
Leticia hanya bisa menangis melihat ketiga pria itu akan melecehkan nya, karena meronta pun ia tak bisa. Carol berteriak teriak meminta pertolongan dan berharap akan ada yang menolong mereka.
" Tolong.. tolong.. aku, aku tidak mau.. tidak.. jangan .." batin Leticia sedih
BUKK
JLEB
KLANG
Leticia membuka matanya dan terkejut melihat ketiga pengawal itu sudah terkapar di depannya dengan satu tangan terpotong. Carol juga sama kaget nya. Mereka terkejut saat Alexander dan Daniel sudah ada di depan mereka, pedang Alexander berlumuran darah.
" Berani nya kalian !" seru Alexander menatap tajam kepada tiga pengawal itu.
" Tanganku.. tanganku ." kata ketiga pengawal itu merintih kesakitan karena satu tangan mereka terpotong
" Yang mulia.. ampuni kami.." kata ketiga pengawal itu sambil berlutut di depan Alexander
" Apa yang aku perintahkan pada kalian tadi?" tanya Alexander membentak
" kenapa dia melakukan ini? kenapa dia menolongku?" batin Leticia terpana
Daniel melepaskan tali yang mengikat Leticia dan Carol.
" Maafkan kami.. yang mulia.. kami pantas mati.. " kata ketiga pengawal itu gemetaran
" Mulai kalian kalian keluar dari istana ku !" teriak Alexander marah
" Apa dia marah untukku? haa.. mana mungkin.." batin Leticia tak percaya
Ketiga pengawal yang sudah di potong tangannya itu di usir keluar dari istana dan diganti kan oleh pengawal yang baru. Alexander menarik Leticia dengan kasar seperti biasanya.
" Kau mau apa? lepaskan aku !" seru Leticia kesal
" Pria ini selalu berbuat kasar dan sesuka hatinya "batin Leticia kesal
" Sebaiknya kau ikut aku dengan patuh, kalau mau pelayan kesayangan mu hidup lebih lama " kata Alexander mengancam
" Kau..!" Leticia tidak bisa berkata apa apa lagi setelah diancam Alexander
" kau mau jalan sendiri atau mau aku yang menyeret mu ?" tanya Alexander
" Aku akan jalan sendiri" jawab Leticia
" Sebenarnya dia mau membawa ku kemana?" batin Leticia
Leticia di bawa ke dapur istana dan disuruh menjadi pelayan. Leticia marah-marah di depan pelayan dapur istana pada Raja itu.
" Aku sudah bilang, aku tidak mau menjadi pelayan mu !" seru Leticia kesal
" Jadi kau ingin pelayan mu mati?" tanya Alexander mengancam
" Dia selalu saja mengancam ku dengan membunuh Carol " batin Leticia kesal
" Sekarang kau diam Hah?" tanya Alexander dingin
" ... " Leticia tak bicara dan hanya menatap Alexander dengan kebencian
" Anne , pakaikan dia baju pelayan ! lalu bawa dia ke aula !" seru Alexander pada kepala pelayan wanita di istana nya
" Baik yang mulia " kata Anne patuh
***
Di kerajaan Ilios..
Pangeran Darren sangat kaget saat mengetahui bahwa Brilla sudah berada di dalam kekuasaan Alexander dari fostiarus dan ia menemui kakak nya ( sang Raja ).
" Kakak ! " kata Darren panik
" Darren, kakak sudah tau apa yang mau kau katakan. Tapi ,kita tidak bisa melakukan apa apa " kata Cedric El Mathius ( Raja Ilios /kakak Darren )
" Bagaimana bisa kakak mengatakan itu? yang mulia raja Edmund memiliki hubungan yang baik dengan kerajaan kita. Dan sekarang kerajaan Brilla sudah berada ditangan raja jahat itu, bagaimana bisa kakak diam saja?" tanya Darren tak percaya
" Darren bukannya kakak tidak ingin membantu kerajaan Brilla, tapi posisi kita tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Kau tau kan bagaimana kuatnya raja Alexander ? dia bahkan bisa membunuh raja Edmund yang memiliki efektivitas MANA dan kekuatan terkuat di Brilla. Dengan keadaan kita yang seperti ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain tunduk pada kerajaan Fostiarus. Secara tidak langsung kerajaan kita sudah berada di bawah kekuasaan nya, karena kerajaan dan rakyat kita harus selamat " terang Cedric tegas
" Yang kakak katakan memang benar, kita memang tidak bisa melawan kerajaan Fostiarus dan raja Alexander. Tapi, aku benar-benar cemas " batin Darren sedih
" Kakak mengerti perasaan mu, kau mencemaskan keadaan putri Leticia kan?" tanya Cedric
" Iya, aku bahkan tidak tau dia masih hidup atau tidak. Kakak.. aku sudah berusaha mencarinya tapi dia belum ditemukan. Apa dia sudah mati? apa raja tiran itu membunuhnya ?" tanya Darren dengan mata berkaca-kaca
" Darren terlihat sangat sedih dan terpuruk, kemungkinan terbesar kalau putri Leticia mungkin sudah tiada. Karena raja Alexander tidak pernah membiarkan satu pun musuh nya kesempatan untuk hidup " batin Cedric
Tak lama kemudian seorang pria menghampiri Cedric dan Darren.
" Moore? ada apa?" tanya Darren
" Yang mulia pangeran, yang mulia raja ada rumor dari kerajaan Fostiarus kalau seseorang yang mirip putri Leticia menjadi tawanan disana !" kata Moore ( pengawal pribadi Darren)
" APA? " Darren dan Cedric kaget mendengarnya
" Apa kau yakin? " tanya Darren
" Karena itu masih rumor, saya tidak terlalu yakin. Tapi gadis yang di rumorkan itu memiliki rambut perak seperti tuan putri " jawab Moore
" Itu pasti sudah jelas Leticia, dia masih hidup. Gadis dengan rambut perak hanyalah dia satu satunya. Kakak, kau dengar kan? Leticia masih hidup !" kata Darren semangat
" Iya, tenanglah. Kalau kau ingin menolongnya, kita harus pikirkan rencana matang matang, kau tidak boleh gegabah " kata Cedric tegas
" Baik kakak " kata Darren lega
" Syukurlah kau masih hidup Leticia, aku lega mendengarnya. Syukur lah aku masih bisa melihat mu, tenang saja Leticia aku akan menyelamatkan mu.. tunggulah aku, kau harus baik baik saja " batin Darren
" Kakak, maksud saya yang mulia raja. Saya mohon undur diri " kata Darren
" Darren kau mau kemana? awas kalau kau sampai bertindak gegabah " kata Cedric mengingatkan
" Iya saya akan mengikuti rencana yang mulia. Saya hanya akan pergi mencari angin sebentar dengan Moore " kata Darren
" Anak ini, kalau menyangkut Leticia dia pasti selalu bersemangat dan berapi api. Kenapa dia masih belum menyadari kalau dia menyukai teman kecil nya itu?" batin Cedric heran
Rupanya Darren tidak hanya sekedar cari angin, ia nekad pergi ke wilayah Fostiarus dan menyamar. Ia ingin melihat langsung keadaan Leticia di istana Fostiarus meskipun melihatnya dari jauh.
***
Leticia sudah berganti pakaian menjadi pakaian pelayan dan ia menjadi tontonan dan tertawaan para bangsawan di aula kerajaan Fostiarus.
" Jadi ini dia putri Raja Edmund yang terhormat itu?" tanya seorang bangsawan sambil tersenyum mengejek
" Ternyata ini alasan yang mulia Raja membiarkan putri ini hidup. Menyedihkan " kata bangsawan lainnya mengejek nya
Leticia dengan terpaksa menyeduh teh untuk semua bangsawan yang hadir disana. Para bangsawan itu berbisik bisik membicarakan Leticia. Alexander hanya cuek cuek saja mendengarnya.
" Dia melakukan semua ini untuk mempermalukan ku, kau harus tenang Leticia. Kau tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan raja tiran ini " batin Leticia mencoba tegar
" Kasihan tuan Putri " batin Carol sedih
Dengan sengaja Marques Randell menumpahkan teh panas ke arah Leticia, namun gadis itu dengan sigap menghindar. Teh panas itu pun tumpah ke lantai, dan gelas nya juga pecah.
Alexander hanya memperhatikan dengan wajah dingin.
" Dia menghindar" batin Marques Randell kesal
" Seharunya tuan lebih berhati-hati, teh nya panas dan bisa melukai tangan anda " kata Leticia dengan senyuman lebar
" Dia lebih tenang dari sebelumnya " batin Alexander
" Aku harus tetap tenang, agar aku bisa membalas dendam pada Raja psikopat itu " batin Leticia menahan amarah
" Beraninya kau hanya seorang pelayan saja! " seru Marques Randell marah dan hampir menampar Leticia.
" Cukup ! bisa kita mulai rapatnya?" tanya Alexander tegas kepada para bangsawan yang hadir disana
Dalam hatinya Leticia merasa lega karena tak jadi di tampar oleh Marques Randell.
Namun, ia juga merasa sedih karena merindukan Raja Edmund, Lydia dan kakak nya Derrick yang tidak tau dimana keberadaan nya.
Saat jam istirahat pelayan, Leticia menghabiskan waktunya dengan melukis di taman istana. Ia sedang melukis seseorang dan membayangkan wajahnya.
" Di dunia ini hanya mereka yang baik padaku, kak Derrick dan ayah yang sangat menyayangiku. Aku merasakan kasih sayang dan kehangatan sebuah keluarga dari mereka.. tapi kenapa pria jahat itu merenggutnya dari ku dengan cara yang kejam. Ayah, kakak, aku rindu kalian .." Leticia menangis sambil melihat lukisan Raja Edmund yang dibuatnya.
Carol melihatnya dari kejauhan dan sedih melihat Leticia menangis.
" Hey kau ! mantan tuan putri ! kau dipanggil oleh yang mulia raja " kata salah satu pelayan dengan lagak nya yang tidak sopan
" Baik " kata Leticia sambil menyeka air matanya
Leticia menghampiri Carol dan menitipkan lukisan yang ia buat pada nya. Gadis itu berjalan ke arah ruang kerja raja dan dilihatnya raja sedang mengerjakan tugas nya duduk fokus di meja.
" Salam, yang mulia raja. Ada apa anda memanggil saya?" tanya Leticia cuek
" Kemari " ujar Alexander
" Ya? "
" Ku bilang kemari!" seru Alexander kesal
Leticia mendekati Alexander dengan hati hati, karena tak fokus memperhatikan jalan kakinya tersandung meja dan jatuh ke pangkuan Alexander.
" AH !!"
Leticia dan Alexander terlihat seperti berpelukan, tangan Alexander refleks menyentuh pinggang Leticia. Mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
" Mata itu.. mirip dengan " batin Leticia sambil memperhatikan mata Alexander yang berwarna merah
" Kenapa setiap berada di dekat nya? jantungku rasanya mau meledak ! Aneh sekali, padahal aku bisa saja membunuhnya dengan mudah tapi kenapa aku malah membiarkannya hidup? ah tentu saja untuk menyiksanya. " batin Alexander panik
Alexander mendorong Leticia hingga gadis itu jatuh ke lantai.
" Hey ! sakit tau !" seru Leticia sambil kembali berdiri
" Kau berani sekali duduk di pangkuan ku, tidak tahu diri !" seru Alexander marah
" Memangnya saya mau duduk di pangkuan anda? " tanya Leticia sinis
" kapan sebenarnya kau akan belajar menerima kenyataan?" tanya Alexander sinis
" Saya sudah menerima kenyataan kok "jawab Leticia santai
" Apa? kau bahkan berani menjawab ku ?" Alexander kesal
" Kenapa saya harus takut kepada orang yang sudah membunuh keluarga saya dengan cara pengecut ?" tanya Leticia tajam
" Kau bilang apa? siapa yang pengecut?" tanya Alexander terpana
" Anda lah, siapa lagi. Anda adalah raja yang tidak punya hati , apa anda tahu itu? " tanya Leticia kesal
Alexander mencekik Leticia dengan penuh kemarahan.
" kenapa kau selalu membuat ku marah?!!" tanya Alexander
" Pembunuh, tidak punya hati, penjahat! kembalikan ayah dan kakakku ! kembalikan Lydia !" teriak Leticia penuh kemarahan
" Dia mengerahkan seluruh kekuatannya, leher ku sangat .. ini sakit.." batin Leticia menahan sakit
Pria itu melepaskan Leticia dari cekik kan nya. Leticia kembali mengatur napasnya.
" Si gila ini, dia benar-benar ingin membunuh ku " batin Leticia
" Lepaskan baju mu " kata Alexander
" Apa ? "
" Lepaskan baju mu kalau tidak, aku akan membunuh pelayan mu " ujar Alexander serius
"Saya.. saya.. " Leticia terlihat ragu
" kenapa kau harus mempermalukan aku seperti ini?" batin Leticia sedih
" BUKA !" teriak Alexander
Perlahan-lahan gadis itu menurunkan sedikit baju atasan nya, ia menahan tangis. Entah kenapa Alexander terlihat marah melihat nya.
" Gadis ini, dia benar benar melakukan nya ! beraninya !" batin Alexander kesal
" jangan dilanjutkan ! rapikan kembali baju mu !" teriak Alexander
Leticia terpana dan dibuat bingung dengan sikap pria di hadapannya itu, sikapnya mudah berubah ubah ketika ada di hadapannya.
Ia juga ingat bahwa tadi pagi Alexander memotong tangan para pengawal yang melecehkan nya. Lalu siang tadi pria itu mempermalukan nya di aula, hal itu sungguh membuat nya bingung. Dan ia yakin bahwa Raja itu adalah psikopat.
" Apa kau tidak punya harga diri? kalau pria lain menyuruh mu membuka baju? apa kau juga akan lakukan?" tanya Alexander sinis
" Ya, saya sudah kehilangan harga diri saya ! karena anda yang menginjak injak nya ! anda yang menyuruh saya melepas nya, dan mengancam saya ! kenapa sekarang anda malah marah-marah ketika saya melakukan apa yang anda minta ?" tanya Leticia tak mengerti
" Keluar ! keluar kau !" bentak Alexander sambil membanting barang di meja.
Daniel yang mendengar keributan itu masuk ke dalam ruang kerja Alexander. Leticia syok melihat Raja tiran bertindak seperti itu karena ia tak mengerti.
" Dia kenapa ? " gumam Leticia heran
" Yang mulia, ada apa?" tanya Daniel cemas dan kaget melihat ruang kerja Raja berantakan
" Daniel, keluar !" teriak Alexander murka
" Ada apa dengan yang mulia? ia terlihat sangat murka, apa dia murka pada putri Leticia?" batin Daniel
Alexander mengurung Leticia di dalam kamarnya dan tidak diperbolehkan untuk keluar. Kedua tangan Leticia di ikat dengan ikatan sihir miliknya.
" Apa yang anda lakukan? lepaskan saya ! kau sudah gila! " seru Leticia sambil menangis
" Berapa lama lagi kau akan melakukan ini? kenapa kau tidak membunuh ku saja? hiks.. hiks .." Leticia menangis
" DIAM ! dan jangan pernah keluar dari sini sebelum aku menyuruh mu!" Alexander membentak dengan tatapan tajam
Awalnya aku senang dan puas melihat gadis ini memohon, dan menangis di depan ku. Apapun yang aku suruh dia selalu melakukan nya, aku ingin melihat nya menderita, menjatuhkan harga dirinya ke neraka paling dalam.. tapi entah kenapa sekarang melihat nya menangis aku merasa aneh. Aku marah, aku murka ketika aku melihat beberapa pria mengganggunya di istana ku, padahal seharusnya aku senang karena sudah mempermalukan nya.Ketika melihat mata nya, seperti ada sesuatu yang menyerang jantung ku, sihir apa yang gadis ini lakukan untuk membuat ku seperti ini? Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, perasaan aneh ini harus ku singkirkan ! Padahal gadis ini bisa saja dengan mudah ku bunuh, tapi kenapa aku malah membiarkannya hidup, apa keputusan ku sebelumnya itu salah?