Book Of Flowers

Book Of Flowers
Untukmu


--- Sementara itu, Miralius ---


"Ugh! Kenapa coba Fyon harus berada di tempat seperti ini??" Verdea protes


Luna yang berjalan bersamanya selagi menelusuri Hutan Gelap itu hanya diam tidak menjawab, mengeluh juga sebagai responnya


Dia sudah tidak punya daya lagi. Bukan karena Hutan Gelap mengurasnya, tidak


Dia merasa dayanya terkuras karena dia harus menjemput Fyon yang... Sedang bersama Zaphir sekarang ini


"Hey, aku tahu kalau kamu tidak suka dengan ayahmu, tapi jangan abaikan aku juga..." Verdea mengeluh lagi


"Aku hanya tegang Verdea. Ayahku tidak bicara sama sekali denganku, dan aku pikir..."


Luna yang berhenti di tengah kalimatnya itu membuat penasaran, tetapi kemudian harus dia tahan ketika menyadari kalau Luna terlihat muram


"... Kamu ingin mencari kesempatan bicara dengannya?" Verdea kemudian bertanya pelan


Luna pun hanya mengangguk pasrah karena niatnya ketahuan


"Tapi sebaiknya lupakan. Aku pasti tidak akan bicara dengannya lagi..." Luna berkata


Dia pun terus berjalan tanpa memedulikan Verdea yang ingin meringankan suasana


Verdea yang sadar kalau usahanya tidak berhasil pun hanya diam, mengikuti Luna selagi memperhatikan apakah batu Mana yang dia kenakan masih terisi cukup atau tidak


Lalu tiba-tiba Luna berhenti lagi sehingga Verdea tidak sengaja menabraknya. Tapi bahkan dengan dorongan itu, Luna tidak bisa dia gerakkan dari tempatnya


Luna hanya berdiri, diam mematung seakan sudah menjadi batu


Dia pun penasaran dengan apa yang ada di hadapan Luna sehingga dia berhenti dan mematung seperti itu


Lalu, Verdea pun paham kenapa. Itu karena ayahnya, Zaphir, sekarang ini ada di hadapan Luna


Dan bukan anaknya saja, Zaphir juga diam mematung ketika melihat sosok anaknya yang tidak dia sangka akan ditemui di dalam kabut tebal ditempat itu


Mereka berdua sama sekali tidak mengatakan apapun ditengah atmosfer itu. Tapi hal itu juga sudah jadi biasa bagi Verdea karena saat-saat tertentu


Ketika keduanya bertemu, mereka jarang bertukar kalimat. Mereka hanya akan membahas tentang rencana, dan itu saja


Kedekatan diantara keduanya terasa sangat nihil, hingga bahkan Verdea saja merasa iba dengan hal itu


Keduanya terus diam. Tidak satupun berniat untuk bicara


Hingga...


"... Maaf sudah mengganggu" Zaphir mulai bicara


Tetapi juga, dia mengakhiri pertemuan mereka disaat dia memulai. Dengan begitu saja dia berjalan melewati Luna yang masih diam mematung, mencoba memasang wajah datar untuk menyembunyikan rasa sedihnya


Keduanya sama sekali tidak bergerak, hingga Zaphir beranjak


...


Karena itulah Verdea pun bergerak


Belum 3 langkah Zaphir menjauh, Verdea tiba-tiba menangkap tangannya dan menahan kepergiannya


Zaphir pun bingung, begitu juga Luna yang baru saja menyaksikan hal itu


Helaan napas pun keluar dari mulut Verdea selagi dia menatap Zaphir tepat di mata


"... Kamu akan pergi begitu saja? Bahkan tanpa salam kepada anakmu?" Verdea bertanya


Pertanyaan itu sendiri segera mendesak Zaphir hingga dia tidak tahu harus bicara apa. Dia mencoba untuk kabur dengan perlahan, tetapi Verdea tidak melepaskan tangannya


Dia tahu kalau Zaphir tidak akan kasar, jadi Verdea pun akan memanfaatkan hal itu sebaik mungkin selagi bisa


"Setidaknya hanya satu salam. Selamat siang... Halo... Hai... Apapun itu untuk anakmu ini" Verdea berkata lagi


"Aku tidak punya waktu pangeran kecil. Tolong lepaskan aku"


Kalimat itu segera menusuk hati Luna hingga kepalanya tertunduk


Tetapi Verdea tidak menyerah begitu saja. Dia sekali lagi menggunakan beberapa kalimat untuk menyerang Zaphir


"Kalau begitu setidaknya tatap matanya" Verdea sekali lagi meminta


"Aku sudah melakukan-"


"Tidak! Kamu menundukkan tatapanmu tepat disaat kamu melihat Luna! Kamu pikir aku tidak sadar??"


Zaphir hanya diam dan sekarang mencoba untuk melepaskan diri semakin keras. Tapi Verdea masih bisa menahannya


Dan karena dia masih keras kepala dengan pendiriannya, Verdea pun meletakkan tangan kanannya untuk ikut menahan Zaphir


Satu kalimat lagi dia gunakan untuk membujuk Zaphir


"... Kalau begitu, panggil namanya"


...


...


"Itu tidak sulit bukan, Zaphir?"


Zaphir bahkan tidak mencoba untuk melepaskan diri lagi. Dia kembali mematung begitu saja, bersamaan dengan Luna yang masih menunduk


Verdea masih terus mencoba membujuk Zaphir dengan menatap matanya tanpa berkedip sedikitpun. Zaphir menyadari hal itu dan mengenali tekad milik Verdea


Dia pun paham, kalau tekad itu sama sekali tidak akan bisa dia goyahkan, walaupun dia bersikap kasar sekalipun


Karena itu dia pun menyerah. Dia melakukan apa yang Verdea inginkan. Satu panggilan nama milik anaknya


"Luna"


...


Sebuah nama


Tetapi pemilik nama itu tidak merespon


Dia justru hanya tersenyum kecut dan membuang wajahnya, menanggapi panggilan yang seharusnya membuat dia senang untuk sesekali itu...


"Itu pertama kalinya semenjak 100 tahun lebih kamu sudah memanggil namaku"


100 tahun lebih. Tidak akan ada yang percaya dengan hal itu, tapi itu sungguh terjadi


Dan selama memori Luna yang bisa dia ingat, Zaphir hanya memanggil namanya satu kali. SATU. KALI


Ini adalah kali kedua, tetapi lama dia menunggu diantara panggilan pertama dan kedua itu membuatnya merasa kesal


"Selanjutnya berapa tahun aku harus menunggumu memanggil namaku untuk yang ketiga kali? Seratus tahun lagi?" Luna bertanya dengan niat menyindir


Tubuhnya mulai gemetar. Verdea paham kenapa dia seperti itu. Luna sekarang ini merasa gugup dan gusar karena ini adalah kali pertamanya dia bersilang pendapat dengan ayahnya secara terang-terangan


Itu pertama kalinya dia meneruskan isi hatinya. Pertama kalinya juga Zaphir mendengar hal itu secara langsung


Dan rasanya bagi kedua orang itu sangatlah sakit. Mereka tidak ingin mendengar pendapat dari pihak lawan, tapi mereka harus


"... Benar juga. Apa gunanya kamu memanggil namaku sekarang ini...?" Luna meneruskan


Air matanya mulai tidak bisa dia bendung hingga dia harus mengusap setiap butir yang turun selagi mencoba menahan lagi yang akan keluar


Sementara Zaphir diam tertegun penuh penyesalan. Kepalanya tertunduk, tidak tahu harus bicara apa


Tapi Verdea hanya diam. Dia tahu kalau dia tidak boleh menyela


Zaphir yang harus merespon. Bukan karena permintaan orang lain, tetapi langsung dari hatinya secara langsung


Jadi dia pun melepas tangan Zaphir


Pilihan ada di tangan Elf itu. Dia boleh kabur, ataupun menjawab Luna


Verdea hanya akan mengamati


"... Aku tidak boleh memanggil namamu"


"!!!"


Kalimat pertama yang mengejutkan dari Zaphir, hingga bahkan Verdea saja tidak menyangka hal itu


Dan kalimat itu juga membuat Luna geram


Geram karena kebingungan yang semakin dibuat oleh ayahnya itu


"Kenapa??! Kenapa kamu harus menahan dirimu dari memanggil namaku saja!??" Luna menyerukan dengan lantang


"Karena aku tidak ingin kamu dekat denganku..."


Lagi-lagi respon yang mengejutkan, semakin menusuk hati Luna


"Kena...pa...?"


Dia ingin tahu apa yang ada di pikiran ayahnya


Dia ingin tahu, ayah macam apa yang tidak ingin dekat dengan anaknya sendiri


Dia harus tahu. Jawaban Zaphir akan menentukan penilaiannya kepada ayahnya


"JAWAB AKU!!" Luna kali ini berteriak, sepenuhnya putus asa menanti jawaban itu


"AKU SELALU MENCOBA MENCARI PENGAKUANMU! AKU BERLATIH KERAS UNTUKMU SETIAP HARI! AKU MELEWATKAN SEBAGIAN BESAR WAKTUKU BERSENANG-SENANG DENGAN SEMUA TEMANKU! AKU MENJADI SEORANG PETINGGI UNTUKMU!


DAN BARU SEKARANG KAMU BERKATA KAMU TIDAK INGIN DEKAT DENGANKU?? KAMU INGIN BILANG USAHAKU SELAMA INI SIA-SIA???"


"AKU BILANG JAWAB!!"


"KARENA AKU INGIN YANG TERBAIK UNTUKMU!!"


Teriakan balasan dari Zaphir itu menggetarkan tubuh Luna hingga dia berhenti bicara


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu!! Aku tidak berharap kamu ingin dekat denganku!!


Kamu tidak seharusnya menjadi seorang pejuang!! Aku hanya ingin agar kamu membenciku dan apa yang aku pegang teguh, bukan malah mengikutinya!!"


Zaphir berhenti sejenak. Napasnya sama sekali tidak beraturan dan dia mulai menangis


Itu pertama kalinya Verdea melihat Zaphir menangis, begitu juga Luna. Mereka berdua terbelalak melihat seorang petinggi yang dikenal dingin itu tiba-tiba meneteskan air matanya


"Aku berharap--- Setidaknya kamu akan bertemu dengan seseorang--- Dia yang bisa-- Membantumu dalam setiap masalah--- Orang baik seperti Luxor yang akan--- Menjadi pasangan hidupmu tanpa memerlukan diriku---


Aku hanya ingin kamu bahagia bersama orang sepertinya-- Berhenti mengikuti roda kehidupan keturunan kita-- Dan memilih untuk hidup sederhana seperti Elf lainnya---


Terkutuklah darahku ini--!! Kenapa kamu harus menjadi sepertiku---!!?"


...


Itulah... Isi hati Zaphir


Orang yang dikenal sebagai bayangan bulan itu. Petinggi yang ganas dan tidak kenal takut. Dingin dan tidak kenal ampun


Dia memecahkan seluruh gambaran itu dalam waktu sekejap, dengan membongkar isi hatinya kepada anaknya. Apa yang tersisa pada Zaphir di hadapan kedua orang itu adalah seorang pria bertubuh besar yang mulai gentar dengan apa yang ia pegang teguh


Zaphir pun menenangkan dirinya, selagi terus mencoba melanjutkan pembicaraan karena tidak ada jalan keluar yang lebih baik dari itu sekarang ini


"... Aku hanya berharap Amara masih hidup sekarang..."


Nama itu terdengar baru di telinga Verdea, tapi tidak bagi Luna


"Aku hanya berharap dia masih hidup, dan setidaknya memberimu kasih sayang yang tidak bisa diberikan prajurit berdarah dingin sepertiku ini


Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus memberimu kasih sayang yang kamu inginkan itu..."


...


"Aku sudah bilang kalau aku hanya butuh pengakuan bukan...?" Luna membalas kali ini, selagi memeluk dirinya sendiri


"Aku sudah mengakuimu sejak lama! Aku akui kalau kamu berbakat! Aku akui kalau kamu akan melampaui ku seandainya insiden yang memecahkan inti Mana mu itu tidak terjadi!


Tapi aku harus menolaknya! Itu karena aku ingin kamu hidup dengan lebih layak sebagai seorang wanita!" Zaphir justru membalas


"Hanya karena aku ini perempuan???"


"Hanya karena kamu adalah satu-satunya anakku!!"


...


"Aku pernah memberitahumu untuk berhenti mengejar mimpimu dulu. Tapi kamu tidak mendengarkan. Justru ketika kamu bertemu dengan Oberon, kamu semakin ingin menjadi seorang petinggi..."


...


...


...


"Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan... Walaupun aku harus meminta maaf sekalipun, aku tidak tahu harus bagaimana..."


Matanya meredup. Dia sudah memberitahu apa yang ingin diketahui Luna. Semuanya


Sekarang dia akan menerima apapun itu kalimat kasar yang akan dilontarkan anaknya. Dia paham akan konsekuensi kalimatnya itu


Tapi...


Apa yang dia terima justru berkebalikan dengan apa yang dia duga


"Kalau begitu beri aku sumpahmu"


Luna...


Tidak seperti yang Zaphir duga, anaknya itu justru terlihat sangat tenang walaupun matanya sembab. Dia terlihat seakan tahu apa yang harus dilakukan oleh mereka berdua agar masalah ini bisa selesai


Dan karena itu, Zaphir pun memilih untuk mengikuti apa yang anaknya mau


"... Bersumpah lah kalau kamu tidak akan pernah menolak identitasku sebagai seorang petinggi"


"Luna-!"


"Sekarang juga sudah terlambat untuk menolaknya bukan??!"


...


Zaphir pun mengangguk, tidak berniat untuk melawan lagi


"Aku bersumpah"


Tapi Luna tidak berhenti disitu


"Bersumpah lah kalau kamu akan selalu memanggilku dengan sebutan nama mulai sekarang. Tidak ada kata 'Kamu' atau 'Hei' lagi disaat menyapa"


"... Aku bersumpah"


...


"Ini yang terakhir..." Luna berkata


Zaphir hanya pasrah dan menyiapkan dirinya


"... Boleh aku memelukmu?"


"...!"


Zaphir tertegun


Dia sama sekali tidak menganggap kalau permintaan itu akan datang dari anaknya. Anak yang sama yang telah dia abaikan tanpa sikap kasih sayang itu


Memeluk...


Dia hanya pernah memeluk satu orang dulu, yaitu istrinya. Dia pernah menggendong Luna ketika masih bayi, tetapi dia tidak yakin pelukan seperti itulah yang diinginkan Luna sekarang. Jadi dia bingung apakah dia harus melakukan yang sama persis untuk Luna juga seperti yang dia lakukan untuk Amara istrinya


Dia ragu, tetapi Zaphir pun hanya diam tanpa sepatah kata dan membuka lengannya


Mata Luna berbinar melihat itu, dan tanpa ragu dia pun membalas perilaku ayahnya dengan sebuah pelukan. Tanpa perlu hitungan detik, dalam sekejap dia sudah memeluk erat ayahnya


Zaphir pun sadar apa yang harus dia lakukan selagi dia mencoba menahan berat badan Luna. Dan dengan itu, lengannya pun dia tutup kembali dan dia letakkan bibirnya tepat diatas kepala Luna


"Ya. Memeluk itu seperti ini..." Luna berkata


"Kamu bicara seperti ibumu..." Zaphir membalas


Luna pun sudah puas, dan mereka berdua serentak melepas pelukan mereka


"Haah... Aku selalu menginginkan hal ini. Ternyata tidak sesedih yang kukira..." Luna berkomentar selagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Lalu mereka pun membatu ketika menyadari mereka melupakan satu hal. Dan mereka berdua pun dengan kaku menoleh kearah hal itu


Yap. Verdea masih disana, meringis terharu melihat hal itu seperti baru selesai menonton sebuah drama yang ditunjukkan diatas panggung


"Akhirnya kalian berkomunikasi---!!" Verdea berkomentar, menarik sapu tangannya keluar dan membersihkan air matanya yang mengalir deras


Tapi Luna tidak menerima respon itu dengan baik dan segera memegang kedua bahu Verdea dengan tatapan mengancam


"Jangan beritahukan hal ini kepada siapapun. Terutama Vainzel"


"Aku paham aku paham---"


Luna pun berbalik lagi kearah ayahnya. Dia masih terlihat canggung, begitu juga dengan Zaphir yang terlihat sedikit terancam karena berpikir Luna juga akan memaksanya untuk tutup mulut


Tetapi setidaknya, Luna sudah bisa merasa sedikit normal dengan ayahnya


"Lain kali... Aku ingin mencoba latih tarung denganmu..." Luna berkata malu-malu


Zaphir mengangguk pelan


"Aku akan siapkan beberapa makanan juga untuk dimakan setelah itu" Dia menambahkan


Luna pun tersenyum mendengar respon ayahnya, menatap kearah Verdea yang ikut tersenyum juga


"Kalau begitu, sekarang kita bisa mencari Fyon!" Verdea berseru kemudian


Luna juga setuju dengan senang hati, sementara Zaphir hanya samar-samar tersenyum melihat antusiasme keduanya


Tetapi, dia tiba-tiba merasakan hawa keberadaan yang mendekat dengan cepat kearah mereka bertiga. Luna menyadarinya juga, tetapi telat beberapa detik dibandingkan ayahnya


Lalu sosok itu pun menampakkan diri dengan napas terengah-engah. Batu Mana miliknya dia pegang di tangannya, tidak dia kalungkan seperti yang biasa orang lain lakukan


Sosok itu adalah Ivor. Dan dia terlihat sangat lelah sehabis berlari kearah mereka dengan kecepatan penuh


"Ivor...?" Verdea bertanya


Dia sudah merasakan ada yang salah, begitu juga dua orang lainnya


Hal itu pun dikonfirmasi oleh Ivor yang mulai menyampaikan beritanya dengan tubuh dan mata yang bergetar hebat


"Seren..."


"... Apa yang terjadi kepada pelindung Gerbang Hutan...?"


"Seren baru saja tiada, Zaphir...!!!"