega ketika melihatnya sudah aman


"Hati-hati. Kamu masih lemas" Wanita tua itu berkata


Pria yang berada di sampingnya juga sudah mulai siuman. Dia bangun bersamaan dengan teman-temanku yang masih duduk di lantai


"Lalu? Apa rencana kita untuk keluar dari tempat ini?" Tanya Zaphir yang masih mencoba mengendalikan rasa pusing di kepalanya


"... Dia yang akan jadi pemandu kita"


Aku menunjukkan Claudia yang berdiri di sampingku kepada mereka semua. Claudia perlahan menunduk memberi salam kepada mereka semua


Zaphir hanya mengangguk pelan sambil menyuruhnya mengangkat kepala


Claudia langsung berkeringat dingin ketika melihat tatapan tajam milik Zaphir


...


"Kita- Rencanakan saja rute pelarian kita dahulu" Aku menyela


Semua teman-temanku langsung setuju untuk memecahkan suasana tegang antara Zaphir dan Claudia


Yah... Dia tidak pernah bertemu banyak manusia selama beberapa abad lamanya dia hidup


Dia cuma punya pemikiran buruk tentang manusia, terutama karena perang ribuan tahun itu. Pembantaian antar ras itu sangat membekas di kepalanya, membuatnya selalu kasar kepada semua manusia


Ketika Oberon Aestas telah meninggal dunia, Zaphir adalah satu-satunya Elf yang masih hidup dari masa perang ribuan tahun sampai sekarang. Hanya dia yang punya trauma akan perang itu, dan kebenciannya sangat masuk akal untukku


Dia memang sangat membenci manusia. Tapi, kebenciannya itu juga mengarah kepada semua ras selain Elf


Tapi itu adalah kesalahan untuknya juga. Dia tidak pernah membuka mata dan hatinya untuk para manusia setelah itu. Seandainya dia mau...


"... Omong-omong, beritahu kami semua rute yang ada di kastil ini"


Claudia mengangguk paham selagi kami duduk melingkar membelakangi Darwin


"Selalu ada penjaga patroli setiap malamnya. Tapi, biasanya hanya 4-5 penjaga saja yang berkeliling. Kebanyakkan dari mereka menjaga ruangan milik keluarga kerajaan. Walaupun kita bisa menghadapi mereka, Yael sudah memasang penanda di masing-masing penjaga untuk memastikan kondisi mereka. Jika kita menyakiti mereka sedikitpun, Rosalia dan Yael akan langsung tahu


Hanya ada 2 rute yang bisa kita ambil dan paling aman jika kita ingin kabur keluar dari kastil ini. Yang pertama, jalur menuju ke koridor barat kastil"


"Pintu belakang hm? Aku masih mengenal beberapa tempat di kastil ini


Kastil ini menghadap ke timur karena keluarga kerajaan senang melihat matahari terbit, seperti semacam tradisi. Jadi, pintu belakangnya sudah jelas berada di barat" Aku menjelaskan


"Tepat sekali Vainzel. Disana tidak ada satupun kamar milik keluarga kerajaan yang berada di dekat sana, yang mengartikan-"


"---Nyaris tidak ada penjaga disana" Sambung Luxor. "Jika kita kabur melalui tempat itu dengan momentum yang tepat, kita bisa menghindari penjaga yang patroli" Tambahnya


Claudia mengangguk setuju. "Tapi, masalah dari rute ini adalah keluar dari area kerajaan dengan efisien. Dengan jumlah prajurit yang berpatroli diluar, ditambah dengan banyak orang yang berada disini, aku yakin kita semua akan susah kabur walaupun berada diluar kastil"


Yah... Bahaya juga. Dan mengingat kalau setiap prajurit memiliki penanda Yael, cara ini sudah jelas cukup berbahaya


'Cara paling aman' yang dikatakan Claudia ternyata tetap berada di tingkat berbahaya


Dia pun melanjutkan menjelaskan rute kedua yang bisa kami ambil


"Yang kedua adalah melalui kamarku"


"... Maksudnya?" Lyralia bertanya


Aku bahkan bingung dengan perkataan Claudia


"Setiap ruang kamar di kastil ini memiliki pintu rahasia di dalam setiap kamar. Pintu itu mengarah ke suatu terowongan bawah tanah rahasia. Tujuan dari terowongan itu adalah adanya jalan kabur rahasia untuk para keluarga kerajaan, seandainya ada penyerangan dadakan di kastil ini"


"Tapi, apa kamu yakin di terowongan itu tidak ada orang yang patroli? Siapa tahu ada bukan?" Tanya Ordelia


"Tidak. Darwin memberitahuku kalau hanya orang tertentu yang mengetahui keberadaan terowongan itu, tidak termasuk para prajurit 'kalangan rendah'. Dia memberitahukan hal ini padaku agar aku bisa kabur 'seandainya kalian datang menyerang'"


"Begitu... Setidaknya dia berguna" Aku berkata sambil menoleh kearah Darwin di belakangku


"Pintu rahasia di kamarku terletak di balik sebuah lukisan besar di depan ranjangku" Claudia berkata. "Tapi, untuk pergi ke kamarku sendiri, kita harus melewati kamar milik Darius Hortensia. Sudah pasti ada penjaga disana. Dan cara lain menuju ke kamarku adalah melalui taman di tengah kastil kemudian mengarah ke tenggara dari tengah taman, sambil menghindari perhatian dari para penjaga"


"... Kedua pilihan itu punya sisi buruk dan baiknya hm...?"


Aku mencoba mengolah semua hal itu dengan hati-hati


Pilihan kami hanya 2. Kami kabur melalu pintu belakang kastil, dengan resiko harus menghindari semua penjaga diluar kastil


Atau kami bisa pergi kearah kamar Claudia untuk melalui terowongan rahasia itu, dengan resiko kemungkinan kami harus menghadapi penjaga di kastil ini terlebih dahulu


...


Penjaga di dalam kastil ini lebih sedikit dibandingkan diluar, aku yakin itu. Tapi, kami berada di daerah terdekat dari jangkauan deteksi mereka, menyebabkan kami bisa gagal dengan cepat bila ketahuan disini


Tidak lupa dengan kemampuan teleportasi milik Yael yang sangat cepat. Jika kami ketahuan sedikitpun olehnya, aku yakin rencana kami akan langsung berantakan


Dan juga...


"Kita juga harus mencoba menyelamatkan para Elf yang terperangkap disini. Mereka terletak di kastil Thyme dan dikurung disana, berdasarkan pembicaraan 3 orang yang membawaku ke ruangan rahasia tadi" Aku berkata


Aku sebenarnya tidak yakin kalau mereka semua hanya ada disana. Perkiraanku, mungkin ada beberapa yang dipisahkan untuk mempersulit kami menyelamatkan mereka


Semua teman-temanku tersentak kaget. Mereka memang setuju, tapi...


"... Walaupun aku memang setuju denganmu, perbuatan itu kemungkinan besar akan membunuh mereka, jika bukan kita yang mati duluan" Zaphir berkata


"Aku punya rencana, jadi...


Kita akan ambil jalur pertama"


Semua orang disana melihat kearah satu sama lain karena bingung dengan keputusanku


Aku kemudian mengeluarkan sebuah benih dari telapak tanganku. Benih kecil itu kemudian kudekatkan ke bibirku


Dan dengan tarikan napas, aku mulai bicara kepada benih itu


"Seren? Kamu ada disana?"