
--- Beberapa saat kemudian, area Elf bulan ---
"Woah~!!" Verdea dengan takjub menganga
"Veskal tidak berbohong ketika dia berkata tempat ini sangat menjamu mata" Remina menambahkan selagi ikut melihat sekeliling
"Kalian harus percaya aku sedikit sesekali. Lagipula, kapan aku berbohong kepada kalian coba?"
"Saat kamu bilang tidak ada lagi sisa kue kering di dapur kastil Thyme tapi nyatanya kamu menyembunyikan mereka di dalam toples di sebuah lubang pohon?"
"Atau saat kamu bilang kamu akan membantuku menyapu kamar Verdea dan segera bersembunyi diatas atap?"
"Oke, siapa yang memberitahu kalian mengenai hal ini?"
"Vainzel"
"Oberon"
"Kenapa aku bertanya coba...?"
Veskal pun hanya menghela napas selagi Verdea mulai tersenyum remeh
"Kamu yakin tuan Zaphir ada disini? Beliau biasanya sedang berada di Gerbang Hutan untuk mengecek keadaan tuan Welt" Remina berkata
"Aku juga tidak yakin. Tapi, dia biasanya kemari jika sedang lelah" Veskal pun membalas. "Dia benci matahari entah kenapa"
"Ada alasan mereka disebut Elf bulan, Veskal" Verdea menyela, kemudian menggelengkan kepala pasrah
"Jadilah pemandu kami selagi kita disini. Setidaknya aku dan Verdea ingin berkeliling" Remina bicara mewakili mereka berdua, dikonfirmasi oleh anggukan Verdea
Mau bagaimana lagi? Hanya dia saja yang paham seluk beluk tempat itu diantara mereka bertiga. Jadi, dia pun berjalan terlebih dahulu untuk memandu kedua anak yang mengikutinya
Beruntung jika mereka bisa bertemu Zaphir sesegera mungkin. Tapi selagi itu, sebaiknya mereka menjamu mata mereka terlebih dahulu untuk melihat-lihat sekeliling hutan ungu yang memberi kesan malam hari ini
"Wajar Zaphir senang kemari ketika letih. Tempat ini pasti terlihat sangat indah saat malam" Verdea berkomentar
Bukanlah sebuah candaan jika mereka berkata tempat itu bagus untuk membuat mata segar. Baru saja mereka masuk melalui sebuah terowongan dari akar-akar kayu yang panjang tadi, mereka langsung disambut oleh pemandangan ini
Cahaya ungu yang bersinar dari sebuah kristal yang menjadi bagian sebuah batang pohon. Tidak hanya satu, tapi nyaris semua pohon disini memiliki kristal ungu itu di dalam tubuh mereka—menyembul darinya
Baru mereka melangkah, pohon-pohon itu melambai seakan menyambut mereka. "Sepertinya mereka senang hari ini", Veskal juga berkata, menanggapi sesuatu yang pastinya sedikit jarang dia lihat itu
Seandainya suasana berganti saja dari pagi menjadi malam, aku yakin mereka akan menjadi lebih takjub dengan suasana yang bisa diberikan oleh tempat ini
Tidak membahas kalau mereka bisa mendengar sebuah suara yang cukup familiar dari dalam hutan ini. Suara sebuah alat atau senjata, yang menjadi ciri khas dari klan penduduk daerah ini
"Ada yang melakukan panahan sekarang ini?"
Veskal mengangguk merespon kedua anak itu, membuat mereka malah jadi bersemangat dan antusias—segera mendahului Veskal untuk melihat panahan para Elf bulan terlebih dahulu
Area tempat panahan itu dilaksanakan adalah area paling tertutup yang ada di dalam daerah hutan ungu itu. Verdea bisa melihat kalau ada jamur yang tumbuh disana. Namun bukan dalam ukuran kecil, melainkan dalam ukuran raksasa—nyaris lebih besar daripada pohon yang ada disana, dan mengeluarkan cahaya keunguan sama seperti kristal ungu yang ada di dalam pohon yang mereka lihat sejak tadi
Jamur-jamur itu sepenuhnya menutupi cahaya yang masuk, bersama dengan pepohonan yang terlihat meliuk dan memiliki daun yang tumbuh tanpa sela. Di bawah bayangan mereka, para Elf bulan berlatih tanpa henti, membidik sebuah target yang ada mungkin 20 meter di hadapan mereka
Mereka terlihat sangat fokus. Dan ketika panah mereka terbang, mereka semua terlepas secara serentak. Gerombolan anak panah terbang kearah target mereka masing-masing, beberapa mengenainya, dan beberapa lagi tidak sehingga pemanahnya langsung memasang wajah pasrah
Remina dan Verdea spontan bertepuk tangan takjub melihat hal itu, sementara Veskal—ketika diperhatikan oleh Verdea, terlihat sangat serius menatap kearah sisi kanan mereka
"Mengesankan bukan?" suara yang mereka kenali itu berkata, sehingga ketiganya langsung menoleh kearah yang sama—kanan
...
"EDWIN?!" Verdea dengan kaget berkomentar
Sosok yang tidak dia sangka akan berada disana pun melambaikan tangannya untuk menyambut si pangeran kecil
"Siang, pangeranku. Aku datang kemari untuk mencari inspirasi" dia pun menjawab
"Inspirasi? Aku tidak ingat terakhir kali kamu tertarik dengan senjata selain pedang" Verdea membalasnya
"Manusia itu tidak berbohong, pangeran Verdea"
Satu lagi suara yang mereka kenali, namun yang satu ini langsung membuat Verdea dan Remina senang
"Akhirnya kami menemukan Zaphir disini...!" Verdea menghela napas lega
"Kami baru tidak lama disini. Abaikan saja Verdea" namun Veskal justru membuat dia cemberut
Zaphir hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya
"Petinggi Zaphir!" para Elf yang tadinya sibuk memanah itu pun mendekat untuk menemui petinggi mereka
"Ah, ada pangeran Verdea dan tuan Veskal. Juga..."
Mata mereka menyipit untuk menentukan siapa Remina. Dan ketika Remina tersenyum dengan canggung menghadapi mereka, barulah ada sebuah ingatan yang terlewat di kepala
"Kamu Elf kecil yang akan menjadi petinggi itu!" seseorang yang paling muda dari mereka pun menyerukan
Semuanya langsung tersentak dan riuh karena semua orang penting itu berkumpul dalam satu tempat sekarang ini—tepat di hadapan mereka
"Pangeran, Veskal, Remina, ksatria hitam. Perkenalkan, mereka adalah kumpulan prajurit muda yang baru saja dibentuk untuk mempersiapkan diri dalam bergabung dengan pasukan elit Elf bulan"
Anak-anak muda. Hanya itu saja isi dari kumpulan yang dikatakan oleh Zaphir itu. Dan berdasarkan dari yang terlihat paling tua, mereka bahkan tidak terlihat lebih tua dari Veskal
"Petinggi Zaphir memperbolehkan kami untuk ikut dalam skuad elit Elf bulan entah kenapa..." Elf yang paling tinggi badannya diantara mereka berkata. "Namaku Osven, omong-omong. Osven Minasol"
Dia kemudian mulai memperkenalkan setiap anggota mereka satu-persatu
"Yang hampir sama tingginya denganku ini namanya Lenitus. Yang sedikit buncit, Eslo. Dan yang kecil ini bernama Airavan"
Mata Remina pun menuju keatas dan kebawah ketika melihat Osven yang berada di depannya. Lalu, dia menatap kearah Elf bulan yang lain, begitu juga anggota pemanah yang paling kecil
Menurut Remina, hanya ada satu yang menjanggal dari Osven dan Airavan...
"Rambut dan kulit kalian..."
Setiap Elf bulan yang dia lihat selama ini selalunya memiliki rambut perak, juga memiliki kulit keunguan. Tapi mereka berdua memiliki rambut kuning jagung dan kulit normal seperti miliknya. Bahkan 2 lainnya saja memiliki rambut perak dan berkulit keunguan. Bukannya ingin menjelekkan, hanya saja dia merasa ada cerita dibalik hal itu
"Oh-! Ahahaha! Rambut dan kulit kami ini tidak bermasalah! Beberapa dari Elf bulan memang memiliki rambut seperti ini"
"Oh begitu..."
Zaphir pun harus turun tangan dan berbisik untuk memberi Remina penjelasan
"Suku kami juga terbelah menjadi 2 bagian. Biasanya, menurut tradisi kami, Elf bulan berambut kuning jagung dan berkulit normal seharusnya tidak memiliki ketertarikan dalam bertarung"
"Kami hanya berpikir kalau setidaknya kami harus melakukan sesuatu untuk membalas Oberon kami" Osven berkata kembali, dibantu oleh anggukan yang lainnya
"Tapi sepertinya, hanya ada satu orang saja yang bisa mengenai target" Zaphir berceletuk, membuat mereka berempat langsung tertawa canggung
"Bagaimana kalau latihan senjata jarak dekat saja, petinggi Zaphir? Panahan sepertinya bukan bakat kami..." Osven mencoba bernegosiasi
Zaphir pun terlihat menggelengkan kepala dan menghela napasnya. Tetapi menghadapi 4 pasang mata yang mencoba memelas untuk membujuknya itu, dia pun menyerahkan diri ke dalam kehendak mereka
"Baiklah, tidak apa"
Edwin langsung tertawa kecil melihat pemandangan itu
"Aku selalu dengar dari semua orang kalau petinggi Elf bernama Zaphir adalah seseorang yang kasar dan tidak memiliki ampun. Tapi ternyata kamu sangat lemah kepada anak-anak" dia juga berkata
"Jika kamu menjadi seorang ayah suatu hari nanti, kamu akan paham, ksatria hitam"
Dan mendengar kata latihan, telinga Remina langsung bergerak karena kegirangan
"Boleh aku ikut?" dia pun menawarkan diri, antusias
Semua mata tentu langsung menuju kepadanya
"Kamu belum lelah, sejak tadi?" Verdea bertanya
"Belum" dia mantap menjawab. "Dan tes penobatan petinggi baru akan segera dilaksanakan bukan? Aku harus mencari cara apapun itu untuk mengalahkan nyonya Lyralia agar tidak mengecewakan Oberon nanti" dia menambahkan
Bahkan Verdea saja sudah merasa pegal karena harus menghadapi Veskal dan Ordelia sekaligus—tidak menghitung diriku yang menyela latihan mereka. Tapi entah kenapa Remina masih bisa bersemangat
Zaphir pun bisa merespon yang satu itu, walaupun dia agak ragu
"Boleh... Tapi aku hanya bisa mengajarimu tombak..."
"Itu tidak masalah-"
"Pisau juga bisa. Lalu gada. Cambuk, mungkin... Rantai. Apa lagi...?"
"Aku jadi tidak tahu dia ragu bisa mengajar Remina atau hanya tidak tahu harus mengajarnya apa..." Veskal berkomentar
"Pada akhir semua ini, Remina akan menguasai semua senjata itu" Verdea membalasnya
"Kalau pedang?" Remina pun bertanya
Zaphir langsung berkeringat dingin ketika mendengar kata itu. Diantara semua senjata yang ada di dunia ini dan yang pernah diciptakan, dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan pedang
Sama sekali tidak tahu. Elf yang hidupnya sudah 2000 tahun lebih itu sama sekali tidak pernah belajar pedang dengan baik, tidak juga berpikir untuk mencoba
"Aku tidak bisa mengajar pedang nak. Maaf..." dia pun dengan pasrah menjawab
Dia langsung diam mematung, berharap tidak ada yang bertanya lebih lanjut mengenai pedang itu
Lalu...
"... Bagaimana kalau aku saja yang melatih dirimu?"
Sebuah suara yang menyelamatkannya itu pun datang dalam sebuah tawaran kepada Remina
Dan tentu, satu-satunya orang yang paham betul mengenai ilmu berpedang disana adalah tidak lain dan tidak bukan—Edwin
Diantara semua orang yang ada disana, hanya dia saja yang memiliki gelar ksatria. Tidak satupun yang ada di Hortensia yang bisa memandang rendah kemampuannya
Hanya saja...
"Tidak mau. Kamu masih mencurigakan bagi Oberon"
"Heh?!"
"Juga, kamu bekerja di bawah kakak Rosalia bukan, Edwin?" Verdea menyela
"Yah, walaupun Vainzel sudah memastikan kalau kamu itu aman dari sihir pengintai, tetap saja..." Veskal juga menambahkan
"Eh?!"
"Juga, ini menyangkut latihan dari seorang petinggi masa depan Miralius. Bagaimana kami bisa mempercayaimu?" Zaphir justru semakin menyudutkan Edwin
"Soal itu...!"
Tidak satupun dari kalimat keempat orang itu bisa dia bantah. Terutama Remina, sebagai seseorang yang akan dia latih langsung di bawah sayapnya apabila dia setuju
Masalahnya, Edwin hanya berfokus untuk mencari seorang murid tanpa memikirkan kemungkinan ataupun cara agar mereka bisa berminat dilatih olehnya. Jadi, dia harus diam termangu memikirkan cara untuk meyakinkan setiap mata yang mencoba menusuknya di tempat itu
Rosalia juga sama sekali tidak memberinya saran apapun. Keinginan Edwin itu dia anggap seperti sesuatu yang tidak penting untuk rencananya secara keseluruhan
Edwin pun menghela napas pasrah
"Keinginanku tidak ada kaitannya dengan keluarga Hortensia. Aku semata-mata hanya ingin mencari seseorang untuk meneruskan teknik berpedang milikku" dia mulai berujar, selagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Matanya kemudian beralih kepada Zaphir, entah kenapa terlihat serius
"Manusia tidak hidup sebanyak waktu Elf bisa hidup, petinggi Zaphir. Dan sebagai seorang pahlawan bagi negeriku Hortensia, juga memiliki kemampuan berpedang yang dipuja oleh semua orang, normal bagiku sebagai seorang manusia untuk ingin meneruskan namaku di dalam waktu singkat kehidupan ini" dia terus berujar
"Sayangnya aku tidak pernah bisa menemukan orang yang tepat. Aku paham kenapa, tetapi tetap saja rasanya membuatku frustasi. Seandainya aku menikah saja seperti saran Artorius dulu dan memiliki anak, aku tidak perlu kerepotan seperti sekarang"
Tapi sayang sekali. Sejauh ini, sudah 2 orang menolak tawarannya sebagai seorang guru berpedang. Ribuan juga gagal untuk membantunya mencapai keinginan kecil dengan syarat yang besar itu
"Semuanya hanya karena mereka hanya ingin kekuatan..." Edwin bergumam
...
Hatinya tentu merasa gusar sekarang. Penolakan pahit dari orang-orang itu membuatnya bungkam dan hanya bisa membalikkan badan untuk pergi
Dan pergilah dia melangkah. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di tempat itu. Dia hanya harus menerima keputusan setiap orang disana dengan lapang dada
Tidak sedikitpun dia berniat untuk memaksa. Tetapi kekecewaannya juga membuat ego yang ia miliki menolak untuk mengucapkan salam perpisahan sekalipun
...
"Tuan Edwin"
Suara yang menyebut namanya itu pun membuat tersentak dan spontan terhenti
Suara yang seharusnya hanya diam saja, atau begitu yang disangka oleh Edwin sendiri
Dan ketika dia berbalik untuk menatap asal suara itu, orangnya telah berdiri tepat di hadapannya—penuh dengan tatapan berisi harapan
"Elf memang hidup jauh lebih lama dibandingkan manusia, tuan Edwin" Remina kembali berkata. "Tapi, itu bukan berarti kami itu abadi" dia menambahkan
"Kami juga selalu dibayangi oleh bayangan kematian. Terutama apabila kita membahas mengenai kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan aku, seseorang yang dianggap masih terlalu muda oleh semua orang, merasa takut oleh bayangan kematian yang bisa saja menimpa diriku dan ayahku di esok hari
Tapi entah kenapa kedua ras kita selalu saja terjerat dalam masalah-masalah itu. Jadi itulah kenapa aku bisa paham dengan rasa frustasi milikmu"
Penjelasan panjang itu pun diakhiri oleh Remina dengan sebuah uluran tangan. Uluran yang diperuntukkan langsung kepada Edwin yang diam termangu menatap tangan kecil itu
Uluran tangan yang hanya mengartikan satu hal saja
"Aku akan senang jika kamu mau melatihku, guru"
Interaksi antara kedua orang itu langsung membuat yang lain tersenyum melihatnya. Bahkan Zaphir
Mereka senang untuk keduanya, terutama ketika Edwin mulai menunjukkan ekspresi senang. Dia ingin menahan senyumnya, tetapi malah terlihat canggung, ditambah dengan matanya yang berseri-seri
Dan dengan satu jabatan tangan, kedua belah pihak pun setuju untuk membantu satu sama lain demi mencapai tujuan kecil mereka masing-masing
"Aku yakin kamu akan jadi petinggi terbaik diantara semuanya"
"Katakan itu kepada nyonya Luna. Tidak ada yang bisa mengalahkan beliau dalam hal itu"
Edwin pun tersenyum lebar. Hatinya sangat senang telah berhasil mencapai tahap pertama dari keinginannya—mendapatkan seorang murid yang dia inginkan
Seseorang yang memiliki potensi besar dan mampu untuk mengikutinya. Hal itu juga telah terbukti melalui setiap kejadian yang telah mereka lalui
"Aku jadi senang sekarang! Ahahaha!" dia tertawa sembari mengelus kepalanya sendiri
Remina pun menghela napas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkat imut guru barunya itu
"Dan bagaimana kalau kita latihan sekarang? Untuk mengetes sebesar apa kemampuanmu terlebih dahulu" Edwin berkata lagi
"Rencananya begitu. Hanya saja, kita akan mendapat banyak penonton nantinya" Remina membalas selagi menunjuk ke belakang
Verdea dan Veskal pun tersenyum lebar, begitu juga keempat Elf yang dibimbing oleh Zaphir
"Kalian bisa pergi ke area luas di tengah daerah Elf Bulan. Juga, aku akan pastikan keempat anak ini tidak melewatkan latihan mereka juga"
Suara protes pun keluar dari mulut keempatnya, tetapi langsung dibungkam okeh tatapan tajam dari Zaphir. "Ingat kalau kalian juga akan menjadi anggota pasukan elit. Jangan mau kalah dari calon petinggi baru ini" dia mengatakan dengan nada mengancam
"Kalau begitu hanya kami saja yang tersisa" Veskal berkata, memegangi bahu Verdea
Keduanya bertingkah sok imut, seketika membuat Remina ingin memukul wajah keduanya
Edwin pun tertawa melihat tingkah semua orang. Dan sebagai tanda kalau dia senang bisa mendapatkan Remina sebagai seorang murid...
Edwin pun mengetuk dahi Remina pelan
Tetapi tindakan itu sendiri sudah cukup untuk membuat Remina tersentak dan menggerutu, selagi gurunya itu mulai berjalan terlebih dahulu untuk mencapai area yang dimaksudkan oleh Zaphir
Selagi memegangi dahinya dengan kesal, dia pun harus mengikuti Edwin dari belakang, bersama dengan Verdea dan Veskal yang masih berniat untuk menonton latihan mereka