
--- Pelabuhan Typha, Selatan Benua Flos ---
...
...
"Masih menggerutu?"
"Tidak"
Dia bilang begitu, tapi wajahnya yang cemberut itu berkata lain
Karena kami tidak mampir ke kota Magnolia untuk membeli beberapa ayam pedas, dia tidak mau berbicara sepanjang perjalanan kecuali jika kami memulainya
Sebesar itukah keinginannya untuk makan ayam itu...?
"Dasar bocah. Begitu saja masih marah"
"... Mulutmu bau, Luxor"
"Kamu...!"
"Sudahlah. Kalian hanya akan menarik perhatian semua orang nanti"
Lupakan itu. Perhatian mereka memang sudah tertuju kepada kami sejak tadi. Tatapan penuh ketegangan dan amarah itu mereka arahkan tanpa memikirkan perasaan kami
Aku tahu kalian kesal karena harus bekerjasama dengan kami sekarang, tapi setidaknya tolong sembunyikan tatapan kalian itu boleh...?
"Vain. Apa ada ayam pedas di dekat sini?"
Masih bertanya begitu?
"Aku tidak yakin. Biasanya toko makanan di sekitar menjual makanan dari hasil laut"
Begitulah kira-kira. Terakhir kali aku ke kota ini dulu, semua toko makanannya menjual daging hewan laut
"Payah" Verdea menggerutu
"Lagipula, bukannya kita seharusnya naik sekarang ini?" Luxor bertanya
"... Aku rasa kita harus tunggu dulu. Orang-orang itu tidak terlihat ramah"
Dari tatapan mereka saja bisa dilihat bukan?
"Itu karena mereka masih waspada kepadamu"
A-
Cih! Tiba-tiba muncul saja
Edwin yang baru saja berucap itu langsung melangkah maju, naik keatas kapal yang akan membawa kami tanpa kendala
...
Hah... Seandainya kami bisa dengan mudahnya naik sepertimu, kami sudah lakukan sejak tadi
Orang-orang ini masih terlihat tidak ingin bekerjasama dengan kami. Berada diantara mereka sekarang mungkin bukan pilihan baik
Tunggu sampai beberapa dari mereka menyingkir dari dek kapal dulu...
"Sudahlah. Ayo naik"
Verdea tiba-tiba memegang tangan kami semua dan menyeret kami naik ke kapal
"Veri- Tunggu-!"
"Sudahlah. Lebih baik kita memilih kamar sekarang juga daripada mereka bersikap ketus dan tidak mau memberikan kamar nanti bukan?"
Dia benar. Kenapa anak ini harus berkata benar...?
"Ya tapi-"
...
Sudahlah. Ikuti saja si bos kecil
Berdebat dengannya tidak akan menghasilkan apapun. Sudah kuakui juga kalau dia itu benar
Dia sudah tahu apa yang baik dan buruk. Aku tidak akan meragukan penilaiannya
Dan seperti biasa, aku yang harus membawa semua tas mereka, karena aku yang paling kuat secara fisik. Merepotkan
Ku ikuti Verdea dari belakang, bersama yang lainnya. Tapi...
Satu langkah saja kami baru memasuki dek kapal, semua orang langsung terlihat waspada
"Ah, wajah mereka membuatku tidak nyaman" Verdea berkomentar
Itulah kenapa aku tidak mau naik dulu sejak tadi!
"Verdea. Sebaiknya kita langsung ke dalam saja"
Verdea mengangguk merespon perkataanku
Tapi sekali lagi, bahkan belum selangkah maju, seseorang membuat kami terhenti
Seseorang berbadan besar, berdiri tepat di hadapan Verdea, melihat kearahnya seakan dia itu sampah
"Permisi. Kami ingin lewat"
"Oh aku tahu. Tapi jelaskan kenapa kalian harus lewat?"
...
Aku bisa berdebat dengannya sekarang, tapi orang berotak udang sepertinya ini bahkan tidak bisa membuat pertanyaan yang menjebak
Lebih susah berdebat dengan orang tolol dibandingkan seorang jenius
"Kami ingin masuk ke dalam kabin kapal. Apa itu sudah cukup jelas?"
Verdea mengambil alih...
Dia akan lelah berdebat jika begini...
"Tidak. Aku heran kenapa kalian berpikir kabin untuk para kru itu diperuntukkan bagi kalian? Kalau kalian memilih kamar, dimana kebanyakkan kru di kapal ini akan tidur?"
"Di dek. Sulit sekali kah?"
...
...
Apa-?
Dia langsung terus terang begitu-?
Aku sangat tidak menyangka dia terus terang begitu...
"Kalau begitu, kenapa tidak kalian saja yang tidur di dek, hah?!"
"Seandainya kapal ini lebih bersih, mungkin kami mau"
...
PFFT!!!
Anak ini terus terang sekali
Bahkan teman-temanku yang lain tidak bisa menahan senyum mereka
"Sudah, sudah. Kita sebaiknya simpan tenaga saja"
"Ah, akhirnya sikap sarkas mu keluar"
"Sarkas?"
...
Mendengar orang yang menghadang kami itu bertanya, kami berdua menatap satu sama lain dengan tampang takjub, sebelum kembali menengok kearahnya
"Ternyata dia memang bodoh. Dia bahkan tidak tahu kamu sedang mencela dirinya" Verdea berkomentar
"Sudah kubilang bukan~? Tidak perlu dikatakan juga sudah jelas bukan~?" Aku menambahkan
"Hey paman. Menurutmu kamu punya otak atau tidak?"
"Ahahaha-!!! Kamu sedang senang mencela orang atau apa??"
Aku spontan tertawa barusan karena tidak menyangka dia mencela dengan terus terang. Aku pun harus menahan tawaku agar tidak kembali meledak
"Aku mencoba sarkas juga, tapi takutnya dia tidak paham nanti"
Verdea menjulurkan lidah dengan niat usil, dan itu digabung dengan ucapannya barusan membuatku tidak bisa menahan tawa lagi
Semua temanku tertawa kecil melihat tingkah Verdea dan mendengar tawaku. Mereka ternyata mencoba untuk menahan tawa mereka juga di depan semua orang yang sudah mulai terlihat kesal itu
Baiklah sudah cukup mengolok-olok orang-orang ini. Dia terlihat naik pitam sekarang. Pikiran kami semua juga sudah sama sekarang ini...
Lari!!!
"Hey sialan!! Jangan lari-!"
Dia tersungkur ketika berniat mengejar kami yang sudah menjauh. Kami pun menertawakannya yang mulai menggelinding diatas papan kayu itu dan jatuh dengan sukses di tanah, mendarat wajah duluan
"Siapa suruh, dasar orang tidak jelas! Makan itu!!" Luxor meneriakkan
"Sudahlah. Kita lari ke ujung dermaga saja" Ordelia menyarankan
Yah mau bagaimana lagi? Orang-orang itu juga pasti tidak akan membiarkan kami naik kapal mereka lagi
Harus mencari kapal lain
"Lupakan soal kapal"
Heh?
"Kenapa berkata begitu, Verdea?"
"Kita terbang saja ke Miralius. Toh, rencanamu juga tidak memperhitungkan mereka sebagai bantuan bukan?"
Dia benar. Tapi, aku ingin ada beberapa saksi yang bisa melihat rencana kami berjalan nanti. Agar terbukti kalau kubu kami saja yang berhasil mengalahkan Xiang
Kami berhenti berlari, melihat kalau kami sudah tiba di ujung dermaga
Jadi, dia ingin terbang kah...?
"Cari Edwin dulu?" Verdea bertanya, mengetahui apa niatku
"Tidak, tidak perlu"
Aku memberi sesuatu kepada Edwin sebelum berangkat tadi
"Oh, benih jarak jauh!" Verdea berseru
Aku tahu ini akan berguna, itu sebabnya aku memberikan satu kepada Edwin
"Halo, Edwin?"
...
"HOY!!! AKU TAHU KAMU SEDANG MENDENGAR!!"
Jangan coba membodohiku. Aku yang membuat benih itu, jadi aku tahu apa kondisinya
Tapi karena aku berteriak barusan, semua temanku terkejut setengah mati
"Tch. Padahal aku sedang tidur sebentar saja..."
Ah, akhirnya dia menjawab dari benih itu
"Edwin. Kami ada satu hal yang ingin disampaikan"
"Dan apakah itu, Oberon?"
Aku ingin mengatakan alasannya, tapi sebelum aku sempat, Verdea meraih tanganku dan mulai bicara
"Kami tidak akan naik kapal. Para Fae yang akan mengantar kami"
"Oh begi- HAH!? Jangan bercanda pangeran!!"
Reaksi terlambat yang fantastis
"Kami serius. Dan kamu membuat telingaku sakit"
"Maaf karena itu. Tapi, Fae? Apa itu?"
Hah? Dia tidak tahu?
Aku memberi isyarat agar aku saja yang berbicara lagi kepada Verdea. Dia paham dan segera undur diri melepas tanganku
"Intinya, kami akan terbang ke Miralius duluam. Perintahkan semua kapal ini untuk segera menuju Gong dan menunggu disana. Kalau mereka menolak, biarkan saja. Kami tidak butuh orang yang tidak berniat ikut, katakan itu pada mereka"
Yah, walaupun aku yakin semua kapal ini bakal tidak ikut dengan kami karena perkataanku itu
Tapi seperti yang Verdea bilang, kami tidak butuh orang-orang itu dalam rencana kami
"Tapi, kapal ini sudah disiapkan oleh kerajaan loh? Kalau kamu menolaknya..."
Verdea sekali lagi meraih tanganku dan memajukannya ke bibirnya
"Kalau begitu bilang kepada para bangsawan, kalau pangeran Verdea dikasari oleh mereka sehingga merasa tidak nyaman dan pergi sendirian bersama temannya. Paham?"
"Tidak"
Respon seketika dari Edwin. Tidak ada pikir panjang sama sekali
Itu karena dia tidak ingin mendapatkan waktu sedikitpun dengan para bangsawan itu
"Kenapa kamu harus pergi tanpa pasukan ini?" Edwin bertanya lagi
"Karena mereka tidak berguna jika tidak berniat!! Kamu tidak paham dengan perkataan Vainzel tadi?!"
Uwah...! Verdea mulai berteriak
Aku tahu dia hanya main-main saja, tapi dia membuatku terkejut
"... Tch. Baiklah, pangeran. Aku hanya akan mengatakan kepada orang-orang ini kalau kami harus menunggu di Gong. Melapor kepada para bangsawan mengenai dirimu yang menolak bantuan akan sangat merepotkan jika kulakukan"
Dia benar. Walaupun tidak terlalu berpengaruh untuk Verdea, kami juga jadi ada satu kerugian yang baru aku sadari
Para bangsawan tidak akan mau bekerjasama dengan orang yang menolak bantuan mereka, bahkan jika orang itu adalah seorang pangeran. Ada hubungannya dengan harga diri mereka juga, itu sebabnya
Aku yakin Verdea juga sadar dengan hal itu
"Intinya, ingat perintah itu. Kerajaan Gong, kemudian tunggu disana. Aku tahu akan sulit untuk memutar kesana, tapi kita tidak punya pilihan lagi. Bahkan aku tidak yakin para Elf di Miralius akan merasa senang bertemu dengan pasukan Hortensia"
Edwin terdengar setuju, kemudian undur diri untuk memberitahukannya pada para kapten kapal
"Lalu, mengenai para Fae..."
"Serahkan padaku"
Ordelia maju, dengan kedua tangannya yang dikepal
Setelah dia membuka kepalan tangannya di hadapan kami, terlihat ada beberapa serbuk di tangannya. Dia kemudian meniupkan serbuk itu kearah kami sehingga semuanya menempel di baju
Oh, serbuk ini
"Wo- Woah!"
Verdea mulai mengambang di udara, diikuti oleh kami yang lainnya
Aku langsung memegang Verdea agar dia tidak terbang kesana kemari di udara tanpa kendali
"Ayahanda memberikan ini padamu ya?" Aku bertanya
"Dia bilang akan bermanfaat untuk kita. Setidaknya sekarang akan berguna"
Ayahanda selalu tahu apa yang akan kami butuhkan. Penasihat kaum Elf memang luar biasa
Satu komponen utama yang bisa melahirkan sebuah Fae adalah serbuk yang dihasilkan oleh Ayahanda melalui napasnya. Serbuk yang memberi mereka kekuatan untuk terbang, mengingat kalau Ayahanda sendiri bisa terbang dalam wujud aslinya
Jadi, beliau juga bisa menggunakan kemampuan ini dalam wujud wadahnya yang seperti itu
Menghasilkan serbuk ini adalah kebiasaan Ayahanda. Mereka akan bertebaran dengan sendirinya di seluruh penjuru Miralius, menempel di sebuah bunga atau pohon, dan membentuk para Fae yang berukuran kecil
"Dengan begini, kita tidak perlu menunggu para Fae!" Verdea berkata dengan riang, kemudian mulai terbang kesana kemari seakan sudah terbiasa
"Veri, hentikan. Kamu akan menarik perhatian banyak orang"
"Oh, ayolah. Mereka semua sudah menatap semenjak kita melayang kamu tahu?"
Dan itu yang tidak kusukai...
Yah, biarkan saja. Kita semua harus bergegas menuju Miralius
"Kalau begitu kita terbang saja sekarang"
"Baik!" Semua temanku berseru
Setelah aku membawa semua tas kami dengan mengikat erat semuanya menggunakan tanganku, kami pun mulai bergerak di udara secara perlahan
Satu hal lagi yang harus diperhatikan, kekuatan serbuk ini harus kami yang kontrol, tidak seperti saat bersama para Fae
Jika kami melesat dengan sangat cepat, mungkin kami tidak akan bisa mengerem dadaka-
*SBYUR!!*
"VERDEAAA!!!!"
Anak itu...!!!
Suasana langsung riuh selagi kami semua mencoba mencari cara untuk menyelamatkannya yang tercebur ke laut itu, tanpa membuat pakaian kami basah tentunya
...
"Ehehe~ Aku tidak bisa mengontrol kecepatanku sebelum tercebur tadi~"
Dan sekarang semua serbuk di tubuhmu hilang. Malah aku yang harus membawamu di udara bukan? Seluruh badanmu jadi basah kuyup
Aku tidak berniat membasahi diriku juga, jadi dia harus bergelantungan seperti itu selagi aku membawanya
"Untung saja pemikiran Remina itu cepat. Kalau tidak, kamu mungkin sudah jadi makanan ikan laut"
"Tapi dia harus berhenti berniat menyakitiku dengan sengaja..."
"Kalau dia tidak memukulmu dengan air ke udara tadi, aku yang akan memukulmu sekarang!"
"Hmph...!"
Menggerutu sesukamu
Dasar bocah. Membawamu bersamaan dengan semua tas ini membuat tangan dan punggungku pegal
Hah... Aku ingin melesat agar cepat sampai, tapi aku bisa menjamin kami akan menabrak ke tanah nanti
Sebaiknya aku sabar saja. Menuju ke Miralius memang akan sangat lama, tapi setidaknya aku bisa istirahat sepuasku disana nanti
Pikirkan itu saja Vainzel, pikirkan itu saja
"Dan berhenti bergoyang!! Kamu mau kita tenggelam?!!" Aku berteriak pada Verdea yang tiba-tiba bergoyang
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja tidak boleh!?" Dia membalas
"Berhenti menggoyangkan badanmu bodoh!!!"
"Perlu kupukul dia dengan air lagi Oberon?" Remina menyela
"Aku mohon!!"
Semua temanku tertawa melihat tingkah kami berdua. Dan untuk menepati perkataannya, Remina menepis kaki Verdea dengan air laut setelah aku merendah sedikit ke permukaan, hingga membuat dia mencoba menarik kakinya keatas
"Jadi mau kalian begitu!? Baiklah, aku tidak akan berhenti bergerak!! Rasakan ini!!"
Ahaha... Anak ini
Tapi kami benar-benar akan jatuh kalau begini...
Biar saja. Setidaknya, aku bisa tahu kalau Verdea masih bersemangat
"Kalau begitu, kita lempar lagi dia ke laut!"
"Ayo!!"
"JANGAN!!!"
Dan aku jadi senang mengganggu dia, sama seperti dia menggangguku