
"Hah." Afriadi menghela nafas berat, duduk di kursi kantor Kepsek.
Wajahnya cemberut, kepikiran dengan kaki Istrinya. Merasa bersalah dia.
Afriadi meambil ponselnya, melihat foto-foto istrinya. Tak lama ia dapat panggilan dari Latika.
Wajah Afriadi terlihat senang sekali ketika ia mendapat kabar dari istrinya, kalau dia lulus tes masuk ke universitas kedokteran.
Kabar yang menggembirakan sekali, sampai lupa kalau kaki Istrinya masih sakit.
"Wah, ada apa ini senyum-senyum," kata Kamarudin muncul di depan pintu, bersandar di sisi pintu dengan tangan terlipat di dada.
Afriadi hanya membalas dengan senyuman.
Kamarudin mendekat, "... Ala, bagi tahulah Pak."
"Latika lulus tes masuk universitas," kata Afriadi singkat.
Kamarudin yang baru sampai di sofa langsung berlari kecil mendekati Afriadi, "Apa! Latika lulus tes masuk universitas kedokteran?"
Afriadi meangguk. Kamarudin masih kelihatan kaget, menggedipkan matanya beberapa kali, terdiam sebentar.
"Harus diumumkan," kata Kamarudin tiba-tiba, sontak Afriadi menarik tangannya.
"Gak usah berlebihan," kata Afriadi mengecilkan suaranya.
"Berita bagus ini Pak, harus diumumkan lah."
"Gak usah, hanya lulus tes saja. Untuk apa di umumkan?"
"Biar menambah semangat belajar para Siswa Siswi."
"Gak usahlah, kalau pun kau mau memberi motivasi pada mereka jangan Latika di jadikan acuan, yang lain saja. Jangan terlalu ungahan, baru lulus tes belum lagi belajarnya."
Kamarudin meangguk.
Ada yang salah tak sama kalimat Afriadi? Rasa-rasanya Afriadi mau jadi orang Banjar, terlihat dari kalimat yang ia ucapkan tadi 'Ungahan'
Mungkin setiap malam Afriadi bimbel dengan Latika, bimbel bahasa Banjar saling tukaran gitu ´◡‿◡`
Jam berlalu.
Selepas pulang sekolah Afriadi singgah ke toko kue, lalu ke toko buku, dan toko lainnya untuk membeli hadiah kecil untuk Latika.
Sesampainya di Rumah Latika sudah menunggu Afriadi di ruang tamu, perlahan ia berjalan mendekati Afriadi.
Afriadi tersenyum lihat istrinya bisa jalan.
Latika mau membukakan jas Afriadi, tapi ia ditahan sama Afriadi, "Biar Abang saja, Adek istirahat saja. Nih, Abang beri untuk Adek."
Afriadi memberikan bingkisan kecil itu. Latika tersenyum lebar menerima hadiah itu.
"Setelah ini Adek belajar yang rajin ya, capai cita-cita Adek," kayanya mengusap kepala Latika.
"Wah, makasih Bang." Latika terlihat ceria, perlahan Latika kembali duduk kat sofa.
Afriadi mendekat duduk di sebelahnya, batasnya, "Bagaimana kakinya sakit gak lagi?"
"Masih, lebih mendingan lah." Latika cengengesan.
Afriadi mengusap kepalanya sekali lagi, Latika tak protes malah suka dengan belaian itu.
"Itu, buku Abang belikan untuk Adek. Ketemu aja tadi jadi Abang beli saja," kata Afriadi ketika Latika membuka hadiahnya.
Latika memperhatikan buku itu dengan mata yang menyipit membaca judul buku.
Gila, tebal bukunya. Ada tiga pula tu, bisa rontok rambut bacanya. Afriadi serius sekali ingin mewujudkan cita-cita Latika.
"Makasih ya Bang."
"Sama-sama. Dah lah, Abang mau ganti baju dulu, " kata Afriadi pergi meninggalkan Latika yang masih seronok dengan buku barunya.
Latika ketularan hobi baca dari Afriadi kelihatannya.
Tak lama Afriadi turun dengan pakaian santai yang melekat di badannya, mendekati Latika yang masih asik dengan buku baru itu.
"Adek sudah makan?" tanya Afriadi memutus lamunan Latika.
Latika menggeleng, "Adek nunggu Abang, mau makan bersama."
"OOO... Terharu." Afriadi memeluk Latika dengan gaya lebay, menggesekkan pipinya ke pipi Latika.
Afriadi menjauhkan kepalanya melihat sekeliling, "Gak-" Baru mau bilang gak mulutnya langsung tersumbat melihat di belakangnya ada Samsul yang tak sengaja melihat mereka.
Cepat Afriadi melepas pelukannya, dan Samsul pun pergi sambil tersenyum kaku dari ekspresi dia seakan bilang 'Maaf tuan, silahkan lanjutkan.'
Afriadi mengusap wajahnya, tindakannya tadi baru saja membuat jiwa jomblo Samsul tersinggung. Bikin iri saja kerja mereka berdua.
"Kenapa Bang?" tanya Latika lihat wajah Afriadi beda sedikit.
"Bukan apa-apa, yuk makan," ajak Afriadi menarik tangan Latika.
Latika meangguk, mengikuti Afriadi.
Mereka makan bersama.
Selama makan Latika bertanya banyak pertanyaan tentang kehidupan anak kampus, apa enak? Atau tidak? Kadang Afriadi yang bertanya pada Latika kenapa dia masuk? Dan mulai pelajaran.
***
"Masih sakit, Dek?" Afriadi bertanya terus dari tadi. Dan sekarang ia bertanya lagi pada Latika.
Latika menggerakkan kakinya, pipinya ikut menggembung juga menatap Afriadi yang ia sandari.
"Kaki Adek baik lah Bang, cuman memar tak usah khawatir gak apa-apa kok," kata Latika.
"Abang menyesal Dek, kalau tahu begini biar Bik Ipah saja yang urut kan. Karena Abang menandai jadinya begini." Wajah penyesalan kelihatan lagi, "Lama kah lagi sembuh?"
"Dua tiga hari, baiklah. Tenang saja ya Bang, Abang tak salah kok."
Cup...
Tanpa aba-aba Afriadi mencium pipi Latika.
Seketika wajah Latika bersemu.
"Baik nah, Istri Abang ni. Umah... Umah... Umah..." Afriadi memonyongkan mulutnya mau mencium lagi. (~ ̄³ ̄)~
Latika dapat ciuman ganas dari Afriadi di pipi sebelah kanan.
Tapi, itu hanya sebentar saja ketika Latika menguap lebar cepat Afriadi menutup mulut Istrinya.
"Adek ngantuk?"
Latika meangguk merosot menarik selimut, menatap sebentar Afriadi lalu memejamkan mata, mulai untuk tidur.
Afriadi juga merosot menarik selimut, memeluk Istrinya, membacakan doa lalu mengecup keningnya.
Perlahan matanya mulai terpejam, ikut hanyut dalam mimpi.
***
Keesokan paginya.
Sari mengantarkan 2 cangkir kopi yang duduk manis di atas Napan ditemani dengan perkedel goreng. Sari melangkah menuju pos penjagaan di dekat pagar rumah. Di sana sudah ada Mang Juneb dan Samsul yang menunggu kopi dari tadi dan makanan untuk janggal perut.
Sari menyajikan kopi dan gorengannya. Sari tersenyum pada Samsul saat ia hendak meninggalkan pos.
Wajah Samsul bersemu di kala melihat Sari tersenyum padanya, pandangannya tak lari dari Sari yang sudah pergi.
Mang Juneb yang mau meminum kopi jadi tak jadi, melihat Samsul cemar cenut sendiri lihat Sari.
Kurang Juneb menepuk bahu Samsul menyadarkannya.
Samsul yang langsung memanggil Sari tanpa sadar, "SARI."
Sari yang kebetulan tak jauh itu langsung menoleh melihat siapa yang memanggilnya, meangkat alis sebelah seakan bertanya, 'ada apa?'
Wajah Samsul bersemu, terbata-bata mengucapkan kalimat, "Hari ini mau diantarkan lagi pergi ke kampus?"
Sari tersenyum, meangguk. Samsul yang lihat senyum Sari serasa tubuhnya menjadi batu. Sari kembali berjalan menuju rumah. Mang Juneb asik melihat Samsul dengan wajah bersemu, dia paham kalau Samsul menyukai Sari itu lumrah dia dulu juga pernah begitu menyukai seseorang.
***
Halo semua. Sorry ya 2 hari ini tak ada kabar, jaringan susah di sini kadang timbul kadang tenggelam. Buka Mt saja susah mau kirim naskah, sampai belajar online pun ikut terganggu. UI, susahlah dua hari itu. Untunglah jaringan mulai membaik. Rencananya author mau selingkuh kalau jaringan tak baik, mau cari jaringan yang baik lagi.
Sudah itu saja.
By semua 😁