
Tidak terasa sekarang sudah jam 15:27 sore.
Untungnya Latika sudah sampai ke rumah.
"Huh... Sampai juga akhirnya." Latika turun dari motor, membuka tas mengambil uang, dan diberikan pada mas ojolnya, "Ini uangnya, Terimaksih mas."
Mas ojolnya mengerakan tangannya, seperti memberi isarat, ternyata mas ojolnya bisu, ia tidak bisa bicara, suai saja di helemnya ada tulisan, dan bicara mengunakan bahasa isarat.
"Non... Non sudah sampai." Mang Juneb membukakan pagar rumah.
"Mang... Mang... Mang Juneb, dia sudah pulang ya?." Latika mendekati Mang Juneb.
"Maksud non tuan?."
"Iya..." Latika meangguk.
"Oh... Tuan baru saja pulang." Mang Juneb berseru menujuk mobilnya yang ada di sana.
"Seriusan Mang?." Latika melihat-lihat ke dalam dan memang ada mobil Afriadi terparkir di sana.
"Iya Non..."
"Haduh... Dia deluan sampai, bagaimana ini?." Latika berkata dalam hati, panik. Tadi dia sudah pesan jangan lama-lama cepat pulang dan sekarang Latika pulang lambat.
"Oh... Ya Non kenapa baju Non kotor, Non habis jatuh ya?." Mang Juneb melihat ke arah rok dan baju sekolah Latika yang kotor.
Hussss... Latika menempelkan jari telunjuknya di mulutnya, meminta Mang Juneb untuk diam, "Jangan keras - keras bicaranya mang, nanti kedengaran dia."
"Jarak dari sini ke sana kan jauh Non Tuan tidak akan dengar," kata Mang Juneb membuka lebar tangannya mengukur.
"Iya juga ya, jaraknya jauh. Tapi, jangan beritahu dia ya Mang." Latika membersihkan sedikit bajunya yang kotor.
"Oke Non 👌."
Saat di perjalanan tadi, Latika dan mas ojolnya terjatuh dari motor, karena jalannya terlalu licin ditambah lagi tadi ada mobil yang melaju dengan cepat, membuat mas ojolnya kaget sampai mereka terjatuh dari motor.
"ngomong - ngomong tuan tadi juga kotor sama dengan Non." hati Mang Juneb berseru mengingat-ingat.
"Astagufirullah..." Mang Juneb menepuk jidatnya.
"Kenapa Mang?," tanya Latika heran.
"Saya lupa mau cuci mobil tuan." Mang Juneb cengegesan.
Latika menghela nafas berjalan masuk melewati halaman runah di ikuti Mang Juneb dari belakang.
Latika masuk ke rumah, dan Mang Juneb memulai mencuci mobil.
Latika menghela napas ketika sampai di depan pintu, ia ragu mau membuka pintu, perasaannya gelisah. Ia memberanikan diri untuk membuka pintu.
Ketika pintu terbuka ia memunculkan kepalanya, mengintip melihat ke dalam 'lengang, sepi tak ada orang' pikir Latika
"Hah... Aman." hati Latika bersorak bahagia.
"Assalamu'alaikum..." Latika mengeluarkan suaranya yang mengecil, di ikuti Kakinya melangkah masuk.
"Wa'alaikumsalam..." Afriadi menjawab dengan suara yang ikut-ikutan mengecil juga.
Haaa... Latika terkejut langsung merinding, terpatah-patah melihat ke arah suara, kepalanya memanjang ke samping melihat di belakang pintu dibantu tangannya yang menjauhkan pintu perlahan-lahan pintu menjauh melihatkan sosok di belakang pintu.
Haa... Ia tambah terkejut melihat Afriadi berdiri di belakang pintu.
BRAKKK...
Latika tersandar ke pintu, membuat pintu yang ia sandari tertutup rapat.
"Kenapa masuk rumah pakai endap - endap segala." Afriadi menatap Latika tangannya terlipat di depan dada.
"Aaahh... Itu... Itu..." Latika membalas menatap Afriadi.
Hem... Mata Afriadi melihat baju dan rok Latika yang kotor, "Adek kenapa? Apa adek habis jatuh?."
"Ah... Iya adek terjatuh."
Afriadi mendekat lalu jongkok.
"Dia mau apa?." Hati Latika bersorak heboh di dalam sana, perasaan Latika mulai tidak enak.
"Apa adek terluka?
Sini biar abang periksa." Tangan Afriadi bergerak mau menyingkap rok Latika.
Jantung Latika berdetak kencang, matanya melotot melihat Afriadi di bawah, ia tahu maksud Afriadi.
Saat tangannya menyentuh ujung rok, dengan cepat tangan Latika menarik roknya dari tangannya, "Ah... Jangan adek tidak apa-apa, adek tidak terluka."
Pipi Latika seketika memerah.
Ehem... Dehem Afriadi mencoba mencairkan suasana, "Kenapa adek sempat terjatuh?."
"Ah... Itu...
Tadi ada mobil yang melaju cepat sekali, pengemudi mobil itu seenak - enaknya saja membawa mobil dia pikir itu jalan punya bapaknya apa.
Gara - gara mobil itu habis adek dan mas ojol terjatuh. Jadinya gini." Latika masih geram dengan kejadian tadi, mengapal kedua tangannya.
"Ah... Itu abang dek." Afriadi bersuara dalam hati, ia mengingat kembali...
***
Beberapa jam yang lalu.
Afriadi mengikuti Latika ke makam ayah dan ibu.
Saat Latika membaca surah yasin untuk ayah dan ibu, dari jauh ia juga membacakan surah yasin untuk ayah dan ibu Latika, dan dia juga mendengar semua kata-kata yang Latika keluarkan, dan yang membuat ia tersentuh adalah saat kata - kata yang terakhir meminta restu hubungan mereka.
"Apakah Adek sudah membuka hatinya? Kalau sudah berarti tinggal aku saja lagi yang membuka hati untuknya, menerimanya apa adanya." batin Afriadi berkata. Ia bersembunyi di balik pohon.
Saat Latika sudah jauh pergi dari makam orang tuanya, Afriadi menghampi makam orang tua Latika.
"Paman, bibik... Ah... Ayah ibu mertua, Aku suaminya Latika... Ayah dan ibu mertua jangan khawatir
Insaallah aku akan menjaga latika, dan menyayanginya... Aku minta restu dari kalian atas pernikahan kami..."
Beberapa menit kemudian Afriadi pergi dari makam orang tua Latika, tidak lupa Afriadi pamitan.
Tidak jauh Afriadi berjalan, tiba - tiba ia terpeleset karena tanahnya yang licin.
Aduh... Rintih Afriadi segera berdiri dan berjalan dengan memegang bokongnya yang sakit akibat terpeleset.
Afriadi berjalan terciut - ciut menuju mobilnya.
Tanah kuburan memang sangat licin habis hujan pagi tadi.
"Harus cepat ini sebelum adek sampai di rumah dulu." Afriadi mengemudi mobilnya dengan cepat ia seakan - akan menguasai jalan, tampa melihat lagi kanan kirin apa ada kendaraan lain yang melintas. Tampa sadar kalau gara - gara dia Latika dan mas ojol terjatuh.
Saat sampai di rumah Mang Juneb yang mencucui motor kebingungan melihat tuannya keluar dari mobil, "Tuan... Tuan habis dari mana, kenapa pakaian tuan kotor?."
"Ah... Bukan apa - apa, Mang Juneb tolong sekalian cuci mobilnya, ya." Bergegas Afriadi masuk ke dalam.
"Oke tuan."
***
Mata Afriadi memandang ke atas lamunannya, ia ingat, tangannya mengusap dagu yang tak berjengot, "Oh... Begitu. Maafkan saja dia, mungkin pengemudinya terburu-buru jadi tidak menyadari hal itu."
Latika mengkibaskan tangannya, "Lupakan saja, tidak ada urusannya juga dengan Abang."
"Ada urusannya dengan aku itu," batin Afriadi berkata.
"Oh... Iya... Bang tadi itu, siapa yang bilang I LOVE YOU ADEK?," pertanyaan Latika membuat Afriadi melek, ia menyangka kalau Latika tidak akan ingat itu ternyata ia ingat.
Afriadi mau jawab.
Tiba - tiba...
Ada yang mendorong pintu dengan keras, sampai - sampai...
AAAA... Latika terorong dibuatnya hampir terjatuh untungnya...
Hap... Afriadi menangkap Latika, memeluknya.
"Tuan mobilnya sudah selesai dicuciiiii..." kepala Mang Juneb muncul dari pintu.
Hah... Mang Juneb terkejut melihat Afriadi memelu Latika.
Latika dan Afriadi menyerang Mang Juneb dengan tatapan mata.
"Ahaha... Silahkan lanjutkan."
Mang Juneb keluar tertawa, menutup pintu.
"Berita bagus ini." guma Mang Juneb pergi ke dapur lewat pintu belakang.
"Oh... Itu, teman Abang yang bilang. Mereka hanya becanda."
Latika tak mendengarkan kalimat Afriadi ia terperanjat baru sadar kalau dia di peluk olehnya.
Dengan cepat Latika mendorong Afriadi jauh darinya.
Dengan pipi yang memerah Latika berlari ke kamar.