Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran

Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran
Bab 106. Hutan terlarang dan Raja iblis


Sudah sebulan lamanya Alexander dan Gustaf belum kembali ke istana Fostiarus. Rupanya mereka berdua masih sibuk menjelajahi dua desa, untuk menemukan sosok raja Iblis itu.


Dan selama sebulan itu, Alexander dan Gustaf sibuk untuk mengobati orang-orang yang hampir menjadi iblis. Mereka juga tak segan membunuh orang-orang yang sudah menjadi bagian iblis, karena orang yang sudah menjadi klan iblis tidak bisa kembali menjadi manusia dan akan membahayakan manusia lainnya.


Malam itu Alexander,Gustaf dan pasukan mereka yang semakin hari semakin berkurang, mulai memasuki hutan terlarang di wilayah selatan kerajaan Fostiarus yang jarang di jamah manusia. Berharap bahwa Raja Iblis bersembunyi disana.


Terdengar suara yang mendekat ke arah rombongan itu, dengan cepat Alexander mengangkat pedangnya, dan..


SRAT


SRAT


Alexander menebas kepala seorang pria yang sudah menjadi iblis dan hampir menggigit Gustaf, darah dari pria itu muncrat ke wajah dan tangannya. Juga melumuri pedangnya.


" Ah sial, pedangku kotor " gumam Alexander sambil menghapus darah di wajahnya


" Kau masih saja hebat, meskipun ketiga kekuatan elemen mu sudah tidak ada lagi " kata Gustaf dengan wajah jaim nya


" Aku kehilangan kekuatan elemen ku, bukan kekuatan otot ku. "


Para pasukan Gustaf terpesona dengan Alexander yang memiliki refleks dan insting yang bagus. Memang pantas, Alexander disebut sebagai iblis di medan perang.


" Terimakasih sudah menolongku " Gustaf memalingkan wajahnya


" Tidak perlu berterimakasih, aku tidak menolong mu. Aku menolong diri ku sendiri, dan aku ingin cepat kembali ke istana " kata Alexander sambil kembali menunggangi kudanya


" Kau ingin cepat kembali karena Leticia, bukan?" tanya Gustaf


" Kalau sudah tau, ngapain kau bertanya?" Alexander ketus


" Kau rindu padanya "


" hmm..."


" aku juga " Gustaf menunduk, ia mengingat Leticia.


" beraninya kau mengatakan kau rindu pada istri orang lain di depan suaminya. Benar-benar tidak tahu malu " gerutu Alexander tak senang


" Tidak bisakah kau berbagi dia denganku? aku tidak memaksa mu berpisah dengannya. Mari kita jaga dia bersama sama "


" Pantas saja Chia selalu bilang kalau kau adalah orang gila. Ternyata itu benar, kau sudah gila. Mana mau aku berbagi istriku yang cantik dengan mu, dia wanita ku. Satu satunya dalam hidup ku. Jadi jangan mimpi " terang Alexander tegas


" Ya, aku sudah tau akan mendapat jawaban ini darimu. Dan seperti nya waktu 1 bulan kesempatan ku, sudah aku habiskan diluar istana tanpa melihat nya. " Gustaf tersenyum pahit


" Jadi kau akan menyerah?" tanya Alexander dengan sedikit senyum di wajahnya


" Tidak, aku mau minta kompensasi padanya. Waktu satu bulan ini dianggap tidak sah "


" Ckckck Dasar tidak tahu malu " Alexander tersenyum tipis mendengar ucapan paman nya itu


" Biarlah aku disebut tidak tahu malu, aku tidak peduli. " Gustaf tersenyum


Seperti nya waktu satu bulan itu bisa membuat mereka bekerjasama, dan membangun hubungan di antara mereka. Ternyata dari kebencian berubah menjadi hanya rasa tidak suka.


Berkali-kali mereka berada dalam bahaya yang sama, Alexander dan Gustaf bahu membahu saling tolong menolong. Mereka selalu teringat ucapan Leticia sebelum meninggalkan istana, agar mereka menjaga satu sama lain. Siapa sangka hubungan kedua rival yang ternyata adalah paman dan keponakan ini mulai membaik.


" Hari ini kita bermalam disini dulu " kata Gustaf pada para pasukannya yang terlihat lelah dan mengantuk.


" Yang mulia, apa ini tidak berbahaya ?" tanya salah seorang prajurit Gustaf


" Tenang saja, iblis biasa akan takut pada cahaya api. Jika ada iblis disini pun, mereka tak akan berani mendekat. Kalian sudah lelah, jika tidak ingin mati lebih baik beristirahat dulu " ucap Alexander sambil turun dari kudanya itu.


Para prajurit berbisik-bisik mengomentari tindakan Alexander. " meskipun perkataan mantan Raja itu pedas dan tajam, tapi dia benar. Jika perjalanan diteruskan, kita bisa mati "


Pada akhirnya mereka menuruti perintah Gustaf dan Alexander untuk membuat tenda di hutan terlarang itu. Sebagian dari mereka ada yang membuat api unggun, mendirikan tenda, dan ada juga yang mencari hewan untuk dimakan.


" Kau yakin disini aman ?" tanya Gustaf sambil melirik lirik ke sekitarnya.


" Tidak "


" Lalu kenapa kau menyuruh yang lain beristirahat disini?" tanya Gustaf heran


" Tenang saja, apa gunanya aku disini. Aku bisa mencium aroma iblis dari kejauhan "


" benar juga, kau kan setengah iblis. Oh ya, sudah lama aku tidak melihatmu berubah menjadi setengah iblis itu "


" Maksud mu mata merah?" tanya Alexander sambil tersenyum tipis


" Iya, sekarang kau lebih tenang. Padahal dulu kau selalu mengamuk tak terkendali " jawab Gustaf


" Menurutmu kenapa aku bisa tenang begini?" tanya Alexander


" Pasti karena kehadiran Leticia " Gustaf yakin


" Iya kau benar, aku banyak berubah karena nya..Dia adalah matahariku, saat aku berjalan di dalam gelap dan terperangkap di dalam nya selama hidupku, dialah yang datang menyelamatkan ku dan membawa cahaya padaku "


Alexander tersenyum, seperti nya pria itu sedang merindukan istrinya. Gustaf terdiam mendengar nya, ia tak berkomentar apa apa lagi. Memang kenyataan Leticia adalah matahari untuk Alexander, tapi matahari juga untuknya.


Gustaf mengerti kenapa Alexander bisa jatuh hati pada Leticia yang dulunya adalah tawanan di istana nya, bukan hanya karena Leticia memiliki wajah yang cantik. Tapi gadis itu juga memiliki kecantikan dari dalam hatinya, yang bisa membuat orang-orang disekitarnya bahagia karena kehadiran nya. Hal itu juga lah yang dirasakan oleh Gustaf.


****


Saat para pasukan sedang tidur pulas, tiba-tiba Alexander merasakan sesuatu yang mendekat ke arah kamp mereka.


" Bangunkan semua nya Gustaf !" ujar Alexander pelan-pelan pada Gustaf yang sedang tidur. Wajah Alexander terlihat panik.


" Ada apa?" tanya Gustaf heran


" Ada sesuatu yang besar serang menuju kemari, dari baunya itu bukan manusia. Bangunkan mereka pelan-pelan. Kita harus segera pergi dari sini !" seru Alexander


Sial, sudah terlambat. Apa kita benar-benar harus melawan mereka? mereka sangat cepat.


Atas perintah Gustaf, Will membangunkan semua pasukan dan kstaria yang sedang tertidur pulas itu. Mereka mulai bersiaga dengan senjata lengkap di tangan mereka.


" Mereka tidak sendirian, mereka dalam jumlah yang banyak. Sebaiknya kau siapkan kekuatan mu Gustaf !" seru Alexander yang terlihat waspada melihat-melihat di sekitar kegelapan


Wush


Gustaf menyalakan api di sekitar sana, bermaksud memberikan penerangan. Dan aba-aba, jika sewaktu-waktu iblis mendekat, mereka akan punya waktu untuk menyerang.


Beberapa detik setelah itu, datanglah beberapa orang yang sudah berubah menjadi iblis. Mereka bergerak sangat cepat menyerang para pasukan.


Alexander dan Gustaf adalah yang tercepat menangkis serangan mahluk mahluk itu, menebas leher mereka lalu membakarnya agar iblis itu tidak bisa hidup kembali. Mereka berdua terlihat saling bekerjasama.


" Mereka seperti pasukan mayat hidup !" seru salah seorang pasukan yang baru pertama kali melihat pemandangan di depan nya itu.


Will dan para kstaria yang ikut dalam perburuan iblis, merasa kagum dengan mantan raja dan Raja baru kerajaan Fostiarus yang tidak diragukan lagi kehebatan nya. Alangkah baiknya jika kedua saudara ini bisa bersama-sama membangun kerajaan Fostiarus. Itulah bayangan Will dan para kstaria yang ada di sana.


" Aku terlalu sibuk di depan sini " terlihat seringai di wajah Gustaf. Gustaf menyalakan api dari tangannya dan membakar iblis iblis yang sudah ditebas lehernya.


Gustaf dan Alexander terlihat menikmati pertarungan dengan iblis iblis itu. Namun, jumlah mereka terus bertambah. Para pasukan yang tak punya kekuatan sihir seperti Gustaf dan fisik yang tidak sekuat Alexander, mulai kewalahan. Bahkan beberapa dari mereka juga ada yang gugur.


" Seperti nya jumlah mereka terus bertambah, yang mulia " Will berada di depan Gustaf sambil memegang pedangnya dan waspada terhadap apa yang ada di depannya.


" Suruh pasukan mundur !" seru Gustaf pada Will


" Ya yang mulia "


Pasukan kerajaan Fostiarus pun mundur dan menghindar untuk mencegah korban berjatuhan lagi. Mereka yang awalnya berjumlah puluhan, kini hanya tersisa belasan orang. Gustaf khawatir melihat pasukannya yang terus menerus menjadi korban.


Keadaan Gustaf dan Alexander mulai terdesak, karena iblis iblis itu semakin banyak dan bergerak semakin cepat. Apalagi Alexander yang sekarang tanpa kekuatan sihir, mulai kewalahan.


" Sialan ! bagaimana caranya menghentikan semua ini? mereka terus bertambah dan semakin cepat !" gerutu Gustaf sambil menyerang iblis iblis yang mendekat padanya


" Salah satu caranya adalah kita harus menemukan Raja iblis dan membunuhnya " kata Alexander yang juga sibuk melawan para iblis


Sial, kekuatan ku sudah mulai terkuras habis. Tanpa elemen ku, ini cukup sulit. Leticia maafkan aku, aku tidak bisa pulang cepat.


Dalam keadaan terdesak seperti itu pun Alexander masih sempat memikirkan istrinya yang sudah menunggunya dan selalu mendoakan keselamatan nya.


Terdengar suara pedang pedang saling berdebat, beradu, di hutan yang harusnya sunyi itu akhirnya menjadi ramai.


Tak sengaja Alexander terjatuh ke tanah karena serangan iblis itu, hampir saja Alexander digigit olehnya. Akan tetapi sebuah belati menancap di kepala iblis itu.


JLEB


SRAT


" Woa.. itu hampir saja " seringai Derrick yang berdiri tak jauh dari Alexander yang terduduk di tanah.


" Raja Derrick?" Alexander dan Gustaf terpana melihat Derrick ada di depan mereka.


Tak lupa Raja Brilla itu membawa pasukan nya juga untuk membantu perburuan iblis itu.


" Serang mereka ! jangan lupa tebas leher nya !" ujar Derrick pada para pasukan nya.


" Baik yang mulia !" ucap para kstaria kerajaan Brilla dengan tegas


Mendadak semangat pasukan Gustaf kembali menyala dengan datangnya bantuan dari kerajaan Brilla. Mereka bertarung dengan semangat.


Derrick mengulurkan tangannya pada Alexander dan membantu nya berdiri. Seraya berkata " ayolah bertarung dan cepat selesaikan ini, adikku sudah menunggumu untuk pulang "


" Terimakasih " Alexander tersenyum senang


" Aku melakukan ini untuk adikku, kau jangan besar kepala ya !" seru Derrick dengan memalingkan wajahnya.


" Baiklah, tetap saja terimakasih sudah datang " Alexander


Ternyata Leticia berkata benar tentang restu dari Raja Derrick.


Pertarungan itu pun berakhir sengit sampai fajar menyingsing. Matahari mulai terbit menandakan hari sudah pagi, itu sudah hari ke 32, Gustaf, Alexander dan pasukan kerajaan Fostiarus itu jauh dari istana dan memasuki hutan terlarang.


Setelah keadaan mulai aman, pasukan Gustaf dan pasukan Brilla beristirahat. Ada yang makan dan ada pula yang tidur. Mereka tampak lelah.


Sementara Alexander, Gustaf dan Derrick sedang mengadakan rapat mengenai Raja iblis.


" Kau bilang seharusnya Raja iblis berada di tempat ini kan?" tanya Gustaf


" Seharusnya dia disini, karena dia tidak pernah meninggalkan tempatnya. Tapi, aku tidak mencium kehadiran nya disini. " Alexander terlihat berfikir


" Jadi, kenapa kau banyak tau tentang Raja iblis ini?" tanya Derrick penasaran


" Raja Derrick, dulu Alexander pernah diculik oleh Raja iblis. Dan dia juga memiliki setengah kekuatan iblis. Jadi dia banyak tau tentang Raja iblis " Gustaf membantu menjawab


" APA? jadi kau benar-benar memiliki setengah kekuatan iblis? aku kira itu cuma rumor saja, apa saat itu mata merah mu dan saat kehilangan kendali. Itu karena pengaruh iblis?"


" Iya benar. "


" wah, ini bisa berbahaya untuk Tisha kalau kau bisa meledak sewaktu-waktu. Kau bisa menyakiti adikku "


" Itu tidak akan, adik mu adalah obat penenang ku. Dia bisa mengendalikan diriku. Kau tenang saja " Alexander tersenyum tipis


" Melihatmu banyak tersenyum, seperti nya kau sudah banyak berubah " Derrick heran melihat Alexander yang berwajah dingin itu sedang tersenyum di depannya.


" Adikmu adalah satu satunya alasan kenapa aku bisa berubah "


" Sudah sudah, aku seperti angin saja disini. Kita bahas lagi tentang iblis !" seru Gustaf yang merasa kesal pada kedua pria yang di depannya itu, karena merasa diabaikan.


Siapa yang bisa menyangka ketiga pria besar dan kuat dari 2 kerajaan itu bisa berbincang dengan santai dan akrab. Apakah ini artinya hubungan mereka mulai membaik?


🍂🍂🍂


Di istana Fostiarus,


Keesokan harinya, Mira dengan semangat membawakan nampan, di atas nampan itu ada makanan. Telur, roti, dan susu. Mira berjalan menuju ke kamar Leticia.


Berkali-kali Mira mengetuk pintu, tapi Leticia tak kunjung menjawab. Tak lama kemudian, Mira mendengar suara dari dalam kamar Leticia.


" Uwekk.. uwekkk .."


" Yang mulia ! maafkan kelancangan saya, saya akan langsung masuk !" seru Mira panik


Mira membuka pintu kamar Leticia, buru-buru ia meletakkan nampan yang ada makanan nya itu dan pergi ke kamar mandi untuk melihat keadaan Leticia.


Leticia sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi, ia merasakan ada tangan yang menepuk nepuk punggungnya. Dan itu adalah Mira.


" Yang mulia, apa sebaiknya kita memanggil tabib Erin saja? " Mira terlihat cemas


" Tidak usah, ini pasti hanya masuk angin saja " Leticia memegang kepalanya yang terasa pening.


" Tapi yang mulia sudah beberapa hari seperti ini, tidak! bukan beberapa hari, tapi beberapa minggu. Itu dimulai sejak yang mulia Raja Alexander pergi dari istana " terang Mira


" Iya sih, tapi aku akan membaik jika minum teh hangat. Tidak usah merepotkan tabib Erin " Leticia tersenyum


Aku mungkin sakit seperti ini karena merindukan Alex. Alex kapan kau pulang? rindu ini tidak ada obatnya.


Mira membantu Leticia berjalan ke ranjangnya, hari itu Leticia merasa pusing yang luar biasa sehingga ia tak bisa berjalan keluar dari kamar nya. Dan hanya berbaring saja.


Tanpa Leticia sadari, Vivian selalu mengawasi gerak-gerik Leticia dengan curiga. Seperti menyadari ada sesuatu yang salah dengan Leticia.


...---***---...


Hai Readers ! jangan lupa komen dan like nya, kasih hadiah dan vote nya juga boleh ❤️❤️🤗