Book Of Flowers

Book Of Flowers
Dulu di Hutan Elf (3)


Suara sebuah kayu patah diikuti oleh teriakkan Luxor menggema di seluruh tempat. Aku dan teman-temannya merinding mendengarkan teriakan itu, kecuali Luna yang mulai mendekati tepi jurang untuk memastikan keadaan Luxor


"LUXOR! ADA APA!!??" Teriak Luna yang ikut panik dari posisinya berada


"KAKIKU TERSANGKUT DI JEMBATAN!!"


Jembatan itu terayun seperti pergerakkan seseorang yang berusaha melepaskan diri


"JANGAN BERGERAK BODOH!!" Teriak Ivor


"LALU AKU HARUS APA!!??"


"BERTERIAK MINTA TOLONG! AKU YAKIN ORANG DI SEBERANG BISA MENDENGARMU!"


Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi saat itu. Sosok Luxor masih tidak terlihat dan ditelan kabut itu. Luna mulai menggigiti jarinya—berusaha bersikap tenang untuk mencari cara. Ivor mulai berjalan kesana kemari tidak karuan. Ordelia yang mulai bergetar dan meringis itu dipeluk oleh Lyralia yang berusaha membuatnya tenang


Suara tangisan Luxor mulai terdengar. Mereka berempat semakin panik dan terus berusaha mencari sosok Luxor di balik kabut. Sementara aku...


Aku harus apa...?


...


...


...


"Permisi!" Spontan aku bersuara


Aku keluar dari persembunyianku dan berjalan langsung kearah mereka. Mereka semua berbalik dan kaget melihat kehadiranku, tidak menyangka kalau yang hadir di dekat mereka adalah sang Oberon secara langsung


"Vainzel!" Seru Ordelia


"Kenapa kamu ada disini, Oberon?" Ivor bertanya


"Aku tahu hal seperti ini akan terjadi..."


Mereka ingin merasa lega, tetapi juga merasa risau. Kehadiranku disitu berarti kalau situasi mulai genting, dan mereka tahu kalau mereka membutuhkan bantuanku


Jadi mereka pun menyingkir, mempersilakan diriku untuk melakukan apa yang aku bisa lakukan untuk menolong teman mereka. Dan aku pun melakukan langkah pertama


Kupanjangkan tanganku yang berbentuk sulur itu dan melapisi jembatannya semampuku. Mereka berempat mengawasiku yang masih terus fokus memanjangkan tanganku sepanjang mungkin, berdoa agar Luxor bisa tertolong


Perlahan tanganku mulai bercabang, seperti sebuah sulur yang mengeluarkan sulur lain. Tali pegangan. Kayu jembatan. Semua bagian jembatan itu aku usahakan agar bisa dilapisi oleh tanganku


Namun, aku tidak bisa merasakan tanganku mencapai sisi seberang dari jembatan ini. Dan karena itu, salah satu dari mereka berempat harus berani maju dan mengangkat Luxor kemari. Aku pun menoleh kearah mereka berempat, bermaksud meminta bantuan salah satunya


"Salah satu dari kalian. Siapapun itu, aku mohon maju dan selamatkan dia"


"Tidak. Jembatan itu bisa putus. Mungkin bisa membahayakanmu juga" Ivor justru membantah


"Kalian itu ringan! Aku yakin kalau aku sanggup menanggung berat kalian!"


"...!"


Dia diam, menyadari kalau aku ada benarnya. Tapi dia juga tidak salah ketika berkata kalau hal ini terlalu berisiko


"Baiklah, aku yang akan maju" Sebuah suara pun telah meneguhkan diri


Luna berjalan dengan tegapnya dan membuat temannya yang lain kaget. Sementara aku sendiri mulai bersyukur ada yang berani untuk maju


"Ini berbahaya Luna!" Seru Ivor


"Kamu bisa bilang begitu ketika temanmu dalam bahaya?" Balas Luna


"Aku tidak bilang kita harus abaikan dia! Ada orang yang lebih ahli untuk menolongnya!"


"Dia temanku, dan aku harus selamatkan dia disaat seperti ini"


"Aku tidak peduli dengan perkataan kalian, asal kalian mau maju sebelum tanganku tidak kuat!" Aku menyela


"Teman-teman!? Ada akar tanaman melilit kaki-"


"Diam Luxor!" Seru kami bertiga yang membuatnya langsung diam


Aku berpaling kembali kearah Luna, memohon kepadanya agar dia sudah siap meneguhkan diri. Luna pun mengangguk untuk mengkonfirmasi, siap untuk maju kapan saja


Lyralia dan Ordelia yang risau dengan keadaannya pun hanya bisa diam di posisi


"Hati-hati Luna..." Ordelia bahkan berkata


"Jangan khawatir Lyralia, Ordelia" Luna meyakinkan keduanya


Ordelia dan Lyralia terlihat gelisah sekali, sembari memegang tangan satu sama lain dan beberapa air mata yang mulai terlihat di sudut mata mereka


Di sisi lain, Luna berdiri dengan tegap dan mulai berjalan diatas jembatan itu, menapaki langkah pertamanya dengan hati-hati. Lalu, langkah keduanya, dan seterusnya


Dia lebih ringan daripada yang aku kira, walaupun badannya terlihat lebih besar dibandingkan teman-temannya


Dia perlahan berjalan dan tertelan oleh kabut, sama seperti Luxor. Tidak lama, jembatan itu terasa seperti berayun sekali lagi


Hati kami semua berdegup kencang. Tapi, aku berusaha tetap fokus agar jembatan itu tidak jatuh saat Luxor berusaha melepaskan diri


Namun...


*Krak!*


--- Aku tidak sempat memproses apa yang terjadi


Detik pertama, jembatan itu terasa putus dan berat di tanganku...


Detik kedua, aku mendengar teriakan mereka berdua yang memekakkan telinga...


Detik ketiga, tubuhku mulai terseret ke jurang bersama jembatan itu...


...


"AWAS!!"


Ivor menggenggam pakaianku sekuat mungkin dan menarikku sebelum aku sempat terseret lebih jauh


Aku akhirnya sadar dan mulai menarik diriku kembali, memastikan aku tidak ikut terseret kearah jurang. Tanganku terasa sakit karena jembatan itu putus dan terbelah menjadi dua


Sekuat tenagaku yang masih tersisa, aku berusaha menahan berat jembatan itu bersama Ivor, agar Luna dan Luxor tidak terjatuh. Dan melihat usaha kami berdua, Ordelia dan Lyralia ikut membantu menahan jembatan, walaupun mereka berdua sudah pasti tidak terlalu membantu dalam hal fisik


"LUNA! LUXOR!" Ivor berteriak memanggil mereka


"Ivor---! Aku-- Aku bisa melihat-- Jurangnya---!!"


Tangisan Luxor terdengar keras setelahnya


"Kalian dengarkan aku! Bagaimanapun itu, jangan gunakan sihir kalian!" Luna berseru


"Kenapa...!? Kamu...! Tidak mungkin...! Bisa selamat...! Tanpa sihir!" Ivor membalas selagi semua urat di tubuhnya terasa ingin putus menahan berat jembatan itu


"IVOR! DENGARKAN AKU!"


Ivor langsung diam tidak bicara dan hanya fokus membantuku menahan berat jembatan itu


"Aku akan menarik Luxor keatas! Oberon! Maaf karena kamu harus bertahan lebih lama!"


"Baiklah...!"


Keadaannya semakin parah...! Seandainya saja tanganku bisa mengikat seluruh jembatan ini...!


Aku bisa menahan jembatannya dengan mudah. Tapi, karena panjangnya yang tidak kuketahui, aku terlalu meremehkan kekuatan jembatannya. Sekarang setelah benda itu patah menjadi 2, aku pun sadar kalau jembatan ini sangatlah panjang


Aku bisa menarik tanganku kembali dan menarik seluruh bagian jembatan ini keatas setelah mengumpulkan kekuatan yang cukup. Tapi, itu berarti aku harus melepaskan mereka untuk sesaat. Aku tidak yakin ketiga anak itu bisa menahannya, jadi aku harus tetap menahan posisi menjengkelkan ini


"Luna--! Luna--!"


"Berhenti bergerak Luxor!"


Mereka terus berdebat dibawah sana. Luna sepertinya sudah sampai di dekat Luxor sekarang ini


Kemudian, aku mendengar suara Luna yang berusaha sekuat tenaga. Usahanya itu membuat jembatan semakin terasa berat di tanganku. Kami berempat bahkan mulai terseret sedikit ke jurang karena itu


Jika kami terlalu lama seperti ini, tali penyangga jembatan itu akan segera putus dan menjatuhkan kami semua. Semuanya sekarang ini sedang bertumpu kepada seberapa cepat Luna bisa melepaskan Luxor dari sana


Dan juga...!


Sulur yang menjalar dari tanganku sudah mulai putus satu persatu... Rasanya sakit sekali...


"Ada apa disana!?"


Seseorang berteriak dari sisi seberang jembatan. Apapun itu kalimat yang ada di dunia ini tidak bisa menggambarkan seberapa senang kami semua disaat itu. Aku sama sekali tidak membiarkan kesempatan untuk mendapatkan bantuan itu lepas begitu saja


"Tolong kami! Jembatan ini runtuh dan teman kami tersangkut di kayunya!" Teriakku kearah suara itu


"HAH!? Baiklah! Aku akan cari bantuan dahulu!"


Suara langkah kaki orang itu yang pergi dengan cepatnya terdengar jelas. Dan untuk sekarang, kami hanya perlu bertahan sedikit lagi


"KAKI LUXOR TIDAK BISA KUKELUARKAN!" Luna tiba-tiba meneriakkan


Teriakan Luna itu membuat kami semua kembali panik. Posisi kami sempat goyah, sehingga sekali lagi tertarik kearah jurang


"Kalau begitu bertahan saja! Bantuan akan dat-"


"AAAHHHH!!!"


"ADA APA!?"


...


Hening. Hening itu membuatku panik dan perlahan membunuhku


Tetapi, aku masih bisa mendengar suara tangisan Luxor dari balik kabut itu. Dan rasanya, sepertinya mereka berdua masih berpegang disana. Itu tidak berarti aku masih bisa tenang


"Tenang...! Jangan bergerak Luxor... Aku menangkapmu...!"


Tetapi suara itu cukup mampu untuk melegakan diriku untuk sesaat


Mereka hampir terjatuh...?


Aku harus memastikan kami berempat tidak bergerak sedikitpun agar tidak membuat Luna semakin kesulitan.


"Tapi... Kalungku putus..."


"...!"


Sial... Putar kepalamu Vainzel...


...


"Kalian bertiga. Aku mohon agar kalian mau menahan ini selagi aku lompat ke bawah?"


Aku cukup kuat untuk melempar mereka keatas dengan cepat dan aman jika aku mengambil mereka dari bawah


Tapi, masalahnya adalah seberapa lama ketiga orang ini bisa menahan jembatannya. Menarik jembatan ini keatas bukanlah opsi, karena aku takut itu justru akan membuat pegangan Luna terlepas


Aku harus percaya kepada mereka


"Hah!? Kami tidak mungkin tahan! Kamu juga mungkin- Tidak akan selamat!" Lyralia berkata sambil terus berusaha


"Tidak- Aku bisa tahan!!" Ordelia menyela, berkata sebaliknya


Kami semua menoleh kearah Ordelia


Dan pada saat yang sama, beberapa akar pohon menjalar kearah kami dan membantu menahan jembatannya. Melihat akar-akar pohon itu, aku sadar kalau Ordelia memakai sihir miliknya untuk memanggil mereka


Aku menoleh sekali lagi kearahnya, yang perlahan mulai memegangi tali jembatannya


"Pergi Oberon-! Kumohon bantu teman kami-!" Dia mencoba meyakinkan diriku


Aku menatap wajahnya yang serius itu. Dan dia sudah bertekad. Sebuah senyum dia tunjukkan, mencoba membuatku sungguh bergerak sesuai keinginannya


Aku merasa aku tidak boleh mengecewakan senyum itu


Tarik napas... Semua akan baik-baik saja...


Setelah menenangkan pikiranku dan memastikan tanganku sudah kembali memendek, aku melepas peganganku dan melompat ke dalam jurang itu dalam sekejap


Ivor dan Lyralia langsung bergegas membantu Ordelia menahan jembatan itu dengan menarik lebih kuat dari sebelumnya


"Jangan dilepas!" Aku berkata pada mereka


Badanku mulai tertelan oleh kabut itu dan menghilang dari pandangan mereka


...


Gelap dan berkabut. Ukuran jembatan ini lebih panjang dari yang aku kira


Aku melayang selama beberapa detik diatas jurang yang berkabut itu. Lalu, aku melihat bayangan Luxor dan Luna dari balik kabut


Dalam sekejap, aku memanjangkan tanganku lagi dan mencengkeram kayu di jembatan dalam waktu seketika


Tapi, kayu itu patah satu persatu ketika aku mencengkeram mereka. Untungnya, tepat saat aku berada beberapa jengkal diatas Luna, aku berhenti jatuh dan memegang kuat di sebuah kayu


Matanya langsung berbinar ketika melihatku yang sudah tiba


Mengabaikan rasa kesalku, aku kembali fokus kepada mereka berdua. Kujulurkan tanganku dan mulai mengikat tubuh mereka


"Semoga pendaratannya mulus!" Aku berkata sambil tersenyum kearah mereka


Aku harap perhitungan lemparanku bisa tepat


Sekuat tenagaku, kuayunkan tanganku itu dan melempar mereka berdua keatas. Mereka berdua berteriak ketakutan ketika terlempar cepat ke udara, hingga suara mereka itu menggema ke seluruh area hutan. Hingga...


*Bruk!*


"AMAN!!" Teriak Luna


--- Mereka memastikan kalau mereka sudah mendarat


Bagus! Sekarang giliranku...


Aku mulai memanjat secepat yang aku bisa. Aku bisa merasakan mereka sudah mulai kesusahan menahan jembatan ini. Seluruh jembatannya sudah mulai bergetar dan semakin turun ke bawah


Disaat yang menakutkan seperti itu, aku mulai menghitung dari 1 sampai 10







4








7





8


9...


10...


Sedikit lagi...


Tanganku melemah...


Aku memohon agar aku diberi sedikit lebih banyak kekuatan lagi. Hanya sedikit saja. Dan permintaanku terkabulkan


Menyadari tanganku yang tiba-tiba muncul dari tebing, Ordelia melepas pegangannya dan menunduk untuk menolongku


Teman-temannya langsung mengikuti Ordelia untuk menolongku dan mereka berlima pun melepas pegangan dari jembatan itu, sepenuhnya mengabaikannya. Mereka semua membantuku untuk naik, apapun itu bayarannya


Perlahan tapi pasti, tali jembatan yang mereka lepaskan itu pun putus, terjatuh ke dalam jurang yang dalam itu, selagi aku dengan selamat sudah berada di genggaman tangan mereka


Pengalaman yang sangat menakutkan...


Melihat ke bawah, aku membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku jatuh. Mereka berlima terus berusaha menarik badanku keatas sekuat tenaga. Hingga akhirnya, aku pun bisa naik keatas setelah membantu mereka dengan mendorong badanku sendiri


Terbaring di tanah, napas kami semua tersengal-sengal, lelah dengan semua usaha yang sudah kami kerahkan


Dan hal pertama yang aku teringat adalah mengenai keadaan Luxor. Teringat kalau kalungnya terputus, dan dia sekarang ini pasti sudah menghirup banyak racun dari udara di tubuhnya


Aku mengambil bola yang diberikan Alf di kantongku dan langsung meletakkannya di tangan Luxor. Wajahnya yang awalnya pucat sekali itu mulai terlihat baru bernapas ketika aku meletakkan bola kecil itu di tangannya


Luna duduk dan memandang kearahku, ternganga. Dia takjub, sekaligus mencoba memastikan Luxor baik-baik saja hingga dia jatuh tidak sadarkan diri


"... Kamu hebat, Oberon..."


Dia memujiku terlalu besar. Aku bahkan tidak bisa menahan senyumku


"Aku justru menganggap kalian yang hebat..." Aku berkata balik


Matanya langsung menunjukkan kekaguman ketika mendengar perkataanku


Tidak lama, suara sekumpulan orang terdengar berjalan kearah kami. Menghampiri kami berlima yang masih lemas di tanah, pemimpin pasukan itu menghampiri kami dengan tatapan tajam


"Ayah..." Luna berkata pelan


Ayahnya...


Sebagai seorang Elf dari klan bulan yang terkenal tegas akan anggota mereka, orang ini terlihat seperti seorang petinggi


"Apa-apaan ini? Kenapa Oberon sampai terluka begitu?" Ayah Luna bertanya dengan nada gusar


Luka?


Tepat saat aku bergerak sedikit, aku bisa merasakan luka yang perih di tanganku


Ah ya... Mereka tadi putus kan...?


"Je- jembatan itu putus dan-"


"--- Dan kamu membuat sang Oberon dalam bahaya?"


Luna menunduk ketakutan ketika perkataannya dipotong


Melihat hal itu, aku tidak terima. Aku tahu betul, dengan apa yang sudah dia lakukan untuk memastikan kami semua selamat


"Kamu tidak boleh begitu padanya" Aku berkata


Mereka tersentak dan keduanya mengalihkan pandangan mereka kearahku. Tapi aku hanya diam memelotot, kearah ayah Luna yang mulai tidak bergeming, namun menunjukkan tanda tunduk


"Kamu tidak melihat usahanya tadi, jadi kenapa kamu menganggap dia menyusahkan seperti itu?" Aku menambahkan


Dia terdiam dan menunduk, malu dengan sikapnya yang barusan dia tunjukkan kepadaku. Helaan napasnya terdengar panjang sekali setelah mendengar perkataan barusan, dan aku pun tahu kalau dia sudah memasukkan hal itu ke kepalanya


"Kalau begitu, maaf atas ketidaksopananku, Oberon" Dia pun berkata


Dia beralih bertukar tatapan dengan Luna sekali lagi, hanya untuk beberapa saat. Tapi, dia bahkan tidak memberi sedikitpun tatapan khawatir kepada anaknya itu, ataupun sebuah ucapan bangga karena membuatku terkesan


"Dan aku ingin kamu membantu kami untuk mengawal mereka", Dia justru mengutarakan, seakan dia tidak peduli dengan kondisi anaknya


Dan yang lebih parah, dia langsung lebih memilih untuk mengangkatku yang terduduk di tanah dan mulai berjalan keluar dari area Hutan Gelap. Tubuhnya berbalik dari anaknya yang mulai terlihat tertegun diam tak mampu bicara itu


Aku tentu merasa iba dan gusar untuknya. Siapa yang tidak akan merasa seperti itu? Ini sendiri adalah suatu ketidakadilan...


Ketika semua pengawal ayahnya mulai mengangkat mereka berlima, tatapanku hanya terpaku kepada Luna yang membuang wajahnya—Kecewa dengan perilaku ayahnya


Aku merasa bersalah. Orang yang menggendong diriku ini adalah ayahnya. Seharusnya dialah yang dibawa, bukan diriku


Aku ingin mengatakan hal itu, tetapi aku merasa canggung karena kami sudah berjalan terlalu jauh


......................


--- Keesokan Harinya ---


"Aku senang kamu selamat" Alf berkata


Aku duduk di tempat biasa milikku di dekatnya lagi hari ini sambil menikmati matahari sore


Kejadian itu masih membekas pada diriku. Orang tuaku bahkan menunjukkan rasa panik mereka yang kuanggap berlebihan itu selama sisa hari kemarin. Ayahku tidak bisa diam, dan ibuku tidak bisa berhenti menggigit celemek masaknya


"Kamu tidak melihat betapa marahnya orang tuaku karena aku pergi kesana..." Aku berkata kepada Alf


"Ahahaha... Jelas saja orang tuamu khawatir bukan? Lagipula, itu memang salahku yang memintamu kesana"


Aku juga belum mendengar apapun tentang kelima anak itu setelah kami berpisah tanpa salam sana sekali. Bohong jika aku bilang aku tidak risau, tapi aku yakin kalau mereka pasti akan dilarang untuk mendekatiku mulai sekarang


Petinggi menyebalkan itu membuatku yakin akan hal itu. Sikapnya yang dingin terhadap Luna, anaknya sendiri, masih tergambar dengan jelas di pikiranku


Posisi dudukku berganti karena aku merasa kesal memikirkan hal ini


Orang tua itu memang payah. Melihat petinggi itu, aku jadi merasa ingin melempar sesuatu kearah wajahnya jika aku menemukan satu inci saja dari batang hidungnya. Aku pasti akan membuat orang itu membayar perlakuannya kemarin


"Vainzel!"


Seruan itu bergema di telingaku. Suara yang familiar dan membuatku antusias


Aku menoleh kearah asal suaranya dan melihat Ordelia yang melambaikan tangan dan teman-temannya berjalan kearahku


Mereka menghampiriku beberapa saat kemudian dan berdiri di hadapanku. Mangut-mangut, namun mereka sudah memiliki sesuatu untuk dikatakan kepadaku


"Kami ingin berterima kasih karena kejadian kemarin" Ordelia berkata


Hanya untuk itu. Walaupun aku memang membantu mereka, Luna dan Ordelia sendiri adalah orang yang paling membantu dalam keberhasilan kami kemarin


"Tidak perlu. Kalian juga menolong nyawaku" Aku membalas


Aku juga akan tewas sekarang seandainya mereka tidak membantu...


Matanya mulai terlihat bersinar, senang aku berkata seperti itu


"Dan juga, kami ingin mengajakmu bermain"


Dan pernyataannya itu membuatku terkejut


Bermain...


"Tidak apa-apa?" Tanyaku


Aku selama ini selalu bermain sendiri. Mendapatkan sebuah undangan untuk bermain bersama membuatku merasa...


Senang. Sangat senang, justru


"Kenapa harus bertanya?" Dia bertanya balik


Aku hanya tidak terbiasa karena itu pertama kalinya seseorang mengajakku bermain bersama


"Aku juga ingin minta maaf karena mengabaikanmu waktu itu" Ivor berkata, mengingat kembali pertemuan pertama kami


Dia bergerak maju dan menunduk ke bawah. Wajahnya bahkan terlihat kesal dan ingin menangis, seakan dia itu sedang mengakui kesalahan yang tidak ingin dia akui


"Aku tidak mempermasalahkannya..." Aku mencoba membantu isi hatinya


Dia langsung mengangkat kepalanya melihat kearahku. Aku memberi dia wajah tersenyum dan dia berusaha menahan tangisnya lagi


"Ini..."


Dia menyodorkan sebuah keranjang kearahku. Keranjang yang dia bawa semenjak mereka menghampiriku barusan. Aku menerima keranjang itu dengan senang hati dan melihat isinya


Buah. Ada bermacam-macam buah. Ada juga sebuah botol kayu yang berisi jus buah di dalamnya


"Ah... Terima kasih" Aku berkata sambil membuang wajahku karena malu


Ini hadiah pertamaku dari seorang teman...


Undangan untuk bermain, hadiah...


Aku menoleh kearah mereka semua sambil tersenyum. Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan sama sekali


"Kalau begitu, ayo kita makan sama-sama" Aku pun berkata


"Tidak apa-apa kah? Itu untukmu" Ordelia membalas, terlihat ragu


Aku mengangguk mantap dan mengatakan satu hal lagi untuk meyakinkan mereka berlima


"Ayo"


Mereka semua langsung terlihat senang dan bersemangat dan mulai duduk di dekatku secara satu persatu. Ketika kami berkumpul, gambaran senyum kami yang bergabung dengan satu sama lain itu bisa membuat sebuah pemandangan yang menyenangkan di mata


Kami semua menghabiskan waktu bersama dengan berbicara dan bercanda dengan satu sama lain. Tertawa, saling mengganggu, dan yang terpenting, duduk bersama di tempat yang sama, menikmati makanan dari keranjang yang sama


Itu waktu pertamaku menghabiskan waktu bersama mereka sebagai teman. Aku senang sudah mengenal Luxor, Lyralia, Ivor, Luna dan juga Ordelia di hidupku ini. Kelima temanku yang paling setia, bahkan hingga ujung hayat


Dan selagi kami berbicara, Alf memandang kearah kami melalui Pohon Agung


Samar-samar, aku mendengarkan dirinya. Perkataan yang membuatku luluh ketika mengingatnya


Sebuah perkataan mengenai sebuah ramalan


"Aku sudah meramalkan persahabatan kalian. Dan sekarang, aku mengharapkan kebahagiaan untukmu, Oberon Vainzel"