Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Viral 3


Pagi menjepang.


Seperti biasa Latika pergi ke Sekolah.


Hari ini spesial sekali, Afriadi tidak ada di Rumah. Kata Bik Ipah dia sudah pergi dari jam 2 malam tadi dijemput temannya, katanya mengurus sesuatu.


Latika bersikap bodo amat, tidak mau tahu dia ke mana? Apa yang dia lakukan? Dia mengurus apa? Itu adalah hidupnya sendiri.


"Oi, Latika ceria amat. Pagi-pagi sudah cengar-cengir sendirian." Kodir menegur Latika, ia sudah melihat Latika cengar-cengir sendiri turun dari motor masuk lewat gerbang, melewatinya.


"Bapa juga kenapa cengar-cengir sendiri tadi? Dari jauh lagi saya lihat." Latika menghentikan langkahnya, menatap Kodir yang duduk di sana.


"Oh itu. Bapak lagi lihat video viral. Lega rasanya mendengar kabarnya." Kodir menjawab.


"Em... Video viral." Latika menghampiri Kodir, "Yang mana Pak videonya?."


Kodir menunjukkan video, memberikan ponselnya pada Latika, beucap hati Latika terkejut melihat video itu, ia tidak berkutip sedikitpun, matanya terus fokus pada video yang berisi permintaan maaf para saksi dan Pak Hansip yang sudah menuduh mereka berbuat zina dan permintaan maaf sudah menyeret sekolah SMA Ayyuniyah dalam video mereka yang mereka sebarkan. Kodir yang ingin mengambil pinselnya selalu ditahan Latika, berulang-ulang kali Latika memutar video, matanya merah berkaca-kaca.


"Aduh.. Ada apa dengan ini anak, sedih sekali melihat video itu jadi ikutan sedih juga." Kodir berseru dalam hati, matanya sudah berkaca-kaca ikutan sedih tinggal tunggu aba-aba saja lagi.


"Maha besar engkau Ya Allah." hati Latika bergetar berseru. Kebenarannya sudah terungkap, terasa lapang sekali dada Latika, beban yang membuat ia sesak gara-gara kejadian itu sudah hilang. Tak terasa air mata Latika menetes. Kodir menyeka air matanya yang tidak sengaja ikutan tumpah.


Sesaat pikirannya terbayang Afriadi, dia belakangan ini sibuk menerima panggilan lalu pulang malam, "Apa dia yang melakukannya?" hati Latika bertanya-tanya.


TAP...


Kodir menepuk bahu Latika menutuskan lamunan Latika menutuskan lamunan Latika.


Eh... Latika sadar menghapus air matanya.


"Menghayati sekali," kata Pak Kodir.


"Tentulah Pak. Ini kabar baik bagi mereka yang di tuduh, coba bapak bayangkan betapa hancurnya perasaan mereka yang di tuduh, sampai kehidupan mereka harus berubah karena tuduhan tersebut." suara Latika terdengar gemetar di telinga Kodir.


"Hah, begitulah. Tidak bertulang namun sulit dikendalikan, itulah namanya Lidah. Sulit untuk kendalikan kadang karena lidah kita bisa menyakiti seseorang. Bapak senang kebenarannya sudah terungkap, sekolah kita tidak di jelek-jelekan lagi oleh masyarakat, dan para guru di Sekolah ini tak di tuduh yang bukan-bukan lagi. Mungkin pasangan itu juga bahagia mendengar kabar ini, mereka tidak menyembunyikan diri mereka lagi. Semoga saja hidup mereka damai sakinah mawadah warahmah sampai ke anak cucu." kata-kata bijak Kodir keluar Latika sempat terharu mendengar kata Kodir apalagi do'anya itu.


Hati Latika mengaminkan do'a Kodir.


"Sudahlah jangan sedih lagi, untuka apa juga bersedih. Bukanya kebenarannya sudah terungkap, pasangan itu pasti bahagia walau awal-awalnya canggung. Untuk apa juga kamu bersedih bukan kamu juga pasangannya." Kodir mengambil ponselnya dari tangan Latika, mengelap bekas tetesan air mata Latika yang jatuh menghantam layar ponselnya, "Sudah masuk ke Kelas lagi, sebentar lagi bel masuk."


Latika langsung pergi meninggalkan Kodir menuju kelas.


Gila... Sesampainya di Kelas semua penghuni kelas sibuk membicarakan video itu, sampai berkelompok-kelompok melihat video kayak mengerjakan tugas kelompok saja.


"Oi, Latika. Kau sudah lihat video viral itu?," tanya Hadi mendekati Latika, duduk di atas meja.


"Sudah tadi, numpang sama Pak Kodir." Latika menjawab membuka tasnya, mengeluarkan alat belajar.


"Hari ini sibuk tidak?." Hadi mengambil buku tulis Latika melihat-lihat isi buku.


"Kenapa?." Latika bertanya balik.


"Tanya saja." Hadi menjawab santai.


"Tidak juga, malah banyak waktu luang," kata Latika.


"Oh, kalau begitu aku ke Kost kau, ya?," kata Hadi.


"Egh... Hadi mau ke Kost, bukannya aku tidak di sana lagi. Kalau Hadi aku bawa ke Rumah... Alama, mati aku bisa kebongkar semuannya." hati Latika berseru panik.


"Kita latihan sudah lama tidak latihan dance, gerakan jadi kaku. Nanti, aku ajak Sahril," ucap Hadi.


"Iya juga ya, sudah lama kita tidak latihan. Tapi, kostku sempit bagaimana kalau di Rumah kamu saja," usul Latika.


"Iyakan saja... Iyakan saja... Iyakan saja..." Latika berseru dalam hati.


"Betul juga, nanti Bu Kost marah. Yalah, kita latihan di Rumahku saja seperti biasa." Hadi setuju dengan usulan Latika.


"Alhamdulillah, selamat." hati Latika lega, menghala nafas mengelus dada.


Bukan di sini saja yang heboh, tapi ibu-ibu di luar sana juga banyak membahas video itu, seperti sekumpulan ibu-ibu rumah tangga ini lagi berkumpul di geronak tukang sayur sambil memilih-milih sayuran. Ya, tukang sayurnya sih bahagia-bahagia saja asalkan dagangannya laris.


"Eh... Ibu-ibu pada tahu tidak, video yang beberapa waktu lalu yang viral itu ada lagi," ucap salah satu dari ibu-ibu itu, bibirnya di selimuti lipstick berwarna merah, bertubuh gemuk rambut ikal terurai, tangannya bergoyang memamerkan perhiasan, dia kerap disapa salamah di lingkungannya.


"Iiihh.. Apanya lagi yang ada?," sahut ibu-ibu sebelahnya, bertubuh kurus mulutnya ikut bergaya.


"Ih, bu ada lagi. Bahkan viral lagi," ujar ibu Salamah.


"Bukannya kemarin itu sudah ada kejelasannya." Mamamg si tukang sayur angkat bicara ikut megosip.


"Aduh, bukan. Kali ini... Kali ini..." kata-kata Bu Salamah terputus-putus membuat penasaran ibu-ibu yang lainnya.


"Kali ini apa?," serang ibu-ibu serempak.


"Aduh, susah jelaskannya. Nih, lihat saja sendiri." ibu Salamah melihatkan video itu ke Mamang si tukang sayur dan ibu-ibu yang ada di sana.


"Oooo... Gila parah betul itu orang memberi kesaksian palsu."


"Betul itu."


"Eh... Kalian juga jangan percaya betul, jangan-jangan orang ini dibayar untuk membersihkan nama baiknya."


"He'eh, iya juga ya."


"Maklumlah orang kaya."


Kata ibu-ibu itu bicara satu sama lain.


"Segitu amat ya, kalau bersalah ya bersalah saja jangan mengaku tidak bersalah sampai segitunya. E'eee.. Geregetan aku dibikinnya," geram Bu Salamah memgacak-acak sayuran, tapi sempat dihentikan si Mamang, "Eee... Jangan sayuran saya juga di acak-acak Bu. Kan sayur saya tidak salah."


Lama kelamaan gerobak si Mamang makin banyak di kunjungi ibu-ibu yang tertarik untuk ikut gosip yang hangat-hangatnya.


"Hadeh, ramai juga hari ini. Alhamdulillah, laris manis." hati si Mamang gembira melihat ibu-ibu semakin banyak menghampiri gerobak dagangannya.


Menit berlalu.


Matahari semakin meninggi, panasnya menyengat kulit kepala.


Setelah ibu-ibu puas gosip.


"Aduh, sudah jam segini. Belum masak lagi," sahut ibu-ibu di sebelah ibu Salamah, "Sudah ya, saya mau pamit pulang, mau masak untuk suami dan anak." ibu-ibu itu pergi meninggalkan gerobak dagangan si Mamang.


"Tidak beli sayurannya Bu?!." si Mamang meneriaki ibu itu, yang di teriaki membalas dengan teriakan juga, "Tidak mang sayur semalam masih ada."


Si Mamang mengangguk-angguk, 'Tidak masalah hilang satu, kan masih banyak lagi ibu-ibu yang masih ada di sini' pikir si Mamang.


"Wah, cucianku belum dijemur, saya pulang dulu ya ibu-ibu."


"Kalau gitu saya pulang juga, sudah tengah hari ini."


"Ah, iya saya belum masak untuk suami."


"Pulang yuk."


"Yuk... Yuk..."


Bubar satu bubar semua.


Mulut si Mamang hanya terbuka lebar melihat ibu-ibu bubar tampa membeli sayurnya, "Oi, Bu... Sayurnya tidak dibeli Bu!!!."


"Engak Mang, anak saya tidak suka makan sayur, lagian sayurnya juga sudah rusak-rusak lain kali ya mang!," salah seorang ibu-ibu jawab berlari memasuki rumah.


Bu Salamah cepat menjauh meninggalkan si Mamang, seakan-akan ia tahu kalau si Mamang akan marah, soalnya dari tadi barang dagangannya diacak-acak mereka lalu tidak dibeli.


"HALAH, JADI TADI KUMPUL DI SINI HANYA NUMPANG GOSIP SAJA, DAGANGAN HABIS DIACAK-ACAK, UANGA TIDAK DAPAT, WAKTU TERBUANG, DOSA DATAP, RUGIIIII-RUGIIII...!!!," teriak kesal si Mamang, merapikan barang dagangannya yang diacak-acak ibu-ibu tadi, menghempasnya dengan keras, "BERTANGUNG JAWAB SEDIKIT BUUUUU!!! HEEEE'EEE... KALAU TADI TAHU KAYAK GINI LEBIH BAIK SAYA KELILING KE TEMPAT LAIN SAJA."


Sabar ya Mang, cobaan ;-).