
Subuh menjelang.
Di Masjid sudah mengaji tinggal berapa menit saja lagi Azan Subuh.
Tok... Tok... Tok...
Afriadi mengetuk Pintu Kamar Latika. Tak ada jawaban, berkali-kalai Afriadi mengetuk pintu Kamar Latika tetap tak ada jawaban. Garuk-garuk kepala Afriadi, buka pintu Kamar Latika.
"Dek, bangun Dek."
Afriadi menepuk-nepuk pelan pipi Latika.
Latika membuka matanya sedikit, mengintip dengan kesadaran belum full.
"Adek bangun. Yuk Sholat," kata Afriadi lembut sekali lagi ia menepuk pelan pipi Latika.
Pendengaran Latika tak berfungsi dengan betul hanya sedikit kalimat Afriadi yang ia cerna. Ia bangun.
"Abang." Latika mengucak matanya.
"Yuk, Sholat. Sudah masuk waktunya," ajak Afriadi. Ia ingin meajak Latika Sholat Jama'ah.
"Emmmm," guma Latika meangguk dengan mata yang masih tertutup.
"Abang tunggu di Ruangan sana."
"Emmmm," guma Latika meangguk, kepalanya sudah bergoyang.
"Cepat besiap," kata Afriadi sebelum meninggalkan Latika.
Afriadi menunggu di Ruangan khusus untuk ibadah. Dia menoleh ke belakang lihat Latika apa sudah datang atau belum, namun Latika tak kunjung datang sudah 5 menit ia menunggu.
"Lamanya Adek." Afriadi menggeleng, melihat jam, di Mesjid orang sudah melaksanakan Sholat.
Ia menghela nafas, pergi melihat Latika.
Ketika sampai di sana.
Afriadi menggeleng mengusap dada, Afriadi melihat Latika masih tertidur,
"Astaghfirullah."
"Haduh... ADEEEEK!!!" Afriadi geram meninggikan nada suaranya membangunkan Latika, "Cepatlah, deeeek besiap. Sudah lama Abang tunggu."
Cepat Latika masuk ke Kamar mandi,
"Untung sudah wudhu, kalau tak huumm..."
5 menit kemudian.
Sholat subuh di laksanakan mereka secara berjama'ah.
Kalau di lihat ini pertama kalinya mereka Sholat berjama'ah.
Ini pemgalaman pertama Afriadi menjadi imam Sholat Latika.
Setelah Sholat dan Do'a Latika mau menyalami Afriadi, tapi Afriadi menolaknya dia mengajak Latika tadarus bersama setelah itu baru salam. Kalau Salam dulu nanti batal dong kan saling sentuh, mereka mauenyentuh dan membaca Al-Qur'an harus suci. Makanya Afriadi nolak.
Afriadi berdiri meambil sebuah Al-Qur'an dan alasnya.
Ini juga merupakan pertama kalinya mereka mengaji bareng.
Gugup melanda Latika, ada rasa apa gitu di hatinya senang iya, sejuk sejuk iya, dan gugup semua bercampur aduk.
Mereka mulaiLatika sedikit malu-malu membuka mulutnya membaca ayat suci Al-Qur'an, apa lagi Afriadi duduk di samping Latika, sehingga terjadi kesalahan dalam bacaan Latika gagal fokus, tapi tenang Afriadi membetulkan bacaan Latika.
Suara merdu Afriadi membuat Latika tersentuh.
Setelah tadarus baru Latika menyalami Afriadi, mencium tangan Suaminya itu dan Afriadi mengusap kepala Latika, rasanya Latika mulai nyaman dengan usapan Afriadi.
Setelah selesai tadarus Latika turun ke Dapur masak. Karena masih pagi.
Afriadi ikut membantu Latika masak.
Afriadi lihat-lihat Latika mencuci sayuran.
"Mau masak apa dek?" tanya Afriadi.
"Abang mau makan apa?" Latika tanya balik.
"Em, apa ya? Em, Nasi goreng saja. Biar cepat, praktis lagi."
Latika meangguk, "Kita buat Nasi Goreng Gado Gado."
"Lah, kenapa namanya Nasi Goreng Gado Gado?"
"Sebab Gado Gadokan banyak campurannya dan Nasi Goreng ini banyak juga campurannya seperti masukkan Ayam cincang, tahu, tempe, sayuran...
Afriadi tersenyum melihat Latika bersemangat sekali, ia dengarkan saja apa yang di katakan Latika sampai ia menyela di saat Latika berhenti bicara, "Tambahkan Cinta."
"Ah, iya itu juga. Eh." Latika melirik Afriadi wajahnya sedikit bersemu, yang di lirik tersenyum lebar melihatkan gigi yang putih itu.
"Abang bantu kupas dan potong bawang," kata Afriadi.
Latika meangguk, ia mengerjakan bagiannya.
Afriadi meambil bawang tak lupa pakai gaya akrobatik di ambung-ambung bawangnya.
Dari gaya boleh lah. Afriadi mulai mengupas kulit Bawang dan di lanjutkan dengan memotong Bawang, baru berapa irisan bawang mata Afriadi sudah perih, berairan.
"Bisa?" Latika menyengir lihat Afriadi.
"Bisa," jawab Afriadi, matanya sipit menahan perih. Susah payah Afriadi menyelesaikan memotong bawang.
Setelah semua bahan di siapkan, dan bawang hasil kupasan Afriadi juga sudah ada.
Latika mulai masak.
Afriadi bersiap-siap mengemas diri.
Tidak lama kemudian.
Afriadi selesai, makanan pun selesai di masak.
Afriadi merasa puas dengan masakannya apalagi dengam bawang yang susah payah ia kupas, di tambah lagi dengan Adek Latika yang menemaninya sarapan di samping dengan senyuman, lengkap sudah. Kan kalau gini enak, hari lebih cerah gitu.
***
Jam 19:45 malam.
Hari ini Latika pergi memenuhi undangan ulamg tahun Lili Adiknya Hadi, di antar Afriadi dengan Motor.
Sesampainya di depan Rumah Hadi.
Latika turun dari Motor.
"Nanti kalau sudah selesai telpon saja, abang jemput nanti," kata Afriadi di balik Helem.
Latika meangguk, paham.
"Eh, Latika. Hy!" Sahril melambaikan tangan, menghampiri Latika.
"Hy! Latika." Tiga sohib Latika melambaikan tangan, mendekat.
Kebetulan mereka baru datang, selang beberapa menit sebelum Latika datang.
"Pacarnya, kah." Sahril memperhatik Afriadi dari tadi.
"Eh, Mas Afri." Salasiah menyapa Afriadi, tahu saja di balik helem itu Afriadi.
"Antar Latika?" sambung Salasiah.
Afriadi mendengus sebal. Ya, jelaslah antar Latika sudah nyata antar Latika pakai nanya lagi.
Afriadi asik di ajak bicara sama sohib Latika.
Itu Sahril masih meamati Afriadi, batinnya berkata, "Hem, Salasiah kenal dengan dia."
"Hy!" sapa Hadi pada teman-temannya, menghampiri mereka, "Oh, sudah sampai. Ayo masuk."
"Abang pergi dulu," kata Afriadi perasaannya mulai tak enak jika lama-lama di sini.
Batin Sahril tersengat listrik dengar kata Abang, "Abang."
Latika menyalami Afriadi, raut wajah temannya berubah lihat aksi Latika.
"Mas," panggil Hadi menahan Afriadi dengan memegang tangannya, "Ayo masuk, ikut kami."
"Tidak." Afriadi menggeleng.
"Jangan segan." Hadi sedikit memaksa.
"Maaf, saya sibuk."
"Oh." Hadi meangguk paham, 'orang dewasa selalu sibuk' pikirnya.
Sahril meambil tindakkan, dengan menarik tangan Afriadi,
"Ayo masuk Mas, temani kami. Kami ingin kenalan dengan Mas."
Salasiah ikut-ikutan menarik tangan Afriadi.
"Gawat gawat gawat gawat," batin Latika panik serasa lihat si Jago merah melahap Rumahnya, panik setengah mati.
"Iya, jarang-jarang begini." Nana ikut-ikutan juga narik tangan Afriadi.
"Iya, aku mau langsubg kenalkan Mas dengan keluarga."
Melotot mata Afriadi di balik helem dengar kalimat Hadi.
"What?" Afriadi benar-benar kaget, bagaimana jadinya lagi jika ia bertemu Keluarga Hadi.
"Iya, ini kabar baik Latika sudah punya pacar."
Latika mau bicara keburu di sela Hadi dan Sohibnya.
"Ayo, Mas masuk. Gak usah segan. Mas juga di undang, soalnya itu undangan itu juga untuk Mas sekalian.
Ayo, Mas." Afriadi benar-benar di tarik paksa oleh Hadi.
"Oke," jawab Afriadi. Hadi tersenyum puas dengan jawaban Afriadi, Sohib Latika bertepuk tangan, sedangkan Latika terdiam tak percaya dengan apa yang di ucapkan Afriadi.
Mau tidak mau Afriadi ikut saja, ia masuk ke Halaman Rumah Hadi dengan motornya.
Latika di belakang menyusul dengan Sohibnya.
Afriadi terpaksa ikut, tak enak juga nolak niat baik seseorang. Toh, dia di undang dan undangan itu harus di penuhi, tak baik jika tidak menghadiri undangan itu hak Muslim atas Muslim lainnya.