
"Bagaimana kalau kita bertarung sekarang" Veskal tiba-tiba berkata, membuat semua mata mengarah kepadanya
Diantara semua hal yang bisa dia bisa pikirkan, dia ingin bertarung. Lagi?
Aku kehabisan kata-kata
"Oh ayolah. Aku biasanya bertarung dengan Zaphir, dan orang itu sangat keras. Pertarungan tadi rasanya seperti pemanasan kalian tahu"
"Nak, kamu beruntung Ordelia itu baik hati. Jika dia melawanmu dan bersikap serius tadi, kamu bahkan tidak akan menyentuh tanah" aku menjawabnya
"Kita mungkin harus berpikir ulang soal sebutanmu kepadaku. Maksudku Vain, aku sudah 20 tahun!"
...
"Nak"
"Secara teknis, dia memang jauh lebih tua darimu" Verdea menyela, kemudian tertawa kecil
"156 setengah jika kalian boleh ingat. Aku akan jadi 157 di bulan ketujuh"
"Dan ini sudah akhir bulan keempat" Ordelia berkata. "Musim panas seharusnya tiba di tempat ini sebentar lagi, mungkin di hari pertama di bulan kelima nanti, aku harap"
"Kenapa kita membahas iklim dan usia sekarang ya? Aku ingin bertarung" Veskal menyela kembali
Aku ingin jawab tidak, tapi anak ini masih energetik...
...
"Kalau aku bisa mengalahkanmu hanya dengan kakiku, anggap saja latih tarungnya selesai" aku berkata
"Kaki?"
"Intinya, aku hanya akan menggunakan kakiku untuk bertarung melawanmu, Veskal"
Terlebih dahulu beranjak keatas permukaan sungai, aku meninggalkan Veskal yang duduk termangu diatas mejanya bersama yang lain
Dia perlahan menatap yang lain karena kebingungan. Tetapi respon yang bisa dia dapatkan hanyalah Verdea yang mengangkat bahu, Remina yang mengacungkan kedua jempolnya tanda semangat, dan Ordelia yang hanya tersenyum manis
Temanku itu pun menghela napas
"Itu artinya dia memang hanya menggunakan kaki hah...?" dia pun berkata, beranjak dengan tidak antusias. "Padahal aku berharap dia mengeluarkan senjatanya juga sekalian..."
Aku sudah terlebih dahulu mencapai sungai. Hanya tinggal menunggu dia mendekat saja secepat yang dia mau, dan kami berdua siap bertarung. Dan itu tidak perlu waktu lama
Kami berdua pun berdiri berhadapan dengan satu sama lain. Aku berada di sisi bayangan pohon, dan dia berada di sisi cahaya
Verdea dan Remina yang penasaran dengan apa yang akan terjadi terhadap pertarungan itu pun mencoba melihat lebih dekat. Agar mereka bisa duduk, Ordelia mulai meminta sebuah pohon untuk memperbolehkan agar akarnya boleh diduduki
Dan keduanya pun duduk disana—bersama dengan Ordelia diatas batu tempatnya duduk bersamaku tadi, siap menyaksikan pertarungan kami
"Apa aku perlu tidak keluar senjata juga kah...?" Veskal bertanya
"Terserah. Jika kamu mampu"
Aku pun menoleh kearah ketiga orang yang ada di taman Ordelia dan melambai
"Amati pertarungan ini! Terutama kamu, Remina!"
Baiklah aku sudah siap. Bagaimana dengan Veskal?
"Aku sudah"
...
...
...
...
...
Pertarungannya sudah dimulai. Seharusnya sudah dimulai
Tetapi tidak satupun dari kami bergerak dari posisi kami...
"Kenapa, Veskal?" aku mencoba menantangnya
"Semua orang tahu kalau kamu lebih suka bertahan dalam bertarung" dia menjawab. "Dan itu juga tercermin dari sikapmu yang tidak menyakiti seseorang sebelum mereka melakukan sesuatu kepadamu"
Anak pintar...
"Baiklah"
Mendengar kalimatku barusan, Veskal terkejut. Terutama ketika dia melihat aku mulai memasang sebuah kuda-kuda
"Mau bagaimana lagi?"
Sebaiknya aku sesekali yang menyerang terlebih dahulu
"Sonata Rembulan, pertunjukkan ketiga..."
Instingnya menyala mendengar kalimatku yang tidak dia kenal itu. Spontan dia menarik keluar pisaunya namun-
"... Petualangan kelinci"
Suara keras seperti kilatan pun terdengar bergemuruh di seluruh udara. Dan disaat selanjutnya, mata semua penonton hanya bisa menemukan kalau Veskal tiba-tiba melayang ke sisi lain sungai hingga menabrak sebuah pohon
Aku yang kali ini berada di posisinya. Hanya bertengger dengan satu kaki diatas permukaan air sungai, dan badan yang ikut condong ke sisi karenanya—seakan habis menendang sesuatu
Tapi apa yang terjadi sudah tentu jelas. Aku dengan cepat melesat kearah Veskal, sebelum menendangnya dengan kekuatan yang sangat keras. Bahkan masih ada bekas dari perbuatanku yang bergerak sangat cepat, hingga air sungainya baru saja berkumpul kembali ke tengah setelah kakiku kembali turun
Yang penting tidak rusak bukan, sungainya?
Baiklah mari kita lihat keadaan anak itu-
...
Dia menghilang
"Kamu kokoh juga ya...?"
Tapi aku tahu dia dimana
Kaki kananku pun kuangkat ke udara setinggi mungkin dan siap kuayunkan. Seperti dugaanku juga, ada sebuah bayangan yang melesat kearah kakiku di bawah air
Dan dengan sangat kuat aku menghantam tanah di depanku hingga retak, sehingga bayangan itu mulai goyah dan mengembalikan wujud Veskal yang tidak sempat meraihku
Aku pun segera melakukan gerakan Sonata Rembulan lagi, dengan melakukan tendangan salto belakang di posisi sehingga tepat mengenai Veskal yang tepat berada di hadapanku
Itu tentu membuat Veskal terlontar kembali. Dan karena dia tidak berada di dalam bayangan lagi, dia tidak akan bisa menggunakan teknik itu
Bertekad tidak mau kalah, dia mengeluarkan pisaunya lagi dan mulai bergerak maju kearahku. Aku yang sadar dengan niatnya untuk mencapai bayangan pohon itu pun langsung menghalaunya dengan melakukan tendangan putaran
Tidak cukup untuk mendorongnya, namun cukup untuk menghalaunya yang segera menahan serangan itu dengan kedua pisaunya
"Kewalahan?"
"Hah!"
"Aku menggunakan sepatu zirah besi hari ini. Yakin bisa menahannya jika aku menendangmu dengan keras sekali lagi?"
Mulutnya sudah mengeluarkan darah. Disaat selanjutnya aku menendangnya, dia tidak akan sadarkan diri
Dia pun menyudahi adu senjata kami itu dan mengambil lompatan mundur untuk memberi jarak. Darah yang keluar itu dia usap
Hm~
Tatapannya kuat sekali...
Baiklah
Mari kita lakukan tarian ini lagi
Lagi-lagi dengan serangan cepat yang sama, aku membidik perut Veskal kali ini. Tetapi...
*Tap!*
Eh-?
Dia berhasil memegangi ujung kakiku dan kemudian entah bagaimana...
Badannya dengan secepat angin dia lemparkan ke udara—menjadikan kakiku sebagai tumpuannya. Gerakannya sangat lihai, seakan dia itu tidak bertulang, sehingga aku bahkan tidak menyangka gerakan itu sama sekali
Dia mendarat, dan segera mencoba untuk menggapai bayangan pohon itu. Aku yang tidak punya waktu termenung pun juga segera ikut bertindak, langsung mengejarnya dengan sebuah serangan merosot di tanah
Tetapi dia melompati badanku sebelum sempat terkena, dan itu membuatku segera menggunakan kaki yang lain untuk melontarkan diri ke udara dan mendarat—berdiri sepenuhnya
Aku berada tepat di bawah bayangan pohon itu, membuat Veskal langsung terhenti. Namun selagi itu, dia segera kutendang lagi mundur sehingga terbanting di sungai cukup jauh
Pertarungannya sudah terlalu menyusahkan untukku. Aku pun memutuskan untuk menyudahinya saja dengan menahan dada Veskal dengan kakiku sesegera mungkin
Jadi aku mencoba berlari kearahnya secepat yang aku bisa lakukan
Tetapi ketika aku tiba di dekatnya, dia tiba-tiba bangun dan nyaris menggores dadaku. Satu serangan lagi dia lancarkan dengan melemparkan salah satu pisaunya, namun kuhindari tanpa pamrih dengan bergerak satu langkah ke sisi kiri
Kesalahan besar. Dia ternyata tidak hanya memiliki 2 pisau
...
...
...
Dia punya 3...
...
Anak itu cerdik sekali
Pisau pertama yang dia lempar tadi hanya untuk pengalih untuk menutupi pisau kedua yang dia lemparkan bersamaan dan berdekatan sehingga terlihat seperti satu pisau saja. Dan karena bentuk pisau yang tipis itu, aku jadi tertipu
Aku baru menyadarinya ketika mendengar dentingan. Tapi aku terlambat untuk menghalaunya. Pisau pertama itu berfungsi sebagai penyokong semata-mata hanya untuk mengganti arah terbang pisau kedua. Dan alhasil, dia pun melayang ke kiri, tepat melubangi mataku. Anak itu sengaja melempar dengan dayuhan kanan tadi, untuk mencapai keberhasilan trik itu
Benda itu tepat menusuk mataku, sehingga aku terkejut dan membiarkan Veskal lari ke dalam bayangan tanpa kusadari
Aku justru tertawa ketika mulai menyadari kalau dia melakukan trik itu kepadaku. Trik yang biasanya dilakukan oleh Luna dan Zaphir, tiba-tiba saja bisa menipuku
Anak itu sudah belajar sangat banyak tanpa kusadari
Kucabut pisau itu dari mataku selagi Veskal terus berlari kearah bayangan pohon. Tetapi setelah dia sempat sampai disana dan menyeringai, dia hanya dikejutkan olehku yang melambai kepadanya
"Aku kalah!"
Pernyataan kalahku itu langsung membuat Verdea dan Remina terbelalak. Tidak perlu bayangkan ekspresi Veskal
Dia tertegun sejenak dengan mulut terbuka, lalu-
"APA??!"
Lalu aku pun memperjelas dengan sebuah lambaian tangan yang lebih rendah, membuat Veskal paham
"Aku menggunakan tanganku"
Dia pun terdiam menyadari peraturan dan perjanjian kami tadi. Aku hanya akan menggunakan kakiku saja dalam pertarungan ini, itu isinya
Dan kalimat itu segera membuat sebuah pukulan dari Remina melayang ke kepalanya selagi Ordelia tertawa kecil melihat hal itu
"Yap! Dia menang"
Suaraku yang tiba-tiba berada tepat di hadapan mereka berdua itu langsung membuat mereka terkejut dan terjatuh ke belakang
"Kalian berhasil menganalisa pertarungannya dengan baik?"
Dan selagi mereka berdua berubah ke posisi duduk nyaman untuk berpikir, Veskal juga mulai mendekat kearah kami
"Kamu tidak apa?" Ordelia menanyainya
"Sedikit. Tendangan Vainzel tadi masih membuat kepalaku bergetar"
Entah kenapa kamu masih bisa berdiri tegak dalam kondisi itu
Keluarga Grandier ini selalu saja membuatku merinding. Kalian terbuat dari apa coba?
"Ah!" Verdea kemudian berseru. "Kamu ingin menganalisa tujuan kalian dalam pertempuran tadi bukan?" dia bertanya kemudian, kubalas dengan sebuah anggukan
"Karena kamu langsung menendangnya cukup keras tadi, Veskal tahu dia tidak akan bisa menang dalam pertarungan fisik semata. Itu sebabnya dia mencoba mengandalkan teknik bayangan klan Elf Bulan untuk mengacaukan gerakanmu tadi
Tapi kamu di sisi lain, tidak memperbolehkannya menyentuh bayangan apapun dengan alasan yang jelas. Pikiran kalian bertubrukan sehingga kalian tersudut dalam pojok masing-masing, dan itu memberi sebuah ruang untuk ide baru
Kamu berpikir untuk segera mengakhirinya tadi. Tetapi hal itu justru memberi Veskal kesempatan untuk menyerang balik. Dan dengan melakukan rencananya dalam melempar 2 pisau tadi, dia berhasil menipumu karena pada sudut jarak dekat, kamu akan kesulitan untuk melihat kalau itu adalah tipuan"
"Karena semakin dekat bahaya itu dengan kita, pikiran kita hanya akan fokus kepadanya saja dan mengabaikan kemungkinan lain" Remina menambahkan. "Pertarungan ini seperti permainan pikiran"
"Benar sekali" aku memberi mereka pujian yang membuat keduanya senang bersama
Hanya saja...
"Tapi bukan itu saja yang ingin kudengar. Masih ada lagi"
Mereka berdua pun menatap satu sama lain dalam kebingungan, tidak paham dengan apa yang kuinginkan
Hah...
Baiklah. Yang satu ini aku saja yang jelaskan
"Pertarungan itu seperti berburu, Verdea, Remina" aku pun berkata
"Berburu pada dasarnya membutuhkan kemampuan untuk mengamati dengan seksama sebelum menyerang. Cara buruan bergerak, tempat yang biasa mereka datangi, ukurannya, senjatanya
Juga, kita harus mempelajari cara mengalahkan mereka, peralatan yang kita miliki untuk mengalahkan mereka, dan apa yang harus diburu
Bertarung juga tidak jauh seperti itu. Kalian mungkin tidak menyadarinya ketika berada dalam pertarungan sungguhan, tetapi kepala kalian akan selalu mengamati disaat semua hal sedang terjadi"
Mengamati untuk menghindari serangan. Mencari titik buta untuk melancarkan serangan balik. Dan yang terpenting, kemampuan yang tepat untuk menjatuhkan lawan
"Justru, aku pernah melihat seorang pemburu terlibat dalam sebuah pertarungan dengan seekor beruang buruannya"
"Lalu, apa yang terjadi dengan pemburu itu, Oberon?" Remina pun bertanya
"Sayangnya dia mati akibat pendarahan. Aku juga harus memilih untuk menyelamatkan nyawa beruang itu karena ternyata dia memiliki anak yang harus dilindungi"
"Heeh... Begitu..." Verdea mengikuti
"Bukan berarti aku tidak kasihan kepadanya. Jadi, aku menguburkan dirinya di hutan itu. Menyerahkan tubuhnya ke desa hanya akan memicu amarah warga disana kepada beruang itu"
Intinya, aku mungkin terlalu berlebihan ketika menutupi tempat kejadian perkara itu. Sudah beberapa tahun semenjak hal itu terjadi di hadapanku, jadi aku tidak yakin apakah pemburu itu masih dicari atau tidak
Mungkin aku harus kesana untuk jalan-jalan dan mengecek beruang betina juga ketiga anaknya itu
...
Mataku berpaling kearah lain
Kearah satu orang yang belum mengeluarkan pendapat
"Kamu setuju dengan pernyataanku tadi, Veskal?" aku pun melontarkan pertanyaan kepadanya
"Uh... Begitulah" dia menjawab
Kaku sekali...
"Tapi, aku belajar satu hal lagi hari ini..."
Kedua lengannya dia lipat di belakang kepalanya, dan matanya sama sekali tidak menatap kearah kami. Senyum terukir di wajahnya, seakan pengalaman yang dia dapatkan hari ini sama berharganya dengan emas
"Aku masih harus berusaha dan belajar lagi"
...
Hah...
Aku pun menepuk pundaknya 2 kali sebelum melompat masuk kembali ke dalam area taman Ordelia. "Semua orang masih harus belajar lagi" aku berkata kepadanya tanpa menoleh
...
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mencari Zaphir"
Ugh...
"Jangan ganggu kalau dia sibuk, oke?" aku memperingatkan Veskal yang sudah teguh pilihannya
Dan ketika dia sudah mengangguk, aku pun menoleh kearah satu orang yang masih harus membantuku menyelesaikan sebuah kekacauan
"Cyrus mungkin sedang tidak ada, jadi sebaiknya kita selesaikan urusan itu, Ordelia..."
Aku lemas? Tentu...
Ordelia pun tersenyum manis, tapi aku tahu dia jadi sedikit kesal karena teringat hal itu. Hanya saja, "Setidaknya kamu mau bertanggungjawab", itu yang dia bilang
Dia segera bangun dari tempat duduknya, kemudian menggandeng tanganku untuk menuntun jalan ke area bekas pertarungan antara diriku dan Luna tadi
"Sebaiknya Luna masih disana" dia berkata lagi
"Aku sudah memintanya untuk menunggumu disana. Tapi sepertinya ini sudah terlalu lama juga, jadi adil saja kalau-"
"Sebaiknya Luna masih disana"
"Ugh..."
...
...
...
"Mereka semakin mesra entah kenapa" Verdea berkata, kemudian mengeluarkan napas keluh
"Kamu bicara seakan kamu tidak senang" Remina ngotot kepadanya
"Bukannya begitu. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"... Hanya saja aku takut Ordelia mengambil waktu kita bersama Vain terlalu banyak..."
...
...
"Kamu cemburu? Kepada Ordelia?" Veskal bertanya dengan wajah lesu
"Dan dia bicara seakan kita akan mati besok"
Verdea pun menyentil dahi Remina untuk komentar yang satu itu
"Setidaknya kita impas" Verdea berkata
Veskal hanya menggelengkan kepalanya disaat itu. Dan karena dia harus pergi, dia pun mulai berbalik terlebih dahulu
"Tunggu, Veskal" suara Verdea tiba-tiba memanggilnya hingga dia harus menoleh kembali
Dia pun terlihat bangun dan membantu Remina untuk melakukan hal yang sama. Mereka berdua pun mendekat, tepat di hadapan Veskal untuk mengatakan Veskal
"Kami ingin ikut menemui Zaphir" Verdea pun berkata
Tawaran itu membuat Veskal sedikit terdiam, terutama karena Remina juga mengangguk untuk mengkonfirmasi
Tapi tidak ada yang tersakiti kalau mereka akan ikut bukan?
"Kalian juga belum pernah ke dalam area Elf bulan. Sebaiknya siapkan mata kalian untuk pemandangan yang indah"
Veskal pun berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Verdea dan Remina yang terlihat girang dengan satu sama lain karena diperbolehkan ikut. Mereka kemudian mengikuti Veskal dengan berlari agar tidak ketinggalan jauh
"Aku yakin dia mengaitkan soal berburu itu karena kita membahasnya!"
"Apanya, Veri?"
"Analisa pertarungan tadi. Dia selalu punya cara untuk mengaitkan banyak hal sekaligus"
"Itu sebabnya aku kagum kepadanya. Oberon Vainzel adalah orang paling cerdas yang pernah kutemui"
"Lucu kamu bilang begitu, Remina. Disaat dia bersama Verdea dulu, Vain terlihat bodoh karena tingkahnya. Masih berlaku hingga sekarang"
"Aku tidak separah itu lagi"
"Katakan itu kepadanya, dan dia akan menyanggah"
"Verdea rupanya memang menjengkelkan. Sepertinya kesan pertamaku dengannya tidak pernah salah"
"Siapa yang peduli dengan kesan pertama darimu???"
"Pastinya bukan bocah berukuran besar"
"Veskal!!"
Perjalanan mereka itu pun diiringi oleh suara tawa
Tiga orang yang sedang menghabiskan waktu mereka bersama. Tiga orang yang ujungnya nanti tidak akan terpisahkan
Perjalanan kisah mereka sudah mendekati medan yang keras. Mereka masih bisa bernapas disaat itu, namun badai di depan sudah menanti
Verdea benar ketika dia merasa waktu mereka sudah dekat. Dia tidak pernah salah
Dia tahu, disaat mereka sedang berjalan di jalan itu hari itu...
Apa yang ada di dalam kegelapan sudah mulai bergerak
"Sebarkanlah ketakutan ini kepada seluruh umat Vitario. Bunuh Yael Tarasque untukku, dan bawakan kepala mereka"
Tangan yang dingin, namun satu-satunya yang memancarkan wujudnya di ruangan itu pun menyentuh dua pundak di hadapannya
"Ronald. Ruvia
Pergi dan buatlah kekacauan sesuka hati kalian"
"Dimengerti, yang ter-agung"