
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil hening.
Suara ketikan keyboard ponsel Latika saja kedengaran, Latika membalas pesan dari teman-temannya.
Hoh... Latika baru ingat dengan kontak bernama Haney yang ia duga kontak Afriadi, ia memberanikan diri bertanya kepada Afriadi, "Apa ini kontak punyamu? Ujung nomornya 1168."
"Ya, itu kontak saya." Afriadi menjawab tetap fokus.
"Kenapa bisa haney namanya? Kenapa tidak nama anda saja." Latika bertanya sambil membalas pesan dari temannya.
"Eh, waktu itu keburu jadi asal tulis saja, kalau mau ubah, ubah saja." waktu itu Afriadi memang terburu-buru membeli ponsel, sekitar jam 8 pagi ia sudah membeli 2 ponsel beserta kartunya, ponsel yang ia pilih pun sama satu merek yang membedakan hanya warna yang terdapat pada body ponsel, nomor kartunya pun sama hanya beda ujung saja, jadinya ketika memasukkan nomornya ke ponsel Latika ia sembarangan tulis nama untuk kontak dia tahu-tahunya tertulis haney yang artinya sayang dalam bahasa indonesia.
Latika mengubah nama kontak Afriadi, jempolnya berhenti menulis, hatinya berkata, "Kalau tulis nama saja bisa jadi teman-temanku curiga, atau nanti mereka bisa lihat nama ketika orang ini menelpon dalam keadaan yang tidak pas. Em, beri nama Abang saja. Toh, teman-temanku tidak akan tahu." Latika tersenyum, jempolnya mengetik nama kontak Afriadi.
Sekian lama di jalan akhirnya sampai juga di tempat tujuan akhir.
Seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun sudah menunggu di depan pintu rumah, melihat dari kejauhan mobil Afriadi datang.
"Biiiikk... Sudah datang Bik, mereka sudah datang!," teriak laki-laki itu yang tak lain adalah Mang Juneb, ia sudah bekerja di rumah ini sejak Afriadi berumur 6 tahun
"Bik, cepat Bik!." sekali lagi Mang Juneb meneriaki Bik Ipah agar cepat.
Bik Ipah keluar dengan lari terbirit-birit membawa wadah. Entah apa isinya.
"Lambat sekali Bik," kata Mang Juneb.
"Sabar Neb. Orang lagi membersihkan kamar untuk Non," kata Bik Ipah meletak wadah yang ia bawa di anak tangga rumah, "Sudah pergi sana, bukakan pagar mobil tuan mau masuk."
Tampa disuruh dua kali Mang Juneb sudah berlari menuju pintu gerbang, memlewati hamparan halaman rumah yang luas di tepi jalannya sudah berdiri pohon-pohon berbaris rapi sepanjag jalan dan lampu taman.
Tet... Klakson mobil Afriadi berbunyi minta di bukakan pagar rumah. Mang Juneb cepat membuka pagar lebar-lebar membiarkan mobil Afriadi masuk lalu ia menutup kembali pagarnya kembali berlari-lari lagi menuju tempat awal.
Mobil bergerak perlahan, berhenti di depan rumah. Latika cepat turun tampa melepas sabuk pengaman lagi, emang dia tidak pakai sabuk pengaman lagi. Tadi Afriadi menawarkan jasa pemasangan sabuk pengaman kepada Latika, tapi Latika tolak, jadinya ia tidak pakai sabuk pengaman.
Afriadi keluar. Bik Ipah dan Mang Juneb mendekati mereka, Latika bergegas ingin masuk ditahan Bik Ipah, tangannya di tarik disuruh berdiri di samping Afriadi. Latika tidak mau, tapi Bik Ipah tetap memaksannya, "Cepatlah, Non." "Tak mau Bik." Latika berkata pelan jangan sampai orang di sampingnnya yang beberapa jam terakhir ini sudah menemaninya mendengar penolakan dari Latika, kupingnya dengar saja apa yang dikatakan orang.
Afriadi mau masuk di halang Mang Juneb, "Tuan tunggu dulu, tunggu sebentar kami ada sedikit sambutan untuk Tuan dan Non. Geser sedikit Tuan."
"Cobaan apa lagi ini," guma Afriadi ikut saja, tapi tidak bergerak sedikit pun dari posisinya, melipat tangannya di depan dada melihatkan tingkah 2 pembantunya itu.
"Ayo Non." Bik Ipah sedikit memaksa Latika yang di paksa melangkah satu langkah mendekat, jarak mereka berdua satu meter, "Ayo Non geser lagi."
"Haduh, Bik. Segini saja sudah dek dekan." Latika berseru dalam hati, bergeser sedikit satu langkah kecil.
"Ayo Non, sedikit lagi. Langkah itu yang besar jangan kecil." Bik Ipah memaksa yang di paksa berteser sedikit lagi dengan langkah yang kecil, jarak mereka setengah meter.
Repot-repot mengatur Latika, lama sekali disuruh mendekat melangkah kecil, langsung saja Bik Ipah ambil tindakan menyenggol Latika dengan pinggulnya.
DUUP...
KYAAA... Jerit Latika hampir jatuh, tapi untung Afriadi keburu menahannya. Latika mendongak mata mereka saling bertemu.
Eh... Jantung Latika bermain lagi, berdegup kencang.
CEKREEK...
CEKREEK...
CEKREEK...
Suara kamera mengambil cepat momen itu. Mang Juneb cepat dan tepat sekali mengambil gambarnya, sambil bergaya bagaikan fotografer yang sudah pro.
"Wiiss.. Gaya yang bagus. Good." Mang Juneb mengajukan jepol pada mereka.
"Nah, gitukan bagus." Bik Ipah seperti tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan barusan.
Afriadi melepas Latika, menegur Bik Ipah, "Bik jangan mendorong seperti itu lagi. Nanti kalau terjatuh bagaimama? Siapa yang sakit."
"Cieee... Ehem... Tuan diam-diam mengkhawatirkan Non." Bik Ipah menggoda Afriadi.
Uuu... Dua orang ini benar-benar menggoda Afriadi, sampai Afriadi sendiri memalingkan wajahnya dari Latika menyembunyikan rona wajah yang bersemu, tetap sersikap cool, "Ehem.. Siapa yang khawatir."
Afriadi mau melangkah masuk, keburu ditahan Bik Ipah dengan menarik tangannya memaksanya untuk tetep berdiri di samping Latika, "Tuan jangan bergerak dulu. Sini saja dekat dengan Non."
"Dekat saja dulu, sebentar cuman," jawab Bik Ipah mengatur ulang posisi Afriadi.
"Jangan aneh-aneh ya Bik." Afriadi sudah merasakan sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.
Afriadi berdiri tepat di samping Latika, membuat Latika harus melangkah sedikit agar jauh darinya. Eh... Malah Bik Ipah dekatkan lagi mereka, dekat sekali. Bahaya Bik jantung Latika tidak bisa dikontrol, ia terus berdegup kencang.
"Neb, ambil foto mereka," perintah Bik Ipah pangsung dilaksanakan Mang Juneb memotret mereka berdua.
CEKREEK...
CEKREEK... Suara kamera Mang Juneb mengambil foto mereka.
"Cihuy... Bagus Bik, tapi kaku sekali seperti malu-malu kucing." Mang Juneb menujukan foto yang ia ambil.
"Sudah Bik," pinta Afriadi. Dijawab ketus Bik Ipah, "Belum."
Bik Ipah mengambil wadah yang ia bawa tadi di letakkannya di anak tangg , tangannya memegang daun pandan yang sudah diikat.
"Firasatku tidak enak ini." hati kecil Latika berseru, sudah merasakan sesuatu yang akan terjadi kepadanya.
Mulut Bik Ipah komat-kamit membaca. Entah apa yang dibacanya. Biasanya orang-orang yang masih berpegang teguh pada adat istiadat pasti tahu apa yang dibaca Bik Ipah, biasanya orang membacakan do'a dan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk meminta keberkahan dan keselamatan pada orang yang bersangkutan, biasanya sering ketemu di acara pernikahan adat melayu atau selamatan anak yang baru lahir main ciprat-ciprat air.
"Tuan-tuan bergaya sedikit seperti waktu itu," pinta Mang Juneb melihat Afriadi diam saja dengan posisi yang tadi tegak rapi, begitu juga Latika, "Ayolah, bergaya sedikit jangan kayak foto ktp saja. Seperti ini." Mang Juneb mencontohkan gayanya tangannya melengkung membentuk simbol setengah love.
Afriadi dan Latika menatap tajam Mang Juneb tidak setuju, rasa-rasanya Mang Juneb mau dimakan mereka berdua. Tak berkutip lagi Mang Juneb setelah dapat serangan mata mereka tetap melanjutkan mefoto mereka dengan posisi demikian rupa.
Bik Ipah selesai dengan bacaanya mulai bekerja mencipratkan air ke arah mereka dari kepala, bahu kanan, dan bahu kiri lalu menyebar.
Mereka tak tahu ini ritual apa, tapi kepala mereka menunduk.
"Tangan tuan Non," printah Bik Ipah meminta mereka membuka tangan mereka.
Latika tersenyum entah apa yang membuat ia bahagia.
Setelah Bik Ipah selesai dilanjutkan dengan Mang Juneb lagi, mulut Mang Juneb komat-kamit membaca do'a untuk mereka berdua.
"Sudah Bik?," tanya Afriadi, di jawab Bik Ipah, "Sudah Tuan."
"Hah... Apa-apalah tadi itu." Afriadi mendesah memlepas jasnya yang sedikit basah.
"Tradisi Tuan," Bik Ipah menjawab melihat foto-foto yang di ambil Mang Juneb.
Latika diam membersihkan bekas kembang di jilbab dan bajunya.
"Tradisi apa Bik? Dari adat mana Bik?," tanya Afriadi lagi.
"Em... Apa ya? Em... Sambutan untuk pengantin baru atau selamatan ya? Ah, lupa tuan pokonya itu tradisi adat dari dulu dulunya zaman nenek dan kakek Bibik sudah ada ini dan di jalankan terus turun-temurun. Bibik juga lupa itu dari adat mana ya? Kalau tak salah melayu kot atau banjar. Hem... Ah, lupa." Bik Ipah menjawab, ia sudah lupa itu tradisi apa? Dari adat mana? Dan untuk apa? Maklum faktor umur.
Gerakan tangan Latika sempat terhenti sebentar mendengar kata pengantin yang keluar dari mulut Bik Ipah.
Afriadi menghela nafas melihat tingkah mereka berdua yang semakin mejadi setelah Latika hadir di rumah ini, "Mang Juneb, angkatkan barangnya." Afriadi mengambil tas kerjanya di dalam mobil.
Tampa disuruh dua kali Mang Juneb melaksanakan tugas, Afriadi melangkah masuk ke dalam rumah. Di ikuti Bik Ipah dan Latika dari belakang.
"Non, Non kamarnya tetap di tempat kemarin. Barang-barang tuan sudah Bibik pindahkan ke kemar Tuan." Bik Ipah menjak Latika bicara soalnya dari tadi ia banyak diam, langkahnya serempak dengan Latika.
"Bibik pindahkan berang saya ke mana?." Afriadi yang berada di depan mereka ikut bicara menaiki anak tangga, tampa menoleh ke belakang.
Latika diam saja tak ikut bicara.
"Seperti yang Tuan katakan pindahkan ke kamar Tuan." Bik Ipah menjawab, menyengol pelan Latika mengajaknya bergurau yang di ajak bergurau hanya membalas dengan senyuman.
Di belakang mereka Mang Juneb membawa tas Latika.
***
Jam menunjukkan pukul 21:00 malam.
Setelah Latika selesai mengemas barangnya dan menata sedikit kamar Afriadi dulu sekarang menjadi kamarnya, ia merangkak naik ke tempat tidur, tangannya meraih foto orang tuanya di atas meja kecil sebelah tempat tidur, ia cium foto mereka, dan ia peluk erat-erat Latika sangat rindu sekali dengan mereka sampai air mata mengiringi kesediahan samapai ia tertidur.