Book Of Flowers

Book Of Flowers
Ketakutan yang Melekat


'Hahaha! Anak Elf ini benar-benar tidak berguna!'


'Kamu bahkan tidak layak dijadikan pelayan, dasar sampah tidak berguna!'


'Kamu sudah kubeli dengan emas, bocah... Jadi bekerja keras lah untukku...!'


'Kamu berani menatapku dengan mata itu...?? Beraninya kamu menatap bangsawan sepertiku dengan tatapan itu!!'


'Dasar tidak berguna!'


'Sebaiknya kujual saja kamu lagi'


'Akan kubunuh kamu, dasar sampah!'


'Sampah'


'Sampah'


'Sampah!'


"Hentikan---!"


*Tok tok!*


"AKU BILANG HENTIKAN!!!"


!!!


*BRAK!!*


"Remina ada apa??"


Kenapa dia berteriak tiba-tiba?


Aku sudah mengetuk pintunya berkali-kali, tapi ketika mendengar teriakannya itu sudah jelas membuat kami panik hingga aku harus membuka paksa pintunya


Kami semakin terkejut dengan Remina yang meringkuk ketakutan di atas ranjangnya selagi menangis histeris


"Tidak--- Aku tidak mau-- Dijual lagi--!"


...!


"Hey kalian! Cepat siapkan segelas air untuk dia minum" Verdea memerintahkan kepada para pelayannya


"Segera dilaksanakan, pangeran!!"


Setengah dari mereka pun mulai berlomba untuk mengambil air di dapur, selagi yang lainnya mengikuti kami mendekat kearah Remina


Ordelia langsung mencoba mengecek suhu tubuhnya, tetapi Remina langsung menepis tangannya dan mencoba lari. Tetapi langsung tersadar kalau orang yang menyentuhnya adalah Ordelia


"Nyonya---! Oberon---!"


Dia langsung memeluk Ordelia erat, dan menangis di pelukannya selagi kami hanya bisa menatap khawatir terhadap keadaannya


Karena kesal aku langsung menoleh kearah Ivor dan Lyralia yang sebenarnya juga tahu apa yang terjadi kepada Remina, tetapi tidak memberitahu sejak awal


"Apa yang kalian pikirkan?? Dia diserang trauma seperti ini dan kalian malah menyembunyikannya!?" Aku bertanya karena mulai marah


"Kami tidak bisa memberitahumu tanpa membuat semua orang ikut panik! Ini juga baru pertama kalinya dia berteriak histeris begitu!" Ivor menjawab


"Tapi itu bukan berarti kalau menyembunyikannya adalah hal yang lebih baik Ivor-!"


...


Lupakan. Aku tidak akan berteriak di depan Remina sekarang


Dia sedang diserang trauma masa lalunya. Pastinya dia masih mengingat nasibnya ketika dia dijadikan budak waktu itu


Mengesalkan! Ini sangat mengesalkan!


Aku seharusnya tahu lebih baik kalau dia tidak seharusnya kutinggalkan menghilang di pesta itu. Para bangsawan disana pasti sudah membuat traumanya terpicu!


Bajingan-bajingan darah biru itu...!!


...


Selagi Nazia menyerahkan air untuk diminum oleh Remina, situasi sudah mulai tenang sedikit. Begitu juga amarahku


Verdea dan Luna pun menawarkan diri untuk tetap berada di ruangan bersama Remina, untuk memastikan dia tetap tenang hingga traumanya tidak terpicu lagi


Kami semua pun keluar dan berjalan kembali ke ruang tengah untuk membicarakan hal ini. Ordelia, Ivor dan Lyralia terlihat pucat dengan kalimat dariku yang sudah menanti mereka


"Kalian semua, masak saja air dan siapkan saja makanan untuk dia makan ketika dia sudah sedikit tenang nanti"


Semua pelayan itu menurut kepada perkataanku, dan segera pergi keluar menuju dapur selagi kami semua tetap berjalan ke ruang tengah


...


"..."


"..."


"Vainzel... Aku bisa jelaskan..." Ordelia berbicara mewakili mereka


"Jelaskan seperti apa, Ordelia?" Aku bertanya kepadanya


Dan jangan harap aku bisa berhenti marah sekarang. Kalian menyembunyikan hal ini hingga aku merasa ditipu


"... Remina yang bilang agar tidak memberitahukan hal ini kepada kalian terlebih dahulu. Terlebih lagi, karena Verdea ingin membicarakan sesuatu kepada kita"


"... Dan kalian menuruti perkataan seorang anak kecil yang sedang menyakiti dirinya sendiri?"


"... Maaf"


Setidaknya kalian sadar kesalahan kalian, aku bisa puji itu


Cih!


Aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Penyebab awal trauma itu terjadi juga adalah karena ketidakhadiran diriku di Miralius, bersama kelima petinggi terkuat kami


Jika kami ada disana disaat itu, semua hal yang dia dan banyak Elf alami tidak akan terjadi


Hah... Aku punya cara, tapi itu hanya bisa dilakukan hanya selama Festival Bunga berlangsung


Aku juga benci ide ini, tapi jika Remina tidak ingin melawan rasa takutnya sendiri, maka aku juga tidak punya daya


Aku hanya akan berharap dia tidak terlalu memaksakan diri nanti. Jika ide ini gagal juga, aku tidak akan masalah dan hanya akan mencari ide lain


......................


Remina terus terisak-isak, selagi Luna yang kebingungan dengan cara menanganinya itu hanya terus mengusap rambutnya


Sesekali dia menoleh kearah Verdea yang hanya akan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Dia pun akan berpaling kearah Remina kembali dengan wajah cemberut, masih mengelus kepala si Elf kecil tanpa tahu harus melakukan apa lagi


Tapi...


Verdea juga tidak ingin diam saja


"Hey, Remina. Perlu bantuan?" Verdea pun bertanya


Remina terdiam, sebelum mengangguk pelan meresponnya


"Apa?" Verdea bertanya lagi


"..... Air"


Verdea pun mengambil gelas air yang masih setengah penuh diatas meja samping tempat tidur, mengambil posisi Luna di hadapan Remina, kemudian menyerahkan gelas itu


"Bisa minum sendiri bukan?" Dia berkata


Remina mengangguk perlahan, walaupun wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sedikit kesal


Dia pun menerima gelas itu, kemudian meneguk semua isinya hingga habis tidak tersisa


"Bawa ini dan keluar. Aku ingin sendiri lagi" Remina berkata, menyodorkan gelas kosong itu kearah Verdea


"Aku menawarkan diri membantumu bukan berarti aku harus menuruti semua perkataanmu" Verdea menjawab singkat


"Kamu sama sekali tidak paham apapun tentangku. Aku benci kamu" Dia berkata, setengah bergumam


"Lalu? Jika aku tidak benci kamu, apa pendapatmu berarti?"


"Kamu ini-!"


"Jawab aku"


...


"Sudah jelas tidak!! Kamu itu berkepala batu, jadi aku harus apa lagi??"


...


...


"Kamu sudah dapat jawabannya, Remina"


"Jawaban apa??!! Kalau aku bisa melupakan apa yang sudah kualami begitu saja!!?"


Verdea menggelengkan kepalanya


"Tidak ada yang memintamu untuk melupakannya. Yang aku katakan adalah...


Kamu bisa menerimanya, walaupun trauma itu menjengkelkan"


Remina tersentak, selagi Verdea tersenyum hangat untuk memenangkan suasana


"Kamu tahu aku berkepala batu. Kamu tahu kadang aku membuatmu kewalahan. Kamu tahu aku kadang mencelamu dan kadang juga itu menyakitkan. Tapi, kamu masih bisa menerimaku bukan?"


...


"Tapi kamu masih bisa kutangani--- Apa yang sudah kualami itu-- berbeda...!"


"Kamu benar. Tapi, aku punya satu cara untukmu"


Verdea mengambil kedua tangan Remina dan menyatukan mereka bersama, selagi keduanya menatap satu sama lain langsung ke mata


Remina langsung gugup melihat wajah Verdea yang terlihat bersinar, hingga dia secara langsung berpaling


"Anggap saja semua bangsawan itu seperti aku atau Veskal. Anggap mereka itu menjengkelkan seperti kami kepadamu. Atau anggap mereka seperti lawanmu di Xiang. Lalu...


Tolong jangan pukul mereka..."


Remina sontak mengeluarkan tawa kecil mendengar itu, membuat Verdea juga mengikuti kemudian


Tawanya pun mereda, selagi senyum kecil terbentuk hingga wajahnya terlihat tenang sekarang. Sebuah senyum kecil yang biasanya hanya keluar ketika seseorang yang dia percaya berada di dekatnya


Namun, senyum kecil itu mulai turun kembali, selagi dia memikirkan sesuatu lagi


"... Menurutmu itu bisa membantu?" Remina pun bertanya dengan kepala tertunduk


Dia masih bimbang dengan saran itu, ragu apakah akan berhasil atau tidak. Dan jika tidak berhasil, dia tidak ingin semakin membuat kami repot


Tapi...


"Jika tidak berhasil...


Akan lebih mudah untuk melawan mereka jika ada tujuan"


"... Seperti apa?"


"Misalnya jika seseorang mencela diriku, ehe~"


"Saranmu itu bodoh sekali!" Dia menyerukan, setelah memukul kepala Verdea


Verdea merintih, selagi dia mencoba menatap balik kearah Remina


"Ayolah, itu saranku saja. Itu bisa jadi latihan yang bagus kamu tahu?" Dia berkata kepada Remina


"Tidak! Lebih baik jika aku membayangkan seseorang seperti Nyonya Luna yang dicela! Dengan begitu, aku jadi semakin semangat membelanya!"


Luna pun terbatuk kecil mendengar itu, kemudian berpaling dan menjauh sedikit ketika Verdea menatapnya aneh


"Itu hanya saranku. Aku juga tidak merasa dianggap olehmu..." Verdea bergumam


"... Tapi... Boleh tidak membayangkan Oberon bukan...? Aku tidak tega jika dia yang harus dicela..."


Verdea hanya menghela napasnya karena Remina yang banyak maunya itu


"Baiklah, baiklah. Asalkan kamu sudah paham kuncinya"


"Kamu tidak terdengar berniat membantu!"


"Cih. Dasar cebol tidak tahu terima kasih..."


"Sudahlah, kalian berdua. Jika kalian berisik, Vainzel akan memarahiku nanti" Luna menyela sebelum Remina semakin jauh bertindak


Mengabaikan Remina yang terlihat marah, suara perut yang keras pun berbunyi


Lebih tepatnya, suara perut Verdea yang kelaparan


"... Aku lupa kalau aku belum makan..." Verdea berkata, setengah meringis memegangi perutnya


Luna pun hanya menghela napas, selagi membiarkan dia keluar untuk makan terlebih dahulu


Tetapi...


"Tunggu! Jangan pergi!"


Remina menghalaunya pergi dengan menarik lengan bajunya sebelum dia menjauh dari dekat tempat tidur


"Diam disini dulu se-setidaknya sampai aku tertidur!"


Verdea pun langsung menunjukkan tatapan aneh kearahnya, sementara Luna menepuk wajahnya karena sudah lelah dengan tingkah kedua anak ini


Wajah Remina yang memerah sudah membuat Luna sadar kenapa dia begitu


"Baiklah, aku akan minta Ilias untuk membawakan masakan ke dalam kamar ini. Semoga juga ada sup kentang hangat untuk ku makan" Luna pun mengajukan dirinya dan segera beranjak


"T- Tunggu Luna! Kenapa malah kamu yang pergi meninggalkanku bersama si cebol ini??" Verdea berseru


"Dia ingin kamu tetap tinggal. Lagipula, kamu tidak ingin Vainzel tidak senang ketika melihat Remina masih gusar bukan...?"


"Itu ancaman...?"


Luna tidak menjawab dan segera menutup pintunya hingga membuat Verdea kesal


"Baiklah, kapan kamu mau tidur???"


"Intinya jangan pergi! Aku ingin kamu tetap tinggal sampai aku tertidur!"


"Ohoh~!! Enak sekali ya~? Kalau begitu kunyanyikan lagu pengantar tidur-!"


"Jangan! Suaramu jelek!"


"Tidurlah cebol! Tidurlah!!"


"BERISIK!!!"


Luna hanya menggelengkan kepalanya selagi mendengar adu mulut mereka berdua dan terus berjalan kearah dapur


Dan ketika dia sudah kembali...


Dia hanya menunjukkan wajah senyum bersama dengan para pelayan Verdea, melihat keduanya tertidur dengan tenang tanpa membuat bising lagi


Tidur berdampingan seakan mereka itu tidak pernah berkelahi sama sekali


"Tapi, aku terkesan dia bisa tidur dengan perut kosong" Salah satu dari mereka berkomentar


"Dia bisa latihan seperti itu ketika kami berada di Bargalos dulu. Mungkin juga, dia lebih lelah karena Remina sekarang daripada merasa kelaparan" Luna menjawab


Dia sekali lagi menggelengkan kepalanya ditemani sebuah senyum, selagi mereka menutup pintu kamar Remina sepelan mungkin untuk tidak membangunkan keduanya