
Tit Tit... Tit tit...
Jam Beker berbunyi.
Afriadi terbangun dari tidurnya, ia merintih kesakitan karena posisi tidur duduk. Gemetar ia meraih jam Beker.
Tup...
Ia tepuk tu jam Beker sampai mati.
Sabar Af, baru bangun tidur sudah marah-marah.
Ia tutup mulutnya menguap lebar kek singa.
Afriadi melirik tempat Latika, ia tak menemukan Latika di sana. Aduh, panik Afriadi. Cepat bergerak turun dari kasur cari Latika.
"Dek!" panggil Afriadi masuk ke kamar mandi, tetap saja Latika tak ada di sana.
"Dek!"
Afriadi keluar berlarian sana sini cari Latika, langkahnya terhenti saat lihat Latika tengah berdo'a di ruang tempat khusus ibadah.
Rupanya istrinya habis sholat sunah fajar. Syukurlah, Afriadi sedikit lega melihatnya, tapi hati kecil Afriadi merasa sedikit sedih lihat istrinya seperti habis nangis.
Ia berbalik untuk bersihkan diri, bersiap-siap melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat subuh, seperti biasa mereka tadarus bersama.
Lagi-lagi Afriadi mendapati Latika bersedih, ya memang sih gak nampak di depan mata tapi dapat dirasa lewat suaranya yang gemetar membaca ayat Al-Qur'an.
Tadarus kali ini berakhir lebih cepat, Afriadi memilih untuk menasehati Latika lagi.
"Kenapa Dek? Dari tadi Abang perhatikan sedih terus," kata Afriadi duduk samping Latika.
"Gak Bang, Adek gak sedih." Latika mencoba tersenyum berusaha menyembunyikan, tapi percuma Afriadi sudah tahu.
"Jangan bohong, Dek. Jujurlah, apa yang membuat Adek sedih? Adek masih memikirkan 'semua' tu?"
"Gak tahu kenapa Bang, Adek merasa sedih terus..." Latika menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Berarti Adek belum mengikhlaskan semua yang terjadi. Hati Adek akan selalu merasa sedih terus..." Afriadi memeluk Latika.
Pantang disentuh sedikit air mata jatuh.
"Belajarlah untuk mengikhlaskan, Dek."
Rasa sedih di hati Latika sedikit berkurang, ia merasa bersyukur memiliki suami yang pengertian selalu menemani saat susah dan senang. Disaat begini dia tak meninggalkan Latika, malah membantu Latika melewati semua ini, walau tak mudah.
***
Afriadi sudah membaik, hari ini ia berangkat ke sekolah ngajar dan Samsul juga hari masuk kerja padahal aksi minta ia istirahat sekitar seminggu di rumah, tapi Samsul gak mau katanya gak enak di rumah terus.
Wajah Sari sedikit ceria lihat Samsul, entah kenapa kepengen senyum-senyum terus dia.
Hari ni Latika juga masuk kuliah, yah walau sudah dilarang Afriadi, tapi ketika tetap mau masuk alasannya sudah berapa hari ia tak masuk dari kejadian itu sampai sekarang. Yah, mau gak mau Afriadi izinkan, walau sedikit khawatir.
Latika berangkat kuliah diantar jemput Afriadi, biarlah sedikit lebih lambat Afriadi datang ke sekolah asal ia dapat nemani. Latika.
"Nanti kalau Adek mau pulang telpon aja Abang ya."
"Adek pulang naik ojek ajalah, kakak Abang yang jemput nanti merepotkan pula."
"Tak," bantah Afriadi, "Tak repot pun."
"Hem yelah."
"Gitu dong." Afriadi tersenyum Latika juga ikut tersenyum.
***
Hari ni Latika masuk disambut teman-temannya, yah mereka mengucapkan bela sungkawa juga.
Hari mereka masuk belajar. Latika santai saja menerima pelajaran. Entah kenapa? Mengapa? Dan bagaimana? Tangan teman yang duduk disebelahnya ini terluka, dan keluar darah. Dia teriak histeris lihat tangannya sendiri, sibuk semuanya.
"Sudah kubilang jangan main silet ni," omel teman satunya, cepat menutup luka dengan tisu.
Heboh satu kelas dibuatnya.
Disisi lain, Afriadi tengah mengajar.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Pak ponsel bapak berbunyi," tegur satu siswa.
Afriadi menghentikan penjelasannya, segera melihat siapa yang telpon. Alis Afriadi terangkat sebelah lihat nomor tak dikenal masuk, ingin ia tak mengangkat panggilan namun ada dorongan dari hati untuk menerima panggilan.
"Sebentar ya," kata Afriadi berjalan keluar kelas menerima panggilan.
Baru berapa detik panggilan dijawab, tiba-tiba saja ada suara teriakan.
"INI AFRIADI KAN? INI AFRIADI KAN?!"
"Ya, saya seorang," jawab Afriadi menjauhkan ponselnya dari telinga, sakit gendang telinga.
"AFRIADI BINI LU PINGSAN!" teriak histeris orang dalam ponsel.
"APA?!" Afriadi terkejut kek habis kena sengat listrik.
"BINI LU PINGSAN AF! BINI LU PINGSAN!" teriak panik terdengar ditelinga Afriadi.
Cepat Afriadi meninggalkan kelas, sebelum tu dia sempat memberi tugas pada anak murid lalu pergi menuju rumah sakit dekat kampus.
***
Latika mulai sadar dari pingsannya, pandangannya sedikit buram lihat sekeliling. Terdengar samar-samar suara teriakan seseorang memanggil dokter.
Tak lama dokter datang meriksa Latika. Lalu dokter itu pergi diikuti seorang pria dibelakangnya, Latika duga pria itu Afriadi.
Lalu temannya masuk duduk nemani Latika,
"Apa dah jadi?" tanya Latika lemah bergerak mau duduk, tapi ia ditahan temannya untuk tetap baring saja.
"Kau tadi pingsan Latika," ujar temannya.
Tak lama kemudian Afriadi datang dengan wajah sedih, kata dokter Latika tertekan dan trauma atas kejadian itu.
Afriadi duduk menemani Latika. Teman-temannya pamit pulang.
Latika memalingkan wajahnya dari Afriadi ia tak mau suaminya itu melihat ia bersedih. Afriadi tahu Latika sedih, ia meraih tangan Latika, mengecupnya sekilas lalu pergi. Afriadi mau selesaikan administrasi pembayaran lalu membawa Latika pergi.
Diperjalanan pulang juga sama, Latika diam saja melihat keluar jendela.
Sampai di rumah juga begitu. Audi merasa terasingkan oleh Latika.
"Dek!"
"Dek tunggu, Dek!" panggil Afriadi mengejar Latika melewati ruang tamu.
Latika tak mendengarkan perkataan Afriadi terus saja melangkah, menghapus air mata.
"Dek!" Afriadi menarik lengan Latika, menghentikan langkahnya.
"Adek tak dengar Abang panggil tadi?"
"Adek terlalu lemah Bang, Adek payah tak berguna!" teriak Latika.
Afriadi tahu maksud Latika, ternyata ia masih bersedih atas semua tu. Afriadi langsung memeluk Latika, menenangkannya.
"Adek tak lemah, Adek wanita yang kuat," kata Afriadi melepas pelukannya. Tangan besarnya menempel sempurna di wajah Latika, menghapus air matanya. Latika terus saja meneteskan air matanya.
"Hey tenanglah," kata Afriadi menepuk pipi Latika, "Dek lihat Abang, lihat Abang."
Latika menatap Afriadi dengan mata bengkaknya.
"Adek memang tak kuat, tapi hati Adek harus kuat. Sebab apa? Kalau Adek hati kuat Adek dapat lewati cobaan ni... Ini semua bukan salah Adek, semua ni salah Abang. Kalau Abang tak buat pasal Abang ada di sana lindungi Adek, ini semua tak akan terjadi pada Adek."
Latika hanya menangis, ia tumpahkan rasa sedihnya dalam pelukan Afriadi.
"Bik, sampai kapan rumah ini dipenuhi air mata?" Sari ikut-ikutan sedih menyaksikan dari kejauhan, begitu juga buk Ipah ikut bersedih matanya sampai bengkak gara-gara menangis.