Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Tersentuh


"Latika Sekolah di mana?"


"SMA Ayyubiyah^^"


"What? Satu Sekolah. Suami Kepsek Istri murid wah wah wah di luar perkiraan. Tapi, kok aku tidak melihatmu di Sekolah tadi..."


Afriadi mendengarkan mereka pembicaraan mereka sambil mengemil.


Menit berlalu. Sudah panjang lebar mereka bicara.


"Hari sudah larut apa kau tidak pulang?," tanya Afriadi dengan nada agak mengusir.


"Mengusir ya?" Viana menatap malas Afriadi.


"Sadar aja." Afriadi menjawab jutek.


"Aku kan tamu, masa diusir. Tak boleh usir tamu."


"Ini rumah siapa? Seterah aku mau apa? Apa urusannya denganmu? Kau kan hanya tamu bebas dong aku mengusirmu." Afriadi menimpali.


Mereka saling beradu pelototan mata, Latika tak bisa ikut campur.


Viana tak berkutip hanya memonyongkan mulutnya, kesal sama Afriadi, "Oke gue paham ini sudah malam waktunya bobo manja sama yayang." Viana cemberut, mengerutu bangkit dari duduknya.


Afriadi tak berkata dan tidak mengantar temannya keluar ia melihatkan teman wanitanya pergi di temani Latika.


Sebelum Viana memasuki mobilnya ia bicara dengan Latika sebentar.


Ia meraih tangan Latika memegangnya erat, "Latika, aku hanya ingin kau tahu saja. Afriadi orang yang baik, dia tidak akan mengecewakanmu, aku kenal dia sudah lama. Sekarang aku tahu keadaan kalian.


Latika, aku sudah dengar masalahmu. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, kau menjauh dari Afriadi pasti ada alasanya. Kau terpaksa melakukan ini bukan. Kau jangan bingung aku seorang piskolok, dari matamu berkata


kau sangat mencintainya makanya kau melakukan ini bukan. Apapun alasanmu, keputusan, jalan yang kau ambil, aku mendukungmu. Semangat Latika. Tapi, kau juga harus tahu setatusmu sekarang apa.


Kau istrinya Afriadi.


Dia suamimu.


Jadi jalankan kewajibanmu ya, jangan tinggalkan itu..."


Latika meangguk.


Matanya tadi membulat mendengar pengakuan Viana kalau dia psikolok.


Ya, Viana serjana lulusan Psikologi.


"Aku pulang, hari sudah terlalu larut nanti orang rumah keluar meusirku. Besok aku ke sini lagi."


Viana melepas pegangannya.


Ia pergi meninggalkan rumah Afriadi.


Sebelum ia masuk mobil sempat ia melambaikan tangannya pada Latika, berteriak, "Semangat ya."


Latika tersenyum membalas lambaian tangan.


Perkataan Viana sangat mendalam baginya, lagi semangat yang diberikan Viana kepada Latika membuat Latika semangat dan tidak ragu dengan apa yang ia putuskan.


Tak lama Viana pergi, pesan masuk di ponsel Latika dari ratu lebah Kina.


Mata Latika sudah bulat sempurna membaca isi pesan dan foto yang di kirim Viana.


Batin Latika langsung lemah. Terlalu Ratu Lebah itu, meamcam lagi.


Malam itu Latika tak bisa tidur dengan tenag.


Begitu juga Afriadi gelisah, ia belum tidur juga, guling sana guling sini mirip gorengan lagi mandi minyak di wajan. Itu bisiksn Viana berdengung terus di telinga Afriadi.


"Afriadi. Aku tahu keadaanmu sekarang bagaimana? Dari yang aku lihat, Latika benar-benar menyembunyikan sesuatu darimu, dari raut wajahnya sudah kelihatan. Apapun itu kau harus hargai dan coba untuk paham.


Mungkin ini cobaan atau cara untuk kau, agar kau bisa memahami perasaan istrimu, dan sikapnya setelah kejadian ini. Ambilah hikamahnya. Apapun itu kau harus cari tahu, apa yang menyebabkan Istrimu berubah begitu, kau tanyakan atau apalah gitu.


Kalau dia tidak mau paksa saja.


Hahaha..."


"Haiiisss..." Afriadi mendesis mengibas-kibas sekitar telinganya.


"Jika benar ada yang disembunyikan, tapi apa?"


Malam itu Afriadi terus kepikiran. Ia memgaitian satu kejadian di sekolah, lingkungan dan di Rumah.


***


Jam 06:30 pagi.


Latika bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, saat keluar kamar ia melihat pintu kamar Afriadi terbuka dan ia melihat kalau Afriadi kebingungan memilih baju, berserak kamarnya dengan baju sampai ke tempat tidur itu, lemari sudah habis di bongkar.


Latika tidak menghiraukan langsung pergi berangkat sekolah, agap saja dia tidak melihat.


Selama sehari Latika kepikiran terus dengan Afriadi yang kebingungan memilih baju, dan ia baru sadar kalau setiap pagi di rumah tidak ada sarapan, jadi Afriadi tidak sarapan setiap pagi.


"Oh tidak apa yang aku lakukan. Aku menelantarkan Sumiku sendiri."


"Kau sudah menjauhinya tapi jangan menelantarkannya ingat kata Kak Viana."


"Terus aku harus apa sekarang?"


"Kau harus menjalankan kewajibanmu..."


Latika bicara dengan dirinya terbaring di tempat tidur memikirkan hal itu.


Ia bangun dari baringnya menyambar kertas dan pena di tempat belajar. Menulis rencana untuk hari esok.


Latika langsung tidur setelah merencanakan untuk hari esok.


***


Jam 04:35 subuh.


Latika mengsetrikakan baju Afriadi yang ia pilih soalnya akhir-akhir ini Afriadi kebingungan memilih baju, jadi Latika sendiri yang memilihkan langsung.


Awalnya ia bingung mau meambil baju Afriadi dari kamarnya mau masuk saja pikir dua kali, mondar mandir di depan kamar Afriadi.


Berpikir mau masuk itu orang ada di dalam kamar.


Akhirnya ia pergi ke tempat biasanya Bik Ipah menyetrika baju Afriadi di sana ada lemari besar, ia buka itu lemari dan...


Waw, Latika kaget lihat banyak baju terbungkus plastik tertusun rapi. Latika melihat-lihat warna baju terbungkus plastik itu.


Selang beberapa menit ia sudah memilih baju untuk Afriadi.


setelah ia selesai mengsetrika baju azan subuh berkumandan Latika segera melaksanakan Sholat Subuh.


Setelah usai Sholat Subuh Latika turun ke dapur memasak makanan untuk sarapan.


Setelah semua selesai Latika bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Kali ini Latika pergi lebih awal, ia malu.


Ketika Afriadi turun untuk menyetrika baju, di atas meja setrika sudah ada baju yang Latika gosok tadi, lengkap dengan notte sekali.


Afriadi membaca notte tersebut.


——————————————————————


Ini baju sudah disetrika.


Selamat memakai.


Maaf kalau meilih bajunya tidak sesuai dengan selera.


Oh... Ya.


Sarapan sudah dibuat.


Selamat makan.


Latika



——————————————————————


Ada love lagi di bawah nama Latika.


Afriadi melihat baju tangannya dan baju yang sudah di setrika.


Afriadi tersentuh kayak ada yang ketuk pintu hatinya. Ia tersenyum tanpa pikir panjang lagi ia langsung memakai baju itu. Gak pasang di kamar lagi terlalu bersemangat.


Setelah selesai ia berlagak di depan kaca besar, melihat penampilannya. Putar kanan purtar kiri, pasang muka tampan, begaya sok cool, sok keren, sok bijaksana, sok artis terlalu banyak gaya jam sudah lewat berapa. Hampir telat itu.


Tunggu ada apa tuh dengan Afriadi.


Ia mengerutkan dahinya, melihat lebih teliti sosoknya di kaca, "Ada yang kurang."


"Ah, iya..." Ia berlari ke kamarnya...


Tak lama kemudian


Afriadi keluar menuruni anak tangga.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kakinya bergema di langit-langit rumah.


Wah... Afriadi berkatisma sekali.


Baju yang ia kenakan dengan stelan rambut rapi sangat sempurna, cocok di kenakannya kayak Pangeran keluar dari negeri dongeng menjemput sang Putri.


Ia menuju meja makan di lihatnya menu sarapan sudah ada di meja.


Ada notte lagi.


——————————————————————


Selamat mencipi, maaf jika tidak enak.


Latika



——————————————————————


Ada love lagi di bawah nama Latika.


Afriadi tersenyum lagi segera menyantap sarapan yang dibuat Latika. Kepalnya meangguk-angguk, enak. Sambil makan ia tersenyum sudah lama Latika tak melakukan pelayanan seperti itu. Yah, walau setiap hari dilayani tapi berbeda sekali pelayanan yang ia lakukan terasa berjarak dan biasa saja, tapi yang ini agak kayak gima gitu.


Yang membuat semua itu, di sekolah tersenyum malu mengingat kalau ia membuat tanda love di bawah namanya.