
Satu minggu kemudian.
Perang sudah di mulai. Barisan prajurit sudah duduk rapi meratapi
MUSUH yang berada di atas menja, senjata tajam siap untuk menentukan keberhasilan, otak terkuras.
Algozo di depan menatap para prajurit dengan bengis siap untuk memakan mereka.
Latika yang duduk tenang, mudah menjawab. Hasil kerja keras yang tidak sia-sia, dan ketegasan Afriadi juga tak sia-sia.
Waktu tinggal berapa menit saja lagi, Latika sudah selesai dengan pertarungannya. Hadi dan Hana juga sudah selesai kelihatnnya.
Sedandangkan yang lainnya, memasang muka kusut merasa mengalah dengan MUSUH, kalau ada bendera putih mungkin akan mereka kibarkan.
Sedangkan di kelas sebelah kelas 11 D, Salasiah tembak koboi, sedangkan yang lainnya ada yang hitung kancing baju, ada juga yang guncang-guncang kertas lalu di cabut, ada juga yang baca bismilah, bahkan ada yang nembak jawaban pakai nama mantan.
Waktu habis, MUSUH di serahkan kepada Algozo.
Salasiah loyo keluar dari Kelan menuju Kantin.
"Haaaa." Salasiah menghela nafas duduk di sebelah Latika, wajah kusut.
"Lo, kenapa Sal?" tanya Nana, tersenyum lebar lihat wajah kusut Salasiah.
"Itu tadi aku tidak tahu jawaban jadinya aku tembak yang tidak tahu jawabannya." Salasiah lemah duduk di sebelah Latika, merampas minunan Latika, di sedotnya sampai habis. Latika hanya melihatkan saja, merelakan air minumnya di minum temannya.
"Mantap." Nana mengajukan jempol.
"Isisisis... Tulah buku itu di baca, jangan main hp terus," omel Hana.
"Sabar," kata Nana.
"Kau bagaimana Latika?" tanya Salasiah.
"Alhamdulillah, lancar."
"Serius."Mata Nana melotot tak percaya dengan Latika.
"Yelah, orang pintar." Salasiah masih lemah.
"Kau yang tak belajar," serang Hana.
Latika menggelengkan kepala, lanjut makan. Tersenyum lihat
Salasiah dan Nana perang mulut.
Hari pertama ujian bolehlah lancar, malamnya Latika belajar lagi, Afriadi tidak ingin menganggu Istrinya itu, jadinya ia pergi keluar ke Rumah taman ada urusan penting kelihatannya, selama ujian setiap malam Afriadi keluar, Latika tidak terlalu memperhatikan ia fokus belajar.
Suami Bik Ipah sudah pulang ke kampung, Sari tinggal ia ikut kerja.
Sebelum Ia pulang, ia berpesan kepada Samsul.
"Sam, aku pesan dengan kau. Kau kalau suka dengan Sari buktikan, jangan kau kacau dia, kalau mau dekat boleh, jangan kacau. Kau paham," pesan Suami Bik Ipah, sebelum masuk ke Mobil. Ia blak-blakan bilang di depan semua Sari, Mang Juneb, Bik Ipah, Afriadi, Latika.
Pagi itu pesan Suami Bik Ipah di dengar semua.
"Iya. Saya tak akan kacau dia, saya hanya ingin berteman saja," kata Samsul menundukkan kepalanya.
Suami Bik Ipah masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan pada mereka di kala mobil sudah melaju.
Hari berjalan terus, melewati detakan detik, menit, jam.
Tak terasa Hari ini sudah masuk ujian terakhir.
Sebelum masuk berperang, mereka menunggu sekitar 5 menit di luar.
"Latika Latika!" panggil Salasiah berlari di lorong menghampiri Latika, yang sedang bersandar di dinding kelas.
"Ya," sahut Latika.
Salasiah memeluk lengan Latika, "Nanti kode-kode ya."
"Eh, mana bisa kode-kode kita beda kelas."
"Alah, kode batin." Latika menyeringai.
"Mana ada kode batin." Nana menoyor kepala Salasiah,
Salasiah mendesis, melototi Nana tak terima kepalanya di toyor. Ia menjawab judes, "Ada lah."
"Kau tak belajar ya Salasiah." Hana menunjuk Salasiah, ia seperti psikolog membaca pikiran.
"Tak." Salasiah menggeleng.
"Dasar," kata Nana, "Tak payah kode batin Latika. Biar Salasiah kode batin dengan aku saja." Nana menaik turunkan alisnya.
"Mati aku dengan kau." Salasiah mendelik.
"Kenapa?" tanya Nana, menyengir penuh arti.
"Nanti kau beri jawaban yang salah," kata Salasiah.
"Tau tau aja," kata Nana.
Teng... Tong...
Bel tanda masuk berbunyi.
Latika menggaruk kepalanya bingung mau kode batin bagaimana.
Ia menggelang dan masuk ke Kelas tidak memikirkan permintaan Salasiah.
Selang beberapa menit.
GOOOONNNGG...
Aura seram Algozo kelas 12 D.
Batin Salasiah tertawa getir lihat Algozo, "Hahaha... Bapak tampan jadi pengawas."
Batin Sahrip berseru panik, "Alama, Bapak ini yang jadi pengawas. Benar-benar Algozo ini."
Afriadi menjadi pengawas di 12 D.
Banyak gosip beredar tetang Afriadi jadi pengawas.
Katanya lebih seram lagi dari pada Bu Laila.
***
"Mati. Habislah tak bisa contek." Sahril menggerutu dalam hati.
Kata anak murida lainnya, mereka bilang kalau Afriadi yang jadi Algozo, mati sungguh mematikan, bahaya baget, lebih seram dari pada Bu Laila.
Jika di pilih yang mana, mau Bu Laila atau Afriadi yang jadi Algozo.
Mungkin banyak yang milih Bu Laila.
Katanya kalau Afriadi yang jadi Algozo, penghapus terjatuh dari meja lalu di ambil di anggap mencontek lalu kertas di ambil dianggap sudah selesai, yang ketahuan kerja sama juga kertasanya diambil.
Apa lagi yang ketahuan contek beneran, di robek kertasnya langsung remedi.
Hohoho, maut di depan mata.
Kelas 12 D beruntung sekali, Afriadi jadi Algozo di sana.
Suasana kelas yang sepi bagai di kuburan saja.
Sesekali anak murid main kode, ketuk meja, batuk manja, suara aneh lainnya, yang mendapat kode beri jawaban dengan gerakan tangan dan ketukan meja dan suara aneh lainnya, yang sering contekkan pasti tahu.
"Eheem..." Sekali Afriadi dehem semua diam, suasana kembali sepi lagi. Eh, ada aja yang bandel. Tak tahu lagi sudah di beri peringatan masih saja ngeyel.
Seperti dua orang ini, temannya Latika.
"Huus..." Salasiah mendesis, memanggil Sahril di sebelahnya sepelan mungkin, "Sah Sah Sah. Huuuss.."
"Em," guma Sahril, menoleh ke arah Salasiah.
"Nomor 45 apa isiannya?" tanya Salasiah tak bersuara hanya gerakan mulut dan tangan saja.
'D' Sahril memberikan jawaban dengan gerakan tangan, paham saja apa yang di katakan Salasiah.
Namun tetap saja Algozo di depan melihat mereka tersenyum tipis, siap memangsa mereka.
Afriadi meranjak dari tempat duduknya, para murid sudah was-was merasa kalau mereka akan kena mangsa, mata mereka mengikuti Afriadi.
Afriadi menuju mereka. Dan...
Saaap...
Kertas mereka di ambil. Good bay, Salasiah Sahril.
Salasiah dan Sahri kaget kertas mereka di sabar. Depan depanan kertas mereka berdua di robek.
Mereka hanya bisa tercengang meratapi kertas ujian yang di robek.
Afriadi pergi meninggalkan mereka dan tumpukan kertas di atas meja mereka.
"Bapak jahat." Salasiah keceplosan, cepat menutup mulutnya.
Syiiing..
Afriadi melirik Salasiah dengan tajam.
Ia mendengar perkataan Salasiah. Satu kelas melirik Salasiah, yang di lirik menutup mulutnya.
"Apa yang kalian lihat, cepat isi sebentar lagi waktunya habis," tegur Afriadi berdarah dingin.
Mata Salasiah merah menahan tangis, melihat setumpuk kertas di atas mejanya.
"Ini semua salah kau," gerutu Sahril melirik Salasiah penuh kebencian.
Awas mau hujan, siapkan payung.
Salasiah menundukkan kepalanya, menahan tangis sebisa mungkin.
Tes...
Air matanya menetes jatuh ke rok seiringan dengan bunyi bel.
Teng... Tong...
Bel sudah bunyi, waktu habis.