
Hmm...
"Sepertinya mereka berdua imbang kali ini..." Verdea dengan terbelalak berkomentar
"Aku baru saja ingin mengatakan hal itu" aku membalas
Sungguh. Aku cukup dibuat tercengang dengan perkembangan Remina. Aku tidak tahu anak itu punya bakat berpedang
Tidak, lupakan itu. Aku bahkan tidak pernah melihat dirinya seantusias ini mempelajari sesuatu!
Ini bukan hanya soal bakat, tetapi juga apa yang Remina ingin pelajari. Sama seperti seorang anak kecil yang memiliki sebuah makanan kesukaan
Ahem ahem~
Kesampingkan itu...
Yang aku ingin katakan adalah, Remina memiliki perkembangan yang terlalu berada diluar nalar. Menguasai sebuah teknik maupun senjata bukanlah sesuatu yang kamu lakukan dalam satu hari
Maksudku, dia menunjukkan perkembangan pesat selama dia bertarung di sisi kami. Mampu menggunakan sihir tingkat tinggi. Mampu bertarung dan menyamai tempo pertarungan para petinggi juga petarung berpengalaman. Dan sekarang, dia bisa teknik berpedang
Dia melakukan semua itu diumur 12 tahun. Dia sangat mengingatkanku kepada kelima temanku dulu, disaat mereka dengan cepat menguasai banyak hal. Itu sebabnya aku sangat ingin menjadikan mereka seorang petinggi. Tidak hanya untuk status, tapi juga karena aku bisa melihat potensi besar seperti ini di dalam diri mereka
Sepertinya Lyralia tidak salah menyarankan Remina di hari itu. Aku jadi ikut merasa bangga aku sudah menyetujui dan mempersiapkan dirinya juga
"Tapi, dia masih setara dengan Lyralia yang dulu. Sedikit polesan, dia mungkin akan menjadi lebih baik" aku berkomentar
"Memangnya Lyralia yang dulu seperti apa?"
"Oh, mereka terlihat sangat sama, Veri..."
Aku bahkan bisa melihat kalau dia meniru cukup banyak gerakan Lyralia dalam latihan ini. Gerakan licik dengan merubah dirinya menjadi air itu membuatku dan Luna kewalahan ketika berlatih tarung melawannya
Tetapi Remina bisa menggunakannya dengan cukup efektif untuk menyerang, sementara Lyralia selalu memiliki tempo yang tepat dalam menghindar
Sayangnya kami memang terlalu kuat dulu maupun sekarang, jadi dia tidak pernah bisa mengalahkan aku ataupun Luna
Jika aku pikir-pikir lagi, apakah teman-temanku masih mengingat skor latih tarung mereka dengan satu sama lain? Biasanya itu akan menjadi topik pembicaraan kami ketika berkumpul dulu
"Kamu menunjukkan trik merubah diri menjadi air itu semenjak kemarin. Tapi tidak kusangka aku akan kewalahan karenanya hari ini" Edwin kemudian berkomentar
Oh, mereka akan mulai menyerang satu sama lain lagi
"Begitulah guru. Aku hanya masih belum menangkap kapan aku harus menggunakan kemampuan ini kemarin"
"Dan sekarang kamu bisa?"
"Aku yakin pertukaran serangan kita tadi cukup menjelaskan banyak hal"
...
"Yah, kamu benar"
Edwin yang baru saja selesai bicara tiba-tiba saja diserang oleh Remina terlebih dahulu kali ini. Tetapi dengan tenang, dia halau ayunan pedang itu dan dia dorong mundur Remina
"Kalau begitu aku juga akan menyesuaikan diri dengan keadaan!"
Edwin balik menyerang dengan melesat ke depan, namun dihindari oleh Remina yang melompat ke udara selagi mencoba melukai punggungnya. Cukup terkejut, dia menunduk sekuat tenaga dan berguling di tanah ketika Remina melakukan gerakan memotong vertikal
Tidak dapat mendaratkan serangannya, Remina merasa kesal dan segera mengejar Edwin yang mencoba mengambil jarak. Pedang mereka beradu kembali, tetapi kali ini Remina melakukan sesuatu untuk menyeimbangkan keadaan kearah keinginannya
Dia kepalkan tangan kirinya hingga kekuatannya terkumpul disana. Dan dengan sekuat tenaga, dia hantam pinggang kanan Edwin sehingga gurunya itu lengah
Remina mengambil kesempatan itu untuk menjatuhkan Edwin, sehingga dia mulai terdorong ke bawah. Panik, Edwin pun menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan untuk memutar badan dan menendang Remina agar serangannya dibatalkan
Remina berhasil menghindari gerakan dadakan itu, tetapi segera memberi ruang untuk Edwin menyerang kembali
Dia tentu terkejut dan kembali mengubah dirinya menjadi air. Tetapi menyadari kalau bagian bawah tubuhnya tidak ikut berubah, Edwin pun menendang kaki Remina sehingga dia tersungkur
Pedangnya dia usahakan untuk menancap ke punggung Remina. Hanya saja, Remina berhasil merubah diri menjadi air seutuhnya dan segera melompat keluar lagi—nyaris berhasil menusuk mata kanan Edwin
Yang terpotong hanyalah helai rambut depan Edwin, sementara pria itu berhasil mundur tanpa luka sedikitpun
...
Pertarungan ini lebih sengit dari yang aku perkirakan. Adrenalin di tubuhku jadi ikut terpicu, begitu juga Verdea yang mulai meneriakkan, "Jangan kalah, Remina!"
Dia bisa menyeimbangkan diri dengan Edwin?? Maksudku, orang yang membuatku dan Zaphir kewalahan ketika melawannya di hari itu??
Tentu, dia dibantu oleh Darwin. Tapi tidak ada manusia biasa yang bisa menahan kekuatan fisik baik milik Zaphir maupun diriku dan berkata itu hanya keberuntungan belaka
Baru 7 menit berlalu, sungguh. Tetapi karena kami jadi ikut terlena dalam pertarungan ini, aku dan Verdea mampu menikmati setiap gerakan yang mereka lakukan, bahkan menelaah mereka
Ini sangat mengagumkan. Aku jadi ingin melihat bagaimana hasilnya jika dia bertarung melawan Lyralia nanti
A-!
Edwin mulai menyerang lagi!
Dia terlihat mencoba melakukan gerakan ayunan dari sisi bawah kanan, namun Remina segera mengantisipasi lawannya dan bersiap untuk menghalau serangan itu
Tetapi, Remina tertipu. Gerakan tipuan itu diubah oleh Edwin yang segera berhenti, mulai berdiri tegak sembari memutar pedangnya, dan melancarkan serangan membelah dari sisi kanan atas
Serangan itu mengejutkan bahkan kami yang menonton. Remina secepat mungkin mencoba mengganti posisi bertahan pedangnya. Walaupun berhasil menghalau serangan itu, dirinya yang tidak siap sepenuhnya langsung lengah karena kewalahan
Edwin sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Remina pun dia tendang menggunakan lututnya sehingga dia terpukul mundur dan jatuh ke tanah
Aku dan Verdea panik menonton hal itu, terutama karena Edwin sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Remina—melesat maju sebelum Remina sempat berhenti berguling ataupun merintih
Posisi Remina berhenti pun sudah dipastikan, tetapi Edwin sudah tahu terlebih dahulu. Sekali lagi dia melakukan belahan vertikal tepat mengarah kepada leher Remina. Namun si gadis belum menyerah dan mendorong badannya ke sisi, tepat sebelum ayunan itu menghancurkan tanah tempat kepalanya berposisi barusan
Dia sekali lagi berhasil ditendang hingga menggelinding di tanah, tetapi kali ini, dia berhasil mendarat tanpa terbaring
Edwin langsung berhenti maju, tetapi tidak begitu untuk Remina. Gadis itu menyerang balik dengan sebuah gerakan tusukan, namun diarahkan ke sisi oleh Edwin
Dia mencoba melepaskan pedang itu dari tangan Remina, tetapi hasilnya nihil. Dia justru hanya bisa menangkis pedang Remina, dan berdecak kesal karena pedang itu masih menempel di tangannya
Jadi dia mencoba meraih kerah baju Remina, tetapi justru mendapat sebuah hindaran yang mengejutkan. Remina bergerak tepat ke bawah tubuhnya dan berhasil memukul perut Edwin sekuat tenaga
Sayangnya, serangan itu hanya cukup untuk membuat Edwin melangkah mundur saja. Bahkan Remina yang mencoba mengayunkan pedangnya lagi segera membatalkan serangan itu karena targetnya sudah melompat mundur
Keduanya pun memasang kuda-kuda awal. Keduanya masing-masing sudah terluka. Dan keduanya juga tidak ingin kalah
Pertarungan ini adalah pembuktian untuk memastikan yang satunya menyerah dan menuruti sang pemenang. Baik itu si gadis yang ingin mendapatkan ilmu baru dari gurunya, ataupun si pria yang mencoba memastikan apakah gadis itu layak atau tidak menjadi muridnya
Mereka sudah berada sejauh itu, tetapi keduanya mulai merasa cukup puas dengan satu sama lain. Di tengah napas mereka berdua yang mulai tidak beraturan itu, keduanya menunjukkan sebuah senyum yang tidak bisa mereka sembunyikan lagi
...
"Mereka berdua monster..." Verdea berkomentar lagi
"Kalau begitu kamu belum melihat Luna dan Ordelia ketika kecil dulu"
Satu fakta unik, Ordelia selalunya menang melawan Luna dalam latih tarung. Tapi, setelah insiden Midsummer Night Dream itu terjadi, Ordelia tidak pernah bisa menang lagi melawan Luna
"Kalian para Elf itu monster. Edwin juga"
"Penggunaan kata dalam kalimatmu itu bisa meninggalkan kesan buruk loh..."
"Tidak mengubah fakta kalau kalian itu mengerikan dalam bertarung"
Bagus kalau dia tahu~
"Kalian makan apa coba sampai bisa sekuat itu...?"
"Sayuran~ Utamanya tomat~!"
"Ugh! Aku tahu kamu akan memberi jawaban yang mengesalkan!"
Ahahaha-!!
...
"Remina..." Edwin tiba-tiba berkata
"... Ya?"
Keduanya hening sejenak setelah Remina menjawab. Tetapi tiba-tiba saja, Edwin membatalkan kuda-kudanya dan berdiri dengan lagak biasa saja
"Jangan bilang kamu ingin menyerah, guru..." Remina berkata, masih memasang kuda-kudanya
"Tidak" Edwin menjawab singkat. "Justru sebaliknya"
Pedangnya pun dia angkat hingga menghadap keatas. Dia hadapkan sisi tipis pedang itu ke wajahnya, selagi perlahan dia mengusapkan tangannya diatas pedang itu seakan sedang bersiap melakukan sesuatu
Remina juga bisa merasakan hal itu, selagi mata Edwin terpejam. Kuda-kudanya masih kuat dan siap, tetapi ada sebuah perasaan mengganggu di hatinya
Dan dia benar. Aku yang bisa melihat Mana yang mengalir di udara bahkan tidak perlu susah payah untuk mengetahui apa yang salah dan menakutkan dari pose Edwin itu
Sekumpulan Mana berkumpul mengelilingi tubuhnya dalam jumlah besar...
Itu sesuatu yang tidak kusangka sama sekali, utamanya karena kesatria yang menggunakan pedang yang selalunya kutemui sama sekali tidak bisa menguasai pengendalian Mana, apalagi mengumpulkan mereka dalam jumlah itu
Verdea mulai menatapku karena merasakan ada sesuatu yang salah. Tetapi dia segera paham ketika melihatku tertegun dan meneteskan keringat
Sepertinya...
Edwin akan melancarkan serangan terkuatnya. Teknik yang selama ini ingin dia ajarkan kepada seseorang, dan sekarang orang itu adalah Remina...
"... Ini akan jadi serangan yang mengakhiri latihan ini. Teknik yang akan kuajarkan kepadamu"
Sudah kuduga. Aku memang jenius-
Lupakan itu. Remina mungkin akan terluka jika serangan itu dilancarkan tepat kearahnya. Tapi aku rasa, Edwin tidak punya niatan itu
"Perhatikan baik-baik! Jangan lengah dan saksikan bagaimana serangan ini akan kuarahkan kepadamu!" Edwin menyerukan
"Jadi aku boleh menghindar bukan?" Remina dengan senyum kecut membalas
Remina tentu panik ketika merasakan energi besar yang mulai berkumpul di sekitar Edwin. Tetapi dia tidak memiliki niat untuk menghalau serangan itu. Serangan yang akan dia pelajari, dan pertama kalinya diperagakan oleh gurunya di hadapannya
Satu serangan yang mungkin akan sangat fatal jika dia tidak segera memahami seluk-beluknya. Tetapi Edwin sangat yakin dia menghindari serangannya, jadi bagaimanapun itu...
Remina harus memperhatikan gerakannya dengan baik...
"Berkah Tuhan ini, kupersembahkan untuk menyucikan apa yang tidak suci"
Mata Edwin pun terbuka lebar, dan dengan segera...
Dia melesat ke depan dan melakukan 4 serangan sekaligus
Empat. Serangan. Sekaligus
Dalam sepersekian detik, gelombang Mana yang dihasilkan oleh setiap ayunan pedang itu mengarah kepada Remina dari segala sudut dan arah
Dia tidak perlu waktu lama untuk memahami setiap celah dari serangan itu, dan dengan sekuat tenaga..
Remina pun merubah dirinya menjadi air dan melompat ke sisi
*SYUT!*
...
...
...
Serangan itu...
Berhasil dia hindari, dengan bayaran dia harus tersungkur di tanah sekarang karena telah menggunakan Mana-nya
Serangan itu meninggalkan bekas yang sangat jelas di tanah, seakan ada sebuah pedang yang diseret diatasnya. Wujud dari serangan itu bahkan membuatku dan Verdea tercengang
Tidak sedikitpun ada celah yang diberikan oleh serangan itu, karena dia berbentuk dan menutupi dari segala arah 8 mata angin. Ayunan beruntun yang dibuat hanya dengan 4 kali ayunan pedang berturut-turut, dan membiarkan gelombang Mana dari serangan itu melesat kearah lawannya yang tidak berdaya
Dan dari apa yang kusaksikan barusan, Remina sama sekali tidak semena-mena menggunakan Mana-nya. Itu bukan penyebab dia kalah
Serangan Edwin itu lah yang membuat dia kalah. Setiap gelombang Mana yang dihasilkan olehnya, tidak hanya berfungsi untuk memotong lawan yang ada di hadapannya saja, tetapi juga...
"Dia membuat Mana Remina menguap dengan serangan itu...?"
Verdea terkejut mendengar penjelasan itu dariku
Karena kami berdua paham betul. Kami paham betul, kalau tidak ada catatan yang bisa menjelaskan Mana yang mampu menguapkan Mana di sekitarnya
...
Edwin adalah lawan terburuk untuk perapal sihir. Dan itu menjelaskan sangat banyak mengenai kekuatannya, mengingat kalau perapal sihir utamanya menang karena variasi serangan dan pertahanan yang bisa mereka lancarkan
Tapi bagaimana kalau serangan orang ini—serangan beruntun yang mampu membuat Mana para perapal sihir itu menguap, diarahkan kepada mereka?
Para perapal sihir itu tentu tidak akan bisa menghindar dari jarak sedekat itu. Dan bahkan jika bisa, mereka harus menggunakan Mana, sehingga aliran yang keluar dari tubuh mereka itu membuka Mana yang masih tersimpan ke dunia luar
Itu sebabnya serangan itu bisa menguapkan Mana Remina. Ketika katup tertutup tempat aliran Mana keluar di tubuh Remina terbuka, Mana di dalam tubuhnya juga merasakan dampak dari penguapan yang dihasilkan serangan itu
...
Mengerikan...
Dan berpikir kalau aku selamat melawannya dulu. Aku cukup beruntung dia tidak menggunakan teknik itu dulu untuk sungguh-sungguh berniat membunuhku...
"Kamu kalah"
Latihannya berakhir...
Pedang Edwin tertodong ke leher Remina yang tersungkur di tanah. Gadis yang mencoba mengisi kembali Mana di tubuhnya itu hanya bisa tersenyum pahit karena sekali lagi dikalahkan
Tapi setidaknya, kali ini dia tahu kalau dia memberi perlawanan yang sepadan. Hanya serangan terakhir itu saja yang membuatnya gagal untuk mengambil kemenangan
"Aku... Lelah..."
Dan dengan begitu...
Si gadis pun pingsan tidak sadarkan diri, dikarenakan banyaknya Mana yang terkuras dari tubuhnya
...
Hmph...
"Menyingkirlah, Edwin. Aku akan tangani dia sekarang" aku pun berkata sembari bangun dan bergerak kearah Remina
Edwin mengambil langkah mundur sesuai permintaanku. Perlahan aku menunduk untuk mengecek kondisi Remina, dan dia cukup baik-baik saja. Mengesampingkan kalau dia sama sekali tidak sadarkan diri sekarang ini
...
"Anak ini nyaris mengalahkanmu hanya dengan latihan satu malam saja, Edwin?"
Pertanyaan itu mendadak keluar dari mulutku, membuat Edwin tersentak karena tidak mengantisipasinya sama sekali. Dan untuk jawaban singkatnya, Edwin mengangguk
"Dia berkembang sangat cepat, seakan selama seharian kemarin dia terus melawanku hingga aku kalah" dia menambahkan
Melawanmu hingga kamu kalah ya...?
Aku tahu kalau dia menggunakan Imaginary Copy untuk membuat tiruan Edwin, tetapi mampu menyeimbangkan diri dengan sang kesatria hitam hanya dalam satu malam saja?
Itu butuh tekad dan bakat. Tidak bisa jika hanya salah satunya...
Anak ini jauh lebih berbakat dari apa yang aku perkirakan. Setiap ekspektasi yang aku miliki untuknya selalu dia buat terbang setinggi angkasa
...
Entah kenapa aku jadi senang
Sebentar lagi, dia akan menjadi seorang pejuang yang tidak bisa dianggap remeh lagi. Seseorang yang mungkin akan menaikkan standar dari kaum Elf maupun para kesatria sekalipun
Keputusannya dalam memilih ilmu berpedang bahkan sudah lebih dari kata tepat
Hah...
Anak-anak zaman sekarang cepat sekali tumbuh. Sekali aku berkedip, dan mereka sudah bisa membawa dunia di tangan mereka
"Terima kasih sudah mau melatihnya, Edwin"
Edwin hanya tersenyum kecil, terutama ketika melihat Remina yang ada di punggungku sekarang
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadanya..." Edwin justru membalas
...
Hmph...
"Aku tidak tahu apa niatmu. Tapi sebaiknya, kamu tidak menanamkan sesuatu yang berat di pundak anak ini" aku berkata lagi kepadanya
Edwin mendadak tersentak. Terkejut karena aku menyadari apa yang ada di kepala dan hatinya
Tetapi dia tahu betul, kalau dia tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan itu
"Aku tidak bisa berjanji, Oberon..."
...
Apapun itu, Edwin...
Sebaiknya kamu tidak menyakiti Remina
Aku tidak perlu memberitahukan hal itu kepadanya. Aku tahu dia tidak akan sedikitpun memiliki minat untuk menyakiti Remina. Aku tahu kalau dia sudah terlalu sayang kepada murid barunya ini, dan ada sesuatu yang dia inginkan untuk Remina lakukan
Sesuatu yang besar, pastinya. Sesuatu yang akan membuat dunia ini terbalik
...
"Terus latih Remina hingga hari tes itu tiba. Kamu dengar, Edwin?"
Edwin mengangguk. Dan dia pun melakukan sebuah janji kesatria di hadapanku. Dengan menancapkan pedangnya ke tanah dan bersikap layaknya seorang prajurit, dia pun mengutarakan isi janji itu
"Aku pastikan dia akan menjadi pendekar pedang terbaik yang ada di Miralius ataupun di dunia" Edwin pun berkata
Janji itu sangat besar. Tapi aku suka mendengarnya
"Semoga kamu benar" aku membalas dengan sebuah senyum
Aku harap masa depannya memang seperti itu. Aku harap hidupnya itu bagai lautan lepas—bagai sebuah tempat yang masih bisa dijelajahi tanpa henti
Masa depan besar menantimu, nak. Baik itu kamu, Verdea maupun Veskal. Kalian bertiga akan kupastikan mampu untuk menggapai masa depan itu
Aku juga berjanji...
...
"Vain..."
Hm?
"Veri? Ada apa?"
Verdea terlihat gelisah, selagi dia menunjuk kearah seseorang yang baru saja tiba di tempat itu
Tidak lain dan tidak bukan, orang itu adalah Fyon. Dan karena dia adalah orang yang hadir untuk menemuiku sekarang ini...
...
Aku yakin dia sudah menemukan apa yang kuminta sebelumnya...
"Kami harus pergi sekarang, Edwin. Ini penting"
Verdea semakin terlihat gelisah akibat perkataanku. Fyon di sisi lain, mengangguk perlahan untuk mengkonfirmasi isi pikiranku
Sudah waktunya kami semua melacak tikus-tikus busuk yang menyebut diri mereka sebagai pemuja iblis itu...