
--- Sementara itu ---
"HIYA!!"
*Tak!*
"Bergerak lebih lebar! Kuda-kudamu jangan hanya fokus kepada satu arah! Pikirkan setiap kemungkinan yang memungkinkan! Lalu serang!"
"HA!!!"
*Shing!!*
*Ctak!!*
...
"Oh...!"
Pertarungan kecil itu berakhir. Selepas kejadian itu, Remina dan Edwin sudah memutuskan untuk melakukan latihan rutin. Verdea yang juga tidak punya kerjaan setelah eksekusi dini hari tadi, jadi ikut untuk menonton latihan mereka
Tetapi, peraturannya ternyata cukup sederhana dan tidak akan menyebabkan pertarungan sengit seperti kemarin. Remina sekarang hanya perlu mematahkan pedang Edwin, maka latihan mereka pun akan selesai disana untuk hari itu
"Bagus, Remina! Kita selesaikan latihan hari ini karena kamu telah berhasil mematahkan pedangku!" Edwin berseru
"Baik! Terima kasih guru!" Remina pun membalas, membungkuk hormat kepada Edwin sebagai tanda terima kasih, kemudian berlari kearah Verdea selagi Edwin terlihat berpikir bagaimana pedang kayu itu bisa cepat sekali patah
"Aku tidak pernah melihat Edwin kewalahan seperti itu" Verdea berbisik kepada Remina setelah dia duduk di sampingnya
"Dia menahan diri tadi" Remina membalas berbisik. "Kesampingkan itu, apa yang sedang kamu baca sekarang?" Remina bertanya tanpa berbisik kali ini
"Hanya buku Ars Goetia yang kupinjam atas izin ayahnya Vainzel. Mereka mendapatkan buku ini kemarin sebelum Luca Erzebil dibawa kemari" Verdea menjelaskan
"Ars Goetia? Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya"
"Mereka adalah julukan dari semua Arc yang menjadi iblis. Buku orisinil nya dikatakan ditulis dalam bahasa kuno, dan sekarang translasi-nya memakai bahasa Hortensia"
Remina terkejut mendengar hal itu, kemudian mulai menggeser badannya sedikit untuk melihat isi bacaan buku itu
Dia pun tahu kalau Verdea benar. Tetapi karena dia tidak memahami tulisan bahasa Hortensia, dia sedikit kebingungan melihat isi buku itu
Kami memang memakai bahasa Orion atau Hortensia dalam keseharian diantara kaum Elf, tetapi kami memiliki alfabet kami sendiri sehingga rasanya kamu memakai bahasa yang jauh berbeda ketika melihat tulisan itu
Kenapa? Karena alfabet yang kami gunakan adalah alfabet kuno dari peradaban mereka masing-masing. Semuanya diubah oleh kedua kerajaan itu oleh raja masing-masing di era perdamaian setelah perang dua roh bersaudara
Hanya agar penduduk mereka bisa belajar membaca tanpa kesulitan
"Mungkin aku harus belajar tulisan Hortensia modern. Jika dipikir kembali, aku tidak pernah membaca buku sendirian disana" Remina bergumam
"Tidak apa. Membaca seperti ini sangat mudah. Aku bahkan baru tahu membaca disaat aku berumur 8 tahun dan Vainzel sudah hadir disana"
"Eh-? Sungguh...?"
"Begitulah. Itu sebabnya aku bersyukur ketika Luxor dan Lyralia mau diam disana dulu. Mereka mengajariku banyak hal seperti membaca dan berhitung kamu tahu?
Walaupun mereka awalnya mengira kami para manusia masih menggunakan alfabet kuno Hortensia pada awal aku belajar..."
...
Baru belajar membaca di umurnya yang ke delapan...
Remina tidak bisa memungkiri, betapa kejamnya kehidupan Verdea sebelum ini. Bahkan hanya untuk membaca, dia harus menunggu cukup lama
"Jika aku pikir kembali, mungkin hal terbaik yang bisa terjadi kepadaku adalah ketika aku diculik dan diselamatkan oleh Vainzel dulu..."
"Hm... Bayangkan memori terindahmu adalah ketika kamu diculik. Membuatku jadi iba saja kepadamu"
"Aku harap itu bukan sarkasme..."
"Bukan. Sama sekali bukan"
...
Verdea diam tersenyum ketika menyadari kekhawatiran Remina untuknya. Tetapi agar gadis itu tidak mengetahui ekspresinya, dia dekatkan buku itu ke wajah hingga tertutup dari sisi Remina duduk
Hanya saja, ketika matanya yang sebelah tidak tertutup, dia sedikit terkejut ketika samar melihat ada orang yang mendekat hingga dia tahu kalau orang itu adalah aku, Ivor dan Natasha
Verdea langsung paham, kalau ada sesuatu yang penting hingga aku terlihat bergegas seperti itu
"Ada sesuatu yang salah, Vainzel?"
Mendengar Verdea bertanya, Edwin dan Remina pun langsung menyadari kehadiranku juga. Edwin segera mendekat, dimana Remina mulai mengganti posisi duduknya agar lebih sopan
"Banyak hal" aku singkat menjawab
"Lalu, kenapa Natasha ikut bersamamu?" dia bertanya lagi
"Oberon berkata kalau aku mungkin bisa menemukan Veskal disini. Tapi..."
Natasha melihat ke seluruh area itu. Tatapannya langsung turun dengan lemas ketika dia tidak bisa menemukan Veskal, bahkan di tempat itu
"Tidak apa. Duduk saja disini" Verdea membalasnya
"Aku harus menolak" aku menyela. "Kami setidaknya harus bicara empat mata, atau Remina dan Ivor boleh berada disini. Aku masih tidak bisa percaya kepada kalian berdua, walaupun sudah secara resmi kuberikan ruang untuk bergerak di dalam Miralius" aku menambahkan, bermaksud untuk menyindir Natasha dan Edwin sekaligus
Edwin pun menggaruk kepalanya pasrah, kemudian mulai mendekat kearah Natasha
"Maaf, tapi sebaiknya kita pergi, Madam Natasha" Edwin menawarkan diri untuk mengantarnya pergi
Natasha yang tatapannya masih turun itu hanya bisa mengangguk sebagai respon, kemudian menerima tangan Edwin untuk segera pergi bersamanya, keluar dari area itu
...
"Dia mulai bergantung kepada Veskal ya...?" Remina berkomentar
Kesampingkan itu dulu
"Frank melakukan sebuah rencana di belakang kita. Tapi yang membuatku curiga kepadanya adalah, kenapa dia mengundang Rosalia tanpa sepengetahuan satupun orang dari sekutunya" aku segera melompat ke intinya
Verdea langsung terkejut, begitu juga Remina
Dan aku tahu betul kalau Verdea tidak menerima surat apapun lepas beberapa hari ini. Jika dia mendapatkan surat dari Frank, dia akan segera memberitahukannya kepadaku
Tapi tidak. Ketakutanku kalau Frank bersikap mencurigakan sudah terkonfirmasi sekarang
"Tapi- Kakek-"
"Aku tidak akan berasumsi terlalu buruk. Tapi untuk berjaga-jaga, aku sudah mengirim Luna ke sana" aku memotong Verdea yang terlihat risau
Dia langsung diam tidak bicara, sedikit gusar karena ada sesuatu yang salah dari semua ini
"Dan satu lagi informasi mengenai Yuriel. Dia adalah orang yang berasosiasi dengan para pemuja iblis"
Aku melempar satu lagi informasi yang membuat kedua pendengar kami terkejut
"Gila bukan? Banyak hal sudah terjadi diluar dugaan kita, tapi kita tetap tidak bisa mengantisipasi hal seperti ini" Ivor mulai berkata
"Yang membuatku bertanya-tanya adalah, kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu? Yuriel Grandier adalah orang yang terhormat dan menjunjung keadilan. Berpikir kalau dia sungguh adalah pendukung pemuja iblis membuatku kesal..." aku membalasnya
"Tch. Menjunjung tinggi keadilan dengkulku. Itu artinya kita melawan Rosalia semenjak awal dengan bantuan para pemuja iblis di belakangnya!"
Ya, Ivor benar. Itu menjelaskan kenapa Blood Sabbath bisa terjadi. Mudah saja menduga kalau Rosalia memiliki bantuan banyak orang untuk melakukannya. Tetapi pemuja iblis...?
Apakah mereka sungguh selalu berada di sisi yang berlawanan, atau ada sesuatu yang membuat mereka terpisah di tengah jalur ini?
"Kakak Rosalia memang adalah tipe orang yang akan membuang sesuatu yang tidak bisa dia kontrol, bahkan jika sesuatu itu bisa sangat membantunya nanti"
Dia orang yang aneh. Tetapi pemikirannya itu sudah cukup menakutkan. Bukannya itu berarti dia percaya diri dia bisa mengeksekusi setiap hal yang dia rancang walaupun kekurangan orang?
"Dan Yuriel Grandier adalah salah satu tokoh utama diantara para pemuja iblis..."
"Bagaimana kalau aku yang menjelaskan dari awal?"
...
Orang yang menawarkan diri itu... Baru tiba di area ini
Aku tidak bisa menyalahkan suara langkah kaki itu lagi. Tidak perlu aku menoleh untuk bisa mengetahui siapa dia
"Natasha mencari dirimu, Veskal. Tapi kenapa kamu malah kemari ketika dia sudah pergi?" aku bertanya kepadanya
Veskal hanya diam tidak menjawab, kemudian berdiri di sisiku yang sedikit melirik kearahnya
Tatapannya yang awalnya diarahkan kepadaku itu pun mulai terarah kepada Verdea dan Remina
"Dua informasi tadi sungguh berada diluar dugaanmu, hm?" dia melontarkan pertanyaan
Verdea hanya diam tertunduk, tidak tahu harus membalas apa
Veskal menyadari wajah lemas teman kami itu. Dan karenanya, dia mulai melirik kearahku
"... Tapi, Frank tidak mungkin berkhianat dari Verdea. Bukankah begitu, Vain?" dia mencoba mengalihkan jalur pembicaraan
"Aku berpikir begitu juga" Verdea pun berkata. "Tapi sebaiknya kita meminta penjelasan darinya. Kakak kedua bukanlah orang yang bisa diajak bicara jika dia tidak mau atau butuh"
Aku senang dia lebih memahami situasi ini. Verdea selalu memiliki pemikiran yang sangat matang
"Jadi, kamu setuju untuk mengirim Luna dan meminta penjelasannya?" aku meminta pendapatnya lagi
Verdea pun mengangguk tanpa ragu lagi, sehingga benih sihir pun kukeluarkan dari balik telapak tanganku di hadapan mereka semua
"Kamu dengar orangnya. Dia sudah setuju"
"Baiklah, Vainzel. Katakan kepada Verdea kalau dia tidak perlu khawatir"
"Dia bisa mendengarkanmu tanpa aku perlu bicara, Luna"
Luna terdengar senang mengetahui hal itu
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kuputuskan sihir yang ada di benih itu tanpa basa-basi lagi, sementara Verdea sekali lagi tertunduk
"... Bukankah sebaiknya kita bergerak juga, Vain?" dia pun bertanya
"Sejujurnya, aku setuju dengan Verdea" Remina mengikuti. "Kita punya 2 musuh, Rosalia Hortensia dan para pemuja iblis. Jika kita tidak menyingkirkan salah satunya secepat mungkin, keduanya pasti akan ******* kita"
Hm...
Dia tidak salah mengatakan hal itu. Hanya saja...
"Bahkan jika kita menyerang sekarang, aku tidak bisa menjamin tidak akan ada korban jiwa"
Dan itulah alasanku. "Jika aku bisa, aku ingin menghindari jumlah pemakaman yang bisa saja diadakan..."
"Kalimat itu kejam, tapi realistis" Veskal berkomentar
Maksudku, beberapa dari para anggota pasukan Elf klan Salamander terbunuh ketika mereka kukirim kearah Hortensia demi menangkap ketiga penyihir hitam itu. Alhasil, kami mendapat banyak korban jiwa, dan hanya bisa menangkap satu orang saja
Bahkan jika kami bergerak dengan hati-hati sekarang, selalu ada jebakan tidak terduga yang bisa saja kami injak di setiap langkah. Sebesar itulah bahaya yang bisa ditimbulkan oleh 2 kubu musuh kami
"Kalau begitu, kirim aku untuk ikut dengan Luna"
...
Veskal...
"Sekarang, usulan macam apa lagi yang akan membuatmu berada dalam masalah?" aku membalas kalimatnya
Dia ingin aku mengirimnya kearah Hortensia? Sekarang?
Kami bahkan tidak tahu apakah 2 orang yang kami kejar itu masih berada disana atau sudah pergi. Ditambah lagi, seluruh area kerajaan itu adalah sarang milik Rosalia
"Ayolah. Aku akan lebih berhati-hati sekarang"
"Sayangnya aku harus menolak. Lagipula, festival musim panas di Miralius akan diadakan sebentar lagi. Bukannya lebih baik untuk kita semua tinggal disini terlebih dahulu?" Verdea langsung membela sisiku
"Lalu meninggalkan kakekmu sendirian disana?"
Verdea terdiam mendengar respon itu. Tapi, semua orang termasuk Frank sendiri sudah setuju untuk meninggalkan dirinya disana sebagai pengganti Verdea
"Tidak apa, Veri. Aku akan memastikan dia boleh diundang selama beberapa bagian awal acaranya nanti" Veskal mengibas tangannya dengan percaya diri
"Jika dipikir lagi, aku jadi merasa bersalah meninggalkan tuan Frank disana selagi kita mengadakan festival disini..." Remina menambahkan
Hah... Bahkan anak ini juga setuju dengan Veskal hm...?
"Beberapa hari saja mengundangnya kemari boleh, Oberon? Setidaknya biarkan dia menyaksikan tahap pertama pertarunganku dengan nyonya Lyralia" dia pun meminta
Hm...
Ya sudah
"Segera pergi ke Luna sebelum mereka menghilang. Lalu, aku juga akan mempercayakanmu untuk mengawasi Frank di Miralius" aku tidak mencoba berargumen lagi dan memberi perintah
"Dimengerti~" Veskal menjawab
...
Huh...?
"Mengejutkan sekali kamu mau menerima perintahku begitu saja" aku meledek
"Aku pikir kamu sedang tidak senang dengan perilakunya sebagai seorang pemimpin?" Verdea juga menyela, mengikutiku
"Hah?! Aku tidak mengikuti perintahnya sama sekali! Ini keputusanku!" Veskal mencoba menolak
"Aha?! Kamu pasti sedang tidak sadar jika kamu berkata Vain tidak memberimu perintah barusan!"
"Kamu bodoh ya, Veskal?" Remina juga mengikuti
"A-! Terserah! Anggap saja ini pengecualian!"
"Pengecualian yang akan kucatat" aku menyela kembali
Veskal langsung diam cemberut mendengar kalimat itu, selagi Verdea dan Remina mulai tertawa geli
Aku spontan tersenyum melihat suasana itu. Barusan kami membahas mengenai sesuatu yang berat, tapi dengan segera semua orang mencoba menjadikan suasana menjadi ringan
Setidaknya aku tahu kalau kami masih bisa bersenang-senang
...
Atau begitulah yang aku pikir
Ya. Aku dan yang lainnya memang masih bisa bersenang-senang. Tetapi...
Veskal punya pikiran lain...
Dan alasan kenapa dia tidak ragu mengikuti perintahku disaat itu...
Dia tidak ingin menjadi orang munafik
Itu adalah penyesalan kedua terbesarku setelah kejadian Blood Sabbath
Tidak...
Itu mungkin penyesalan terbesarku, diantara semua hal di dalam ribuan tahun perjalanan hidup yang panjang ini...