
Malam gelap gulita di temani bulan bersinar indah dan bintang bintang berkelap kelip di atas.
Afriadi mengemudi Mobilnya melewati jalanan sepi.
Dia dalam perjalanan pulang ke Rumah di temani dua sohib.
"Oi, Af." Hasan berseru pada Afriadi yang mengemudi di depan.
"Em..." Afriadi menguma tetap fokus.
"Apa kabar dia?" Hasan bertanya menyengir.
"Siapa?" Afriadi bertanya balik melihat Hasan di kaca spion.
"Siapa lagi kalau bukan Adek manis kau itu."
"Ooh... Dia, baik-baik saja." Afriadi mamasang wajah jutek.
Hasan dan Qilan meangguk paham.
Qilan ingin melomtarkan pertanyaan,
"Kalian masih-" Baru separuh pertanyaan Hasan keburu menutup mulut Qilan yang duduk di sampingnya, melototi Qilan memberi peringatan jangan tanya soal hubungan mereka nanti Afriadi bisa meledak emosinya.
Afriadi menatap tajam kearah kaca melihat mereka berdua di belakang.
"Masih apa?," tanya Afriadi dengan nada dingin.
"Aaa... Itu kau masih ingat dengan dia?" Hasan mengalihkan pertanyaan Qilan.
"Dia siapa?" Afriadi bertanya balik.
"Siapa lagi sahabat kita dulu yang paling cerewet, suka mengodamu...
Sudah lama juga kita tidak bertemu dengan dia. Dia pasti banyak berubah," kata Hasan.
Qilan menyambung, "Ah... Iya, semalam dia telpon aku, katanya ingin bertemu denganmu. Kau sudah tahu?"
Hasan menyeringit menatap Qilan, batinya berkata, "Kau ingin mengalihkan pembicaraan jangan begitu juga Qilan.
Haduh... Kacau.
Padahal aku hanya mengajak Afriafi membahas tentang dia untuk mengalihkan pembicaraan, kenapa kau bilang kalau dia ingin bertemu dengan Afriadi?"
"Apakah benar?" Afriadi bertanya lagi basa basi aja.
"Yah, benar." Qilan meangguk meabaikan tatapan mata Hasan.
Hasan meikuti gaya baim berdo'a, "Ya Allah ampuni dosa Qilan ya Allah."
Qilan mendelik menatap sinis Hasan, "Katanya besok dia akan menemuimu di seko-"
Baaakk...
Hasan menginjak kaki Qilan.
"Aaaa..." Qilan menjerit menatap Hasan bingung yang di tatap malah menatap tajam Qilan.
"Bukannya dia di Korea sekarang," kata Afriadi tiba-tiba.
"Alah... Qilan kau percaya." Hasan menjauhkan kakinya dari kaki Qilan melihat pemandangan di luar, gelap gulita.
"Serius Af," sambung Qilan.
Afriadi tersenyum tipis kembali fokus mengemudi.
Qilan melihat sekitarnya gelap, mengeluh, "Hem... Lamanya sampai?"
"Salah siapa ikut. Sudah tahu kalau tempatnya jauh." Hasan mengerutu
"Lagian kenapa juga kalian pergi ke sana? Tidak dapat apa-apa banyak nyamuk lagi," keluh Qilan.
Hasan mendelik, "Haduh... Lain kali kau tinggal saja, jangan ikut cerewet."
"Aku penasaran ingin tahu rasanya memancing di sungai di malam hari, melihat kunang-kunang beterbangan, melihat bintang di langit. Pemandangan dapat dinikamati tapi, ikannya tidak dapat."
"Mungkin kita kemalaman ikannya sudah tidur jadi tidak mau makan umpan," kata Hasan.
"Salah siapa yang memilih tempat yang jauh," Kata Qilan.
"Bukanya kau juga yang mengusulkan." Langsung tediam Qilan dengar kata Hasan.
"Sekarang sudah jam 01:10 malam." Qilan melihat jam di lengannya, mulutnya terbuka lebar, "Aku mengantuk."
"Hy! Jangan tidur kau akan kelewatan hal yang paling menarik," kata Hasan mengundang rasa penasaran Qilan yang sudah sayu mau tidur.
Cepat mata Qilan langsung segar dengar hal paling menarik, Hasan meangguk mantap sedangkan Afriadi tersenyum.
Hasan tersenyum licik, Qilan antusias ingin tahu, "Kau lihat di pohon, di sekitar sini, lihat saja terus kalau kau lengah kau akan kelewatan."
Qilan menuruti kata Hasan, ia melihat di sekitarnya.
Afriadi dan Hasan tertawa pelan.
5 menit Qilan memperhatikan sekeliling.
"Tidak ada apa-apa. Apa sih yang di lihat?" Qilan mengeluh.
"Cewek cantik." Hasan menyahut.
"Serius?"
"Rambut panjang." Hasan menyambung.
"Waw... Siapa namanya?"
"Kunti." Hasan menyengir lebar.
Qilan tidak curiga sama sekali, "Nama yang bagus."
Afriadi dan Hasan tertawa melihat Qilan serius.
"Kenapa ketawa?" Qilan mendelik.
"Hahaha... Kau ingin bertemu dengan dia?," tanya Hasan.
"Iya." Qilan meangguk polos.
Afriadi dan Hasan tambah jadi tertawa.
"Ada yang salah?," tanya Qilan polos.
Senang betul Hasan mengerjain temannya, "Kau tahu siapa kunti itu?"
"Cewek cantik berambut panjang." Qilan menjawab polos.
Afriadi dan Hasan tertawa lagi.
"Qilan yakin mau ketemu?" Hasan bertanya.
"Iya. Kenapa?.
Emangnya Kunti itu siapa?" Qilan gak sadar juga.
Hasan menjawab, "Kunti+lanak\="
"Kunti-" Qilan tak meneruskan kalimatnya sadar apa yang di maksud mereka, "Astaghfirullah."
Plak... Qilan menepuk kuat bahu Hasan, kesal di jahili olehnya.
"Hahaha..." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Qilan masih kesal menyumbat mulut Hasan dengan kotak tisu.
"Hoi, jangan main-main.
Kita lagi di jalan sepi ini. Nanti kalau ketemu bagaimana?"
"Kau yang hadapi. Bukanya kau ingin bertemu dengan dia.''
"His..." Qilan mendesis kesal.
Tawa memenuhi Mobil.
Afriadi tidak banyal bicara dia hanya mendengarkan pertengkaran kecil 2 sohibnya itu.
Tiba-tiba...
Hua ha ha ha ha...
Suara ketawa Kuntilanak.
Sontak Afriadi memberhentikan mobilnya, muka Qilan dan Hasan pias, mendengar suara tertawa Kuntilanak.
"Cepat Af, jalan." Hasan mendesak Afriadi, "Aku tidak mau ditangkap Kuntilanak. Aku masih bujang belum nikah, kalau kau sudah nikah sudah tahu rasanya punya istri, sedangkan aku belum Af."
Afriadi santai mengeluarkan ponselnya.
"Heh..." Hasan terkejut melihat Afriadi meangkat telpon. Ia melirik Qilan ia peluk di lihatnya Qilan menatapnya malas. Hasan menjauh, bersikap biasa saja.
"Heleh, Polisi takut hantu." Qilan membalas mengejek Hasan, "Suara ketawa bohongan Kunti saja takut."
Afriadi tertawa mengingat kata-kata Hasan tadi dan muka mereka yang ketakutan tadi.
Ternyata suara Kuntilanak itu suara panggilan di ponsel Afriadi sengaja ia ubah.
Afriadi kembali menjalankan mobilanya.
Hasan hanya diam saja sepanjang jalan, ia malu karena tadi ia baru saja menjahili Qilan.
Qilan tertawa pelan jika ia tertawa lepas nanti malu juga tadi dia ketakutan juga.
"Af, kau kelihatanya mengantuk. Sini gantian biar aku yang mengemudi."
Qilan menawarkan melihat Afriadi menguap.
"Tidak, sebentar lagi sampai."
Akhirnya mereka sampai di depan pagar Rumah Hasan.
"Em... Terimakasih. Hati-hati di jalan." Nada datar Hasan.
Afriadi meangguk pergi mengantar Qilan ke Rumahnya.
Sesudah mengantar Qilan pulang Afriadi pulang ke Rumah.
Mang Juneb membukakan pangar, dan disambut BIk Ipah di depan pintu.
Afriadi keluar dari Mobil.
Mang Juneb menyusul dari belakang.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." Mereka berdua menjawab.
"Ada apa Bik, Mang? Kenapa belum tidur?," tanya Afriadi menaiki anak tangga teras Rumah,
"Itu tuan. Ah... Tidak enak saya bilangnnya." Mang Juneb menyengir menggaruk-garuk kepalanya, salah tingkah.
"Ada apa? Bilang saja." Afriadi menunggu jawaban dari mereka berdua, matanya sayu menahan kantuk.
"Itu tuan." Bik Ipah tidak sanggup untuk bicara.
"Kami tahu keadaan Tuan sekarang bagaimana. Tadi saya dan Bik Ipah dapat telepon dari kempung. Mereka bilang. Saya dapat kabar kalau Ibu saya sakit keras di kampung keluarga pada suruh pulang,
dan Bik Ipah dapat kabar kalau suaminya sakit juga. Saya sudah lama tidak bertemu dengan Ibu, dan Bik Ipah juga. Jadi-"
"Tidak apa-apa Mang Bik Pulanglah. Temui mereka." Afriadi mengucak matanya.
"Tapi Tuan."
"Tidak ada tapi-tapi." Afriadi menggeleng, "Saya tidak ada hak melarang Bibik dan Mamang untuk pulang."
"Jika kami pulang Tuan dan Non-"
Kalimat Bik Ipah di potong Afriadi,
"Jangan khawatir Bik, dia ada aku."
"Em..." Bik Ipah menunduk rasa-rasanya tak tega ia meninggalkan Afriadi dan Latika takutnya nantinya mereka bertengkar atau terjadi sesuatu pada mereka.
"Bibik dan Mamang pulang saja, lagian sudah lama juga Bibik dan Mamang tidak pulang kampung. Kasihan keluarga di Kampung menunggu kepulangan Bibik dan Mamang."
"Em..." Mang Juneb menundukkan kepalanya.
"Tapi, keadaan Tuan dan Non sekarang."
Bik Ipah menahan air matanya mengenang keadaan hidup mereka berdua.
"Huuussss... Jangan bahas." Afriadi meletak jari telunjuknya di mulunya matanya menutup rapat, "Bibik dan Mamang akan berangkat kapan?"
"Besok." Mereka menjawab serentak.
"Kalau begitu istirahat dulu, siapkan energi untuk perjalanan esok." Afriadi menepuk bahu Mang Juneb di seberang Bik Ipah.
"Tuan." Bik Ipah memanggil Afriadi, tangannya sudah ingin meraih tangan Afriadi tapi dia urungkan.
"Hooommm... Aku mengantuk Bik. Bibik dan Mamang pergi tidur lagi esok mau berangkat. Aku pergi tidur dulu." Afriadi mengucak matanya melangkah masuk.
Sepanjang ia melangkah menaiki anak tangga panjang juga pikirannya membayangkan hari-hari esoknya tanpa Bik Ipah dan Mang Juneb Rupah pasti sepi tak dan hanya mereka berdua saja lagi yang menunggu Rumah.
Afriadi sampai di lantai atas memasuki Kamar kebetulan tidak di kunci, ia menutup kembali pintu kamar terhuyung-huyung menuju tempat tidur, matanya sipit meranjak naik ke tempat tidur.
"Besok. Hah... Besok." Afriadi meraih selimut, dalam pejam ia membayangkan kepergian Bik Ipah dan Mang Juneb terus setelah itu hanya tinggal dia dan Latika, entah apa yang terjadi dengan mereka bisa-bisa terjadi sesuatu nantinya. Afriadi menghela nafas memeluk guling.
"Em... Sejak kapan aku punya guling sebesar ini dan hangat, harum lagi," gumanya membuka matanya yang sudah sipit tinggal beberapa watt saja lagi, dan pandangannya rabun mengamati guling tersebut.
Karena mengantuk berat ia memilih untuk tidak menghiraukannnya.
"Pedulilah tidur saja." Tangannya merayap merasai guling itu.
Dalam hitungan detik Afriadi tertidur.
Sedangkan Bik Ipah mengemas bajunya masukan ke dalam koper, begitu juga Mang Juneb
Setelah selesai berkemas Bik Ipah meranjak ke tempat tidur untuk mengumpulkan energi untuk perjalanan esok. Sedangkan Mang Juneb berjaga di depan matanya tak bisa tidur tak sabar untuk pulang.
***
Tit... Tit... Tit... Tit...
Alaram ponsel Latika berbunyi.
"Em..." Latika malas membuka matanya.
Tubuhnya susah untuk bergerak, nafasnya sesak.
"Egh..."
Latika merasa ada yang menahannya. Ia susah melihat apa yang menahanya lampu kamar mati hanya lampu tidur yang hidup, ia membelakangi lampu.
Ia sudah berusaha melepaskan diri tapi, tidak bisa. Bergerak mendesah.
"Em... Apanya ini yang bergerak-gerak,"
guma Afriadi matanya terbuka perlahan pandangannya masih rabun melihat ke bawah bantal guling yang ia peluk, "Bantal guling bisa bergerak."
Bariton suara yang serak, mengkagetkan Latika seperti ada listrik yang menyengat bokongnya. Latika mendongak melihat ke atas, mulutnya terbuka tak berkedip matanya.
Oh... Tidaaaakkkk.
Mata mereka saling bertemu.
"Ba-gai-ma-na bi-sa?" Terpatah-patah batin Latika bertanya
Batin Afriadi bersorak heboh, "Astagufirullah kenapa aku bisa ada di sini? Ini kamar lamaku bukan kamar-"
Afriadi tersenyum getir, tangannya bergerak merasakan ia menyentuh sesuatu yang kenyal.
Latika merasakan sesuatu menyentuh benda beharganya, ia melirik dalam gelap tangan Afriadi ada di bawah, ia memegang apa?
Bluuussss...
Wajah Latika memerah.
Melihat tangan Afriadi berada di bagian atas 2 pusaka yang terlarang disentuh, walau dalam gelap tapi ia bisa lihat dan rasakan itu tangan menyengat beberapa kali.
Latika ingin teriak tapi, tertahan.
Ia hanya diam membatu tubuhnya mengetar mati rasa. Bingung mau apa kalau teriak bisa heboh lagian itu Suaminya, serba salah Latika. Tapi ini terlalu tiba-tiba Latika belum siap.
Baru bangun tidur sudah dapat kejutan.
Matilah kau Afriadi.
Afriadi menyadari kalau tangannya menyentuh itu.
Mukanya langsung memerah.
Cepat-cepat ia lepaskan tangannya, dengan gerakan terpatah-patah Afriadi bagun dari tempat tidur, tangannya mati rasa, ia turun dari tempat tidur berjalan keluar seperti robot, tampa berkata sepatah katapun.
Begitu juga Latika menyembunyikan wajahnya yang merah di balik selimut tak menyangka barusan itu terjadi padanya.