
Hallo semua.π
Maaf ya beberapa hari ini tidak up.
Lagi ngebut soalnya, jadi tak buka data takutnya ganggu nulis.π
sangking asiknya ngebut nulis, lupa mau up.π©
Oh, ya Kedepannya akan jarang up, mungkin ini data mau habis π³ jadi tidak beli dulu sementara, dan lanjut nulis banyak-banyak jadi sekali up langsung banyak.
Insaallah.
Selamat membaca semua.π
***
Jam 14:52.
"Seharusnya aku tidak disini, kenapa juga aku setuju tadi," keluh Latika dalam hati, duduk manis di samping Afriadi yang menyetir mobil. Matanya melirik Afriadi yang menyetir mobil, dan merasa aneh dengan penampilannya.
Afriadi melirik Latika, "Kenapa dek?."
"Em... Gak apa - apa," jawab Latika kaget, mengalihkan pandangannya. Sesekali ia kembali melirik Afriadi yang berpakaian aneh.
Perasaan Latika aneh sekali melihat dia berpenampilan seperti ini, memakai masker, kacamata, topi, dan baju warna hitam, semua serba hitam.
"Aku rasa, aku seperti diculik saja...," guma Latika dalam hati, mengingat kembali waktu Afriadi mengajaknya jalan-jalan.
Beberapa menit yang lalu.
Sebelum Latika berada di sini.
Saat itu Latika mau masuk ke kamarnya, ketika ia sampai di depan pintu kamar, Afriadi hentikan Latika, "Adek... Tunggu dek, Abang mau bicara sebentar dengan Adek.
Mata, dan hidung Latika yang merah memberitahu dia kalau Latika habis nangis.
"Adek habis nangis. Apa karena makanan tadi?." Batin Afriadi bertanya.
"Adek, baik - baik saja?," tanya Afriadi.
"Adek oke," jawab Latika menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang habis menangis.
"Em... Kalau gitu adek mau tidak ikut Abang jalan - jalan," ajak Afriadi malu-malu, tangannya mengusap lehernya, pandangannya menatap Latika.
"Harus dihibur...
Harus dihibur...
Harus dihibur..." batin Afriadi bersorak-sorak.
"Bisa gawat lagi kalau aku jalan dengan Abang, kalau nanti aku ketemu temanku bisa gawat." hati Latika berkata khawatir.
"Tidak... Adek banyak PR." Latika menolak ajakan Afriadi.
Oh... Wajahnya berubah sedih.
BRAKKK...
Latika langsung masuk ke kamar menutup pintu.
Tersandar ia di balik pintu.
"Sudah ku duga, dia tidak mau," guma Afriadi dalam hati. Ia yang masih berdiri di sana melamun setelah Latika tolak.
Terjadi cek-cok Latika dengan batinya,
"Apa yang kau lakukan Latika, dia mengajakmu jalan - jalan, kenapa kau tolak?... Tidak, nanti kalau aku ketemu temanku bagaimana? Apa yang harus aku katakan? Tapi, kau jarang - jarang keluar dengan abang.
Lagi pula, entah kapan lagi kau bisa diajak, dan minggu depan kau sudah sibuk dengan kegiatanmu..."
Setelah cek cok dengan batin, Latika membuka pintu kamar, dan di lihatnya dia masih berdiri di depan kamar.
Em... Afriadi menatap Latika.
"Apa tawaran tadi masih berlaku?," tanya Latika malu-malu.
Afriadi terkejut, pupil matanya membesar.
"Seriusan, dia mau?," jiwa Afriadi bertanya-tanya. Ia seakan - akan tidak percaya, dengan barusan yang Latika ucapkan, "Adek benaran mau jalan dengan abang?."
"Em... Ya..." Latika meangguk, tersipu malu.
Begitulah, Latika setuju dengan ajakan Afriadi, dan sekarang ia benar - benar pegi bersama dengan dia.
Tapi anehnya, Afriadi memakai baju, topi, masker, dan kacamata serba hitam.
Perasaan Latika aneh saja, perasaanya berkata, "Aku seperti kena culik saja.
Ah... Jangan - Jangan abang seperti ini agar tidak ada yang mengenalinya. Apa abang juga membatuku merahasiakan status kami? Apa dia melakukan ini untuk ku? Ya Allah semoga saja hamba tidak ketemu dengan teman hamba ya Allah."
"Aku mau membawanya ke mana ya?Apa ke taman dulu ya Tapi apa yang dilakukan kalau ke taman?.
Siang bolong begini bawa ke taman, panas lagi.
Em... Bawa ke mana ya?," batin Afriadi bertanya, kebingungan mau bawa Latika ke mana.
Entah kenapa, tiba - tiba saja ia teringat dengan kata - kata Hasan tadi.
"Bawa saja ia ke mall, biasanya wanita paling suka ke sana."
Kata - kata Hasan yang muncul dalam pikirannya.
Batin Afriadi berkata, "Aahh... Mall.
Afriadi pun membawa Latika ke mall xxx.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan.
"Kenapa aku di bawa ke sini?," guma Latika, melihat bangunan besar di luar jendela.
"Ayo..." Afriadi membuka sabuk pengamannya, dan Latika juga membuka sabuk pengaman.
Hah... Latika sudah belajar cara memakai dan melepas sabuk pengaman dari youtube, dan sekarang ia bisa melakukannya.
Mereka segera ke luar dari mobil.
"Jangan jauh - jauh dariku," kata Afriadi ke luar dari mobil.
Em... Latika menjaga jarak darinya, sekitar 1 M.
"Ayo masuk," ajak Afriadi memimpin Latika masuk ke dalam.
Jujur saja Latika jarang sekali memasuki tempat seperti ini. Ya... Kalian pahamlah masalah itu, uang. Orang seperti Latika tidak cocok untuk belaja di tempat seperti ini.
Ketika Latika masuk menginjakan kakinya ke dalam, sebentar saja Latika terpana dengan tempat ini, langkahnya terhenti, pandangannya menyapu seluruh isi bagunan yang ada di hadapannya.
"Inikah tempat belajanya orang - orang kaya," guma Latika
Aduh... Latika seperti orang yang baru ke luar dari goa saja.
Tampa sadar Afriadi sudah jauh darinya.
"Em... Di amana adek?."
Afriadi baru sadar kalau Latika tertinggal di belakang, dia membalikan badannya melihat Latika yang bengong,
berjalan menuju Latika, "Sudah abang bilang jangan jauh - jauh."
"Maaf..." Latika mengeluarkan suara kecil.
Batinya berkata, "Haduh... Buat malu saja aku ini"
Tiba-tiba...
DAP... Dia mengandeng tangan Latika, yang di gandeng kaget bagaikan tersengat listrik.
Deg... Deg...
Mulai sudah jantung Latika berdebar kencang.
Dengan santainya ia mengandeng tangan Latika, seriring dengan langkah kaki Latika yang pendek.
"Untuk apa kita ke sini?," tanya Latika, melepas rasa gugupnya.
Afriadi hanya tersenyum menatapnya.
Tampa Latika sadari dari kejauhan, salah seorang temannya melihatnya.
"Woy... Woy... lihat." Salasiah menepuk - nepuk punggung Hana yang asik melihat-lihat ponsel yang akan jadi calon ponselnya.
"Apa sih?." Hana merasa terganggu dengan tepukan Salasiah.
"Lihat... Lihat..." Salasiah berseru heboh, staf penjaga toko sampai terfokus pada Salasiah yang heboh.
Nana yang berdiri sebelah Hana dari sibuk mengotak-atik ponselnya, merasa risih dengan Salasiah, "Apa sih Salasiah sibuk betul dari tadi?."
"Itu...," tunjuk Salasiah.
Hana, dan Nana membalikan badanya melihat apa yang di tunjuk Salasiah, sampai Staf toko ikut melihat, penasaran.
"Siapa?," tanya Hana melihat orang yang Salasiah tunjuk.
"Latika..." Salasiah menekankan setiap hurup vokal, terkesan dramatis.
"Hah... Mana?." fokus Nana teralihkan dari Ponsel ke arah Latika yang Salasiah tunjuk.
"Itu..." Slasiah menunjuk kembali.
Staf toko celengak-celengok melihat yang mana orangnya.
"Hampiri yuk...," ajak Nana menyeringai.
"Yuk... Yuk..." Salasiah meangguk, setuju.
"Eh... Tapi... Dia bersama laki - laki."
Mereka pergi menghampiri Latika tampa mendengar perkataan Hana lagi.
Dengan cepat Hana melepas ponsel yang akan ia beli, "Ah... Maaf ya kak,
saya tak jadi beli."
Hana meninggalkan tempat itu mengejar Salasiah, dan Nana.
"Latika...," panggil Salasiah yang mengagetkan Latika dan Afriadi.
Latika membalikan badannya melihat siapa yang memanggilnya, "Hah... Salasiah."
Syok ia melihat teman-temannya ada di sana juga.
Afriadi memalingkan badanya.
Hah... Mereka bertiga terkejut melihat Afriadi.