Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran

Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran
Bab 64 Hukuman Marquez Randell


Pagi itu, Leticia terbangun dan melihat tidak ada Alexander di sampingnya. Wanita itu berjalan dan membuka pintunya sambil memegangi perutnya.


Terlihat ada beberapa pengawal yang berjaga di depan kamar itu.


" Nona sudah bangun?" tanya Mira sambil membungkuk sopan


" Mira?" tanya Leticia yang heran melihat Mira membungkuk hormat padanya. " hey apa yang kau lakukan, kenapa kau memberi hormat padaku? kita kan teman " kata Leticia santai


" Maaf, sekarang saya tidak bisa bersikap tidak sopan pada nona. "


" Ini bukannya tidak sopan, kita kan memang biasa bicara santai sebelumnya " Leticia heran


" Hehe saya tidak bisa begitu sekarang, karena nona adalah kekasih Baginda Raja, atau mungkin calon Ratu di kerajaan ini. Jadi, saya harus menghormati anda " kata Mira sambil tersenyum senang


Calon Ratu? aku? pernikahan? dia bilang dia tidak bisa menikah denganku. Mana mungkin aku jadi Ratu disini. Statusku masih tidak jelas. Kenapa aku memikirkan hal yang semalam lagi? huu.. aku harus cepat sehat agar cepat kembali ke Ilios.


" Pokoknya jangan begitu, tidak mungkin aku menjadi Ratu negeri ini. "kata Leticia menyangkal


" Ternyata kau cukup tau diri juga ya " kata Vivian yang tiba-tiba muncul di depan kamar Leticia. Nada bicara yang sini, raut wajah yang sudah terlihat jelas ketidaksukaan nya pada Leticia.


" Sudah lama ya tidak bertemu, nona " kata Leticia menyapa


Ini dia, wanita menyebalkan yang satu lagi.


" Nona Vivian, tolong anda bicara yang sopan pada nona Leticia " kata Mira mengingatkan


PLAK


Tanpa basa-basi Vivian menampar Mira dengan keras sampai pelayan itu terjatuh. Leticia membantunya berdiri, ia merasakan kalau luka nya kembali terbuka.


" Mira kau baik-baik saja? apa kau terluka?" tanya Leticia cemas


" Saya baik-baik saja nona " jawab Mira


" Seorang pelayan berani bicara padaku dan menggurui ku, kurang ajar sekali !" Vivian marah


PLAK


Leticia menampar Vivian untuk membalas tamparan nya pada Mira.


" Ah ! kau wanita jalang ! beraninya menamparku !" Vivian marah dan hendak menampar balik Leticia, tapi wanita itu menahan tangan Vivian dan menepisnya.


" Seorang bangsawan tidak tahu malu, tidak tau tata krama. " kata Leticia sinis


" apa kau bilang?!!" tanya Vivian meledak


" Berisik sekali, kau membuat kupingku sakit. "


" Beraninya kau yang bukan siapa-siapa melawanku, hanya kekasih gelap Raja saja, kau sudah sombong. Hey jangan bermimpi terlalu tinggi jadi Ratu, wanita seperti mu tidak cocok berada disisi Raja. Kau bukan apa-apa sekarang " kata Vivian sambil mendorong dorong Leticia dengan jarinya


Aku ingin sekali menjambak rambutnya, tapi luka ku seperti nya terbuka lagi.


Tak lama kemudian, Daniel datang menghampiri Leticia. Ia kaget melihat darah mengucur dari perut gadis itu.


" Nona ! kenapa perut anda berdarah lagi?" tanya Daniel panik.


" ini tidak apa apa, seperti nya luka ku terbuka lagi tuan Daniel " jawab Leticia sambil menahan sakit


" Saya akan panggil tabib dan segera memberitahukan pada Baginda Raja juga " kata Daniel yang langsung berlari cepat, tanpa mendengarkan Leticia bicara.


Vivian kesal saat ia diacuhkan, sementara Leticia mendapatkan semua perhatian dari semua orang di istana itu.


KLAK


Mira memapah kembali Leticia yang terluka kembali berbaring di ranjang nya. Sambil menunggu tabib, Mira menyuapi Leticia dengan makanan yang sudah ia siapkan untuk nya


" Aku bisa sendiri kok "


" Nona, tidak boleh! anda tidak lihat, luka anda berdarah-darah begitu. Saya saja ngilu melihatnya " kata Mira cemas


Drap


Drap


Drap


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari, dan itu adalah Alexander. Pria itu datang sambil memakai jubah kebesaran nya. Seperti nya pria itu akan pergi ke suatu tempat.


Mira langsung membungkuk hormat saat kedatangan nya.


" Kenapa luka mu bisa terluka lagi? kau ini, sudah kubilang jangan banyak bergerak kan! dan apa gunanya pelayan ini disini?!" teriak Alexander


" Ini bukan salahnya, marahi saja aku, karena aku yang tidak mau diam " jawab Leticia


" Maafkan saya yang mulia, karena saya nona Leticia luka nya terbuka lagi. Untuk menolong saya dari nona Vivian, nona sampai berdebat dengan nya " terang Mira


Ya ampun Mira, harusnya kau tidak menceritakan nya.


" Wanita menyebalkan itu ada disini? haa.. dan dia menganggu wanita ku?" Alexander tersenyum sinis


Senyuman yang mulia terlihat menakutkan. Batin Mira


Raja tiran itu menyuruh Mira keluar dari kamar Leticia.


KLAK


Pintu kamar itu tertutup.


Alexander duduk di sudut ranjang, dan membuka baju Leticia, mengangkat bajunya ke atas.


" Apa yang kau lakukan?! dasar cabul !" ujar Leticia marah


Alexander tidak mengindahkan Leticia, ia fokus melihat luka bekas tusukan di perut Leticia. Tangannya mengeluarkan cahaya dan ia mencoba mengobati luka Leticia sekali lagi. Akan tetapi, tidak ada reaksi dari luka itu dan lukanya masih tetap sama.


" ternyata benar, tidak bisa bereaksi. Apa karena pisau perak itu?" gumam Alexander


" Ada apa?" tanya Leticia


" Tidak apa, mungkin kau harus menahan lagi rasa sakit saat luka mu dijahit lagi. Aku tidak bisa menyembuhkan lukamu " jawab Alexander cemas


" Pisau perak yang digunakan orang itu untuk menusuk mu memiliki air cuka di dalamnya. Jadi kekuatan ku tidak berfungsi saat ada air cuka " terang Alexander


Dia sampai menceritakan kelemahan nya padaku. Itu artinya dia sangat percaya padaku, tapi kenapa dia bilang tidak bisa menikahi ku?


" Ada apa dengan wajahmu? apa kau merasa sakit?" Alexander berniat menyentuh wajah Leticia, tapi wanita itu menghindar dengan sendirinya.


Alexander terkejut dengan sikapnya.


Kenapa dia menolak ku?


" Aku baik-baik saja " jawab Leticia sambil memalingkan wajahnya dan terlihat cuek.


Seharusnya aku tidak begini, tapi kenapa tubuhku menghindar dengan sendirinya? apa aku mulai meragukan nya?


" Kemana sih tabib nya??! lama sekali !" teriak Alexander kesal


Drap


Drap


Drap


KLAK


" Maafkan saya yang mulia, saya sedikit terlambat. " kata Tabib Erin menunduk memohon maaf


" Obati lukanya, cepat !" ujar Alexander


" baik !" jawab tabib Erin panik


Sepertinya aku baru pertama kali melihat tabib perempuan ini disini. batin Leticia heran


Tabib itu sudah menyiapkan peralatan untuk menjahit luka tusukan di perut Leticia.


" Apa perlu saya berikan obat bius? agar ini tidak terasa sakit ?" tanya tabib Erin


" Tidak usah ( Berikan saja !) " kata Leticia dan Alexander bersamaan tapi berlawanan arah


" Kau akan kesakitan kalau kau tidak memakai obat bius " kata Alexander mengingatkan


" Tidak usah tabib Erin, aku bisa menahannya. " kata Leticia


Karena Leticia dan Alexander sama-sama keras kepala. Mereka pun berdebat lagi seperti biasanya, untungnya perdebatan itu di hentikan oleh kedatangan Daniel dan Carl yang memberitahu bahwa pengadilan untuk tuan Marquez Randell akan segera di mulai.


Leticia terpana mendengar nya, kenapa pria itu akan di bawa ke pengadilan? kesalahan apa yang ia lakukan? wanita itu bertanya-tanya dalam hatinya.


" Aku akan segera kembali Chia..Hey tabib bodoh ! obati lukanya dengan benar, kalau sampai terdengar suara dari nya mengeluh kesakitan, bersiaplah untuk dipenggal " kata Alexander mengancam


" Ba.. Baik yang mulia " jawab Tabib Erin gemetar


Kalau bukan karena gaji yang tinggi, aku tidak akan mau bekerja bersama tiran ini. Menyeramkan sekali..aku harus mengobati nona ini dengan benar.


Raja, Daniel dan Carl pergi keluar dari kamar Leticia.


Tabib Erin menjahit luka Leticia dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Dan menutupinya dengan perban.


" Terimakasih tabib Erin. Dan tolong maafkan perkataan Baginda Raja ya " kata Leticia ramah


" Ini sudah tugas saya nona. Awalnya saya tidak mau saat mendapat perintah tugas dari istana, tapi syukurlah saya menerimanya. hehe " Tabib Erin tertawa kecil


" Memangnya kenapa?" tanya Leticia


" Pada awalnya saya berfikiran kalah Baginda Raja adalah orang yang sangat kejam, tapi sekarang yang mulia sudah banyak berubah. Terimakasih kepada nona Leticia yang sudah membuat Baginda berubah " terang tabib Erin


" Itu bukan karena ku, itu karena dirinya sendiri. Aku hanya sedikit mendorongnya. "


" Saya bersyukur bisa melayani calon ratu masa depan, tolong bantu saya kedepannya nona !" kata tabib Erin sambil menunduk memberi hormat


" eh? nona tabib, aku bukan ratu ! bukan !" ujar Leticia menyangkal.


Hampir seharian wanita itu hanya berbaring ditempat tidur dan ditemani Mira, ia tak melihat Alexander setelah pria itu pergi bersama Daniel.


Leticia pun meminta dibawakan tongkat, agar ia bisa berjalan. Ia ingin melihat Alexander dan hukuman untuk Marquez Randell karena telah mengkhianati kerajaan dengan membuat onar di desa Winterne.


Mira dan Leticia berjalan di lorong, mereka melihat Vivian sedang berlutut di kaki Alexander, memohon agar ayahnya dibebaskan dari hukuman. Wanita itu menangis meraung-raung untuk kehidupan ayahnya.


" Saya mohon yang mulia, ampuni nyawa saya sekali ini saja ! selama ini ayah saya selalu mengabdi kepada yang mulia dan kerajaan ini, bisakah anda mengubah hukuman ayah saya?" Vivian menangis sedih


" Kalau masalahnya hanya korupsi atau memungut pajak, itu bisa dimaafkan dan diberikan hukuman ringan. Tapi, pengkhianatan tidak bisa dimaafkan " kata Alexander sinis


" Saya mohon yang mulia !! berikan ayah saya kesempatan, saya tidak ingin ayah saya meninggal. Saya akan lakukan apapun untuk yang mulia, agar anda membebaskan ayah saya. Saya tidak bisa hidup tanpa ayah saya" Vivian memohon


Kalau ayah meninggal, aku harus bekerja keras dan jatuh miskin. Aku tidak mau itu terjadi, aku akan kesulitan dan dihina orang lain karena gelar bangsawan juga dicabut. Terlebih lagi aku harus kehilangan semua kemewahan itu, aku tidak sanggup.


" Yang mulia Raja " ucap Leticia menyapa


" Chia, kenapa kau keluar dari kamar mu? adakah yang kau butuhkan?" tanya Alexander


" Yang mulia, tolong berikan kesempatan pada Marquez Randell " kata Leticia tiba-tiba


Vivian, Mira dan Alexander terperangah saat mendengar ucapan Leticia.


" Kenapa kau bicara begini?" tanya Alexander agak kesal


" karena saya yakin setiap orang mempunyai kesempatan untuk hidup dan berubah menjadi lebih baik. " jawab Leticia sambil melihat iba pada Vivian


Apa dia sedang kasihan padaku?aku tidak suka ini, tapi ini demi keselamatan ayahku. Maka aku harus bekerja sama dengannya. Ternyata aktingku tidak buruk sampai wanita jalang ini iba padaku. batin Vivian kesal


...---***---...


Hai Readers.. 😊mohon maaf untuk chapter hari ini terbilang sedikit. Dikarenakan author nya kurang sehat, dan terburu-buru. Mohon maaf kalau ada typo atau salah kata πŸ€—


jangan lupa Like, vote komen, Favorit nya β€οΈπŸ™ makasih


Bab selanjutnya : 65. Bersembunyi atau melarikan diri?